Mnium tampak sibuk mengecek perbatasan hutan liar dengan hutan yang masuk dalam kawasan Kebun Raya Pididi. Tampak batang pepohonan kecil yang telah diatur sedemikian rupa membentuk pagar yang berjajar rapi.
“Bagaimana, Pak? Sudah aman kan?” tanya seorang rekannya. Ia dan dua rekannya diberi tugas untuk mengecek area perbatasan. Menurut kepala bagiannya, hutan liar itu tak pernah terjamah, baik dari petugas hutan atau masyarakat umum. Untuk menghindari adanya berbagai kemungkinan celaka, pihak petugas hutan dan Kebun Raya Pididi memutuskan untuk merapatkan dan merapikan pagar perbatasan itu. Selain itu, pihak kebun raya juga telah menyiapkan plang yang bertuliskan bahwa siapa pun dilarang untuk masuk ke dalam hutan.
“Sudah,” jawab Mnium mantap.
Kedua rekannya mengangguk puas. Lalu mereka menuju motor yang sering digunakan untuk operasi ke dalam hutan.
“Oke. Berarti tugas kita sudah selesai. Bisa pulang lebih awal kalau begini,” ucap salah satu teman Mnium.
Mnium mengangguk setuju. Ia juga merasa senang karena bisa pulang lebih awal. Ia begitu merindukan istrinya.
Mereka telah duduk di atas motor masing-masing. “Kita balik, ya?” tanya temannya yang lain.
Mnium dan satu temannya mengangguk setuju. Mereka mulai menyalakan mesin motor. Selepas itu mereka segera melajukan motor di kawasan Kebun Raya Pididi yang tampak rindang dan indah. Berbagai pohon dan tanaman tertanam rapi. Pohon-pohon besar tertanam rapi membentuk pagar besar. Membuat jalanan semakin rindang.
Mnium menikmati kesejukan yang kebun raya berikan. Dikendarainya motor dengan perasaan riang. Sungguh ia merasa begitu bahagia dan tak sabar untuk segera tiba di rumah.
Mnium memarkirkan motornya di sebelah mobil Sang Istri. Jujur saja, hatinya berbunga-bunga karena melihat Sang Istri yang sudah pulang, sedang pewaktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya, istrinya itu pulang paling awal pukul lima sore.
Mnium bersiul senang sembari memutar kunci motornya di jari telunjuknya. Ia memasuki rumah dengan hati riang, tak sabar untuk bertemu istri tercinta.
Namun alis Mnium menukik tajam saat mendengar istrinya yang tampak berbincang di kamar sebelah kamar mereka. Suara istrinya terdengar berbisik mesra. Membuat kerutan di dahi Mnium tercetak jelas.
Mnium melangkah pelan mendekati pintu kamar itu. Telinganya ia tempelkan erat pada daun pintu berbahan kayu jati pilihan.
‘Apa yang sedang ia lakukan?’
Mnium tetap bertahan pada posisinya, mendengarkan bisikan yang istrinya lakukan. Dan matanya membola kala ia mendengar suara orang lain. Pikir positifnya, istrinya sedang berbincang melalui sambungan telepon, nyatanya ia salah. Dugaannya salah besar. Istrinya sedang bersama orang lain.
Tangan Mnium terkepal kuat. Amarahnya tak bisa ia kendalikan. Namun ia memilih tetap diam dengan telinga yang masih menempel erat di daun pintu. Menunggu perbincangan yang mungkin bisa lebih meyakinkannya, tetapi begitu jelas menyakitinya.
Kulitnya memutih. Pembuluh darahnya bahkan terlihat jelas. Wajahnya mengeras. Ini semua benar-benar di luar dugaannya.
BRAK.
Didorongnya pintu itu dengan tubuhnya. Matanya membola, tatapannya tajam, dan wajahnya memerah. Begitu pula dengan dua orang yang sedang berada di atas kasur. Mereka terkejut. Sedang Sang Wanita pucat pasi. Wajahnya memutih ketakutan.
“APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH?” teriaknya garang. Berharap dengan berteriak dapat melegakan perasaannya, sayangnya emosi semakin tak dapat ia bendung.
“M-mas,” panggil wanita itu lirih juga tergagap sembari mengangkat selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang tidak tertutup oleh sehelai kain.
Hati Mnium tergores dalam. Harga dirinya seakan dijatuhkan. Hancur sudah, tidak berbentuk.
Ia mendengus kuat begitu melihat sorot ketakutan istrinya. Mengabaikan pria di samping istrinya yang tampak tidak peduli. “Kenapa mesti ditutupi selimut kulit halusmu itu? Bukankah aku ini suamimu?” tanyanya dalam. Suaranya sarat akan kekalahan.
Wanita itu menggegam selimut semakin erat. Rasa bersalah begitu kuat mengakar pada dirinya. Ia benar-benar telah menghancurkan kepercayaan suaminya.
Mnium mengembuskan napasnya yang terasa berat. Percuma ia marah-marah. Sudah hancur semua rasa percayanya pada istrinya. Ia memutuskan untuk memutar badan. Berjalan menuju kamarnya lalu mandi. Tidak peduli pada istrinya yang mungkin sama hancurnya dengannya. Namun porsi hancurnya lebih besar daripada Sang Istri.
Biar saja istrinya dan pria itu melakukan apa pun yang mereka inginkan. Hal yang terpikir dalam benaknya adalah segera mengurus perceraian dengan istrinya. Dan satu hal terbersit dalam pikirnya, ‘Manusia Selalu Serakah.’
***
“Bagaimana kabarnya, Bu?” tanya Mnium sembari berjalan di samping dosen tumbuhan tingkat rendah yang kurang lebih dua tahun lalu juga menjadi dosennya itu.
Hari ini kampus tempatnya menimba strata satu tengah melakukan kegiatan praktikum lapangan di salah satu sumber air sungai terbesar di provinsinya. Bertepatan dengan jadwal Mnium yang bertugas mengecek sumber air itu.
“Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana, Mnium?” tanya dosen tersebut. Dosen tersebut salah satu dosen muda di kampusnya. Usianya pun belum menginjak kepala tiga, masih menuju kepala tiga.
“Alhamdulillah baik juga, Bu,” jawab Mnium.
Entah bagaimana awalnya, mereka tiba-tiba berjalan berdampingan sembari menikmati hehijauan di sekitar mereka. Merasakan penatnya perkuliahan, macetnya kota, polusi, dan berbagai hal lain, lalu disajikan dengan indahnya alam tentu membuat pikiran menjadi lebih fresh dan semangat kembali membumbung.
Dosen di samping Mnium termasuk dalam jajaran dosen killer. Mnium pun pernah menjadi sasaran empuk amarahnya. Namun itu dulu saat masa-masa perkuliahan. Selepas ia mendapatkan nilai untuk mata kuliah tumbuhan tingkat rendah, hubungannya dengan dosen tersebut pun baik-baik saja. Tidak ada dendam atau pun rasa sakit hati.
“Saya masih tidak menyangka kalau kamu berhasil juga menjadi salah satu jajaran terdepan pelindung hutan,” ucap dosen wanita itu pada Mnium. Ia tampak kagum dengan mahasiswanya yang telah mampu meraih apa yang dicita-citakan.
Mnium tersenyjm simpul, bukan senyum sombong, melainkan senyum malu-malu. Ia pun tak menyangka ia bisa menjadi salah satu petugas pelindung hutan. Hal yang tiba-tiba ia impikan ketika ia mulai sibuk mengurus tugas akhirnya. Kala itu ia mengambil tema tentang perlindungan hutan terhadap beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi. Dengan narasumber petugas penjaga hutan, ia menjadi ingin salah satu diantara mereka.
Benarnya apa yang dikatakan bila apa yang diinginkan dan sesuai dengan jalan yang Tuhan berikan, keinginan itu pasti akan terwujud tentu dengan usaha yang dilakukan. Dan hal itu terjadi pada Mnium. Bertepatan dengan keluarnya ijazahnya, bertepatan pula dengan pengumuman akan recruitment pegawai baru untuk petugas hutan.
Mnium tidak menyiakan kesempatan yang ada. Ia segera mendaftar, belajar beberapa tes yang akan dilakukan, dan tidak lupa selalu berdoa agar Allah mengabulkan segala harapannya. Dan bersyukur tak henti-hentinya Mnium panjatkan atas apa yang telah ia capai. Tuhan mengabulkan keinginannya.
“Saya juga tidak menyangka dapat lolos dan bekerja seperti sekarang, Bu,” jawab Mnium sembari menunduk.
Dosen tersebut mengangguk senang. Ia ikut bahagia terhadap pencapaian salah satu mahasiswanya itu. Mereka pun melanjutkan berbincang dengan berbagai topik. Lalu entah dorongan dari mana, Mnium memberikan diri untuk meminta kesempatan pada dosennya tersebut untuk membalas pesannya atau menerima telepon darinya.