Gelap dan lembab. Tidak ada penerangan apa pun. Sepanjang mata jauh memandang tidak ada setitik cahaya yang mampu menerangi keberadaan empat mahasiswa yang baru saja dihempaskan oleh pusaran Angin Matrikula.
"Sungguh.. bolehkah aku istirahat di sini dulu? Tubuhku benar-benar lelah. Semuanya juga terasa nyeri," rintih Penna di kegelapan.
"Tapi di sini sempit, Pen. Ini saja kita sudah kayak.." Funa tidak melanjutkan ucapannya. Posisi mereka dalam saluran pipa itu sungguh mengenaskan. Istirahat dengan model seperti apakah yang Penna inginkan di tempat yang tidak nyaman itu?
"Kita harus segera keluar, Pen. Kalau kita hanya berdiam diri saja di sini bisa-bisa kita mati. Di sini lembab. Tubuh kita lama-kelamaan dingin. Belum lagi udara yang kita hirup juga terlalu banyak mengandung air. Paru-paru kita bisa nggak sehat," sahut Lura lirih. Laki-laki itu juga lelah. Tidak hanya fisik, tetapi juga mentalnya. Gerangan apa yang sedang menimpanya dan teman-temannya ini? “Sungguh kita kayak tahanan yang dibuang ke dalam sumur lubang karena melakukan penghianatan bangsa,” gerutu Lura.
"Tapi itu kan kalau kita terlalu lama menghirup udara basah, Lur. Nggak sekarang juga kita akan kena paru-paru basah," protes Funa.
Baik. Sepertinya Lura dan Funa akan memulai perdebatan di tempat yang tidak tepat sama sekali.
Penna dan Bratra menghela napas lelah. Bersiap untuk mendengarkan bisingnya perdepatan dua manusia berbeda gender itu. 'Telinga.. mohon kerja samanya, ya. Semoga kalian berdua bisa betah dan baik-baik saja mendengar perdebatan yang Funa dan Lura lakukan,' perintah batin Penna dan Bratra hampir bersamaan.
"Ya kalaupun kita nggak mati karena paru-paru basah. Kita akan mati karena kelaparan," ucap Lura ketus. Lelah yang menderanya seakan menguap bila diajak berdebat oleh Funa. Semangatnya tiba-tiba menggelora kembali. Sungguh aneh. Sepertinya berdebat adalah sesuatu yang melekat erat pada diri Lura.
"Makanya kita harus segera pergi dari sini!" balas Funa tidak kalah ketusnya.
"Ya memangnya siapa yang mau tetap di sini?" sentak Lura. Berbicara dengan Funa kalau tidak pakai otot rasanya kurang asyik dan seru.
Telinga Bratra dan Penna berdengung. Mereka memilih menutup telinga dengan telapak tangan daripada membuat kerja pendengaran mereka terganggu. Penna pun meringis kecil karena ia sepertinya akan masuk dalam perdebatan Funa dan Lura yang sedikit berfaedah juga banyak tidak berfaedahnya.
"Penna?" gumam Funa tak yakin.
Penna meringis lebar. Lura mendengus keras. Bratra geleng-geleng. Dan Funa malu bukan main. Ia menunduk. Meskipun gelap ia tetap menunduk pertanda malu. Sungguh ia telah masuk dalam jebakan tikus yang ia pasang sendiri.
"Kita harus segera pergi dari sini. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengintai kita setelah ini. Namun aku sangat berharap bahwa kita akan baik-baik saja,” ucap Lura. “Kalian tentu ingat bukan bila saat ini kita sedang berada di tempat yang tidak kita ketahui di mana?" ucap Lura tegas.
Saluran itu kecil. Lebarnya mungkin hanya sekitar satu meter. Atau mungkin lebih sedikit. Yang jelas mereka di dalam saluran itu bagaikan orang yang dipaksa harus tetap bertahan di dalamnya. Hanya bisa duduk atau merebahkan tubuh. Saluran itu tidak dapat menampung bila seseorang berdiri di sana.
Mereka pun hanya duduk sejak tadi dengan posisi yang saling berhimpit. Seakan mereka adalah limbah yang siap dibuang melalui saluran pembuangan. Mereka berkumpul jadi satu di ujung pipa. Hanya menunggu air yang akan mendorong mereka agar mereka dapat ikut terbawa air dan terbuang di saluran pembuangan. Berkumpul dengan limbah-limbah lainnya. Namun sepertinya ujung saluran itu buntu. Saat Lura masuk dalam saluran itu tubuhnya berhenti di ujung saluran. Tidak terus meluncur hingga ke tempat yang berfungsi sebagai penampung.
Jika mereka bisa melihat dengan jelas, saluran itu berwarna kuning kehijauan. Namun sayangnya mereka tidak dapat melihatnya. Kegelapan mendominasi. Hanya hitam. Mungkin mereka akan jijik bila mengetahui warna saluran itu.
"Kalian ingin tetap hidup dan kembali, bukan? Ayo kita segera pergi dari sini," tegas Lura.
"Bagaimana caranya? Kita berdiri saja tidak bisa Lura. Lubang ini tidak cukup untuk kita lewati," kata Penna.
"Merangkak!" tegas Lura.
Ia pun memimpin teman-temannya untuk merangkak. Segera ia memulai merangkak. Lura begitu bersemangat dalam rangkaknya. Ia bahkan seperti berlari dalam rangkaknya.
"Lura!! Jangan cepet-cepet. Kita masih jauh di belakangmu!" teriak Funa kesal.
Lura pun merangkak dengan lebih tenang. Setidaknya saat ini ia merasa aman karena tidak ada marabahaya yang tampak di depan mata. Meskipun demikian ia tetap saja was-was. Takut bila tiba-tiba akan datang bahaya lain yang tak terduga.
Lura merangkak perlahan. Ia hanya berharap semoga segera menemukan titik terang dalam lubang yang gelap dan entah sepanjang apa.
Tiba-tiba bayangan masa kecilnya terputar dalam benaknya. Teringat masa kecilnya kala ia sudah mengetahui tentang kehidupan. Mungkin saat usianya sekitar dua atau tiga tahun. Ketika ia mulai bisa memahami akan apa pun yang ada di sekitarnya.
Kala itu, mama dan papanya menunjukkan padanya ketika ia aktif merangkak. Ia begitu aktif berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang menarik baginya. Ia tertawa bahagia kala ia menemukan benda yang sedari tadi ingin ia genggam. Suara tawa mama dan papanya pun tiba-tiba terngiang kala ia berhasil melakukan sesuatu yang hebat.
Tidak hanya itu, tiba-tiba segala kenangannya bersama mama dan papanya berputar bak film hitam putih yang terekam apik. Membuatnya seketika rindu mama dan papanya. Rasa sesak menyelimuti dadanya. Ia ditampar dengan kilasan ingatannya akan sikapnya pada kedua orang tuanya yang suka sekali menjawab ucapan orang tuanya dengan enteng. Yang bisa saja meninggalkan bekas luka dalam hati mereka.
Air mata tiba-tiba merebak membasahi pelupuk mata. Rasa-rasanya baru kali ini ia menangis. Tentu saja tanpa suara. Bahkan hal menyesakkan yang pernah menimpanya—kehilangan Bubunga untuk ia lepas bersama laki-laki lain pun tak membuatnya sampai seperti ini.
Benar adanya bila orang tua memang orang yang paling paham akan anaknya meskipun terkadang sering terjadi selisih paham yang berakhir pada pertengkaran. Namun tetap saja, orang tua adalah orang nomor satu yang penting bagi seorang anak.
Ia ingin pulang. Ingin memeluk mama dan papanya. Mengucap kata maaf juga sayang. Sungguh ia rindu rumah dengan kehangatannya yang suka sekali ia pantik lalu menjadi suasana panas karena keusilannya.
"Ma.. Pa.. Doakan Lura. Lura rindu Mama dan Papa," lirihnya.
Lura kembali merangkak dengan semangat. Tujuannya sekarang adalah mencari jalan keluar agar bisa segera tiba di rumah. Lalu melaksanakan segala keinginannya saat ini. Menumpahkan rasa sesak karena rindu dan kesadaran akan kesalahan yang selama ini ia torehkan pada hati kedua orang tuaanya.
Lura menengok ke belakang. Melihat teman-temannya yang tentu saja tak terlihat apa pun. Hanya terlihat siluet tidak jelas karena setitik cahaya kecil pun tak ada.
"Kalian masih kuat kan, rek?" tanyanya dengan penuh semangat bergelora.
"Masih, Lur," jawab teman-temannya dengan suara lelah.
"Kita harus ingat orang tua kita. Kita harus semangat untuk keluar dari sini!" ucap Lura dengan optimistis besar.
"Yo kita harus semangat!" jawab teman-teman Lura semangat.
Lura lega. Ia bersama teman-teman yang mau diajak bekerja sama. Ia harus semangat. Tidak boleh menyerah begitu saja.
“Tapi kalian merasa nggak sih, Rek kalau tubuh kita nggak terlalu sakit? Saat kita berada dalam pusaran angin kan banyak benda yang membentur tubuh kita, tapi aku hanya merasa sedikit lelah. Tidak sesakit saat berada dalam pusaran angin,” celetuk Bratra. Ia merasa sedikit bosan dan merasa waktu berjalan lambat bila mereka hanya diam. Mungkin dengan berbincang akan membuat mereka tidak merasa bila mereka telah merangkak jauh.
Funa dan Penna mencoba merasakan nyeri yang sempat menyerang pundak, paha, dan punggung mereka. Dan benar apa yang dikatakan oleh Bratra. Rasa itu hilang. Hanya sedikit pegal seperti habis berlari.
“Iya? Iya? Kayak waktu kita lari di hutan dan sampai di hamparan tanah tadi. Aneh,” balas Funa.
“Mungkin sebenarnya kita berada diantara sadar dan ketidaksadaran,” sahut Lura.
“Mungkin juga,” balas Funa.
Mereka pun melanjutkan berbincang mengenai topik-topik bahasan yang ringan. Berharap dapat melupakan dan meringankan segala hal berat yang menimpa mereka. Tawa dan canda terkadang mengiringi. Membuat mereka merasa ringan kala merangkak.
Namun, semuanya tiba-tiba terasa berat. Tangan dan kaki menempel erat pada permukaan pipa besar yang saat ini sedang mereka lintasi.
"Apa ini?" Lura menarik tangannya perlahan. Kemudian ia raba tekstur sesuatu yang menempel pada permukaan kulitnya itu.
"Lendir? Lem?" tanya Lura pelan.
"Kalian merasakan ada sesuatu yang menempel pada kulit kalian?" teriak Lura sembari menengok ke belakang.
"Aaaa.. apa ini?" teriak Funa dan Penna hampir bersamaan.
"Ini seperti lendir yang menempel kuat di kulit kita," kata Lura.
Mereka mau tak mau tetap melanjutkan merangkak meskipun tubuh mereka seakan tertempel erat di permukaan pipa. Sungguh berat. Gerak mereka menjadi terhambat. Berbeda dengan sebelumnya, di mana mereka bisa merangkak dengan lancar dan bebas.
Napas mereka terengah kala baru beberapa meter merangkak dengan lendir yang menempel erat di telapak tangan dan lutut mereka. Akhirnya berulang kali mereka memilih berhenti untuk menetralkan deru napas yang tak beraturan.
"Jangan berhenti terlalu lama. Lendir ini akan semakin kuat bila kita menapaknya teralu lama," tegur Lura. “Kita berhenti sama saja dengan menancapkan tubuh kita dalam lendir itu,” lanjutnya.
Sesungguhnya ia lelah. Lendir ini seakan menyiksanya. Setidaknya ia beruntung di bagian atas tubuhnya tidak ada lendir pula. Bila ada lendir di setiap bagian permukaan dalam pipa itu pasti tubuhnya akan terjebak di dalamnya. Terperangkap dalam pipa panjang yang ujungnya pun tak ia ketahui.
Sayangnya dugaannya salah. Ketika tiba-tiba kepalanya terantuk bagian pipa di atasnya, rambutnya menempel. Seperti ada permen karet satu ember yang tertempel di rambutnya.
"Hati-hati!! Ada lendir juga di atas kita," peringat Lura tegas.
Ia terus merangkak meskipun telah banyak tenaganya yang ia keluarkan. Sungguh ia lemas. Namun ia tak boleh menyerah. Masih ada lemak-lemak dalam tubuhnya yang bisa berubah menjadi gula. Yang berperan dalam menggantikan energinya.
Ia terus merangkak. Terus melawan lengketnya lendir yang benar-benar berhasil menjebaknya.
"Kuatkan, ya Allah," gumam Lura.
"Lura.. aku bener-bener pingin istirahat dulu," kata Penna yang berada di belakangnya. Napas perempuan itu putus-putus.
"Tidak bisa, Penna. Kita harus terus merangkak ke sana. Pasti ada muaranya," ucap Lura yakin.
"Tapi napasku rasanya sudah berat. Belum kaki dan tanganku yang sungguh lelah."
"Sama Penna. Ingat bahwa teman-teman kamu juga merasakan hal yang sama. Jadi ayo kita terus memodifikasi pikiran agar kita mampu melewati ini semua. Dan kita selamat lalu bisa berkumpul dengan keluarga," ucap Lura begitu yakin.
Penna pun pasrah. Dengan sisa tenaganya ia terus merangkak. Begitu pula yang lain. Benar apa yang disampaikan Lura, bila mereka memilih istriahat, sama saja mereka mengubur diri sendiri dalam petaka.
Thank you for reading.