Funa dan Penna berlari sekencang-kencangnya. Begitu kencang dan lebar langkah mereka dalam menyelamatkan diri, membuat mereka serasa tak menapak tanah. Hanya ingin selamat dan bebas dari Mnium juga makhluk Richia yang menjadi landasan mereka dalam berlari.
Tak sedikit pun mereka menengok ke belakang. Fokusnya hanya ke depan.
“Fun.. memangnya tidak masalah jika kita meninggalkan Lura dan Bratra?” Penna bertanya dengan napas yang tersengal. Berbicara pun terputus, kalah dengan deru napas yang tak beraturan.
Kenapa Penna selalu membuat Funa naik darah? Pertanyaan Penna out of the box di kondisi yang tidak tepat. Lama-kelamaan Funa bisa terus-terusan mengumpat dan mengatakan sumpah serapah yang membuat telinga berdenging. Membuat yang mendengarnya akan sigap menutup telinga rapat-rapat.
“Kamu nggak usah memikirkan mereka, Pen. Mereka sudah tahu harus berbuat apa,” balas Funa dengan kesal. “Lebih baik kita berlari secepat yang kita bisa. Kita tidak tahu posisi lawan kita berada pada jarak seberapa jauh dari kita. Jadi, seyogyanya jika kita fokus pada diri kita saat ini,” tandasnya tegas.
“Bukankah kita sudah sepakat untuk keluar bersama, Fun? Tidak boleh ada yang ditinggalkan bukan? Dan dengan kita berlari seperti ini bukankah kita meninggalkan Lura dan Bratra?”
Ya Allah, Ya Gusti. Bisakah Penna dibawa dengan angin saja kembali ke tempat aman mereka? Ke tempat yang jauh dari kata menakutkan dan membuat jantung berdebar kencang. Namun, jika Penna benar dibawa angin, maka tersisalah ia seorang yang berlari. Tidak tidak. Hal itu tak boleh terjadi.
Namun, Funa juga masih dan tetap kesal dengan Penna. Mengapa temannya ini tidak fokus berlari saja sih? Dan bodohnya lagi, kenapa ia masih terus menanggapinya. Jika ia membuka mulut untuk bicara beberapa kata dan berakhir menjadi kalimat, pasti Penna akan terus membalas ucapannya.
“Nanti kita bicarakan hal ini, ya, Pen. Aku nggak sanggup jika harus berbicara dan terus mengobrol dengan kamu disaat kita sedang berlari seperti ini,” ucap Funa tegas. “Tenagaku bisa cepat terkuras. Yang harus kamu tahu dan kamu yakini adalah, Bratra dan Lura pasti akan selamat. Mereka melindungi kita. Dan cara kita melindungi mereka adalah dengan berlari secepat yang kita mampu agar kita bisa cepat keluar dari tempat ini!” tegasnya.
Energi Funa bisa cepat terkuras, terkikis, dan menguap jika ia habiskan untuk berlari dan menjawab pertanyaan Penna yang mengesalkan. Kondisi saat ini sedang genting, bukan saatnya untuk saling mengobrol.
Penna sudah hendak menyanggah, tetapi niat itu ia urungkan saat Funa menatapnya dengan tatapan tajam. Penna tidak takut dengan tatapan itu, tetapi ia tak ada waktu untuk membalas tatapan dingin Funa. Bukankah Funa mengatakan bahwa fokusnya saat ini hanya berlari?
Sedang di laboratorium, Lura dan Bratra berusaha mencekal Mnium yang berniat mengejar Funa dan Penna. Mereka berdua semakin yakin bahwa pasti larutan itu adalah salah satu larutan yang penting bagi Mnium.
Mnium terus memberontak. Berusaha melepas cekalan Lura dan Bratra yang cukup kencang.
Disela-sela melepaskan diri dari cengkraman Lura dan Bratra, mata Mnium menangkap manusia Richia yang hanya menatapnya bingung. Hal itu membuat rahangnya mengeras.
“Bagaimana bisa makhluk-makhluk bodoh itu hanya diam dan tidak menolongku?” rutuk Mnium.
“Tra, pegang yang erat,” ucap Lura keras. Setidaknya untuk saat ini biarkan ia dan Bratra menahan langkah Mnium. Funa dan Penna harus berlari cukup jauh terlebih dahulu. Dari postur tubuh Mnium, Lura dapat memastikan jika pria yang ada dalam cengkramannya ini memiliki langkah kaki yang lebar.
Bratra melaksanakan perintah Lura tanpa penolakan. Ia begitu kuat memegang Mnium dengan sesekali matanya awas memandangi makhluk Richia yang menurutnya menakutkan.
Memang tubuhnya menyerupai manusia, tetapi dengan adanya lumut di permukaan tubuh mereka membuatnya bergedik ngeri. Lebih tepatnya ia merasa jijik.
Begitu pula dengan Lura. Laki-laki itu bahkan sudah sedari tadi menahan mutah. Rambut-rambut halus pada kulit manusia Richia itu benar-benar lumut daun. Bentuknya sungguh membuatnya jijik tak tertahankan. Seakan melihat luka bernanah yang ada pada tubuh seseorang.
Lura bahkan tak kuasa menahan dirinya untuk tak mutah. Sayangnya, tak ada apa pun di lambungnya yang tersisa sehingga hanya rasa tak nyaman yang dirasakannya.
Melihat Lura yang tampak lemah, Mnium tidak menyiakan kesempatan itu. Ia segera melepaskan tangannya dari cengkraman Lura dan Bratra. Bratra merasa kecolongan dan terkecoh dengan kondisi lemah Lura sehingga membuatnya mengabaikan Mnium.
“Wajahajajaja jajajaja nananan kakakana,” tegas Mnium dengan pandang tajam ke arah makhluk Richia. (Lawan mereka dan kalahkan mereka)
Mnium kemudian melesat jauh saat memastikan bahwa para makhluk Richia itu memahami permintaannya. Wajah marah dengan rahang mengeras dan mata membola menjadi emosi dan energi Mnium untuk berlari. Tekadnya adalah mendapatkan kembali botol yang dibawa oleh Funa.
“Bagaimana ini, Lur? Kita kejar dia?” Bratra menjadi panik. Ia mengkhawatirkan Penna dan Funa. “Apa para perempuan baik-baik saja di posisi mereka?”
“Semoga baik-baik saja,” jawab Lura yakin.
Bugh.
Tubuh Lura terhuyung ke depan. Hampir terjerambab. Punggungnya sungguh panas dan nyeri. Entah benda apa yang digunakan makhluk Richia itu untuk memukulnya. Tiba-tiba kepalanya terasa pening. Ia hanya mampu menguatkan diri agar tidak sampai terjatuh.
Bratra yang ada di depannya segera mengawasi sekitar. Ternyata manusia Richia telah mengepung mereka.
“Kamu nggak apa, Lur?” tanya Bratra.
“I’m okay. Kita harus segera melawan mereka,” ucap Lura.
“Kita lari saja, Lur. Kalau kita memaksa melawan mereka, aku rasa kita terlalu membuang energi,” saran Bratra.
Mereka berdiri saling membelakangi dengan tubuh yang terus berputar, memandang para makhluk Richia yang mengepung mereka.
“Begitu? Apa kamu yakin?” tanya Lura sembari terus menatap manusia Richia dengan tatapan tajam.
“Aku yakin!! Jumlah mereka terlalu banyak. Dengan kita berlari setidaknya kita bisa sedikit mengelabuhi mereka. Kita bisa menghajar mereka dalam pelarian kita juga,” jelasnya.
Lura berpikir sejenak. Benar apa yang Bratra katakan bahwasanya bila mereka memaksa menghajar 20 makhluk Richia ini dengan tangan kosong, mereka belum tentu mampu. Jika mereka berlari, mereka dapat mengelabuhi dan mencoba mencari alat bantu yang mungkin saja ada di sekitar goa.
“Mereka mengepung kita terlalu rapat, Tra. Tidak ada celah bagi kita untuk melarikan diri,” ucap Lura.
“Kita kecoh mereka,” balas Bratra.
Tak ada apa pun yang terlintas dalam benak Lura. Namun seketika ia memiliki ide cemerlang saat netranya tak sengaja menangkap salah satu alat laboratorium yang begitu mencolok.
“Aku takut tiba-tiba mereka akan menyerang kita tiba-tiba, Lur,” kata Bratra saat makhluk-makhluk itu berjalan semakin mendekat.
“Ada 30 detik sisa waktu sebelum autoklaf di dalam laboratorium itu berbunyi atau seenggaknya memberi tanda apa pun jika benda di dalamnya telah panas dan steril. Seperti saran darimu, kita kecoh dia dengan autoklaf itu,” ujar Lura.
Bratra mengangguk mengerti. “Ada balok bambu di dekat salah satu kaki makhluk aneh itu,” bisik Bratra.
“Kita ambil dengan kaki. Lalu kita lemparkan ke salah satu diantara mereka untuk membukakan jalan kita keluar dari kepungan manusia-manusia itu.”
Netra Bratra mengunci balok kayu yang tadi digunakan oleh manusia Richia untuk memukulnya. Lalu hap. Kakinya berhasil mengambil balok itu. Dengan tangkas, ia alihkan balok kayu itu ke tangannya seperti seorang pemain bola handal. Balok kayu itu seakan hanya sebuah bola sepak yang ringan.
Plak.
Balok kayu itu berhasil memukul salah satu manusia Richia. Bersamaan dengan itu, autoklaf yang tengah diawasi oleh Lura dan Bratra berbunyi nyaring, memekakkan telinga.
Lura dan Bratra berlari sekuat mungkin. Menjauh dari perkumpulan manusia Richia yang mengerumuni salah satu rekannya yang terluka juga yang membagi diri untuk mematikan mesin autoklaf. Dalam mematikannya, tidak langsung memutus sumber listrik, melainkan menekan tombol off. Hal ini bertujuan untuk menurunkan suhu juga tekanan pada autoklaf.
“Wawawa nanana!! Kalakala mitata jajaja,” ucap salah satu manusia Richia. (Kejar mereka! Biar aku yang mengurus ini)
Tersisa lima manusia yang bertahan di depan laboratorium guna merawat temannya yang terluka dan menjaga laboratorium.
Bratra dan Lura telah berlari menjauh dari para manusia Richia itu. Mereka terus berlari sekencang dan sekuat mungkin.
“Lur, apa manusia aneh itu tidak mengejar kita?” tanya Bratra dengan napas tersengal.
“Aku juga nggak tahu. Yang jelas kita harus segera berlari. Kita akan aman kalau kita nggak dikejar sama mereka,” jawab Lura dengan deru napas yang juga tak beraturan.
Bratra dan Lura melanjutkan lari mereka. Tak peduli dengan manusia aneh itu akan mengejar mereka atau tidak.
“Wawa….” Suara itu membuat debar jantung Lura dan Bratra berdebar kencang.
“Mereka mengejar kita, Tra,” ucap Lura dengan debar jantung yang menggila. “Kita harus semakin mempercepat langkah. Nggak ada tempat persembunyian di sekitar sini,” lanjutnya.
Bratra mengangguk. Mereka terus berlari sekencang mungkin. Mengabaikan napas yang rasanya sudah ngos-ngosan, melebihi batas normal orang bernapas ketika melakukan lari maraton. Tubuh seakan berlari di udara saking kencangnya mereka berlari.
“Balok tadi nggak kamu bawa?” tanya Lura.
Di pendengaran Bratra, suara Lura tidak begitu jelas. Bagaimana bisa jelas bila udara di sekitarnya bergerak cepat.
Wus. Wus.
“Bagaimana?” tanya Bratra berteriak kencang.
“Kamu.. bawa.. balok.. yang tadi, nggak?” tanya Lura sekali lagi dengan teriakan dan jeda tiap katanya.
“Ya enggak, Lur. Tadi habis kupake mukul itu manusia aneh ya jatuh. Dan aku nggak mengambilnya. Emangnya buat apa?”
“Ya buat perlindungan diri kita, Tra. Kita nggak bawa senjata apa pun. Dan jumlah kita sepersepuluh manusia aneh itu. Kamu yakin kita bisa mengalahkan mereka?”
“Kita harus yakin dan bisa, Lur. Pasti bantuan juga akan cepet datang. Bukankah Funa dan Penna telah mengantongi larutan itu?”
Lura mengangguk. Ia hanya berharap semoga larutan itu benar membantu mereka.
Mereka terus berlari sekuat mungkin saat suara manusia-manusia Richia itu terdengar semakin dekat dan jelas. Meski kaki rasanya sudah ingin lepas. Tidak masalah. Semoga kaki mereka benar-benar kuat digunakan untuk berlari kencang.
Rasa-rasanya, tulang betis dan tulang kering ingin lepas dari tempurung lutut karena ototnya dipaksa untuk bekerja keras menghindari manusia Richia itu.
“Lur, kakiku rasanya bener-bener mau patah,” keluh Bratra.
“Dipaksa, Tra. Kita sedang menghindari musuh. Bukan saatnya untuk leha-leha,” tegur Lura.
Bratra mengangguk pasrah. Ia segera mengimbangi langkah kakinya. Bahkan diperlebar langkah kakinya dalam berlari agar tidak ditinggalkan oleh Lura. Tentu ia tak ingin menjadi sasaran pengeroyakan manusia Richia.
Bratra menengok ke belakang. Kurang lebih satu kilo dari posisinya, tiga manusia sedang berlari mengejar mereka. Jantung Bratra berdegup kencang. Bagaikan dikejar anjing yang harus ia hindari. Bahkan ia ingin pipis karena rasa takut yang menyelimutinya.
“Lur, aku kebelet,” rengek Bratra seperti anak kecil.
“Please, Tra. Kita sedang dikejar manusia-manusia lumut itu. Jangan bercanda!!” tegur Lura keras.
“Siapa yang bercanda?! Aku beneran kebelet,” balas Bratra ketus.
“Terus kamu mau buang air di mana? Berhenti di sini!? Ya kalau begitu percuma dong kita lari sejauh ini nyatanya kamu gunakan waktu untuk berhenti,” jawab Lura kesal.
“Terus aku mesti bagaimana? Menahan pipis?”
“Ya pipis sambil lari,” jawab Lura enteng.
Lura setelahnya tak peduli dengan Bratra. Entah temannya itu akan buang air sambil berlari atau memilih berhenti. Atau mungkin menahanannya. Yang jelas, mereka harus segera menjauh dari manusia lumut itu.
Sumber cara kerja autoklaf: alatlabor.com