39. Titik Terang

1465 Words
“Lur!!” Bratra memanggil Lura panik. Lura terlihat kesakitan. Kepalanya juga ia pegangi dengan erat. Meskipun seperti itu, setidaknya Lura masih beruntung karena tubuhnya tak sampai berciuman dengan tanah. Ia masih mampu menopang tubuhnya, menyeimbangkan dirinya setelah mendapatkan tonjokan dari manusia Richia. “Kamu gak apa, Lur?” tanya Bratra kalut. Ia bagaikan orang yang sedang kebingungan. Tak hanya itu, laki-laki itu juga tampak khawatir. Bahkan sampai tidak mempedulikan bila di sekitarnya masih berdiri para manusia Richia. Manusia Richia itu melengkungkan senyum sinis. Mereka juga puas karena telah membuat Lura terluka. Bagi mereka, menyingkirkan Lura dan Bratra adalah kewajiban, demi melindungi juga melaksanakan perintah Mnium. Lura hanya sanggup menggeleng. Tidak ada tenaga baginya untuk membuka mulut. Ingin rasanya Lura istirahat. Tubuhnya ikut nyeri semua. Bogeman manusia lumut itu membuatnya merasakan sakit yang benar-benar sakit. Tidak hanya pada pipi yang ditonjok, tapi sakitnya mengalir ke seluruh tubuh. Mengalir bersama aliran darah. Namun, saat melihat manusia Richia itu yang akan memulai kembali p*********n padanya pun tiba-tiba membuat amarah Lura berkobar. Bila diibaratkan, amarahnya sama seperti arang yang memerah panas. Lalu disiramkan di atasnya sebotol minyak tanah yang membuat arang itu berkobar dengan api yang besar. Amarah itu membuat tenaga Lura seakan terisi penuh kembali. Dengan membabi buta ia pukul, bogem, tendang, dan segala macam cara untuk mengalahkan manusia Richia. Tak hanya satu manusia Richia saja yang ia tangani, tapi kelimanya. Teriakan kesakitan terdengar bersahutan setelah Lura membekuk punggung manusia Richia yang mengepungnya dan Bratra. Jatuhlah tubuh manusia Richia itu di atas tanah. Terkapar tak berdaya. Rasa nyeri menyerang seluruh tubuh mereka. Sama seperti nyeri yang tadi Lura rasakan. Bratra mengembuskan napas lega. Tanpa Lura apalah dirinya. Ia sangat berhutang banyak pada Lura. “Sekali lagi terima kasih, Lur,” ucap Bratra tulus. “Tenang saja, Tra. Aku juga tidak tahu tadi bagaimana bisa aku kayak kuat banget. Hanya aku merasa kalau aku nggak boleh kalah sama mereka. Dan ya jadinya seperti tadi,” jawab Lura sembari mengedikkan bahunya. “Tujuan kita di sini adalah mengalahkan mereka agar kita bisa cepat-cepat keluar dari sini.” “Tapi aku tadi bener-bener speechless waktu lihat kamu menyerang manusia lumut itu. Kayak lihat pertarungan yang di film-film.” Lura hanya tersenyum kecil sembari menggeleng. Bratra terlalu berlebihan. “Lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Funa dan Penna membutuhkan kita,” ajak Lura. Bratra mengangguk menyetujui. Mereka kembali berlari cepat. Dua perempuan yang telah berlari mendahului mereka butuh mereka. Lura memaksakan tubuhnya untuk berlari. Sungguh tubuhnya terasa nyeri kembali. Padahal saat ia menyerang para manusia Richia tadi, ia merasa tubuhnya begitu kuat. Namun, sekarang sakitnya baru terasa. Dada Lura pun terasa sesak. Untuk menarik oksigen dadanya terasa nyeri. Namun ia tak boleh bersantai, berjalan dengan tenang. Ia harus bergerak cepat. Nyatanya segala sesuatu yang dipaksakan memang tidak baik. Begitulah yang Lura rasakan. Ia berhenti sejenak untuk menyandarkan tubuh di dinding lorong goa. “Tra..” panggilnya lirih. Bratra menoleh pada Lura yang tampak kesakitan. Ia pun berlari cepat menuju Lura. “Kamu kenapa, Lur?” Bratra begitu panik. Wajah Lura sekarang mulai tampak pucat. “Dadaku… rasanya… nyeri banget. Dibuat lari….. rasanya tam… bah… sakit,” jawab Lura terputus-putus. Berbicara pun seakan kesulitan. “Kita istirahat saja, Lur. Kamu ambil napasnya pelan-pelan saja,” saran Bratra dengan kepanikan yang tidak dapat ditutupi. Di sini hanya mereka berdua. Tidak ada teman atau orang lain. “Kita istirahat sebentar, ya. Aku ingin memulihkan pernapasanku,” pinta Lura dengan pelan. Bratra tak mempermasalahkan. Ia setia menemani Lura. “Andai di sini ada obat-obatan atau minyak angin, mungkin d**a kamu menjadi lebih baik,” celetuk Bratra. Lura tak menanggapi, ia sibuk mengatur napasnya. “Nggak usah berandai-andai, Tra. Jikalau boleh pun aku ingin berandai-andai mengapa kita tak langsung kembali bersama teman-teman kita yang lain. Tapi ya sudahlah,” ucap Lura sembari mengedikkan bahu. Napasnya telah membaik. Begitu pula dengan dadanya yang terasa kembali ringan jika digunakan untuk bernapas. “Kita lanjutkan perjalanan. Ingat masih ada Funa dan Penna yang dikejar manusia itu,” kata Lura sembari menegakkan tubuhnya yang semula masih bersandar nyaman di dinding goa. Sesekali mereka berlari untuk menyusul Penna dan Funa. Namun lebih seringnya mereka berjalan. Kondisi Lura belum stabil. *** Tes. Setetes cairan itu menetes di atas tanah. Tidak ada perubahan. Lorong goa itu masih tampak gelap dan panjang. Panik. Funa dan Penna dilanda kepanikan. Tidak ada tanda-tanda sesuatu hal yang bisa menolong mereka dari larutan yang telah diteteskan oleh Funa. “Fun,” panggil Penna dengan suara bergetar. Jarak Mnium begitu dekat. Mereka pasti, jelas akan tertangkap oleh Mnium. Jikalau Mnium tak dapat menangkap kedua perempuan itu, pasti salah satu diantara mereka yang tertangkap. Dan itu sama saja dengan tamatlah riwayat mereka. Funa panik. Ia tidak tahu harus apa. Langkah kaki mereka pun sudah tak selebar awal. Rasa panik membuat langkah Funa tak benar. Berulang kali kakinya menabrak kakinya yang lain. Dan berulang kali ia hampir terjungkal. “Apa kurang banyak yang kita teteskan, Fun?” tanya Penna. Ia juga sama-sama takut dan khawatirnya. “Kena kalian!!” teriak Mnium. Amarahnya tidak dapat ia bendung lagi. Jaraknya hanya sekitar lima meter dengan dua perempuan muda di depannya. Dan ia harus dapat mengambil kembali botol itu. Senyum sinis terlengkung di bibirnya ketika ia melihat langkah salah satu di antara dua perempuan itu yang tampak kesulitan. “Kita tambahkan saja larutan yang diteteskan, Fun. Atau sekalian semua saja kita tuang,” saran Penna dengan panik. Funa pun segera menuangkan cairan itu di dekat tubuhnya. Menciptakan jejak tetes panjang basah di atas tanah. Funa dan Penna tetap melanjutkan langkah, tidak tahu apakah larutan tadi akan memberikan dampak atau tidak. Lebih baik mereka terus berlari. Terkadang menunggu sesuatu hal yang tidak pasti itu buang-buang waktu saja. Membuat lelah dan negatif thinking saja. Dan Mnium pun terus mengejar mereka. Langkahnya semakin lebar dan hampir menyusul Funa dan Penna. "Jika kalian tertangkap, jangan salahkan aku kalau kalian akan kuikat dan kujadikan b***k," serunya kencang. Ia begitu marah. Tak peduli dengan rasa kemanusiaan. Mereka telah mengganggu hidupnya. Funa dan Penna tetap berlari kencang. Pasrah karena kemungkinan besar mereka berhasil akan ditangkap oleh Mnium. Mendengar suara Mnium yang sangat dekat dengannya membuat mereka ketar-ketir. Ketakutan sangat. Tanpa mereka sadari, larutan yang telah mereka teteskan itu sedang bekerja. Kratak. Kratak. Bunyinya tak terdengar oleh mereka karena suara tapakkan kaki mereka lebih terdengar kuat. Dan tiba-tiba, lorong goa di belakang mereka retak. Retaknya terus berlanjut hingga ke bagian goa yang saat ini mereka lewati. Retaknya seperti proses retakkan tanah yang terus berlanjut dari satu titik mengalir ke bagian selanjutnya. Retakan itu semakin luas dan panjang. Menjatuhkan atap goa dari bagian paling jauh lalu melaju hingga ke bagian yang saat ini sedang mereka lalui. Atap gua itu jatuh berurutan, macam bencana yang datangnya dari jauh lalu semakin mendekat pada manusia. Brak. Brak. Brak. Bunyi rerentuhan atap gua membuat Funa dan Penna menghentikan langkahnya sejenak. Mata mereka membola kala melihat reruntuhan itu. Bagaikan ada longsor atau mungkin gempa bumi yang membuat kokohnya atap gua menjadi retak, hancur, dan runtuh. "Pen...," panggil Funa. "Kita gimana?" tanya Penna panik. Disamping kepanikan yang mereka rasakan. Mnium berteriak marah. "Apa yang kalian lakukan? Kalian menghancurkan tempatku!!" Suara Mnium menggelegar. Suara yang semula tampak seperti orang bangun tidur kini terdengar menggelegar memekakkan telinga. Teriakan itu membuat Funa dan Penna mundur dengan langkah ketakutan. Hanya tersisa sedikit lorong gua yang belum hancur. Mereka melangkah mundur di bawah lindungan atap itu. Wajah Mnium menakutkan. Merah wajahnya. Bola matanya melebar, membuat saraf-saraf matanya tampak terlihat. Rahangnya mengeras. Ia melangkah maju menghampiri dua perempuan yang tampak ketakutan itu. Seperti anak kucing yang meringkuk pada tempat yang tak ada jalan keluarnya. Mata mereka berkaca. Tangan Mnium mengepal. Dua tangan yang saling terkepal itu saling ia temukan. Menunjukkan bahwa amarahnya begitu kuat. Tubuh Funa dan Penna bergetar. Langkah mundur mereka membuat tubuh mereka terbentur dinding gua. Di samping mereka, jalan keluar gua tampak terang. Sayangnya tubuh mereka sudah tidak kuasa dalam bergerak. Seakan terpaku di tempat mereka berpijak. Mnium semakin dekat dengan mereka. Membuat Funa dan Penna saling merangkul erat. Ketakutan tidak dapat lagi ditutupi. Tubuh mereka benar-benar bergetar hebat. Tawa Mnium menggema. Membuat tubuh Funa dan Penna semakin bergetar tak karuan. "Makanya jangan masuk ke tempat yang memang bukan tempat kalian. Berani masuk ke sini, maka kalian juga harus berani mempertanggungjawabkan. Dan sebentar lagi, kalian akan merasakan sakit yang tak pernah kalian duga," ucap Mnium dengan wajah menyeramkannya. Ia tertawa puas. Kini tubuhnya telah tiba tepat di hadapan Penna dan Funa. Hanya berjarak kurang lebih seukuran penggaris 30 senti. Tangan Mnium sudah berniat memegang kedua perempuan itu. Ia berniat menjambak dua perempuan itu sebagai awalan sakit yang akan ia berikan. Bugh. Funa dan Penna yang awalnya meringkuk ketakutan, perlahan mulai memberanikan diri melihat apa yang terjadi. Dan senyum lega terlengkung di bibirnya saat melihat sang penyelamat datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD