42. Kembalinya Manusia Richia

1389 Words
-Kembali pada waktu larutan yang dipegang Funa mulai diteteskan di gua- Garis retakan pada atap dan dinding gua yang semula pendek, semakin lama semakin memanjang. Garis retakan itu seakan terus bergerak, seperti rembesan air di tanah. Semula kecil dan hanya satu garis. Hingga akhirnya garis itu membentuk cabang retakan pada area garis retak utama. Jalannya garis retak itu tak berbunyi, membuat siapa pun yang ada di gua tidak menyadari jika atap dan dinding gua mulai retak. Suara lenguhan orang baru bangun tidur terdengar memenuhi penjuru gua, tidak sampai ujung ke ujung. Hanya berjarak kurang lebih tujuh meter dari posisi orang tersebut. Mata manusia Richia mulai berkedip, menyesuaikan pandangan dengan kesadarannya. Kepala sedikit pusing dengan tubuh yang terasa nyeri. Manusia Richia itu mulai menarik badan dengan mengangkat tangan ke atas. Lalu digerakkannya ke samping kanan dan kiri. Matanya menatap langit-langit gua yang tampak gelap. Namun setidaknya ia masih dapat melihat jarak atap itu dengan tubuhnya yang terlentang. Ia mencoba mendudukkan dirinya. Dan dilihatnya kawan-kawannya yang masih terbaring lemah di atas tanah. ‘Tenaga pemuda tadi luar biasa. Berhasil membuat tubuhku nyeri dan encok,’ gerutunya dalam batin. Ia menarik napas dalam. Lalu dihembuskannya perlahan. Ia tak suka merasa sendiri, sehingga menggunakan kakinya ia membangunkan empat temannya yang lain. Digerakkan kakinya untuk menggoyang-goyangkan tubuh temannya yang masih belum tersadar. Ia malas mengangkat tubuhnya. Ditambah dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya semakin membuatnya malas bergerak. Ia mengembuskan napas lega kala salah satu kawannya mulai terbangun. Ia pun meminta kepada kawannya itu untuk membangunkan yang lain. Hingga akhirnya semua telah terbangun. Hanya saja ada yang masih memilih rebahan dan duduk. Mereka meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Sedikit lebih lega kala otot-otot terasa mulai berelaksasi. “Tata!! Wawa nanana di da,” ucap salah satu manusia Richia yang berniat bangun setelah mendapatkan tonjokan dari Lura. Manusia itu berusaha duduk di atas tanah dengan sekuat tenaga. Butuh perjuangan agar ia dapat duduk dengan posisi tubuh yang nyaman. Sedang rasa nyeri menjalar di seluruh tubuh. (Lihat!! Dinding itu mulai retak) Manusia Richia itu menunjuk pada garis retakan yang semakin lama semakin melebar. Membuat manusia Richia lain yang sedari tadi hanya duduk-duduk dan rebahan pun mulai tersadar jika ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitar mereka. Yang semula masih rebahan pun bergegas duduk, sedang yang sedari telah duduk pun menegakakkan duduknya untuk dapat mengamati apa yang disampaikan kawannya. “Wawana dasata?” tanya salah satu manusia Richia. (Bagaimana bisa?) “Wapa wakana teteja seseta?” sahut yang lain. (Apa akan terjadi sesuatu?) “Jajana jajana teteja gegepa bubumi,” celetuk yang lain dengan nada panik. (Jangan jangan terjadi gempa bumi.) Mereka segera berdiri cepat. Tidak peduli rasa nyeri pada tubuh. Mereka harus segera menyelamatkan diri. Mereka tidak ingin tertimbun oleh atap gua jika benar sedang terjadi gempa bumi dengan amplitudo atau besaran goncangan yang besar. Apalagi retakan itu semakin jelas dan semakin mengancam keselamatan. Mereka berlari terbirit-b***t menuju jalan keluar gua. Rasa takut dan panik semakin menghantui kala melihat garis retakan yang seakan mengikuti langkah mereka. Membuat mereka was-was. “Bababa dedega temama yana mamasa dadi labora?” celetuk salah satu manusia Richia di tengah-tengah pelarian mereka. (Bagaimana dengan teman-teman yang masih berada di laboratorium?) “Memera papasa memena,” sahut yang lain menenangkan. Meskipun ia sendiri tak yakin. (Mereka pasti mengerti.) Menurutnya, teman-temannya yang lain pasti juga mengetahui dan menyadari hal ganjil tersebut, berupa retakan. Mereka terus berlari kencang, semampu kaki mereka melangkah dengan kondisi tubuh yang nyeri dimana-mana. Beruntungnya kaki mereka cukup panjang sehingga langkah mereka lebih lebar dari manusia pribumi lainnya. Trak. Trak. BRAK. Mata mereka membola lebar. Mereka terkejut bukan main saat melihat atap gua di belakang mereka mulai runtuh. Dan atap itu terus runtuh sedikit demi sedikit, seperti mengikuti langkah mereka. Membuat mereka semakin berlari dengan kecepatan penuh. Kepanikan jelas melanda. Ditambah dengan debar jantung yang menggila. Benar-benar berdetak dengan cepat, mungkin bila boleh dilebih-lebihkan, jantung bisa pecah dan meledak. “Lalara!!” teriak salah satu manusia Richia. Mereka kalang kabut menyelamatkan diri. Jarak atap gua yang rubuh semakin dekat dengan rombongan mereka. Dan kemungkinan mereka untuk tertimpa atap gua pun besar. (Lari!!) Mereka berlari dengan kencang, hampir mengalahkan kecepatan juara pelari dunia. Tekanan memang dapat membuat seseorang bekerja dengan maksimal. Sama halnya dengan adanya tekanan berupa atap gua yang mulai runtuh, membuat manusia Richia itu mampu mem-push dirinya agar dapat selamat dari kejaran reruntuhan gua. Mereka mengembuskan napas lega saat hampir tiba di ujung gua yang dekat dengan pintu keluar. Namun, napas mereka tercekat saat melihat Mnium terbaring lemah di dekat pintu keluar. “Bobosa!!!” teriak manusia Richia memanggil Mnium. Salah satu dari mereka mencoba menepuk pipi Sang Bos pelan. Mereka tidak ingin mendapatkan dampratan gratis karena mengganggu dan mungkin dianggap menyakiti Mnium. (Bos!!!) “Boso!!!” panggil yang lain. Mereka juga mencoba menggerakkan jari-jari kaki Mnium. Ditekannya jempol kaki Mnium perlahan. Hingga kurang lebih menit setelahnya, kornea mata Mnium mulai bergerak. Dan matanya perlahan terbuka. Rasa nyeri begitu kuat di leher dan punggung atasnya. Ia menatap para manusia Richia tatapan bingung. Sedang manusia Richia mengembuskan napas lega kala Mnium telah sadar. Melupakan kejaran reruntuhan atap gua. Dan mereka juga tidak menyadari bila reruntuhan gua di belakang mereka telah berubah dengan hamparan lumut yang menutupi reruntuhan gua itu. “Boboso baba sasaja?” tanya manusia Richia. (Bos baik-baik saja?) Mnium mengangguk. Ia berusaha duduk dan bersandar pada dinding gua yang masih tersisa dengan bantuan para manusia Richia. Pikirnya teringat akan apa yang baru saja menimpanya. Membuat tangannya terkepal kuat. Amarahnya kembali memuncak. Dan amarah Mnium semakin membumbung tinggi saat melihat telinga manusia Richia itu tampak kembali normal. Ditambah dengan rambut-rambut lumut yang menutupi permukaan tubuhnya menghilang, tergantikan dengan rambut-rambut halus seperti manusia normal. “Lihat.. kulit kita kembali normal,” seru manusia Richia itu senang. Ia semakin senang dengan cara berbicara yang telah kembali seperti manusia pada umumnya. Mereka berpelukan erat. Mengabaikan amarah Mnium. Mengabaikan wajah Mnium yang memerah padam, seperti ada api yang membakar wajahnya. Bahkan mungkin juga akan mengeluarkan asap dari hidung, mulut, dan telinganya. “KALIAN PASTI TIDAK AKAN BISA KELUAR DARI SINI!!” amuk Mnium. Manusia Richia yang telah kembali normal itu pun segera mengambil balok yang tergeletak di dekat mereka. Balok yang digunakan Lura untuk memukul Mnium. Dan tanpa mampu Mnium cegah, salah satu manusia itu memukulnya dengan penuh tenaga. Melampiaskan segala amarah yang selama dipendamnya. “Jika bukan karena rayuanmu dan bujukanmu yang akan memberikan kami uang banyak, kami tidak akan pernah mau tinggal di Pulau Bryo ini,” ucap salah satu dari mereka galak. Bug. Sekali lagi dipukulkannya balok itu pada tubuh Mnium. Selepas itu lima manusia itu pergi meninggalkan Mnium yang menahan sakit. “BANGS**IT MEREKA SEMUA! INI SEMUA GARA-GARA PARA PEMUDA ITU!!” amuk Mnium dengan menahan nyeri di sekitar punggung dan lehernya. Mnium menahan nyeri yang ia rasakan dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding gua. Sesekali dipijatnya bagian yang nyeri itu. Membuatnya mengumpat berulang kali. Misinya gagal. Ah tidak tidak. Misinya pasti akan bisa terwujud. “Mungkin aku bisa menangkap para pemuda itu lalu aku akan membuat mereka bertekuk lutut padaku. Melakukan apa pun yang aku inginkan,” kelakar Mnium. Ia bahkan tertawa senang. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan rencananya itu. Namun, tiba-tiba ia menjadi kembali kesal saat mendengar suara-suara manusia Richia yang telah kembali normal tampak girang dan tertawa bahagia. Dapat ia pastikan bila mereka akan kembali berkumpul dengan manusia lain yang begitu memuja uang. Mungkin uang seakan menjadi berhala bagi mereka. Tangannya mengepal kuat. Rasanya benar-benar sia-sia karena para manusia yang telah ia jebak dalam perangkapnya selama beberapa tahun ini harus lepas secara cuma-cuma karena perilaku para pemuda itu. “Aku akan mengejar para pemuda itu sekarang. Pasti mereka akan tersesat dan tidak tahu jalan pulang,” ucapnya dengan senyum setan. Lalu tawanya tiba-tiba menggema memenuhi sedikit sisa gua. Sayangnya saat ia hendak berdiri, kakinya terasa nyeri. Seingatnya ia tidak dipukul oleh para pemuda dan manusia itu di kakinya. Namun mengapa kakinya terasa begitu nyeri? Mnium mengumpat sekali lagi. Dihembuskannya napasnya kasar. Lalu ia memilih menunggu kakinya dapat diajak bekerja sama agar ia bisa melaksanakan rencananya dengan lancar. Butuh waktu yang cukup lama untuknya merasakan kakinya kembali normal. Ia pun berjalan pelan menuju luar. Dan senyum culas kembali terbit di wajahnya saat melihat empat pemuda yang masih asyik menikmati pemandangan tak jauh darinya. “Rupanya kalian masih asyik menikmati keindahan pulau ini,” gumam Mnium sambil mengangguk-angguk senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD