23. Rencana Grace

1031 Words
Denting peraduan sendok, garpu dan piring membelah hening di antara mereka. Usai pergerumulan di atas ranjang hotel, mereka berlalu menuju restoran untuk mengisi perut. Dan saat itu pula Grace terus bungkam. Kepalanya masih menyematkan beberapa ungkapan Isaac, disertai ketakutan akan ungkapan kepemilikan Isaac beberapa saat lalu. Dia saja mengatakan ingin memilikiku selamanya, artinya tidak ada cara agar aku terlepas darinya. Selama steak Grace gigit, pikirannya melalangbuana. Hanya satu cara agar aku bisa lepas darinya, yaitu membuatnya bosan. Tapi yang menjadi masalahnya, dia selalu marah setiap kali aku mengabaikannya. Apa perlu aku melanjutkan untuk pura-pura peduli? Atau bahkan ... aku harus membuatnya jatuh cinta padaku? Setelah dia lengah, aku tinggalkan saja dia. Ide itu tercetus selama tangan tiada henti menyuapkan steak ke dalam mulut. Itu ide bagus. Intinya aku harus membuatnya lengah sebelum akhirnya aku kabur dari hidupnya. Terlampau hanyut pada isi kepala, Grace tak sadar garis mata tajam Isaac terus mengintai di setiap gerak-geriknya, bahkan dari caranya menatap seolah ingin menembus ke setiap lapisan pikiran Grace. Isaac taruh garpu dan sendok di atas piring, dua siku dia tumpu di atas meja sebelum jemarinya saling bertaut menahan dagu. Iris kelabu terangnya membidik tajam penuh telisik wanita di hadapannya, menyelidik pikiran apa yang membuat Grace makan sambil melamun. "Sepertinya isi kepalamu jauh lebih menarik daripada steak. Aku jadi ingin tahu apa yang saat ini kamu pikirkan." Tutur kata bernada rendah yang merajutkan ancaman dari Isaac menyentak Grace. "Eh?" Grace spontan berhenti mengunyah, tak sadar dia telah melamun di hadapan Isaac. "Maaf. Tadi saya kepikiran Mommy." Pandangan Isaac tak jua lepas dari Grace. "Ada apa dengan Bibi?" Gelas wine di sisi piring steak Isaac raih, cairan merah gelap di dalam gelas pun dia sesap perlahan— rasakan setiap sensasi wine menyapu lidahnya. "Aku khawatir Mommy menungguku. Itu saja." Enggan Isaac menangkap tindak-tanduk anehnya, Grace mengambil tisu sebelum menyeka bibirnya. Jawaban Grace dibiarkan tanpa jawaban. Tentu Isaac tak segera percaya, masalah Elena tidak terlalu penting untuk Grace pikirkan sampai melamun, ada hal lain yang lebih penting dari itu. "Bagaimana hubunganmu dengan pria itu?" Di balik meja bundar menjembatani mereka, Isaac bergerak melipat kakinya. Pandangan mata senantiasa lurus membidik Grace, enggan tertinggal secelahpun dari gerak-gerik Grace. Dan Isaac berpikiran bahwa melamunnya Grace disebabkan oleh laki-laki itu. Laki-laki yang berpotensi mengambil Grace dari genggamannya. "Siapa?" Tanpa sadar Grace bergumam. "Oh. Maksudmu ... Ethan?" "Ya." Sebelum menjawab, Grace tegak saliva yang telah kumpul di tengah tenggorokan. Wajah dia paksakan mendongak— membangun keberanian kala takut dan khawatir Isaac dapat membaca isi pikirannya yang telah menyusun cara untuk kabur. "Dia sahabatku," jawab Grace, nampak enggan menjelaskan lebih lanjut. Hening sejenak, seakan Isaac tengah mengukur seberapa jauh kejujuran yang Grace lontarkan. "Hanya itu?" Dari jawaban tak puas Isaac, Grace dapat menangkap— Isaac ingin lebih dari jawaban sederhanya, dia tidak main-main terhadap ucapannya yang menginginkan Grace dalam waktu lama, dia benar-benar ingin mengorek segalanya tentang Grace. "Dia sahabatku dari kecil hingga sekarang." Kenakan nada tegas, seakan ingin membuktikan kepada Isaac bahwa ia tak dapat diruntuhkan hanya dengan pandangan tajamnya. Isaac memiringkan kepalanya, tangan saling bertaut di depan d*da. "Kau tidak pernah berpikir kalau dia memiliki perasaan lain selain sahabat?" Alis Grace menukik samar, mencoba memahami maksud ucapan Isaac. "Itu tidak mungkin." "Bagaimana jika itu mungkin?" Isaac menyela cepat, menyangkal pernyataan Grace. "Aku tidak peduli siapa dia bagimu, tapi jika dia berani mengambilmu dariku, artinya dia telah berani kehilangan nyawanya." Adalah perkataan tanpa buih emosi. Namun, Isaac berhasil membungkam Grace. *** Entah sudah keberapa kali, Madison selalu melihat Isaac begitu asyik memperhatikan layar monitor. Matanya enggan lepas barang satu detik saja, seakan monitor itu menayangkan hal yang jauh lebih penting dari statika penjualan obat-obatan terlarang dan senjata mereka. "Apa sebenarnya yang ada di sana? Kenapa kau terus memandanginya tanpa henti?" Madison hampiri calon tunangannya. "Ini bukan hal penting yang bisa kau ketahui." Sahutan Isaac justru berkebalikan, terburu ia menutup laptop dan segera menatap tajam Madison. Madison berdecak, bola matanya bergulir jengah. "Selalu saja seperti itu." "Lebih baik sekarang kau keluar." Nada datar itu menguar begitu tegas. "C'mon. Aku hanya ingin mengajakmu kencan malam ini. That's all. Tapi apa? Kamu selalu saja mengacuhkanku." Bibir Madison mengerucut. "Apa kau tau? Malam ini Katie akan mengadakan pesta s*ks di Colorado. Kau tak ingin ikut?" Jejak langkah Madison berketuk di atas ubin, langkahnya dibawa dekati Isaac. Tiba di belakang t*buh Isaac, Madison rendahkan posisinya kemudian merengkuh pundak Isaac. "Mau sampai kapan kau akan memandangi monitor itu? Hmm?" "Kau ingin ku tembak di titik mana?" Isaac alunkan ancaman. "Kepala? Atau mulut?" "Itu kejam sekali." Jauhi Isaac, lantas Madison mengambil duduk di sudut meja Isaac. "Tanggal pertunangan kita sebentar lagi akan ditentukan. Bersiaplah, Sayangku." "Tidak ada yang ingin menjadi pasanganmu." Pena di genggaman Isaac dimainkan, memutar teratur seolah sedang menghitung di detik mana dia bisa meloloskan peluru pada Madison. "Baiklah." Madison desahkan napasnya, lelah merayu Isaac yang jeras kepala. "Malam ini aku akan menjemputmu. Kita datang ke s*ks party yang diadakan sahabatku." Kemudian terdengar suara pintu ditutup, kini hanya Isaac seorang diri di tempat itu. Lantas komputer di hadapannya kembali dinyalakan, menampilkan gerak-gerik Grace di balik layar. *** "Kau personal assistant-nya Isaac, pasti kau tau apa saja yang Isaac lakukan akhir-akhir ini." Badan Madison halangi jalan Luke, datangkan pertanyaan interogasi pada laki-laki berkulit hitam itu. "Katakan padaku. Kenapa Isaac menjadi sibuk sekali hingga jarang ada di kantor? Padahal penjualan bisnisnya sedang pesat sekali." Kedua tangan Madison menahan d*da Luke, berupaya agar pria itu tidak lari dari pertanyannya. "Itu bukan urusan anda." Luke menjawab datar, tak peduli bahwa Madison calon tunangan atasannya. "Aku calon tunangan atasanmu. Jelas aku harus tau." Sengaja tekankan setiap kata, Madison ingin Luke memperlakukannya sama dengan Isaac. "Jawab aku untuk terakhir kalinya atau kutembak kepalamu." "Isaac sedang dekat dengan wanita akhir-akhir ini?" Mata Madison menyalang, menuntut kejujuran dari mulut Luke. Luke tak menjawab, dia biarkan pertanyaan Madison disahuti hening. "Jawab! Kau mau mati di tanganku?" Tangan Madison telah menggengam pistol, siap melayangkan peluru di kepala Luke. Dalam diam Luke menimang sesuatu. Dia tak dapat mengungkapkan kebenaran begitu saja tanpa ada pihak yang diuntungkan, selain Madison sendiri. "Ya." Jawaban itu akhirnya menguar dari Luke. "Jika anda ingin menjauhkan Tuan Isaac dengan perempuan itu, bawa perempuan itu kemana pun anda ingin asal jangan melukainya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD