23. Dalam Pusaran Angin

1632 Words
Angin Matrikula. Salah satu jenis angin berkekuatan besar yang mampu memporak porandakan segala benda yang dilaluinya. Angin itu bagaikan sapu yang menyedot dan membawa segala benda yang ada. Membuat permukaan bumi menjadi bersih. Bersih dari apa pun. Angin Matrikula itu akan datang setelah angin besar datang. Namun angin pertama kekuatannya tidak sebesar Angin Matrikula. Angin awal yang datang bagaikan tampilan tari selamat datang yang mengantar Angin Matrikula untuk menyapu bersih segala hal yang memang ingin disapu oleh angin itu. Angin awal pun berperan dalam mengecek atau memastikan daerah yang akan disapu Angin Matrikula. Angin Matrikula bagaikan raja besar yang harus disambut dan diberikan sesuatu yang baik, yang paling baik. Dan Angin Matrikula-lah yang membawa empat mahasiswa itu terbang membumbung tinggi. Bahkan ketinggian terbang mereka lebih tinggi dari balon udara. Lura, Bratra, Penna, dan Funa tidak tahu lagi harus bagaimana agar mereka bisa selamat dari pusaran angin kencang yang membawa tubuh mereka. Mereka bagaikan benda kecil di permukaan bumi yang dapat dibawa oleh pusaran angin. Bagaimana bisa? Berat mereka tentu di atas 40 kilo, bahkan para laki-laki mencapai 60 kilo. Mereka tentunya hanya mampu berpasrah menghadapi bencana itu. Tidak ada usaha yang dapat mereka lakukan. Berteriak mungkin menjadi satu-satunya usaha yang dapat mereka perbuat ini. Dan itu pun belum tentu akan mendapatkan pertolongan. "Aaaaaaaa..." "Waaaaaaaaaa..........!!!" "Tolong!!!" "Ya Allah!!" "Mama...... Papa...." "Aaaa........" Teriakan saling bersahutan. Teriakan meminta pertolongan mereka dari gerak pusaran angin yang membuat tubuh mereka ikut terputar. Terombang-ambing tak tentu arah. Tubuh Lura, Bratra, Funa, dan Penna bergerak mengikuti pusaran arah angin. Yang berputar dengan dahsyat dan cepat. Benar-benar seperti pakaian yang sedang berada dalam mesin cuci. Membuat pusing dan mual. "Aaa..." "Tidak!!!" "Tolong!!" "Ya Allah!! Ya Allah!!" Teriakan kembali bersahutan. Tatanan formasi yang semula saling bergandeng tangan di permukaan bumi pun kini hancur dan lepas. Mereka tak mampu mengaitkan simpul itu kembali kala telah terbawa Angin Matrikula. Kekuatan pusaran angin itu lebih besar dibanding dengan ikatan tangan diantara mereka. Jarak mereka terhempas lebih dari satu meter. Tak ada yang bisa saling menolong. Semua sama-sama sendiri. Mata tertutup erat. Debu dan basir yang terbawa Angin Matrikula berhasil membuat mata kelilipan. Sakitnya bukan main. Tiga kali lebih sakit dari kelilipan debu jalanan. Mereka terus berputar. Tidak tahu arah dan tujuan ke manakah angin itu akan membawa mereka. Apa akan ada bahaya lain? Waktu seakan berjalan dengan lambat. Tubuh sudah seperti lembaran kertas yang mudah terbang terbawa angin. Seakan tubuh mereka tidak memiliki massa. “Sudah berapa lama kita di sini? Tubuhku sakit semua?” keluh Lura dengan suara yang kencang. Membuat kerongkongannya sakit karena ia memaksa pita suaranya bekerja maksimal. “Nggak tahu. Waktu terasa lama banget,” balas Bratra. Laki-laki itu juga ikut mengeluh. Sedangkan para perempuan tak ada yang menyahut. Mereka hanya berteriak sekuat mungkin. Melampiaskan segala ketakutan. Mereka kembali diam. Hanya suara rintihan meminta tolong. Pita suara dalam faring seakan protes karena telah dipaksa berteriak. "Aduh!!" Semua meneriakkan hal yang sama. Berada dalam pusaran angin tentu tidak hanya mereka saja yang terbawa di dalamnya. Ada segala jenis benda yang tersapu. Lalu membentur mereka satu per satu. Entah dari mana berbagai benda itu dibawa. Karena di tanah lapang itu tak ada apa pun kecuali tanah. Menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa, bahkan menciptakan air mata yang menitik dan menumpuk di pelupuk mata. "Ya Allah!! Pahaku," rintih Funa sembari memegang paha atasnya terutama pada bagian yang terbentur dengan erat. Ia mencengkeramnya dengan sepenuh tenaga. Berharap lengannya tak terhempas karena kekuatan angin yang dahsyat. Semua meringis kesakitan. Semua sama-sama merasa sakit. Tak hanya paha. Bahu, lengan, d**a, pinggang, dan bagian lainnya. “Aaaaaa….” Teriakan kesakitan saling bersahutan. “Funa!! Kamu tidak apa?” teriak Penna yang entah berada di mana. Mereka hanya dapat merasakan bahwa tidak sedang sendiri. Rekannya ada di sekitar mereka. Namun tak tahu jarak yang memisahkan seberapa jauh. “Sa..kit..,” desis Funa sembari menahan nyeri yang begitu terasa. “Kita harus tetap bertahan, guys!! Meskipun aku sendiri sudah ingin menyerah. Namun pasti kita bisa pulang ke rumah dengan selamat,” ucap Lura penuh semangat dan keyakinan yang kuat. Teman-temannya hanya mampu mengangguk. Tubuh mereka benar-benar sakit. Nyeri di sekujur tubuh. Seperti digebuki oleh warga satu RT. Mereka berniat akan mengecek apakah meninggalkan lebam biru setelah mereka keluar dari pusaran Angin Matrikula itu. Yah walaupun mereka juga tidak begitu yakin apakah bisa selamat atau tidak. “Kita berapa lama di sini? Aku sungguh ingin mutah sejak tadi. Namun tidak ada sesuatu apa pun yang berhasil aku mutahkan,” ucap Funa pelan. Ia merasa menjadi yang paling lemah di antara teman-temannya. “Di sini terasa lebih memusingkan dan memualkan daripada naik kora-kora dan sejenisnya,” sahut Penna dengan sisa tenaganya yang mungkin hanya tersisa sekitar 25% saja. Lura mendengus. Batinnya menggerutu dan berdecih tak habis pikir. “Ya kali, Pen. Ini mah beda jauh sama kora-kora. Sudah beda level,” celetuk Bratra. Kurang lebih sama dengan gerutuan batin Lura. Funa hanya menggeleng. Bisa-bisanya Penna masih mengajaknya bercanda di tengah kekalutan yang menyerang mereka. Tubuh mereka berputar semakin hebat. Tangan berada di atas kepala dengan tubuh yang berputar seperti sedang melakukan tarian. Terkadang tubuh mereka juga terputar dengan berbagai posisi. Tubuh mereka benar-benar kuat karena mampu bertahan di ganasnya amukan Angin Matrikula. Semuanya kembali terbayang dalam fokus masing-masing. Pikiran terasa mencekam karena tak ada titik terang kapan mereka bisa keluar dari pusaran angin itu. Apa tubuh mereka akan terlempar seperti didorong atau lebih parah lagi mereka dihempaskan dengan kasar? Tidak tahu. Membuat berbagai praduga belum tentu bisa menyelamatkan mereka. Mereka saat ini hanya berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Napas mereka semakin lama semakin susah juga sesak. Udara yang mereka hirup semakin tak segar. Banyak polusi yang berputar bersama tubuh mereka, membuat saluran pernapasan mereka mau tak mau dan harus mau menghirup udara kotor itu. Menyedihkan dan mengenaskan. Namun tak ada cara lain selain tetap menghirup udara itu seperti bernapas biasanya. Menahan napas sama dengan bunuh diri bukan? “Aaa…” “Aaaaaa…” “Aaaaa…” “Aaaaaaaa…” Teriakan itu kembali bersahutan ketika pusaran angin semakin kencang. Tubuh mereka benar-benar sudah seperti cucian yang kainnya sudah tergulung kuat dan tergumpal. Tubuh mereka seakan diputar dengan kecepatan paling maksimal. Luar biasa membuat tubuh bergerak angin. Kulit-kulit pun seakan bergerak mengikuti angin. Tak berapa lama kecepatan itu semakin kuat. Semakin kuat setiap 10 detik sekali. Membuat mereka hanya mampu menutup mata sekuat mungkin, juga membuat mereka semakin berpasrah. Tubuh mereka masih berputar. Tidak berhenti. Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan di dalam pusaran Angin Matrikula itu. Waktu berjalan sangat lama. Semakin membuat tubuh mereka tersiksa. Tidak hanya berasal dari luar tubuh, di dalam tubuh pun merasa begitu merasakan kesakitan yang sungguh tak terkira. Mual yang semenjak awal mereka masuk dalam pusaran juga belum menghilang. Bahkan semakin menjadi. Dan ketika rasa mual itu mereka muntahkan agar dapat merasakan tubuh yang lebih baik, nyatanya tidak bisa. Tidak ada apa pun yang keluar. Hanya dorongan rasa untuk mutah saja. Dan hal itu semakin menyiksa mereka. Membuat wajah pucat. Kulit bagian lain pun tak kalah pucat. Ujung-ujung jari serasa mati rasa karena suhu yang semakin dingin. Membuat tubuh mereka menggigil. Bibir juga mengering dan pecah-pecah. Penampilan acak adul, tidak menarik. Namun siapa yang peduli akan penampilan? Mereka bukan sedang berada dalam ajang mencari seorang model yang penampilannya modis, mereka berada dalam pusaran angin yang sunggu menyengsarakan mereka. Tubuh bergerak tak menentu. Semakin kuat tubuh mereka digerakkan dan dilempar dalam pusaran angin. Terbentur berbagai benda sudah menjadi hal biasa bagi tubuh mereka. Tubuh mereka seakan sudah kebal dengan rasa sakit, sudah terbiasa. Namun masih dapat mereka rasakan sesekali rasa nyeri yang begitu kuat. Membuat mereka meringis, bahkan Penna dan Funa sampai mernangis. Pusaran angin semakin cepat dan kuat, lalu tubuh mereka serasa dilempar dengan kekuatan besar. Kemudian jatuh bergerombol dalam sebuah pipa atau saluran besar yang panjang. Tubuh mereka terpelanting, terantuk dengan permukaan pipa yang lentur dan elastis. Membuat tubuh mereka kembali terpelanting setiap terbentur oleh permukaan pipa. Terkoyak sudah tubuh mereka. Seakan kembali berada dalam pusaran angin, bedanya hanya pada kecepatannya. “Aaaaa….” Teriakan histeris kembali terdengar saling bersahutan. Suara mereka menggema memenuhi pipa di mana tubuh mereka kini terpelanting ke segala arah. Tubuh mereka berseluncur kala ukuran pipa semakin kecil. Mereka meluncur dengan cepat seperti sedang berada dalam perosotan yang disediakan di wahana pemandian besar yang panjang dan gelap. “Aaaaaaa…..” Seruan itu pertanda ketakutan yang tak berkesudahan. Seakan tidak ada akhir. Dapatkah mereka bertahan? Atau mereka akan mulai menyerah. Tubuh mereka saling terhimpit kala mereka meluncur semakin kuat. Menimbulkan teriakan aduh karena beberapa bagian tubuh harus terdorong oleh temannya. Blak. Blak. Blak. Blak. Tubuh mereka berkumpul jadi satu di ujung pipa yang seakan tertutup. Mereka saling menghimpit dan berdesakan. Deru napas tak beraturan terdengar saling bersahutan. “Bisakah kalian segera berpindah dan bergeser menjauh dari tubuhku? Sungguh tubuhku lelah dan sakit,” rintih Lura. Lura berada di paling depan sehingga ia bernasib menjadi yang terhimpit dan paling kesakitan. Lalu satu per satu temannya mulai bergerak menjauh dari atas tubuhnya. Membuatnya dapat mulai mengembuskan napas lega. Lura mengembuskan napas perlahan. Kemudian ia mengambil napas dalam dan kembali diembuskannya. Ia melakukan hal itu berulang kali untuk menghilangkan rasa sesak dalam d**a. Bersyukur ia kala rasa tubuhnya menjadi lebih tenang. Namun, ia merasakan ada sesuatu hal yang membuatnya mengernyit. “Kalian merasa nggak kalau udaranya terasa lembab?” tanya Lura setelah ia dapat menebak apa yang ia rasakan padanya. Ketika ia menghirup udara, udaranya terasa berbeda. Tidak seperti biasanya. Ada seperti uap air berpartikel kecil yang juga ikut ia hirup. Benak Lura berkecamuk. Berbagai pikiran negatif menyerangnya. Mampukah mereka bertahan di tempat itu? Berapa lama mereka dapat bertahan di tempat yang kecil, gelap, dan lembab itu? Mampukah mereka mencari jalan keluarnya? Atau mereka harus terjebak selamanya dalam saluran pipa yang tampak tak berujung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD