49. Obsesi Mnium

1418 Words
Benar adanya bila oksigen mampu menciptakan kesegaran udara. Tak ayal pula bagi banyak pasien penderita penyakit paru-paru harus berebut tabung oksigen untuk menopang hidupnya. Dan benar pula bila seharusnya setiap kelahiran satu individu baru harusnya diwajibkan untuk menanam satu pohon. Karena pohon adalah sumber utama penghasil oksigen. Gas yang berperan penting bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup. Oksigen tidak hanya sebagai gas penopang kehidupan yang berkaitan dengan sistem pernapasan. Oksigen yang dialirkan oleh darah juga berperan dalam membawa sari-sari makanan menuju sel tubuh. Hal itu yang membuat tubuh menjadi dapat bergerak, dapat berpikir, dan dapat melakukan aktivitas lainnya. Dua pemuda yang berhasil Mnium jebak itu, kini duduk termenung di atas patahan batang pohon yang rubuh. Batin mereka terus saja berperang. Merutuki kebodohannya karena terhasut dalam manisnya ucapan Mnium. Menyesallah yang kini mereka rasakan. Hidup di tengah hutan yang tidak mereka ketahui. Tubuh mereka pun seakan tertancap kuat di daerah gubuk itu. Mereka seakan dikurung dengan sesuatu yang tak kasat mata. Hati mereka berniat ingin mencari jalan keluar, tapi kaki tidak dapat digerakkan. Mereka hanya mampu berpasrah. Tidak ada lagi hal yang dapat mereka lakukan selain itu. Semilir angin membawa kesejukan udara. Membelai rambut di kepala juga rambut-rambut halus di permukaan kukit. Udara di sekitar mereka sejuk karena gubuk itu dinaungi dengan beberapa pohon besar yang membentuk kanopi dari rantingnya yang melebar. Suara kicau burung menjadi pengiring kesepian di antara dua pemuda itu. Satu jenis burung selesai berkicau, jenis burung lain akan menyahuti. Tampak ramai. Beberapa tupai juga menemani kesepian mereka. Tupai itu saling bekejaran dari satu ranting pohon ke ranting lainnya. Sejauh mata memandang, hehijauan menjadi pemandangan yang menyegarkan. Hanya pada beberapa bagian tanaman saja yang daunnya tampak layu juga mulai menguning. “Kakata harusa bagagamana?” tanya salah satu pemuda itu pada pemuda lain. (Kita harus bagaimana?) Mereka sudah tidak peduli dengan bagaimana cara mereka berbicara. Tidak peduli lagi dengan bahasa yang tengah mereka gunakan untuk berkomunikasi. Mereka pun sudah mulai terbiasa dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka. Entah apa yang Mnium berikan pada mereka. Yang jelas pria itu membuat suatu larutan yang berhasil membuat dua pemuda itu menjadi makhluk aneh. Makhluk dengan tubuh yang masih tubuh berupa manusia, tetapi permukaan tubuh mereka tertutup dengan rambut berwarna hijau. Ditambah dengan daun telinga yang mulai memanjang dan runcing di atasnya. Pemuda satunya hanya mampu memgedikkan bahu. Sama halnya dengan temannya, ia pun tidak tahu harus bagaimana. Mereka telah lama berada di tempat itu. Mungkin hampir satu bulan. Dan mereka jarang sekali merasa lapar. Jikalau lapar mereka hanya memilih meneguk air, juga beberapa tanaman yang ada di sekitar gubuk yang mereka tempati. Mereka sudah sangat jarang bertemu dengan Mnium. Entah pergi ke mana pria itu. Mnium mungkin hanya akan menemui dua pemuda itu untuk menyuntikkan sesuatu pada tubuh mereka. Sebuah larutan yang berfungsi untuk mempertahankan segala yang ada di tubuh mereka. Agar para pemuda itu juga tetap patuh padanya. “Kakata sudada lama dasana. Aaka raranda raramah,” ucap salah satu pemuda sendu. Benar. Ia begitu merindukan rumah. Ibunya yang perhatian meskipun ia suka sekali menciptakan keributan dan keramaian di rumah. Ia menyadari bila ia termasuk menjadi anak yang badung. Namun ia begitu merindukan kecerewetan, lebih tepatnya wujud perhatian ibunya padanya. (Kita sudah lama di sini. Aku rindu rumah.) Pemuda satunya hanya mampu mengangguk. Hal sama yang juga dirindukannya. Tatapannya memandang jauh dengan sendu. ‘Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku rindu pelukan Ibu,’ gumam batinnya. Mereka sama-sama diam dengan berbagai kemelut pikirannya yang mengganggu. Berbagai keinginan bertumpuk di pikiran. Yang jelas mereka ingin segera kembali ke rumah. ‘Apa Ibu mencariku?’ tanya batin salah satu pemuda. ‘Aku begitu merindukan Ibu. Masakan Ibu dan segala canda tawa yang Ibu lontarkan. Ibu, tolong doakan putramu ini agar dapat segera keluar dari tempat ini. Sungguh kami ingin keluar.’ Keterdiaman di antara mereka diusik dengan suara Mnium yang melangkah menuju gubuk itu. Mnium berbicara seperti seorang penunjuk jalan, yang mengarahkan seseorang untuk melangkah. Dua pemuda itu mengernyit heran. Lalu tampak di belakang Mnium dua perempuan muda yang berjalan mengikutinya dengan pandangan kosong. Tatapan netranya seakan terhipnotis dalam setiap perkataan yang dilontarkan Mnium. ‘Jadi seperti itu dulu aku di bawa ke sini? Kesalahan apa yang dilakukan dua perempuan itu shingg membuatnya dibawa oleh manusia tak berperasaan itu?’ *** Seiring waktu berjalan, Mnium berhasil mengumpulkan banyak pemuda. Targetnya memang pemuda, karena pemuda adalah usia di mana seseorang sedang produktif dan semangatnya menjalani hidup. Dan dengan mengumpulkan 20 pemuda baik perempuan maupun laki-laki, bisa membuat segala yang ingin ia capai dapat segera terwujud. Mnium berhasil membangun laboratorium dengan berbagai cara piciknya. Mengambil uang milik bank, mengambil segala hal milik orang-orang yang serakah. Semua peralatan laboratorium ia tata sedemikian apik di laboratoriumnya. Terbangunnya laboratorium itu, membuat senyum Mnium lebar. Wajahnya selalu berseri setiap ia masuk ke dalam laboratorium. Perlahan tapi pasti, semua harapannya pasti akan segera terwujud. Dan ia tak sabar menunggu waktu itu datang. Mnium tidak hanya disibukkan untuk terus memproduksi larutan yang dapat mengubah para pemuda yang ia manfaatkan menjadi manusia lumut. Ia juga sesekali akan pergi ke kota, kota di mana istrinya saat ini tinggal. Ia tahu bahwa ia bodoh karena masih ingin terus mencari tahu mengenai istrinya. Namun, hatinya sejujurnya masih begitu menyayangi istrinya. Sayangnya, di tahun kedua perpisahan dengan istrinya, ia melihat istrinya telah bahagia dengan pria lain. Membuat amarahnya kembali tersulut. Sejak saat itu, Mnium tak pernah lagi ingin tahu mengenai istrinya. Ia memilih menyibukkan diri untuk membuat larutan baru. Ia harus segera mewujudkan harapannya, memusnahkan kehidupan manusia menjadi manusia lumut. Juga menciptakan dunia baru dengan dunia yang dipenuhi dengan lumut ganas. Obsesi Mnium semakin menjadi. Ia semakin bersemangat untuk menciptakan ramuan baru. Tidak boleh lagi ia larut dan hanyut dalam kesedihan. Sudah cukup saat ia dikhianati oleh istrinya. Tidak perlu lagi ia kembali hancur karena rasa cintanya pada istrinya yang masih tersisa. Mnium terus mengeksploitasi para pemuda yang ia bawa ke laboratorium, agar dengan cepat mendapatkan larutan yang ia inginkan. Larutan yang dapat membuat lumut tumbuh dengan cepat bagaikan virus yang mampu menyebar dengan luas pada inangnya. Usaha Mnium tak sia-sia. Akhirnya ia mendapat larutan yang ia inginkan. Larutan itu sudah beberapa kali ia uji coba. Ia tentu tak ingin ada kegagalan dalam hasil larutan yang baru dapat terwujud setelah menghabiskan waktu dua tahun itu. Waktu yang tidak sebentar. Hingga intuisi Mnium tiba-tiba mengantarkan pria itu untuk keluar dari gelapnya hutan selama ini. Ia rindu dengan kehidupan normalnya. Terkadang ia juga suka merindukan ibunya. Apa ibunya baik-baik saja? Apa ibunya selalu sehat? Apa ibunya juga merindukannya dan mencarinya? Andai Mnium tahu, ibunya telah wafat karena pikirnya yang dipenuhi dengan menghilangnya putra semata wayangnya. Padahal jelas teringat dalam benaknya untuk meminfa Sang Putra pulang. Sayangnya dianggapan Sang Ibu, putrany telah berpulang. Pernah suatu hari Mnium merasa diawasi oleh ibunya. Namun dengan cepat ia mengenyahkan pikirannya itu. Padahal bila ia peka, ibunya memang sedang mengawasinya dari tempatnya. Sayangnya Mnium tidak ambil pusing. Mnium juga sering mimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berulang kali mengingatkannya agar menghentikan segala obsesinya yang bermula karena cinta itu. Dan Mnium akan terbangun dengan deru napas tak beraturan. Juga dengan keringat yang membasahi tubuh. Dan Mnium masih tidak peka dan tidak menyadari. Ia tetap bekerja, mengeksplor diri agar dapat menemukan larutan yang tak jelas untuk apa. Obsesinya mungkin cukup aneh di pandangan orang-orang. Namun ia tak peduli. Ia bidup tidak bersama orang-orang yang rasa ingin tahunya tinggi. Ia hidup di hutan dalam. Yang hanya ada dirinya dan para pengikutnya. Sering kali ia juga berjanji akan menemui ibunya. Untuk meminta pelukan hangat yang menenangkannya. Namun itu semua hanya tinggallah janji, karena ia terlalu larut dalam dunianya. Hingga ia akhirnya bertemu dengan larutan yang Lura bawa. Larutan yang semakin memperkuat larutan yang selama ini dibuatnya. Dan ia dengan sengaja menukar larutan itu, agar dunia di sekitar Lura menjadi seperti yang diingjnkannya. Penuh dengan lumut. Sayangnya semua itu tak sesuai harapannya. Ia salah menilai. Empat mahasiswa itu adalah orang yang kuat. Orang yang memang sengaja dikirim Tuhan untuk menghancurkan segala obsesinya. Menyadarkannya bahwa tak selamanya apa yang ia inginkan dapat tercapai. Sayangnya ia tak mau menerima hal itu mentah-mentah. Baginya, ia harus memusnahkan siapa pun yang menghancurkan impiannya. Tak boleh mereka semua selamat. Apa yang mereka lakukan harus mereka pertanggungjawabkan. Hal itulah yang mengantar Mnium untuk terus mengejar empat mahasiswa itu. Melupakan bahwa dirinya juga pernah menjadi mahasiswa, sama seperti Lura dan kawan-kawannya. Ia harus menghancurkan pemuda yang seperti Lura dan kawan-kawannya. Membuatnya seakan menjadi salah satu orang yang terasuki oleh sosok Joker. Tanpa ia menyadari bahwa apa pun yang telah ia usahakan sia-sia. Ia dikalahkan dengan kebenaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD