38. Pertarungan

1100 Words
“Fun, manusia itu ada di belakang kita,” ucap Penna dengan gagap. Ia tadi hanya berniat memastikan apakah kondisi mereka saat ini aman atau tidak. Dan betapa terkejutnya ia kala netranya menangkap tubuh Mnium yang berjarak tak jauh darinya dan Funa. Funa memutar kepalanya ke belakang. Benar apa yang dikatakan Penna, Mnium berada di belakang mereka. Berjarak kurang lebih dua kilometer dari mereka. “Kita lari sekencang mungkin, Fun” perintah Funa tegas. Ditariknya lengan Penna kuat. Dan mereka berlari beriringan dengan lengan Funa yang masih mencekap lengan Penna erat. “Fun, tapi kita nggak mungkin hanya lari saja,” sahut Penna. “Kita pasti akan kalah sama mereka,” lanjutnya gugup. “Dan tolong lepaskan tanganku juga. Kalau kita berlari seperti ini malah membuat kita semakin lama bergerak. Dan kita akan semakin cepat tertangkap olehnya,” peringat Penna. Funa berpikir keras. Tak lupa ia juga melepaskan cekalan tangannya pada lengan Penna. Benar yang dikatakan Penna. Mereka tidak hanya bisa bertahan dengan berlari. Mereka juga butuh cara lain agar dapat tetap selamat. Ting. “Botolnya tadi masih sama kamu kan, Fun?” Pertanyaan Penna bersamaan dengan hal yang sama dengan yang Funa pikirkan. “Iya, masih. Kita teteskan waktu orang itu di dekat kita atau bagaimana?” tanya Funa. Mereka masih berlari. Dengan langkah beriringan mereka memacu langkah. Napas terengah tak mengapa. Asal mereka bisa selamat dari manusia yang ingin merebut botol itu. “Kembalikan botol itu kepadaku!” teriak Mnium dengan suara yang menggema memenuhi lorong. Suaranya bahkan seperti seseorang yang baru saja bangun tidur. Serak tapi mematikan. Mnium terkejut dengan ucapannya itu. Selama ini ia tak pernah berbicara kecuali dengan bahasa manusia Richia. Bahasa manusia yang telah ia kuasai tak pernah teringat dan terucap lagi oleh bibirnya. Ia hanya membatin setiap berbicara bahasa Indonesia. “Suaranya kok sedikit aneh, ya, Pen?” “Husstt.. kamu tumben menanyakan hal yang nggak faedah banget gini? Itu kan bagianku, bertanya hal-hal yang dirasa nggak bermanfaat,” jawab Penna. Eh. Funa juga baru sadar mengapa ia jadi seperti Penna. Namun ia memang penasaran mengapa suara pria di belakangnya itu tampak seperti orang baru saja bangun tidur. Serak dan dalam. Namun tetap saja ada kesan menyeramkan. “Jangan lari kalian!!” Mnium kembali berteriak. Ia terus berlari mengejar dua perempuan yang membawa botolnya. Botol itu sangat berarti baginya. “Berhenti dan berikan botol itu!!” Ketika ia membawa botol itu kembali ke sini, setelah mengambil milik Lura di semak pagi itu. Tanpa menunggu lama ia segera mengamati botol itu. Dan ia teteskan beberapa tetes cairan itu pada lingkungan sekitarnya. Benar. Cairan itu mengubah apa yang ada di pulau itu. Pulau lumut yang dipenuhi dengan lumut di berbagai sisi. Di setiap benda yang ada di pulau itu pasti akan tertutupi dengan lumut. Namun, tidak semua luas hamparan pulau itu dipenuhi dengan lumut. Hanya terfokus dan terpusat pada satu titik saja. Terutama di tempat mereka saat ini berlarian. “Kena kalian!!” teriak Mnium dengan tawa bahagia. Tidak. Funa dan Penna belum tertangkap. Hanya saja jaraknya tak terpaut jauh. “Fun!!” Penna berteriak histeris. Jarak Mnium sangat dekat dengan mereka. Mungkin beratus meter. Bila tangan Mnium ia julurkan panjang, besar kemungkinan Funa dan Penna akan tertangkap. “Sekarang!!” seru Funa mantap. Jantungnya masih berdetak menggila. Ia takut bila larutan dalam botol itu tak bereaksi apa pun. Tamatlah riwayat mereka, tertangkap Mnium dan mungkin akan diperangkap juga dipekerjakan seperti manusia Richia. *** “Lur…” panggil Bratra kalut. “Manusia lumut yang dekat dengan kita nggak hanya tiga lagi,” ucapnya panik. “Jumlahnya tambah banyak!” Lura memastikan dengan menengok ke belakang sejenak. Ia dibuat panik bukan main. “Yok opo iki, Tra?” tanya Lura kalut. (Bagaimana ini, Tra?) “Yo gelem gak gelem awak dhewe kudu ngelawan menungsa lumut iku, Lur” jawab Bratra. (Ya mau nggak mau kita harus melawan manusia lumut itu, Lur.) “Nek awak dhewe meneng ae ya bakal kalah,” lanjutnya. (Kalau kita diam saja ya bakal kalah.) “Iso-iso awak dhewe ya mati.” (Bisa-bisa kita ya mati.) Lura dan Bratra memutar tubuh mereka ke arah manusia lumut. Membagi tugas untuk melawan dua manusia lumut terlebih dahulu sebelum membabat habis semuanya. Lura melawan dua manusia lumut dengan segala gerakan yang ia kuasai. Dipukulnya pipi manusia lumut itu dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. Kepala manusia Richia itu bergerak ke belakang. Bunyi krak dari tonjokan Lura membuat manusia Richia itu mendesis kesakitan. Tampak manusia Richia yang memegang pipinya yang memerah. Lebam jelas terlihat. “Akhh..” teriak manusia Richia lain yang dihajar oleh Bratra. Bratra menendang perut manusia itu dengan kencang. Membuat tubuhnya terhuyung dan bergerak ke belakang. Melihat salah satu dari dua manusia lumut yang telah lemas tak berdaya, Lura segera menghabisi manusia lainnya. Dibekuknya leher manusia Richia itu kala Lura berhasil mengelabuhinya. Menimbulkan teriakan menggema yang menyakitkan. Manusia itu pun jatuh tak berdaya di atas tanah. Lura segera membantu Bratra yang diserang balik manusia lumut yang lain. Ia menendang punggung manusia itu. Dan brak. Ia jatuh terdorong ke tanah. “Ahh.. luar biasa sekali tenaga mereka. Thanks, Lur,” ucap Bratra. “No problem. Kita di sini harus saling melindungi dan menjaga,” ucap Lura. “Ayo kita kembali menyusul Funa dan Penna,” ajaknya. Mereka kembali berlari secepat mungkin. Menyusul Funa dan Penna yang berada dalam bahaya yang akan menyerang kapan saja. Mereka tidak tahu bagaimana Mnium berlari. Tidak tahu pula apakah pria itu akan tega melakukan segala tindak kejahatan pada dua rekan perempuan mereka. Tujuan mereka adalah cepat tiba dan menyusul posisi Funa juga Penna. Sayangnya mereka mendapatkan surpsrise, hadiah yang tak terduga. Di depan mereka berdiri lima manusia Richia dengan wajah garangnya. “Pantas saja tadi kita hanya melawan empat manusia lumut itu. Ternyata sisanya sengaja berlari ke sini untuk mengepung kita,” ucap Bratra dengan rasa takut tapi juga semangat untuk menghajar manusia lumut yang berdiri di depannya. “Melihat tubuh mereka yang lebih besar dari sebelumnya, sepertinya tenaga mereka juga lebih besar, kekuatan mereka pastinya lebih besar. Kita harus atur strategi yang tepat, Tra,” ucap Lura sembari bergerak mundur bersama Bratra. Manusia lumut itu berjalan maju menuju mereka dengan wajah garangnya. Sekali gerak manusia lumut itu mulai menghajar dua manusia yang ada di depannya. Lura dan Bratra berhasil berkelit. “Lur.. jika seperti ini kita pasti akan kalah,” kata Bratra panik. “Terus kita mesti gimana?” balas Lura tak kalah panik. Bug. Bogeman mentah mendarat di pipi Lura. Menimbulkan rasa nyeri dan pening. Telinganya pun terasa berdenging hebat. Bratra menganga tak percaya. Dan ia takut bukan main. Apa mereka akan kalah dan mati di gua ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD