40. Saling Berbicara

1176 Words
Angin berhembus lembut. Menyapu kulit. Menyapa tubuh yang mulai merasa kedinginan. Kanan dan kiri sejauh mata memandang tampak hijau. Bagaikan bebatuan zamrud yang indah. Menyegarkan. Membuat pikiran menjadi lebih tenang dan fresh. Benar adanya bila hehijaun memang menciptakan kedamaian. Meleburkan stress. Atau biasa dikenal dengan self healing. Hehijauan pepohonan, semak, perdu, dan lumut memanjakan mata. Antheridium dan arkegonium lumut hati melambai-lambai terbawa angin. Bergoyang beriringan mengikuti irama angin. Tampak cantik. Tidak hanya lumut hati yang memenuhi berbagai media, tanah, permukaan batang, bebatuan, tebing, tetapi juga lumut hati dan lumut tanduk. Berbagai jenis lumut memenuhi kawasan itu. Seperti taman bunga, hanya saja lumut yang menghuni taman tersebut. Di dalam gua dekat dengan kawasan hutan yang hijau itu, empat mahasiswa telah berkumpul kembali. Senyum lega terukir di bibir mereka. “Ya ampun, terima kasih, Rek. Tanpa kalian kita pasti sudah ditangkap sama manusia itu,” ucap Penna penuh haru. Ia tak kuasa menahan air matanya karena kebahagiaan yang merebak. “Aku tadi sudah membayangkan bila menjadi budaknya. Haduh, membuatku pusing dan benar-benar ketakutan,” lanjutnya dengan menggebu. Air mata masih menetes membentuk aliran di pipinya. “Dan syukurnya kalian datang di waktu yang tepat. Thanks, guys,” sahut Funa. “No problem. Ini semua juga berkat Lura. Tanpanya mungkin aku sudah celaka dan tidak bisa menyusul kalian ke sini,” sahut Bratra. “Terima kasih, Lura,” ucap Funa. “Terima kasih, ya, Lur,” sahut Penna. Lura hanya mengangguk. Wajahnya kembali datar. Tak ekspresif lagi seperti sebelumnya. “Ya elah, Lur. Mbok ya punya wajah itu jangan kaku kayak begitu. Perasaan sebelum ini wajah kamu sudah lebih ekspresif lho,” sahut Funa blak-blakan. “Iya. Tahu nih Lura. Sok-sok dingin lagi,” sahut Bratra ikut mendukung pendapat Funa. Lura masih tetap diam dengan tampang datarnya. Tidak terpengaruh sedikit pun dengan ucapan teman-temannya. “Ayo kita segera keluar dari sini. Manusia itu pasti bangun,” ucapnya sembari menunjuk Mnium dengan dagunya. Mereka pun hanya mengangguk saja. Tidak mendebat Lura. Gua itu tak hancur keseluruhan, dinding dekat pintu masih berdiri dengan kokoh. Mereka melewati dinding itu sebelum akhirnya dapat melihat kembali cahaya matahari. Berada di saluran gelap, gua yang gelap, membuat mata mereka dipaksa harus berakomodasi penuh. Dan entah mengapa ketika mereka melihat cahaya terang dari laboratorium yang ada dalam gua, mata mereka baik-baik saja. Berbeda dengan saat mereka melihat sinar matahari. Mata mereka seakan merasa silau dengan sinarnya yang begitu terang. “Silau banget,” gumam Funa. Ia menutupi matanya dengan lengannya. “Iya. Apa sinar matahari di sini sama seperti di garis katulistiwa?” sahut Bratra. Ia juga menggunakan lengannya untuk menghalau silau itu. “Lihat!!” seru Lura. Ia menunjuk pada hamparan lumut yang luas. Semuanya dipenuhi dengan lumut. Gua yang tadi mereka lewati pun telah berubah menjadi hamparan lumut. Sejauh mata memandang semuanya adalah lumut. “Wow.. Apa kita sedang berada di Pulau Lumut?” celetuk Penna. “Apa iya?” sahut Funa. “Lihat saja. Semuanya serba hijau dan berkilau. Seperti batu zamrud yang hijau. Lalu saat terkena sinar matahari, hijau itu akan tampak menyilaukan,” sahut Lura. Benar. Semuanya tampak hijau dengan lumut yang memenuhi setiap sisi. Hamparan lumut itu melebihi hamparan lumut yang mereka datangi saat mengambil lumut untuk diawetkan. Bahkan semuanya dipenuhi lumut. Seperti berada di savana, hanya saja hehijauan itu semuanya adalah lumut. “Apa karena efek dari larutan yang tadi kuteteskan?” gumam Funa. “Bisa jadi. Karena nggak mungkin lumut tumbuh secepat itu memenuhi reruntuhan dinding gua yang baru saja roboh,” balas Bratra. “Mungkin Pulau ini namanya Pulau Bryo,” gumam Lura. “Hah? Kenapa bisa begitu?” tanya Penna. “Ya karena dipenuhi dengan lumut sebanyak ini,” jawab Lura tenang. “Kamu tahu dari mana, Lur?” tanya Funa penasaran. “Aku hanya menebaknya saja. Bryo berasal dari Bryophyta.” Lura mengedikkan bahunya. Tidak yakin juga dengan spekulasinya. Ia hanya asal berucap akan apa yang ada di pikirannya. “Oh, I see!” seru Funa. “Sepertinya boleh juga nama yang Lura sematkan untuk pulau ini. Benar-benar dipenuhi dengan lumut.” Funa mengangguk-angguk dengan antusias. “KALIAN AKAN KUHABISI. DAN JANGAN HARAP KALIAN AKAN BISA LEPAS DARIKU!!” Mnium berteriak kencang. Pembuluh darah di wajahnya tampak menonjol pertanda ia benar-benar marah. Ia melangkah lebar-lebar ke arah empat pemuda itu. Matanya membola tajam. Rahangnya mengetat. Hidungnya berulang kali mengembuskan napas kasar. “KALIAN TELAH MERUSAK APA YANG AKU BUAT! DAN KALIAN HARUS MEMPERTANGGUNGJAWABKANNYA!!” Ia masih terus berteriak marah. Lura, Funa, Penna, dan Bratra yang semula masih asyik mengagumi pemandangan hijau di sekitarnya pun seketika terhenyak terkejut. “Bagaimana bisa ia bangun?” tanya Bratra panik. “Aku kan tadi hanya memukulnya, Tra. Bukan membunuhnya,” sahut Lura dengan wajah yang ia usahakan tetap tenang. “Kalian para perempuan, segera berlari. Dan coba cari sesuatu yang bisa menolong kami. Kami akan memberi perhitungan pada Mnium dulu,” perintah Lura tegas. “Tapi, Lur.. Kenapa kita nggak lari bareng-bareng saja?” tolak Funa. “Sudah.. kalian lari saja!!” teriak Lura dengan amarahnya. Funa dan Penna pun tak menanggapi. Lebih baik mereka berlari untuk menyelamatkan diri seperti yang Lura perintahkan. Mereka juga akan mencoba mencari cara untuk menemukan bala bantuan. “Lur.. kita mau apa?” tanya Bratra panik. “Mengajak dia berbincang sebentar,” jawab Lura tenang. “Yang bener kamu? Jangan bercanda, ya, Lur!!” seru Bratra kesal. “Sudah diam saja kenapa sih, Tra. Jangan berisik kayak mak-mak di pasar,” balas Lura tak kalah kesal. “KALIAN PARA PEREMPUAN!! MAU KE MANA KALIAN?” teriak Mnium. “Tidak perlu berurusan dengan mereka. Hadapi saja aku dan temanku,” balas Lura tenang. Wajahnya pun ia atur dengan wajah menantang. “MAU APA KALIAN, HAH? MANUSIA-MANUSIA SEPERTI KALIAN INI HANYA AKAN MENJADI PERUSAK!!” teriaknya berang. “Bukankah kamu juga manusia, hm?” ledek Lura. Skak mat. Mnium dibuat terdiam tak mampu menanggapi. “TAPI AKU YANG TELAH MEMBANGUN GUA DAN LABORATORIUM ITU. DAN KALIAN TIBA-TIBA DATANG MENGHANCURKAN SEMUANYA!!” “Kami tidak menghancurkan. Tapi kamulah yang mengundang kami untuk menghancurkan apa yang sudah kamu bangun itu,” jawab Lura. Mereka terbentang jarak dua meter. Mnium dengan wajah berangnya. Sedang Lura dengan wajahnya yang tetap tenang. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi ketakutan Bratra. Laki-laki itu duduk di samping sedikit belakang Lura dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Padahal, bila diamati, Mnium tidak membawa senjata apa pun. Pria itu hanya bermodalkan dengan amarahnya untuk melawan empat pemuda yang tersesat di Pulau Bryo. “Kalau kamu tidak nekat membawa larutan itu di semak-semak, kamu juga tidak akan terbawa ke sini,” ucap Mnium dengan dingin. Lura terdiam. Jadi benar bila semua ini berkaitan dengan formalin yang telah ia bawa. Dan benar pula bila ternyata mata tajam yang mengintainya kala ia baru saja meletakkan botol formalin itu adalah mata elang Mnium. Catatan: Antheridium adalah struktur organ reproduksi jantan pada lumut hati. Sedang arkegonium adalah struktur organ reproduksi betina pada lumut hati. Bentuk kedua struktur organ tersebut secara morfologi berbentuk seperti payung. Hanya saja untuk yang jantang cangkupnya menghadap ke bawah mirip payung, sedang betina ke atas atau cenderung datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD