48. Asal Mula Manusia Richia

1454 Words
Gelap malam tak menjadi penghalang bagi manusia-manusia yang sibuk di dunia. Jalan raya provinsi dengan penerangan lampu kuning tidak menjadi masalah bagi para pengendara kendaraan bermotor. Wus wus. Suara kendaraan yang saling menyalip, seakan waktu mereka begitu singkat untuk menuju waktu janji temu. Manusia memang suka membuat diri terburu. Ada waktu 24 jam, tapi disiakan dengan percuma. Entah untuk melamun mimpi, men-scroll sosial media tiada henti. Tidak memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Suara klakson menunjukkan bila antara satu pengendara dengan pengendara lain saling berebut menjadi yang paling depan dan tercepat. Mengejar waktu yang tersisa hanya sedikit. Niat hati tak ingin mengecewakan orang lain, tetapi berangkat mendekati janji temu. Percuma. Terkadang mendatangkan masalah karena diri merasa diburu-buru. Padahal yang memburu ya diri sendiri. Tidak mampu me-manage waktu dengan baik. Di antara para pengendara kendaraan bermotor yang hilir mudik di jalan yang tidak begitu terang itu, ada dua pemuda yang sedang mendorong motornya. Motor itu bocor. Awalnya hanya kehabisan bahan bakar. Namun saat mereka mulai kembali menaiki motor itu, tidak sampai 500 meter, bannya tertusuk paku. Sial sekali nasib mereka. “Nang daerah kene mestine ya gak onok bengkel utowo tambal ban, Ndra,” dumal salah satu laki-laki yang memegang stang motor. (Di daerah sini mestinya ya tidak ada bengkel atau tambal ban, Ndra.) “Coba hubungano arek-arek. Njaluk tolong arek-arek gawe nyusul awakdhewe,” ucapnya sembari terus menuntun motornya yang mulai berat karena udara dalam ban benar-benar habis. (Coba hubungi teman-teman. Minta tolong teman-teman supaya menjemput kita.) “Ket maeng aku wes nelponi arek-arek. Tapi gak onok sing ngangkat siji ae. Dantit arek-arek iki. Wayah awakdhewe sengsara lak mesti jarang sing nolong. Lha giliran arek-arek sing butuh bantuan, awakdhewe langsung sigap.” (Dari tadi aku sudah menelpon teman-teman. Tapi tidak ada yang menerima panggilan satu pun. -u*****n- teman-teman iki. Saat kita sengsara selalu saja jarang ada yang nolong. Kalau giliran arek-arek yang butuh bantuan, kita selalu langsung sigap.) Laki-laki itu masih mendumal kesal dengan kelakuan teman-temannya di mana tidak ada yang menerima panggilan dirinya. Ia juga beberapa kali mengumpat. Dua pemuda itu tidak menyadari jika sedari tadi yang memantau dan mengawasi mereka di gelapnya jalan. Mungkin karena terlanjur kesal dengan para rekan-rekannya, membuat pemuda itu tidak mengedarkan pandangan sekali pun. Angin malam berhembus lembut. Namun berhasil menusuk kulit. Dingin seketika menyapa kulit tubuh dua pemuda itu. “Arek-arek iki ancen gak setia kawan. Wayah koncone butuh gak iso ditelponi, giliran dhekne sing butuh ngemis-ngemis gak karuan.” Kali ini pemuda yang melangkah di depanlah yang mendumal. Seandainya di sekitar mereka tidak gelap, mungkin mereka tak mempermasalahkan. (Teman-teman ini memang tidak setia kawan. Waktu temannya butuh pada nggak bisa ditelpon, giliran mereka yang butuh mereka mengemis-ngemis.) “Opo njaluk tolong nang wong liwat ae, yo? Kok ket maeng aku gak kepikiran?” gumam laki-laki yang membantu mendorong motor. (Apa minta tolong ke orang lewat saja, ya? Kenapa dari tadi nggak kepikiran, ya? “Awe-awe ngunu ta? Tapi aku gak yakin. Kan saiki gelek enek penipuan model ngunuku, aku wedine wong-wong gak percoyo karo awakdhewe,” sahut pemuda yang ada di depan. (Melambai gitu ya? Tapi aku nggak yakin. Soalnya sekarang sering terjadi penipuan seperti itu, takutnya orang-orang gak percaya sama kita.) “Yo dicobak sek! Gurung dicoba kok wes pesimis disikan.” (Ya dicoba dulu! Belum dicoba sudah pesimis duluan.) Mereka menghentikan motor di tepi jalan, dekat dengan area Kebun Raya Pididi. Mereka melambaikan tangan pada pengendara motor yang melintas. Sayangnya tudak ada satu pun yang berhenti untuk menolong mereka. “Kandani se. Wong-wong ya wedi lah nek bengi diawe-awe, dikiro awakdhewe jambret,” dumal pemuda itu kesal. (Bener kan? Orang-orang ya takut kalau malam ada orang yang melambai-lambai, dikiranya kita jambret.) Pemuda yang lain menghela napas panjang. Mungkin mereka harus kembali memdorong motor hingga bertemu dengan tukang tambal ban atau bengkel. Mereka baru saja melewati depan gerbang kebun raya. Tidak ada sesuatu yang menakutkan, meskipun kawasan kebun raya merupakan kawasan yang cukup gelap. “Kenapa dengan motornya, Mas?” Dua pemuda itu terkejut bukan main. Mereka tidak sadar bila ada orang di depan gerbang kebun raya. Pria itu berdiri sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya. Pria itu tersenyum menenangkan. “Saya petugas kebun raya, Mas. Sedang jaga malam,” jelas pria itu. Tidak ingin dua pemuda di depannya salah paham. Kedua pemuda itu saling memandang, seakan bertanya apa benar. Salah satu dari mereka melirik pada kaki pria itu, memastikan bahwa kakinya tidak melayang. Ya setidaknya pria itu bukan setan atau hantu. Bukan pula orang jahat. “Bocor, Pak,” jawab mereka hampir bersamaan. Pria itu mengangguk. “Kalau malam-malam seperti ini jarang ada tukang tambal, Mas. Apalagi daerah sini cukup jauh dari bengkel atau semacamnya,” ucapnya. Kedua pemuda itu menyetujui. Mereka ingin sekali nerutuki nasib mereka yang tiba-tiba apes itu. “Mungkin bisa istirahat di pos saya dulu, Mas. Ini sudah hampir jam 12 malam. Besok pagi bisa kembali melanjutkan perjalanan,” saran pria itu. Kedua pemuda itu kembali saling berhadapan. Mereka seakan berpikir apakah lebih baik seperti itu atau bagaimana. Di sisi lain tubuh mereka lelah juga mengantuk. Namun, di satu sisi mereka takut bila pria di hadapannya ini memiliki niat yang buruk terhadap mereka. Setelah berdebat dalam pikir, mereka akhirnya sama-sama mengangguk. Tidak ada salahnya mengistirahatkan tubuh sejenak di pos jaga kebun raya. Mungkin dengan beristirahat, esok pagi mereka bisa lebih bugar. “Mari kalau begitu, Mas. Motornya ditaruh di dekat pos, ya,” ucap pria itu. Kedua pemuda itu mengangguk patuh. Diparkirkannya motor itu di samping pos, tidak menyadari bila tidak ada motor milik petugas itu. Namun mereka tak memikirkan hal itu, bagi mereka segera mengistirahatkan tubuh adalah prioritas utama saat ini. *** Kedua pemuda itu terbangun kala mendengar burung-burung bersiul. Siluet cahaya yang masuk di antara bilik-bilik dinding membuat mereka bergegas bangun. “Di mana ini?” Sayangnya pita suara mereka tidak mengatakan kalimat itu, melainkan suara yang tidak mereka