Pikiran Lura masih dipenuhi dengan berbagai spekulasi. Netranya pun masih tetap fokus pada manusia yang kembali sibuk dengan larutan yang ada di mejanya.
Netra Lura terus memandang penuh pada berbagai alat dan bahan yang ada di meja manusia itu. ‘Siapa dia? Apa benar dia yang memimpin para makhluk tadi?’ benaknya tak henti bertanya-tanya.
Indra penglihatnya disibukkan memindai segala benda yang ada di mejanya. Meja itu terletak tepat, lurus dengan pintu. Seperti meja laboran di laboratorium-laboratorium besar.
Netranya berhenti pada salah satu objek yang menyita perhatiannya. Netranya menatap objek itu dengan awas dan dalam.
“Seperti pernah melihat botol itu,” gumam Lura pelan. Netranya terus memandang objek itu dengan detail. Ia seakan memindai botol itu dengan tatapan setajam laser.
Tlap.
“Bukannya itu botolku?” tanya Lura pelan. Lalu dengan cepat ia menyembunyikan tubuhnya di balik tembok.
Mnium seakan sadar bila ada orang yang mengawasinya. Namun ketika ia mengalihkan fokusnya dari larutan yang ada di depannya dengan pintu masuk, tidak ada apa pun di sana. Tidak ada siapa pun. Mnium pun kembali melanjutkan kesibukannya.
Setelah bersembunyi cukup lama di balik tembok dan merasa aman, Lura kembali mengawasi Mnium yang tengah sibuk dengan berbagai benda yang ada di meja itu. Namun, perhatiannya lebih terfokus pada botol kaca yang ada di meja itu.
“Lalu botol yang tadi kugunakan untuk mengawetkan lumut apa tertukar?” gumam Lura. Pikirnya terus mencerna dan berputar. Mengaitkan segala peristiwa yang terjadi semenjak ia datang ke kebun raya hingga pelaksanaan praktikum lapangan.
“Apa tatapan yang menakutkan waktu itu adalah tatapan orang itu?” Lura terus bergumam mengenai segala kemungkinan peristiwa yang terjadi padanya.
Netra Lura kembali meninjau botol kaca itu. Dilihatnya dari segala sisi botol itu yang dapat ditangkap oleh netranya. Dan crap. Ia menemukan dan yakin bahwa botol yang ada di meja itu adalah botol miliknya.
“Tidak perlu diragukan lagi. Itu memang botolku. Ada tanda kecil di bawah tutup botol itu. Dan tanda itu memang sengaja aku buat,” ucap Lura yakin. “Jika aku mengambil kembali botol itu, apakah aku bisa keluar dari sini?” tanya Lura.
“Lura!!” panggil Bratra.
Lura segera menoleh pada Bratra. Di belakang Bratra, ada Funa dan Penna yang tampak mengatur napasnya.
Seakan tersadar, Lura pun menoleh cepat pada meja tempat Mnium sibuk dengan berbagai larutan dan alatnya. Lura menghela napas lega kala meja itu kosong. Bisa tamat riwayatnya bila Mnium mendengar teriakan Bratra yang memanggil namanya.
Lura menempelkan telunjuknya di depan bibir. “Jangan terlalu kencang kalau ngomong. Di sana…” Lura menunjuk pada meja tempat Mnium bekerja. “Ada manusia yang menyerupai kita. Jadi kita harus hati-hati. Dia pasti paham dengan bahasa kita,” jelas Lura.
Bratra, Funa, dan Penna memandang meja yang sempat ditunjuk oleh Lura. Meja itu tampak rapi dengan berbagai peralatan dan bahannya. Semua alat dan bahan itu tertata rapi, tak ada noda apalagi tatanan yang berantakan. Tampaknya orang yang bekerja di balik meja adalah orang yang perfectionis dan begitu menjaga kebersihan.
“Aku mau masuk ke dalam. Aku ingin mengambil kembali botolku. Kalian tunggu di luar saja,” pinta Lura.
“Botol apa yang mau kamu ambil, Lur?” tanya Funa tajam. “Di sini pasti berbahaya. Ditambah dengan makhluk-makhluk yang menakutkan itu, semakin membuat keberadaan kita nggak aman,” lanjutnya.
“Botolku, botol yang berisi formalin ada di meja sana. Aku harus mengambilnya. Mungkin dengan botol itu kita bawa kembali, juga akan membawa kita kembali ke kebun raya,” jelas Lura setengah tak yakin.
“Kamu yakin, Lur. Di dalam pasti banyak makhluk-makhluk aneh tadi,” sahut Penna.
“Aku yakin. Kalian doakan aku di sini. Aku akan mengambilnya dengan cepat. Jikalau ada sesuatu hal yang terjadi padaku, kalian keluar saja dari sini. Aku pasti akan berusaha menyelamatkan diri. Dan tolong, kalian carilah pasukan bantuan,” kata Lura tegas.
“Kamu jangan bicara seperti itu, Lur. Ingat!! Kita tersesat, entah memang sengaja dibawa masuk ke sini bersama. Maka, kita pun juga harus keluar dari tempat ini bersama. Nggak boleh ada yang tertinggal atau meninggalkan,” tegas Bratra.
“Please, Tra! Ada dua cewek yang bareng kita. Kamu harus menyelamatkan mereka. Aku akan bergerak cepat untuk mengambil botolku. Selepas itu aku pasti akan segera keluar,” ucap Lura.
“Sebelum kamu masuk ke sana, memangnya kamu yakin bahwa botol itu punya kamu?” Funa sengaja bertanya. Ia ingin memastikan bahwa Lura tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Ia pun ingin menghalangi niat Lura itu. Masuk ke laboratorium sama saja dengan memasukkan diri dalam kandang lawan.
“Yakin. Di dinding botol kaca itu ada tanda dari spidol hitam permanen,” balas Lura.
“Berarti benar jika botol yang kita gunakan untuk membuat awetan waktu itu ditukar?” sahut Bratra.
“Mungkin. Dilihat dari botol yang ada di hadapanku itu, aku yakin jika botolku memang ditukar dengan botol yang kita gunakan untuk membuat awetan lumut,” kata Lura.
Bratra, Funa, dan Penna pun tak berkutik. Mereka tidak dapat lagi menyanggah akan apa yang Lura ucapkan. Memaksa Lura sama saja dengan memaksa air laut menjadi air tawar. Tak berguna. Sia-sia. Dan hanya akan mengakibatkan lelah dan buang-buang tenaga saja.
“Kalian boleh pergi dulu. Aku akan bergerak cepat dan menyusul kalian. Aku takut jika ada makhluk-makhluk aneh yang bisa saja akan masuk ke sini dan mengetahui keberadaan kalian,” pinta Lura dengan tegas.
Tanpa mempedulikan respons teman-temannya, Lura pun membuka pintu yang terbuat dari kaca itu. Didorongnya pintu itu dengan pelan. Ia tak ingin menimbulkan suara yang mungkin akan mendatangkan bahaya untuknya. Lura sengaja membuka salah satu sisi pintu kaca itu. Berjaga-jaga agar ia dapat segera berlari keluar. Selain itu, untuk memudahkan dan mempercepat langkahnya keluar dari laboratorium.
“Kita beneran mau ninggalin Lura?” tanya Penna polos.
“Ya enggaklah, Pen! Kamu memangnya tega ninggalin dia di sini? Tempat ini bukan tempat kita. Mestinya kita harus segera keluar dari tempat ini. Keluar bersama-sama! Tidak dengan meninggalkan salah satu diantara kita,” jawab Funa dengan tegas dan gemas. Ia mengucapkan rasa syukur dalam hatinya karena selama ini tidak begitu akrab dengan Penna semasa perkuliahan. Mungkin jika ia akrab, ia akan sering makan hati karena sifat Penna yang begitu menggemaskan, polos, dan menjengkelkan. Terkadang, terlalu polos malah membuat seseorang jengkel, bukan malah menyukainya. Ya salah satunya Penna. Dan yang benci dengan sifat polos tapi membuat emosi naik ya tentu saja Funa.
“Ya enggak, Fun,” jawab Penna. Penna menggaruk kulit kepalanya. Merasa bersalah karena bertanya pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan.
“Saat ini kita pantau setiap pergerakan Lura. Jangan sampai Lura tertangkap basah oleh manusia yang dimaksud Lura atau pun makhluk-makhluk aneh itu. Kalian jangan berdebat lagi!” tegas Bratra.
Dua perempuan itu pun akhirnya saling diam. Mereka mentaati ucapan Bratra. Menutup mulut rapat-rapat, jika ada kunci dan gemboknya, mungkin mereka juga akan menggembok lalu menguncinya agar tak saling berdebat hal tidak penting disituasi genting seperti ini.
Lura mengambil napas dalam. Dihembuskannya secara perlahan dan panjang. Lalu ia mulai kembali melangkahkan kakinya. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi kemudian ia tapakkan kakinya perlahan. Tidak ingin manusia tadi mengetahui keberadaannya.
Degup jantung Lura berdebar kencang. Takut tiba-tiba manusia tadi mengetahui keberadaannya. Dan yang lebih ia takutkan bila ia ditangkap lalu tidak bisa keluar dari sini. Mungkin ia akan ditahan di sini, dibelenggu di tempat yang bukan tempatnya. Sungguh ia tidak mau bila ia terjebak di tempat ini.
Bratra, Funa, dan Penna mengawasi Lura dengan jantung yang berdegup kencang. Mata mereka juga sesekali memindai lorong yang ada di sekitarnya. Berjaga-jaga bila ada makhluk Richia yang mungkin akan masuk ke laboratorium.
“Ayo, Lur. Jangan lama-lama di dalam sana,” ucap Funa dengan kaki yang ia ketuk-ketukkan di tanah. Ia merasa takut. Sangat takut. Rasa khawatirnya juga tinggi. Bahkan ia memegang tangan Penna dengan erat. Pertanda bahwa Funa butuh pegangan.
Benar. Apa yang mereka pijak masih berupa tanah. Sedangkan laboratorium di depan mereka adalah sebuah laboratorium dengan standar yang sesuai. Dengan keramik kualitas tinggi. Lalu kacanya pun kaca kualitas tinggi. Tebal dan kuat. Dindingnya pun tampak terawat. Cat temboknya tak ada sedikit pun yang mengelupas atau pun retak.
Pada salah satu sisi dinding, terpasang tata cara bekerja di laboratorium. Sayangnya bahasa yang digunakan bukan Bahasa Indonesia yang Lura, Bratra, Funa, atau pun Penna pahami. Memang hurufnya tetap huruf alfabet, tetapi mereka tak dapat mencernanya karena yang ditulis sama dengan bahasa yang manusia Richia ucapkan.
Bratra pun tak kalah khawatir. Ia juga mengketukkan kakinya berulang. Ia juga berulang kali menggigit bibirnya. Beruntungnya tidak sampai berdarah.
Terlalu pelannya Lura, lebih tepatnya, laki-laki itu melangkah dengan hati-hati, membuat tubuhnya baru tiba di tengah-tengah laboratorium. Tepat di posisinya itu, matanya seakan terbius dengan alat-alat laboratorium yang bersih, canggih, dan bagus. Ingin rasanya ia bekerja di laboratorium itu. Seperti mimpinya supaya dapat bekerja sebagai laboran ahli di beberapa lembaga pemerintahan, seperti yang diinginkannya selama ini.
“Lura… apa yang kamu lakukan?” tegur Funa sedikit keras. Funa gemas dengan Lura yang masih sempat mengagumi canggihnya alat-alat laboratorium yang ada di hadapannya itu.
“Sssttt… jangan keras-keras, Fun,” tegur Bratra.
“Gimana aku bisa bersuara pelan jika Lura diam di tempat kayak gitu, Tra? Bisa-bisa dia tertangkap oleh makhluk aneh itu,” decak Funa kesal.
Lura masih tetap diam di posisinya. Matanya sibuk menatap pada mikroskop elektron yang berada tak jauh dari posisinya. Baginya, mikroskop adalah salah satu alat laboratorium yang begitu hebat. Alat itu mampu mengamati segala benda yang tak kasat mata. Bukan makhluk halus, tetapi mikroorganisme yang memang hanya bisa diamati melalui bantuan lensa obyektif dan lensa benda yang terdapat pada mikroskop.
Tiba-tiba ingatannya membawanya pada masa ketika ia duduk di bangku SMP. Guru yang mengampu mata kuliah IPA memperkenalkannya pada mikroskop. Lura pun antusias dengan alat itu. Diajari sekali dalam mengamati preparat sayatan bawang merah membuatnya takjub dan jatuh cinta dengan dunia sains, terutama biologi. Ambisinya pun semakin meningkat kala ia beberapa kali menjuarai olimpiade. Didukung dengan kedua orang tuanya yang selalu memberikan fasilitas padanya, terutama yang berkaitan dengan pendidikan membuatnya selalu semangat dalam menggali informasi.
Semasa SMA pun ia sangat suka terjun dalam praktikum Biologi. Ia akan menjadi satu-satunya siswa yang mampu membuat preparat dan menangkap hasil mikroskop dengan baik.
Dan ia bersyukur kala masuk ke bangku perkuliahan, ia dapat tetap mempertahankan kemampuannya itu. Membuatnya semakin dikenal dosen.
Bukan maksud ia mencari muka pada para dosennya, ia hanya ingin selalu mengeksplor dirinya. Semakin ia belajar, semakin ia sadar bahwa ia masih banyak kurang memahami pengetahuan. Dan mengenal banyak orang baginya adalah hal yang penting, membuatnya lebih mudah dalam menjalani hidup. Kurang lebih seperti itulah yang membuatnya ambisius dalam segala hal.