Tangis sendu terdengar menyayat di indra pendengar Mnium. Ia ikut merasakan kesedihan wanita yang menangis tersedu sedan. Namun pengkhianatan tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Baginya, selingkuh adalah salah satu tindakan yang tidak dapat dimaafkan. Rasa sakit akibat pengkhianatan tidak semudah itu dihilangkan. Ditambah dengan apa yang ia lihat menggunakan mata telanjangnya di salah satu kamar di rumahnya. Rumah yang ia beli dengan menabung penghasilannya selama bekerja dua tahun di dinas pelindung hutan.
Ia ingin menangis setiap mengingat peristiwa itu. Salah apa dirinya sehingga cinta tulusnya dibalas dengan pengkhianatan? Apa kurangnya ia sehingga istrinya tega bermain sesuatu hal yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan sah di belakangnya?
Mnium segera menjual rumahnya. Ia memilih kembali ke rumah orang tuanya yang hanya ditempati oleh ibunya. Dan tidak perlu menunggu waktu lama, rumah yang ia jual, rumah yang penuh dengan kehangatan dan kisah cinta antara ia dan istrinya itu cepat terjual. Di satu sisi ia merasa senang karena dapat dengan cepat menghapus bayang-bayang istrinya. Namun di sisi lain ia merasa miris. Hidupnya sungguh mengenaskan.
“Mas,” panggil wanita itu lirih dan penuh permohonan.
Mnium menghembuskan napas panjang. Ia menengok ke belakang. Tubuhnya pun menghadap pada wanita yang masih ia cintai hingga saat ini, mantan istrinya.
“Semoga kamu bisa menjalani hidup dengan nyaman dan tenang setelah ini. Dan semoga kamu bisa mendapatkan pria terbaik. Aku minta maaf karena belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu selama ini. Sampai jumpa. Semoga di pertemuan kita nanti, kita dapat saling bertukar senyum pertanda bahwa kita telah baik-baik saja dengan kehidupan yang selama ini kita jalani,” ucap Mnium.
Tanpa menunggu jawaban dari mantan istrinya, ia memutar tubuhnya. Melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju tempat parkir motor yang disediakan oleh pihak pengadilan agama.
Tidak satu kali pun Mnium menengok ke belakang lagi, meskipun istrinya terus memanggilnya. Mereka telah resmi bercerai. Maka tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan dan dibahas. Semua telah tuntas dan berakhir. Berakhir dengan perceraian yang meninggalkan luka begitu dalam pada tiap diri.
***
“Mas…”
Mnium tak menggubris. Menoleh pun ia enggan. Ia tetap sibuk dengan aktivitasnya menyeduh kopi.
Wanita itu berjalan menghampiri suaminya dengan perlahan. Tangannya berniat untuk menyentuh lengan suaminya. Namun, tangan itu hanya menggantung di udara.
Rasa bersalah kembali mengganggu pikirnya. Tidak hanya perasaan bersalah saja melainkan juga penyesalan yang amat besar.
Bodoh.
Bodoh.
Bagaimana bisa ia terhanyut dalam buaian pria lain? Pria yang juga memiliki ikatan pernikan dengan wanita lain. Mengapa ia bisa hanyut dalam buaian dosa itu?
Mengapa?
Sungguh malang sekali hatinya. Bodohnya ia karena terbuai dalam manisnya racun yang hanya bersifat sementara.
Wanita itu memilih berdiri di samping suaminya. Jaraknya tak sampai 50 centi. Dan ia dapat mencium aroma khas parfum suaminya.
Parfumnya lembut dan menenangkan. Aroma citrus dan pinus menjadi satu. Menghadirkan ketenangan layaknya hehijaunya alam.
“Mas.. bisa kita bicara? Aku ingin menjelaskan semuanya,” pinta wanita itu penuh permohonan. Ia berharap penjelasannya dapat menghancurkan dinding keterdiaman suaminya, meskipun hal itu bila dibandingkan antara satu berbanding dengan 1000. Sangat jauh kemungkinan maaf untuknya.
Mnium menghela napas panjang. Diaduknya kopi dan gula yang telah ia siram dengan air yang baru saja mendidih.
“Mengapa!? Apa aku pernah buat salah sama kamu? Apa ada hal yang aku lakukan sehingga menyakitimu dan kamu membalasku dengan luka seperti ini?” tanya Mnium sangat lirih. Suaranya begitu dalam, sarat akan patah dan luka, membuat istrinya semakin bersalah.
Mnium kembali menghembuskan napas lelah. Entah telah berapa kali ia melakukan hal itu, yang jelas sejak beberapa hari yang lalu. Hari yang baginya adalah hari terburuk.
Wanita itu diam tak berkutik. Jika dipikir sebanyak dan sedalam apa pun suaminya itu tidak melakukan kesalahan. Ia saja yang bodoh.
“Mas nggak salah.. Memang di si—ni aku yang salah,” ucapnya sembari menunduk dalam. Jari-jemarinya saling bertaut, tak tenang.
Mnium menghela napas kembali. “I don’t whats wrong with you. With me. Tapi mungkin ini adalah keputusan terberat yang memang harus kita jalani. Kita bercerai sa… ja,” tandasnya tegas.
Mnium membawa cangkirnya ke belakang rumah. Mengunci pintu belakang agar ia bisa menikmati kesendirian. Sembari terus meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja ia gugatkan pada istrinya adalah hal yang paling baik untuk hubungan mereka.
“Mas!!!” panggil istri Mnium dengan tegas. Ia tergesa menyusul suaminya. Sayang pintu itu telah terkunci rapat. Dan tidak ada jalan lain untuk menuju belakang rumah. Hanya satu pintu di hadapannya saat ini yang tertutup rapat.
Wanita itu menggedor pintu kuat. Ia juga berteriak frustasi, berharap suaminya segera membukakan pintunya dan mencabut apa yang baru saja ia ucapkan.
“Mas!!! Aku nggak mau cerai sama kamu!!” teriaknya dari balik pintu. Tangannya terus menggedor pintu. Menimbulkan keributan di pagi hari yang cukup cerah itu.
“Mas!!!” Ia tak berhenti memanggil Mnium. Suaminya tidak boleh menceraikan dirinya begitu saja.
“Aku tahu aku salah, Mas. Tapi kamu jangan memutuskan sesuatu secara sepihak seperti ini!!” teriak wanita itu frustasi.
Mnium tetap tenang di kursinya. Ia sesap rokoknya lalu ia hembuskan perlahan. Ia abaikan teriakan istrinya yang mungkin saja didengar oleh tetangganya.
Ah tetangga. Sayangnya Mnium sengaja memilih membeli rumah yang jauh dari kerumunan. Rumahnya memang berada dalam kompleks perumahan, tetapi ia sengaja memilih pada bagian yang masih memiliki halaman luas. Mengocek uang cukup dalam memang, tetapi ia merasa nyaman seperti itu. Istrinya dulu pun senang dengan rumah mereka. Nyatanya kesenangan itu disalahgunakan untuk hal di luar ekspektasi Mnium.
“Mas!!!”
Mnium tak peduli. Ia memilih memejamkan matanya. Ia lelah. Sejak beberapa hari lalu ia memilih cuti. Dan sejak beberapa hari lalu pula ia tak pernah nyenyak dalam tidurnya. Membuatnya saat ini begitu ingin terlelap. Melupakan sejenak masalah berat yang menimpanya. Juga untuk sedikit melegakan atas ucapannya yang juga menyakitinya.
Sedang di balik pintu, wanita itu duduk bersimpuh dengan tangis yang terdengar menyayat. Nelangsa ia. Namun nasi tak dapat diubah menjadi bubur. Merutuki kebodohannya pun tidak dapat mengembalikannya pada hari sialan itu.
Ia duduk dengan menumpukan kepalanya di antara tekukan lutut. Ia terus menangis hingga rasa lelah pun menyergapnya, mengantarnya pada alam mimpi. Dan mungkin juga akan mengantarnya pada hidup yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi padanya.