kenali. “Da mama ana?” Itu suara yang keluar. Membuat mereka berpikir bingung. Mereka masih ingat betul mengenai tempat mereka k. Namun saat terbangun, ruangan itu tampak berbeda. Bukan lagi ruang pos kecil yang berkeramik, melainkan sebuah gubuk dengan alas daun kelapa atau daun pandan yang dianyam. Salah satu rekannya menunjuk pada permukaan tubuh temannya. Juga mengawati rambut yang biasanya menutupi permukaan tubuhnya. Tidak lagi rambut-rambut halus manusia normal, melainkan sebuah rambut berwarna hijau. Rambut itu sama halus dan kecilnya dengan rambut pada umumnya, hanya warna yang membedakan. Mereka sadar bila mereka telah ditipu oleh pria yang mengaku sebagai penjaga kebun raya. Benar dugaan awal mereka. Mnium, pria yang mengaku sebagai penjaga kebun raya masuk ke gubuk kecil itu. Senyumnya merekah lebar. “Kalian memang manusia bodoh. Sejak kapan kebun raya itu ada yang menjaga bila malam hari?” tanyanya dengan senyum sinis. “Dan mulai saat ini, mau tidak mau kalian harus mengikuti segala perintahku!” kelakarnya bahagia. Tawa bahagia dan puasnya menguar memenuhi gubuk kecil itu. Dua pemuda itu hanya mampu mengepalkan tangan mereka. Tidak dapat melawan. Otot dan saraf mereka seakan mati rasa, tidak dapat digerakkan. Mereka bagai robot yang hanya mampu mematuhi perintah meskipun tubuh ingin melawan. “Kalian para pemuda hebat seharusnya. Sayangnya kalian terjebak dalam nafsu kalian. Nafsu untuk beristirahat dan bujukan akan orang yang tidak dikenal,” ucap Mnium sembari mulai melangkah ke depan. Dicondongkan tubuhnya ke depan dua pemuda yang berusaha menatap Mnium dengan sorot mata marah, yang sayangnya malah terlihat seperti tatapan mengiba. “Lain kali, jangan mudah percaya dengan orang yang tidak kalian kenal.” Mnium segera memutar badannya. Melangkah keluar dari gubuk kecil itu dengan tawa yang begitu bahagia. Namun, tawa itu sebenarnya bukan tawa bahagia. Hanya sebuah tawa miris yang berusaha ia tutup dengan tawa bahagia. Dua pemuda itu hanya mampu menerima nasib dengan sabar. Mereka tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan Mnium. *** Mnium menyemprotkan cairan ke dalam ruang pos kebun raya saat dua pemuda itu baru saja terlelap. Senyum puas terkembang di bibirnya. Dan tidak lama dari itu, cairan tersebut telah bekerja. Membuat dua pemuda itu berjalan secara tidak sadar mengikuti langkahnya. Hingga mengantarkan dua pemuda itu pada gubuknya yang berada di tengah hutan. Sejak lama ia membuat cairan itu. Terus bereksperimen dan bereksperimen. Akhirnya ia mendapatkan cairan yang pas dan tepat. Cairan yang sengaja ia buat untuk membuat seseorang menjadi pengikutnya. Membangun sebuah pulau lumut. Pulau di mana yang ia harapkan mampu menghancurkan mantan istrinya. Ia ingin membalas dendam pada istrinya dengan serangan lumut yang merajalela. Membuat seluruh bumi dipenuhi dengan lumut. Menghancurkan segala hal yang telah membuat hatinya hancur. Tidak hanya hatinya, tetapi semuanya. Semuanya telah hancur. Hancur lebur tak menyisakan apa pun. Mnium bukan lagi pria yang dulu hangat dan ramah. Ia telah menjelma menjadi monster. Monster yang hatinya hanya tentang semua keinginannya untuk menghancurkan apa yang telah menghancurkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD