Pemandangan yang indah dan hijau tidak dipedulikan oleh dua pemuda yang sedang fokus berlari itu. Ranting-ranting pohon yang melambai seakan meminta mereka berhenti, beristirahat sejenak menikmati segarnya udara. Namun, fokus mereka bukan pada itu. Mereka butuh berlari dari Mnium. Mnium sedang marah besar. Dan orang yang biasanya sedang marah amukannya tak terkendali.
“KALIAN PASTI AKAN KUTANGKAP!! HA HA HA HA!!!” Mnium berteriak lantang. Dalam larinya mengejar Lura dan Bratra ia terus berbicara, berniat membuat nyali mereka ciut. Sehingga ia akan dapat dengan cepat menangkap dua pemuda ditambah dengan dua perempuan yang sudah berlari cukup jauh darinya.
“Fokus, Tra. Abaikan suara manusia itu,” pesan Lura tegas.
Bagaimana tidak bila suara Mnium mampu membuat burung-burung yang sedang bertengger nyaman di ranting pohon pun harus berterbangan. Tupai yang sedang berkejaran dari satu ranting pohon ke ranting lain dan pohon lain pun berlari kencang. Mereka menatap awas para manusia di bawahnya.
Napas Lura dan Bratra sudah putus-putus. Mereka begitu berat berlari dengan kondisi pernapasan yang tidak sehat itu.
“L—lur…,” panggil Bratra terputus. “Kita berhenti saja gimana? Dadaku rasanya sesak,” lanjutnya dengan menahan nyeri yang sedang dirasakannya.
Lura menengok pada rekannya itu sejenak. Benar. Bratra tidak berbohong. Dan sekali lagi ia menengok pada Mnium, pria itu berlari dengan wajah memerah, marah.
Lura kembali menghadap depan, mencari tempat persembunyian yang mungkin saja tidak akan diketahui oleh Mnium.
“Nggak ada tempat sembunyi, Tra. Kita nggak mungkin berhenti di sini. Manusia itu berjarak cukup dekat dengan kita,” tolak Lura.
“Tapi.. L-lur.” Ucapan Bratra terputus karena napasnya yang tersengal-sengal.
“Kamu ambil napas pelan-pelan. Jangan dipaksa ambil napas cepat. Terus dihembuskan melalui mulut,” teriak Lura. Laki-laki itu pun memelankan langkahnya agar bisa memantau Bratra dengan baik.
Bratra mencoba melakukan saran Lura. Ia ambil napas perlahan, tidak terlalu dalam dan memaksa kerja organ pernapasannya. Lalu ia hembuskan karbon dioksida itu pelan-pelan melalui mulut. Awalnya cukup berat, ia masih tetap merasakan sesak. Namun, lama-kelamaan napasnya dapat kembali teratur. Tidak ada lagi sesak atau pun nyeri di dadanya.
“Gimana?” tanya Lura setelah melihat Bratra lebih tenang.
“Sudah mendingan. Ah, tidak tidak. Sudah lebih baik,” jawab Bratra sembari mengembuskan napas lega.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Lura ikut tenang. “Kalau begitu kamu atur terus laju pernapasanmu. Kita nggak mungkin nyantai-nyantai, Tra. Karena kita tidak tahu apa yang akan manusia itu lakukan,” tegas Lura.
Bratra mengangguk. Ia melanjutkan langkahnya dalam berlari. Ia harus tetap kuat demi terbebas dari jeratan manusia itu.
***
Sedang di sisi lain, Funa dan Penna masih semangat berlari. Sesekali mereka berhenti untuk menikmati hijaunya alam dan mendengarkan nyanyian dari burung yang bersiul.
“Pen, burungnya cantik banget,” kata Funa sembari menunjuk sekelompok burung yang baru saja berterbangan. Kini burung itu sedang asyik bertengger sembari membersihkan bulu-bulu mereka. Entah membersihkan atau bertujuan menghilangkan kutu di bulu mereka.
Penna melihat pada pohon di mana Funa menunjuk. Ada beberapa burung yang tampak asyik bertengger berjajar di salah satu ranting pohon yang berukuran cukup besar. Sayap burung itu cantik, perpaduan warna biru dan hitam. Di bagian perut burung, atau sekitar bagian tubuh bawah burung bulunya berwarna putih. Bulu itu tampak bersih dan berkilau. Ditambah dengan jambul berwarna putih di atas kepalanya, semakin terlihat cantik dan menawan sekali burung itu.
“Burung apa ya itu, Fun?” tanya Penna sembari ikut memperhatikan gerak burung itu. Sesekali burung itu bersiul dengan gerakan seakan mengangguk-anggukan kepalanya. “Ih.. lucu banget,” pekik Penna saat melihat gerakan kepala burung itu.
Funa mengangguk setuju. Ditambah ukuran burung itu yang tak begitu besar, semakin terpesonalah ia. Mungkin ukuran burung itu seukuran burung tekukur.
“Kamu mendengar teriakan itu?” tanya Penna panik. Ia baru saja mendengar teriakan geram dari kejauhan.
“Apa manusia itu sudah berada dekat dengan kita?” tanya Funa balik.
Penna menggeleng. Wajahnya kembali pucat pasi. Ia takut.
“Kita kembali berlari. Pasti ada jalan yang akan mengantarkan kita keluar dari pulau ini,” ucap Funa tegas.
Penna mengangguk. Sebenarnya ia masih ingin bertahan di tempat itu. Ia masih ingin memandang keelokan burung itu. Ia pun ingin mengabadikannya. Sayangnya tak ada alat komunikasi atau kamera yang bisa membantu mewujudkan keinginannya itu.
“Penna!! Ayo!!!” tegur Funa saat melihat Penna yang masih memandang sekawanan burung itu dengan sorot kesedihan.
Penna pun mengikuti langkah Funa. Perempuan itu menarik lengannya kuat. Mau tak mau ia pun harus pergi. Mungkin kecantikan burung itu akan selalu ia simpan dalam memori pikirnya. Jika diingat, ia bukan salah satu pecinta hewan. Bahkan cenderung benci, apalagi dengan hewan berbulu. Hidungnya suka sekali bersin sebagai wujud protes, alergi saat ada burung berbulu di sekitarnya. Namun sejak melihat burung itu untuk pertama kalinya, ia langsung dibuat jatuh cinta.
Mereka kembali berlari. Tujuan mereka masih tetap sama, keluar dari pulau lumut itu sesegera mungkin. Mnium tak boleh menangkap mereka. Mereka masih ingin melanjutkan hidup di dunia. Tidak ingin menjadi pengabdi Mnium.
“Fun!! Lihat burung itu!!” seru Penna dengan mata berbinar. Di atas mereka, tidak tepat di atas mereka, agak ke sebelah kanan dari posisi mereka, sekawanan burung yang sejak tadi mereka amati sedang terbang, seakan mengikuti mereka. Atau entah menjadi petunjuk jalan atau kawan bagi perjalanan mereka.
Funa mendongak. Burung itu terbang dengan indah. Mereka juga ramai bercuit di atas langit.
“Mereka mau mengantarkan kita atau menyesatkan kita?” tanya Funa lirih. Benaknya menjadi sering berpikir negatif. Takut bila mereka semakin tersesat dan masuk ke alam yang tak mereka kenali.
Penna mengedik. Ia pun tak tahu. “Kita pakai insting kita saja,” tegasnya.
Di hadapan mereka ada jalan yang bercabang seperti huruf Y, ke kanan dan ke kiri. Dari posisi mereka, di hadapan mereka kedua jalan itu tampak sama-sama gelap dan rimbun. Tidak tahu jalan mana yang akan mengantarkan mereka menuju jalan keluar.
“Instingmu ke mana?” tanya Funa.
“Ke kanan,” jawab Penna. “Kamu gimana?” tanyanya balik.
Funa bimbang. Ia diam dan tampak berpikir. “Tapi instingku ke kiri,” jawabnya pada akhirnya. Pikirnya terus bekerja keras apa benar jalan yang ia pilih itu.
“Lalu bagaimana? Apa kita harus mengambil jalan sendiri-sendiri?”
“Ya jangan!!” teriak Funa. “Kita ke kanan saja,” pungkas Funa.
Mereka pun berlari ke belokan kanan. Burung itu masih mengikuti.
Lalu apa benar jalan yang dua perempuan itu lalui adalah jalan menuju pintu keluar dari pulau lumut itu? Atau akankah mereka kembali tersesat?