Suara tawa menggelegar. Menggema di setiap penghujung pulau yang dipenuhi lumut itu. Angin yang berhembus, membawa gelombang bunyi tawa itu hingga jauh.
Penna dan Funa yang telah berlari hampir 15 menit itu dapat mendengar tawa itu. Tawa itu tampak mengintimidasi, tetapi juga seperti merasa nelangsa.
“Fun,” ucap Penna lirih dengan rasa takut yang menyertai.
“Iya. Aku juga mendengar suara tawa itu,” balas Funa dengan suara ketakutan. Bahkan suaranya bergetar.
“Apa manusia itu bisa membelah diri? Atau terbang?” tanya Penna polos.
“Tidak. Aku rasa dia memang sedang marah. Ditambah dengan arah angin yang mengarah ke sini membuat tawanya dapat terdengar hingga ke sini,” jawab Funa sedikit tidak yakin. Namun ia berusaha meyakinkan diri.
“Semoga saja,” harap Penna.
“Dia juga manusia biasa seperti kita. Namun… mungkin ada sesuatu hal yang melandasinya berada di sini,” kata Funa.
Penna hanya mengangguk. Ia yakin dan percaya bahwa setiap tindakan yang seseorang lakukan berlandaskan pada suatu alasan tertentu. Pasti ada dasar yang membuat seseorang berbuat demikian.
“Sudah. Kita abaikan saja suara tawa itu. Lebih baik kita lari sejauh mungkin. Lura dan Bratra pasti akan menyelamatkan kita,” ucap Funa.
Mereka kembali melangkah cepat. Sembari sesekali menengok ke belakang. Tak ada siapa pun. Hanya mereka berdua. Di belakang mereka pun hanya hamparan lumut yang menyebar seperti lapangan.
***
“Ah.. jadi benar adanya bahwa ada orang yang memang sedang mengintaiku waktu itu,” ucap Lura sambil mengangguk-angguk. Ia seakan tidak takut dengan Mnium. Laki-laki itu lebih terlihat sengaja menantang Mnium. Baginya, Mnium sama manusia seperti dirinya. Jadi tidak ada hal yang perlu ia takutkan.
“Iya!! Aku juga yang menukar larutan itu dengan larutanku!!” Tawanya kembali menggema. Ia seakan begitu bahagia karena melakukan hal itu. “Dan kalian mendapatkan akibat dari apa yang kamu lakukan wahai anak muda,” ucapnya tajam setelah tawanya reda. Tatapannya tajam. Mimik marah kembali terlihat pada wajah Mnium.
“Dan kamu juga merasakan akibat atas apa yang kamu lakukan, bukan? Usahamu untuk membuat laboratorium tentu butuh waktu yang panjang. Dan semuanya saat ini telah hancur dalam sekejap karena kesalahanmu yang menukar larutanku dengan larutanmu,” balas Lura tak kalah tajam.
“Dasar pemuda serakah!!” olok Mnium dengan tatapan kebencian. Wajahnya begitu merah. Pembuluh venanya tampak menonjol jelas di wajahnya. Wajahnya juga begitu keras. Berusaha menahan amarahnya.
“Bukankah sama denganmu yang juga serakah? Mengeksploitasi para manusia agar menuruti segala rencanamu,” balas Lura tajam. “Aku tadi melihat bila manusia-manusia lumut itu berubah menjadi manusia normal,” lanjutnya untuk terus memojokkan Mnium.
“Mereka manusia Richia. Manusia yang memilih jalan hidupnya untuk menjadi manusia lumut,” bentak Mnium tak terima.
“Aku yakin pasti ada sesuatu hal yang kamu lakukan pada mereka.”
“DIAM!!” sentak Mnium. Napasnya naik turun. Deru napasnya terdengar jelas.
Lura menuruti permintaan Mnium untuk diam. Dirinya sudah puas mengatakan segala hal yang memang ingin ia katakan.
Bratra sejak tadi hanya diam menunduk, dengan sesekali mengangkat kepalanya sejenak untuk memantau suasana panas di sekitarnya. Ia jelas ketakutan. Tidak berani menyela perbincangan yang mengandung otot itu. Ia memilih menjadi pendengar yang baik dengan tubuh yang sedikit bergerak tak tenang.
Pikiran Mnium berkecamuk. Sisi pikir yang kanan membenarkan ucapan Lara. Sisi kirinya tidak mempedulikan hal itu. Baginya apa yang telah ia lakukan selama ini adalah untuk melampiaskan kemarahannya terhadap segala sesuatu di dunia ini yang tidak sesuai dengan keinginannya.
“Akan aku hancurkan kalian!!!” teriaknya dengan tangan mengepal. Setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju Lura dan Bratra dengan emosi yang tampak jelas.
“Lari, Tra!!” bentak Lura pada Bratra yang tampak seperti orang kebingungan.
Lura sudah melangkah mundur dan berniat untuk berlari. Namun saat melihat Bratra berdiri kaku seperti patung, membuatnya dengan cepat menarik lengan Bratra. Tampaknya Bratra masih shock dengan apa yang terjadi di depannya.
Lura melangkahkan kakinya lebar-lebar, dengan tangan yang masih mencengkeram lengan Bratra. Hingga mereka sudah mulai berlari sekitar 50 kilo pun Bratra masih seperti orang linglung, yang tidak sadar dengan apa yang menimpanya.
“Bratra!!” sentak Lura sembari memutar badannya sebentar.
Bratra hanya mengerjapkan matanya. Kakinya pun melangkah tak sadar dan tanpa semangat.
Lura menengok ke belakang, Mnium tampak dekat dengan mereka. Tanpa menunggu lama lagi, Lura menonjok pipi Bratra.
“Aduh!!” teriak Bratra sembari memegang pipinya yang terasa nyeri. Nyut-nyutan pipinya karena mendapatkan tonjokkan gratis dari Lura.
“Apa-apaan kamu, Lur!?” teriaknya berang.
“Kamu yang apa-apaan!? Bisa-bisanya kamu melamun kayak orang linglung!!” sentak Lura tak kalah emosi. “Kamu harusnya ingat kalau kita sedang berhadapan dengan manusia penguasa lumut itu.”
“Memangnya iya aku melamun?” tanyanya pada diri sendiri. Sayangnya Lura masih dapat mendengarkan pertanyaan itu.
“Kamu tanya pada manusia di belakang kamu itu kalau nggak percaya!!” sentak Lura kesal.
Bratra menurut. Ia memutar kepalanya ke belakang. Dan seketika matanya membelalak saat melihat Mnium berada tak jauh dari posisinya.
“Lur…,” panggil Bratra dengan suara bergetar. Bagaimana bisa ia tidak menyadari jika saat ini ia sedang berlari dari kejaran dan amarah Mnium?
“Fokus dan lari!! Abaikan keberadaannya. Kita lari sekencang mungkin agar benar-benar bisa selamat dari sini,” perintah Lura tegas.
“Oke.. oke..,” jawab Bratra sembari menambah kecepatan larinya. Saking cepatnya ia lari, ia bahkan sampai mendahului Lura. Lura dibuat menggeleng karena kelakuan Bratra yang terkadang di luar dugaan.
“KALIAN TIDAK AKAN BISA LEPAS DARIKU!!” ucap Mnium menggelegar. Membuat beberapa pohon yang dilewatinya bergetar. Bahkan lumut-lumut pun ikut bergoyang karena gelombang suara Mnium.
“Cepat, Lur! Manusia itu sudah mengamuk,” peringat Bratra dengan berlari tumggang langgang.
Bratra dan Lura berlari sekuat tenaga. Mengabaikan rasa nyeri yang menyapa telapak kaki karena menginjak bebatuan yang ada di jalan setapak yang sedang mereka lewati. Tidak hanya batu kecil—kerikil, batu berukuran cukup besar terkadang menyembul di tanah itu, akar pohon pun turut menyumbang ketidakrataan tanah.
“Hati-hati, Tra.. ada akar pohon yang cukup besar di depan,” peringat Lura pada Bratra yang saat ini telah bertukar posisi dengannya. Lura sudah kembali memimpin di depan, sedang Bratra di belakangnya juga berlari semampu tenaga yang tersisa.
***
“Kamu merasakan getaran itu, Fun? Apa sedang ada gempa bumi?” tanya Penna panik ketika ia merasakan beberapa pohon yang dilintasinya sedikit bergetar. Getaran itu jelas berbeda dengan gerakan pohon ketika terbawa hembusan angin.
Funa mengangguk. Pertanyaan Penna membuatnya bergetar. Sungguh ia tak siap pergi dengan kondisi tubuh sedang berada di pulau yang tidak ia ketahui posisi pastinya.
“Semoga tidak terjadi apa-apa, Pen. Jangan membuat pikiranku semakin kacau,” ucap Funa tak tenang.
“Aku hanya memastikan, Fun. Aku takut,” lirih Penna.