36.Pertempuran Segera Dimulai

1230 Words
Laki-laki itu hendak melangkah mendekati mikroskop itu. Ia begitu ingin memegang benda hebat itu. Benda yang seakan memiliki daya magis. Menariknya untuk berkenalan dengannya. Saling berjabat tangan. “Lura!!” panggil Funa dengan tingkat oktaf yang cukup tinggi. Tubuh Lura tergeragap, terkejut, seakan ia baru saja tersengat aliran listrik besar. Ia juga mengerjapkan matanya berulang. Dan kepalanya pun berputar ke belakang, di depannya ada tiga temannya yang ternyata masih setia menunggunya. “Ayo, Lur!! Apa yang kamu lakukan?” sentak Bratra dengan tubuh yang ia hentakkan, tak sabar dan juga kesal dengan kelakuan Lura. Ia tidak paham dengan jalan pikiran Lura yang tiba-tiba memilih berhenti di tengah-tengah aksinya untuk mengambil botol. Lura pun kembali menghadapkan kepalanya ke posisi normal. Melangkah lebih lebar, tetapi tetap dengan kehati-hatian menuju meja yang berjarak tak sampai lima meter darinya. Hap. Lura berhasil mendapatkan botol itu. Ia begitu lega bukan main. Dibalikkannya badannya dan berniat untuk berlari menuju teman-temannya yang setia menunggunya. Nikmat yang patut ia syukuri. Memiliki teman yang begitu pengertian dan saling menjaga solidaritas satu sama lain. Di tempat seperti ini memang bukan lagi mengenai keegoisan yang harus dijunjung tinggi, tetapi rasa kebersamaan dan solidaritas. Layaknya keluarga yang mana tak ingin kehilangan dalam pertempuran. “Lura! Awas!” Bratra, Funa, dan Penna berteriak bersamaan. Memperingatkan Lura bahwa ada Mnium di belakangnya. Bersamaan dengan itu, tubuh Lura terhenti ketika ada lengan lain yang hendak merebut botol kaca yang ada dalam genggaman tangan Lura. Beruntungnya tubuhnya sudah terbiasa berkelit dan gesit terhadap apa pun, sehingga botol itu masih aman dalam genggamannya. Mnium menggeram kesal. Ia tak tinggal diam. Ia terus berusaha mengambil botol itu dari genggaman Lura. Semakin menumpuk rasa kesal dan marah Mnium saat ia tak juga berhasil mengambil alih botol itu. Baginya botol itu sangat penting bagi keberlangsungan keinginannya dan rencanya. Tak boleh ada kegagalan atau apa pun yang menghalangi niatnya. “Lura!! Cepat keluar!!” teriak Bratra tak sabar. Jantung laki-laki itu berdegup menggila. Tubuhnya sampai bergetar karena ketakutan. Tidak berbeda jauh dengan Bratra, Penna dan Funa lebih parah dari Bratra. Mereka berdua sama-sama menahan diri agar tidak pipis di celana. Sungguh malu bila hal itu terjadi. Mereka bukan lagi anak kecil yang belum mampu mengatakan atau merasakan bila ingin membuang hajat. Namun mau bagaimana lagi bila Lura diambang keselamatan? Apa yang akan menimpa mereka selepas ini? Bagaimana nasib mereka setelah ini? Apakah akan baik-baik saja atau takdir berkata lain? Lura dengan cepat berlari. Botol kaca yang diyakininya berisi formalin dipeluknya dengan erat. Mnium tidak boleh kembali mengambil botolnya. Lura ingin menangis ketika tubuhnya jatuh. Ia tersandung oleh kakinya sendiri. Ia tidak siap jika botol itu kembali pada Mnium. Clung. Botol itu melayang ke arah luar laboratorium. Bratra dengan sigap menangkapnya. Ia tak ingin perjuangan Lura sia-sia. Entah bagaimana, ia merasa bahwa botol itu memiliki energi. Tak mungkin Mnium merebut botol itu bila tidak apa-apa dengan isi botol itu. Kebisingan di depan laboratorium membuat makhluk Richia yang sibuk di laboratorium bagian dalam pun berbondong-bondong berlari ke bagian depan laboratorium. Laboratorium itu besar. Tempat di mana Mnium mengeksekusi larutan adalah bangunan kepala laboratorium. Sejajar dengan meja tempat Mnium bekerja, terdapat pintu dari kaca yang menghubungkan dengan laboratorium utama. Laboratorium utama adalah laboratorium yang lebih besar, dilengkapi dengan berbagai alat lab yang lebih canggih. Sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Mnium untuk terus mengembangkan misinya. Makhluk Richia itu disibukkan dengan berbagai larutan di dalam laboratorium utama. Setiap manusia Richia memiliki tugas masing-masing. Ada yang mencampurkan larutan, membuat larutan khusus, dan menciptakan temuan baru. Semua disibukkan dengan meja kerjanya masing-masing. Lalu ketika mereka mendengar suara bising di bagian depan laboratorium, membuat mereka menghentikan sejenak kegiatannya dari berbagai larutan dan segala bahan yang ada di mejanya. Mereka juga saling bertukar pandang ketika melihat Mnium bergabung dengan mereka. Sedang tak ada manusia Richia lain yang berada di depan laboratorium. Mnium yang disibukkan dengan penjelasannya pada salah satu manusia Richia pun menghentikan ucapannya. Tubuhnya pun seketika terasa kaku, seperti patung. Matanya melebar, rahangnya mengetat, dan tangannya mengepal kuat. Amarahnya tersulut. Wajah yang dipenuhi dengan rambut di berbagai sisi pun membuat wajahnya semakin menyeramkan. Rambut-rambut halus hitam, menyerupai brewok, tumbuh subur di pelipis hingga turun ke dagunya. Di rahang atasnya pun rambut itu tumbuh subur. Beruntungnya Mnium masih selalu suka berkaca, sehingga ia selalu melakukan perawatan pada wajahnya. Bila melihat rambut di wajahnya mulai tumbuh meliar dan melebihi garis yang selama ini dibuatnya, ia akan segera mencukurnya. Mnium tampan dengan hidung runcing dan mancungnya. Wajahnya pun lonjong. Ketampanan Mnium seperti perpaduan antara darah pribumi dengan darah bangsa Eropa atau Turki. Entah. Ada sedikit wajah ke-Araban yang tertampil di wajahnya. Namun, bola matanya khas seperti penduduk benua Eropa. Atau, Mnium adalah keturunan dari perpaduan tiga negara? Yang jelas, ia tampan. Meskipun wajahnya kini mulai terlihat menua. Menua? Mungkin. Usianya saat ini sudah di kepala tiga. Tak ada keriput apalagi kantung di bawah matanya yang tajam. Namun, entahlah. Seperti ada beban yang ia tanggung, sehingga membuatnya wajahnya selalu terlihat butek juga membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usia sesungguhnya. Sayangnya, ketampanannya itu harus disandingkan dengan tatapannya yang selalu tajam dan dingin. Terkadang pun terlihat seperti orang yang murung dengan banyak beban pikiran yang bertumpuk di pundaknya. Namun, semua itu lebih sering tertutupi dengan sikap arogan dan dinginnya. “Wawawawawa sasaasasa.. nanana babaab tatata.” Suara percakapan manusia Richia mulai memenuhi laboratorium bagian depan. Penna dan Funa sungguh tak tenang. Ia takut bila mereka akan diserang. Namun, kemungkinan besar, mereka jelas akan diserang. Apalagi jumlah makhluk itu lebih banyak dari mereka, mungkin sekitar lima kali lipat dari jumlah mereka. Dengan tubuh yang menyeramkan, membuat tubuh Penna dan Funa bergetar hebat. Dan hal yang paling mereka khawatirkan adalah nasib Lura. “Bratra.. bagaimana ini?” tanya Funa panik. “Lura!! Cepat bangun. Makhluk-makhluk lumut itu ada di belakang kamu,” tegur Bratra dengan nada yang tak beraturan. Napasnya tersengal hebat. Dan slap, tiba-tiba Mnium telah berdiri tak jauh dari posisi Bratra berada. “Bratra.. awas botolnya!!” peringat Funa. “Bratra.. suruh bawa Penna dan Funa botol itu. Bawa keluar dari sini,” teriak Lura sembari berdiri dengan cepat. Kakinya terasa sedikit ngilu. Padahal, tak ada benda tajam dan keras selain keramik yang ia tabrak. Jika seperti ini, jelas praduganya dan para teman-temannya, bila keramik yang digunakan adalah keramik dengan kualitas tinggi yang tak main-main bahan yang digunakannya. “Penna, Funa, kalian keluar dari sini. Lari sekuat kalian bisa berlari. Entah, aku merasa bahwa cairan yang ada disitu bisa menyelamatkan kita. Gunakan itu sebaik mungkin. Teteskan sedikit cairan itu di ujung jalan buntu atau ketika jarak kalian sedang tidak aman dengan siapa pun yang mengejar kalian,” jelas Bratra dengan ucapan yang tak begitu jelas. Laki-laki itu serasa diburu waktu, membuatnya terburu pula dalam berbicara. “Cepat kalian lari,” tegur Bratra dengan kalut. Dengan menggenggam erat botol yang Bratra serahkan padanya, Funa dan Penna segera berlari meninggalkan laboratorium itu. Meninggalkan keramaian dan gejolak perang yang mungkin akan segera terjadi. Mnium menatap marah pada Bratra. Ia juga memandang Lura dengan tatapan menyeramkan. Ia tidak terima. Hasil yang telah ia buat selama ini sia-sia jika empat pemuda itu tetap hidup dan berada di tempatnya. Ia pun menginterupsikan pada para manusia Richia agar bergegas melawan Lura dan Bratra. Sedang dirinya akan menyusul dua perempuan yang membawa botolnya. Ia optimis bahwa ia akan mampu menyusul dua perempuan itu. Ia merasa dengan bangga bahwa tenaganya lebih kuat, langkahnya lebih lebar. Sehingga ia pasti dapat mendapatkan botol itu kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD