45. Alasan Dibalik Semuanya

1038 Words
“Bu.. kulo bidhal kerja rumiyen, nggih. Pangapunten ingkang kathah menawi tumindak kulo lan adek enten mboten sae ten Ibu,” ucap Mnium di suatu pagi. (Bu.. saya mau berangkat kerja dulu, ya. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada tindakan saya dan adek ada yang nggak baik ke Ibu.) “Kowe iki yo lapo tho, Le? Biasane nek kape budhal kerjo ya teko salim tok. Gak tahu neko-neko koyok saiki,” protes ibu Mnium dengan penuh kecurigaan. (Kamu ini kenapa, Le? Biasanya kalau mau berangkat kerja hanya sekedar salim. Tidak pernah aneh-aneh seperti sekarang.) “Ojo nggarakno Ibuk mikir sing gak-gak,” tuturnya galak. (Jangan membuat Ibu mikir yang tidak-tidak.) Mnium melengkungkan senyum lembut. “Kulo namung pingin nyenengno Ibuk saniki. Kalihan pingin menenangkan hati,” katanya lembut. (Saya hanya ingin menyenangkan Ibu untuk saat ini. Sekalian ingin menenangkan hati.) Ibu Mnium menghela napas. Ia tidak tahu harus memberikan wejangan apa untuk putra semata wayangnya. Ia tahu bila Mnium butuh waktu yang banyak untuk menenangkan dirinya. Jika ia menambah beban putranya dengan berbagai wejangan, ditakutkan putranya itu semakin stres. Mnium mencium tangan ibunya yang usianya sudah akan menginjak 60 tahun. Sudah berkeriput tetapi kecantikan masih tampak jelas di wajahnya. Keriputnya pun masih belum menyeluruh. Sehingga masih terlihat seperti usia akhir 50 tahunan. Ibu Mnium mengusap rambutnya putranya lembut. “Ati-ati nang dalan, Le. Sing semangat olehe kerjo. Muleh jam piro engko?” selidiknya. (Hati-hati di jalan, Le. Yang semangat kerjanya. Pulang jam berapa nanti?) “Dereng ngertos, Bu,” jawab Mnium sembari menggeleng. Entah. Ia pun bingung akan pulang jam berapa. (Belum tahu, Bu.) “Awas nek gak muleh!! Ibu dhewean nang omah!!” tegurnya tegas. (Awas kalau nggak pulang!! Ibu sendirian di rumah!!) Mnium hanya tersenyum. Diciumnya kening ibunya lembut. “Kulo budhal sek, Bu,” pamitnya. “Assalamu’alaikum.” (Sata berangkat dulu, Bu.) “Wa’alaikunsalam,” jawab ibu Mnium sembari terus memandang punggung putranya yang semakin menjauh. “Mugo-mugo gak enek opo-opo. Perasaanku kok gak tenang,” lirihnya. (Semoga tidak terjadi apa-apa. Perasaanku gak tenang.) Ibu Mnium memilih mengantar putranya, dalam arti ia mengikuti putranya hingga putranya itu mengendarai motornya. Motor Mnium melaju meninggalkan halaman rumah yang cukup luas, ada pohon sukun besar di dekat pagar, pohon jambu air yang berbuah lebat, pohon beringin yang masih kecil—mungkin tingginya masih sekitar 160 centi, pohon belimbing buah dengan buah-buahnya yang mulai menguning, dan pohon kelengkeng yang masih berukuran cukup kecil. Beberapa pohon seperti beringin dan kelengkeng, yang menanam adalah Mnium. Sedang pohon lainnya, mendiang suaminyalah yang menanam. Ayah Mnium juga begitu menyukai tanaman. Beliau juga salah satu petugas pelindung hutan dulu. Hal yang juga membuat Mnium bercita-cita seperti ayahnya selain karena ambil data untuk tugas akhir strata satunya. Ibu Mnium berharap semoga tidak ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa putranya. Sedang dalam perjalanan ke kantor, Mnium tampak tak fokus. Ia tetap mampu mengendarai motor dengan baik. Tidak ada klaksonan dari pengemudi di belakangnya. Hanya saja pikirannya sedang dipenuhi dengan berbagai pikiran yang sejak semalam mengganggu pikirannya. “Hei, Bro.. Are you okay?” tanya salah satu rekan Mnium kala pria itu baru saja masuk ke ruang kantornya. Mnium hanya menanggapinya dengan senyum. Pertanyaan basi, begitu pikirnya. “Ya semoga saja aku baik-baik saja,” jawabnya sembari mengedik. Itu memang benar harapannya saat ini. Baik-baik saja. Rekan Mnium menepuk bahu Mnium. Ia tak ingin terlalu banyak mengomentari hidup Mnium dan berakhir dengan melukai perasaan rekannya itu. Mnium tentu sudah merasakan sakit yang luar biasa. Dan ia tak ingin menambah rasa sakit itu dengan ucapannya yang mungkin akan menyumbang rasa sakit tambahan. Mnium berjalan menuju mejanya. Duduk sembari membuka buku kerjanya. Tidak ada yang menarik. Jika dulu ia selalu semangat membaca tiap jajar kalimat mengenai progress pekerjaannya atau pun pekerjaan yang menantinya, kini tidak lagi. Semua itu membosankan. Membuat kepalanya pusing. Membaca buku itu sama dengan mengingatkan lukanya yang masih basah, belum mengering sedikit pun. Lukanya masih menganga lebar. “Mnium, awakmu ditugasno Pak Handoko nang Kebun Raya Pididi. Enek kelompok Ibu-ibu sing rekreasi nang kono. Awakmu lak erah dhewe nek Ibu-ibu biasane sueneng ngrameni karo njupuki kembang-kembang,” ucap salah satu rekan Mnium sembari tertawa. Membuyarkan lamunan Mnium. (Mnium, kamu ditugaskan Pak Handoko di Kebun Raya Pididi. Ada kelompok Ibu-ibu yang rekreasi ke sana. Kamu kan tahu sendiri kalau Ibu-ibu biasanya sangat suka membuat gaduh dan memetik bunga-bunga.) Mnium hanya mengangguk. Tidak lupa ia ucapkan terima kasih. Lalu ia segera keluar dari kantor itu menuju Kebun Raya yang dimaksud. Benar saja, sesampainya di Kebun Raya, kawasan itu dipenuhi dengan Ibu-ibu yang sibuk ber-selfie atau berfoto bersama rekan-rekannya. Membuat Mnium hanya mampu menghela napas panjang. Ting. Namun tiba-tiba sebuah pemikiran yang sejak semalam mengganggunya, kini kembali membuat pikirannya penuh sesak. Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak berbuat nekat. Ia harus bermain halus. Mnium menghela napas kalau rombongan Ibu-ibu itu telah membubarkan diri dan bersiap naik ke bis. Yah meskipun hampir menuju pukul empat sore. Entah apa hal yang membuat Ibu-ibu itu begitu betah bertahan di sana. Mnium mengendarai motornya masuk menuju kawasan Kebun Raya Pididi yang paling dalam. Dihembuskannya napas lega kala ia tiba di pagar pembatasan, pagar di mana ditatanya di hari yang sama dengan kejadiaan naas yang menimpanya. “s**t!!” umpat Mnium. Mnium menepikan motornya di samping pagar perbatasan itu. Lalu ia menaiki pagar dari batang pohon, lebih tepatnya ranting pohon itu dengan hati-hati. Langkahnya mantap menuju bagian hutan yang tak pernah dijamah itu. Mengabaikan pesan ibunya tadi pagi. Ia cukup stres. Pikirannya penuh. Dan dengan masuk ke dalam hutan lalu menjalankan apa yang ia pikirkan sejak semalam sepertinya itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Gelap tak menjadi penghalang bagi Mnium untuk terus melangkah masuk ke hutan yang gelap itu. Pepohonan tinggi, semak yang rapat, semakin membuat hutan itu tampak menyeramkan. Namun ia tak takut. Nyalinya kuat. Hampir tiga jam ia melangkah, ia disambut dengan hamparan luas yang dipenuhi dengan lumut. Meskipun gelap, cahaya bulan yang terang membantunya untuk dapat melihat hamparan hijau bagaikan batu zamrud itu. Senyumnya merekah lebar. Ia pun mulai mengambil alat potong yang ia simpan di ranselnya, lalu mulai membangun gubuk untuknya beristirahat. Esok ia akan mulai menjalankan misinya. Melupakan ibunya yang saat ini dilanda panik dan khawatir karena Mnium tak kunjung pulang. Ditambah dengan ditemukan motornya di dekat pagar perbatasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD