Suara riuh mahasiswa yang baru saja berkumpul setelah berkeliling mengitari Kebun Raya Pididi membuat Radula menajamkan pandangannya. Ia amati satu per satu adik tingkatnya itu.
‘Mereka belum kembali!’
“Semua sudah berkumpul, Radula?” tanya Bu Axilia saat ia telah tiba di samping mahasiswanya itu. Matanya tampak sibuk mengawasi mahasiswanya yang berbincang seru mengenai luasnya kebun raya, keindahan dan juga keanekaragamannya.
Radula mengambil napas dalam. Dalam hati ia berdecak kesal karena keteledorannya. Ia juga megumpat kesal.
‘s**t!! Mereka mengapa tidak juga kembali!?’
Mazila tampaknya mengerti kegundahan Radula. Ia pun berjalan menuju Bu Axilia.
“Ehm.. Bu..,” panggilnya pelan.
Bu Axilia menghentikan kegiatannya yang sedang mengedarkan pandangan. Ia beralih memandang asistennya dengan tatapan penuh tanya.
“Mo..hon maaf, Bu,” ucapnya dengan lirih. Ia tak berani membalas tatapan Sang Dosen. Menunduk dalam ia lakukan sebagai wujud permintaan maafnya. Begitu pula dengan Lura.
“Ada apa?” Suaranya sudah naik satu oktaf.
Radula dan Mazila menghela napas panjang, bersiap menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi.
Radula mengambil napas dalam. Lalu ia jelaskan pelan-pelan hal apa yang sejak tadi mengganjal dan mengganggu pikirnya.
Radula semakin menunduk dalam saat penjelasannya baru saja selesai ia sampaikan. Begitu pula dengan Mazila yang sejak tadi tidak berani mengangkat kepalanya.
“Bagaimana bisa hal ini terjadi!? Dan bagaimana bisa kalian kecolongan, hah!?” desis Bu Axilia tajam. Wajahnya tampak memerah, rahangnya mengetat, matanya membelalak lebar, dan dahinya terlihat berkerut jelas.
“Ka—mi… mohon.. maaf, Bu,” sahut Mazila dengan ucapan kata yang terpenggal.
Bu Axilia mengatur laju napasnya. Berita tersebut berhasil mengejutkannya, juga meledakkan amarahnya.
“Kalian sudah mencarinya?”
Bu Axilia menggiring dua asistennya itu menjauh dari kerumunan mahasiswa. Tidak boleh ada yang tahu bila ada kejadian tidak terduga seperti ini, terutama mahasiswa.
“Sudah, Bu. Saya sudah mencarinya hingga ke perbatasan bersama salah satu petugas Kebun Raya Pididi juga perlindungan hutan. Sedang Mazila saya pinta untuk mengawasi saat bersama anak-anak menggunakan kereta,” jelas Radula dengan mempertahankan tundukannya.
Bu Axilia menghela napas panjang. “Apa mereka berkemungkinan masuk melewati batas?” tanyanya dengan berusaha menenangkan perasaannya. Ia memang marah, tapi ia sadar bila kemarahannya pasti tak mungkin membawa mahasiswanya kembali datang saat ini juga.
Radula mengangguk. “Mereka sepertinya terlena dengan keindahan air terjun yang ada dalam hutan,” ucapnya seperti tak sadar.
“Gimana, Lura?” tanya Bu Axilia.
“Sepertinya mereka terlena dengan keindahan air terjun. Lalu mereka tidak sadar bila bahaya sedang mengintai mereka. Mereka masuk semakin dalam ke hutan.”
Pandangan Radula seakan menerawang jauh. “Mereka sedang berlari keluar,” celetuk Radula.
“Jadi kita harus bagaimana? Kita tidak mungkin hanya menunggu di sini saja bukan, Radula?” sahut Bu Axilia.
Radula mengangguk. “Saya dan Mazila juga meminta bantuan petugas akan menunggu mereka di dekat perbatasan, Bu. Kami akan masuk ke hutan yang ada di dalam pagar perbatasan sana,” putusnya.
“Tidak!! Saya harus ikut,” tegas Bu Axilia.
“Lalu bagaimana dengan anak-anak, Bu?” sahut Mazila.
“Kalian tunggu di sini. Saya mau menemui Bu Maxilia terlebih dahulu,” tegasnya.
Bu Axilia melangkah menjauh dari Radula dan Mazila. Ia tampak berbicara serius dengan Bu Maxilia. Tak lama kemudian, ia kembali melangkah menuju dua asistennya. Sembari melangkah, ia tampak berbincang serius dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Kamu bisa melihat, Radu?” tanya Mazila ingin tahu. Biasanya ia sering tidak ingin tahu urusan orang lain. Tapi kali ini ia begitu penasaran.
Radula hanya mengedik. Enggan menjelaskan. Toh Mazila juga sudah melihatnya sendiri tadi.
“Ih.. Radu mah gitu,” kata Mazila kesal. Bahkan perempuan itu tampak manja. Bukan dirinya sekali bila dihadapkan dengan para adik tingkatnya. Ia selalu ganas, seakan menjadi macan yang selalu siap kapan pun untuk mengeluarkan taring tajamnya.
Mazila hendak memberondong Radula dengan berbagai pertanyaan, sayangnya Bu Axilia sudah berada tak jauh dari mereka.
“Saya sudah meminta Bu Maxilia untuk mengkoordinir anak-anak. Dan saya baru saja menghubungi sopir rumah untuk segera jalan ke sini. Biar rombongan pulang lebih awal, agar tidak menimbulkan huru hara,” tegas Bu Axilia.
Radula dan Mazila hanya menunduk. Dosen bebas menentukan apa pun yang terbaik. Mereka hanya perlu patuh selagi hal yang dilakukan tidak melanggar aturan. Dosen pun bisa memutuskan sesuatu semudah mungkin, seperti Bu Axilia yang dengan mudah menghubungi sopirnya untuk menjemput mereka.
“Kalau begitu saya panggil dulu petugas kebun raya dan perlindungan hutannya, ya, Bu,” ijin Radula.
Selepas mendapat ijin dari Bu Axilia ia segera melebarkan langkahnya menuju pos kebun raya. Saat Radula tiba di pos itu, ia dapat mendengar perbincangan para bapak-bapak itu.
“Apa mereka dibawa Pak Mnium masuk ke sana?” ucap salah satu bapak-bapak.
“Bisa jadi. Bukankah Pak Mnium juga hilang di perbatasan itu. Bahkan jejaknya pun tidak diketahui sampai saat ini,” sahut bapak-bapak lain.
“Pak.. permisi,” interupsi Radula. Hal itu membuat bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos sama-sama mengalihkan pandangannya ke arah Radula.
“Bagaimana, Mas?” tanya bapak-bapak yang tadi menemaninya menuju perbatasan.
“Dosen kami ingin meminta ke perbatasan. Mungkin jika tidak keberatan, saya ingin minta tolong Bapak agar mendampingi kami,” ucap Radula santun.
“Tidak masalah. Kalau begitu kita pergi ke sana sekarang?”
“Iya, Pak.”
***
Radula, Mazila, Bu Axilia, dan dua bapak-bapak—satu penjaga kebun raya dan satu petugas hutan berjalan beriringan menuju perbatasan. Semakin masuk mendekati perbatasan, pohon-pohon semakin rimbun. Membuat suasana juga sedikit gelap karena dedaunan yang menutupi akses sinar matahari menuju tanah.
Mazilia dan Bu Axilia dibuat kagum dengan lumut-lumut yang memenuhi kawasan dekat pagar perbatasan. “Pantas saja mereka bisa sampai sini, di sini lumutnya melimpah,” celetuk Mazila pelan.
Bu Axilia masih dapat mendengar ucapan Mazila. “Benar. Lumutnya tampak segar dan subur,” sahutnya.
Mendengar jawaban Bu Axilia, Mazila menjadi sungkan sendiri. Terkadang mulutnya memang suka ceplas ceplos.
“Mas.. Mas yakin kalau mereka masuk ke perbatasan?” tanya salah satu bapak-bapak.
“Saya yakin, Pak. Mereka melewati pagar perbatasan yang rusak. Sehingga mereka tidak menyadari jika ada pagar di sisi kanan dan kirinya. Mereka tadi berjalan menuju air terjun,” jelas Radula.
“Kamu melihatnya sendiri, Mas?” tanya bapak yang satunya.
Radula menggeleng. “Saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri, Pak. Namun dengan hati saya,” jawabnya.
Bapak tersebut mengangguk paham. “Jadi kamu bisa melihat hal-hal seperti itu, Mas?”
“Entah, Pak. Saya hanya bisa melihat bila seseorang itu pernah bersama saya. Atau pernah berbincang dengan saya selama tiga jam. Dan saya baru bisa melihat kebeadaan mereka di mana jika mereka telah menghilang selama dua jam,” jelas Radula. Ia juga dulu tidak mengerti dengan penuhnya pikirannya yang tiba-tiba mengganggunya. Namun, lama-kelamaan ia menjadi terbiasa. Ia pun mampu mengkalkulasikan waktunya karena banyak hal yang terjadi tidak sengaja seperti itu.
Di belakang Radula, Mazila dan Bu Axilia mengangguk paham. Mazila pun merasa puas karena ia telah menemukan jawabannya.