“Ada apa, Dek?” tanya Bu Axilia pada Bu Mmachilia. Wajah mahasiswanya, yang sekarang menjadi rekan dosennya itu tampak sendu. Kabut kesedihan menutupi wajah cerianya yang selama ini selalu tertampilkan.
Mmachilia menangis. Membuat Bu Axilia menjadi panik.
‘Apa benar jika kita bertanya ada apa pada orang yang sedang dalam keadaan sedih membuatnya tangisnya akan semakin menjadi?’
Bu Axilia memeluk Mmachilia. Ia tepuk punggung rekannya itu penuh kasih. Ia memang tidak tahu akan hal apa yang sedang dirasakan oleh Mmachilia, tetapi ia berusaha untuk memberikan dukungan.
Mmachilia masih menangis. Terdengar memilukan. Bu Axilia bahkan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan Mmachilia dari tangis itu.
Bu Axilia masih setia menunggu. Jikalau memang Mmachilia hanya membutuhkan pundak untuk menangis, ia tidak mempermasalahkan. Ia tahu bahwa setiap individu memiliki privasinya masing-masing.
“Sa—ya.. dicerai—kan, Bu,” lirih Mmachilia.
Bu Axilia menjauhkan tubuhnya dari Mmachilia demi melihat kejujuran dari apa yang diucapkan rekan kerjanya itu.
“Saya tidak bohong, Bu.” Mmachilia memgambil napas dalam, seakan udara didominasi oleh karbon dioksida. Ia kesusahan dalam menghirup oksigen. “Saya serius,” tegasnya.
Mata Mmachilia sembab. Membengkak seakan baru saja digigit tawon. Wajahnya pun basah oleh air mata. Make up-nya telah mulai menipis. Bibirnya pucat. Dan pandangan matanya mulai tampak mengosong.
Bu Axilia terkejut. Tidak mungkin hal itu terjadi pada Mmachilia, ia tahu betul bila Mmachilia dan suaminya itu saling mencintai meskipun usia mereka terpaut beberapa tahun.
***
Mmachilia baru saja keluar dari audiotorium tempat di mana ia bergabung untuk mengikuti seminar tentang perkembangan keanekaragaman lumut. Ia berjalan dengan langkah tegas menuju mobilnya.
“Chila!”
Panggilan itu. Panggilan itu mengingatkannya Mmachilia pada seseorang yang pernah hadir mengisi hari-harinya dulu. Namun, kini yang teringat dalam benaknya adalah luka yang pernah ditorehkan oleh pria itu.
Mmachilia menghela napas panjang. Ia kembali melanjutkan ayunan kakinya yang sempat terhenti.
‘Jangan jadi wanita bodoh!’
“Chila!”
Panggilan itu kembali menggaung, masuk ke pendengaran Mmachilia. Namun, tetap saja wanita itu tak peduli.
‘Urusanku dengannya sudah selesai. Tidak ada hal lagi yang harus aku bicarakan sama dia!’
Langkah Mmachilia semakin tegas dan lebar. Ia pun segera menekan kunci mobilnya untuk membuka pintunya yang masih terkunci.
Sayangnya, langkah Mmachilia masih kalah lebar dengan pria yang memanggilnya. Ia hempaskan dengan tangan pria itu. Ia juga memandang sinis pada pria yang berani menyentuhnya itu.
‘Ingat suami!’
“Chila!! Kita harus bicara!!” tegas pria itu.
Mmachilia menghela napas lelah. “Tidak ada lagi hal yang harus dibicarakan!”
Mmachilia masuk ke dalam mobilnya dengan cepat. Namun, sungguh malang nasibnya karena pria itu dengan bodohnya menghalangi jalannya dengan berdiri di depan mobilnya.
“Sial,” umpat Mmachilia.
“Mau kamu apa sih? Urusan kita sudah selesai!” tegasnya saat ia telah kembali ke luar menemui pria yang membuatnya marah itu.
“Belum!! Kamu belum mendengarkan penjelasanku!!”
“Penjelasan apa lagi?”
“Tidak akan aku jelaskan sebelum kamu mengantarku pulang!”
Mmachilia tersenyum sinis. ‘Apa maunya orang ini?’
“Banyak taksi online. Bila kamu ingin berbicara denganku untuk menjelaskan apa pun hal tidak penting itu, harusnya kamu yang sadar diri. Bukan malah ngelunjak kayak gitu!”
Mmachilia memilih masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia memesan taksi online.
Namun, dasarnya pria yang baru saja menemuinya itu tidak tahu diri. Ia tetap berdiri di sebelah mobilnya. Membuat amarahnya naik.
Mmachilia berusah tak peduli. Ia memilih fokus mengamati pergerakan taksi online yang dipesannya. Inginnya ia menghubungi suaminya, mengatakan bahwa ada pria aneh yang mengganggunya. Akan tetapi, suaminya itu sedang ada tugas di dalam hutan, menginventarisasi jenis-jenis tanaman yang ada di sana.
Saat taksi pesanannya sudah ada di dekat tempat parkir mobil, tempat di mana ia berada saat ini, Mmachilia segera mencari celah agar pria itu tak menyadari pergerakannya. Mmachilia melihat bila pria itu sedang berbincang dengan pria lain.
Mmcahilia segera berlari cepat menuju taksi pesanannya itu, urusan mobil gampang, bisa diambilnya nanti. Ia menghembuskan napas lega kala tubuhnya berhasil mendarat di kursi penumpang taksi pesanannya dengan aman. Sayang disayang, dari pintu sampingnya pria itu masuk dan duduk di sampingnya. Membuat Mmachilia siap meledak.
Namun, hatinya tiba-tiba seakan luluh kala pria itu menggenggam tangannya lembut. Menatapnya lembut seraya menggeleng dan memintanya untuk tak banyak bicara.
Pertemuan itu mengantarkan Mmachilia pada jalan yang salah. Ia menjadi sering berkomunikasi dengan pria itu, sering pula bertemu selepas ia mengisi perkuliahan.
Mmachilia tahu ia salah. Ia menyadari itu. Sayangnya hati dan pikirannya terlanjur buta karena cintanya yang belum pudar, sepertinya gang tak akan pudar untuk pria itu. Padahal ia pun tahu bila pria itu telah memiliki istri. Dan ia tetap dengan sadar menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu. Melupakan Mnium yang mencintainya sepenuh hati. Melupakan rasa kasih, sayang, dan cinta yang besar dari mahasiswanya yang kini jadi suaminya itu.
***
Tidak hanya terkejut saat ini, Bu Axilia hampir saja jantungan. Berita apa yang baru saja didengarnya adalah sesuatu yang begitu mengejutkan diri. Di luar nalarnya.
Bu Axilia mengambil napas dalam dan dihembuskannya pelan-pelan. ‘I’m okay. I’m okay.’ Ia terus mensugesti diri agar tidak marah-marah.
Mmachilia memandang Bu Axilia dengan mata yang tergenang dengan air mata. Ia bisa melihat bila Bu Axilia marah, kecewa, dan terkejut mendengar ucapannya.
Bu Axilia memilih menepuk pundak Mmachilia. “Saya tahu bahwa keputusan Mnium adalah hal berat bagi kamu, Dek. Akan tetapi, sebaiknya kamu juga ingat akan hal apa yang telah kamu lakukan padanya. Semoga kamu bisa mengambil pelajaran dari ini semua,” ucapnya pelan. Ia hendak membela apa bila kesalahan memang 100% berada di pihak Mmachilia.
“Rasa sayang kepada seseorang di masa lalu memang hal yang berat. Bahkan bisa mengusik masa sekarang. Namun, ingatlah bahwa ada seseorang di masa sekarang yang telah membantumu untuk menghapus rasa sakit dari seseorang di masa lalu. Mungkin bahkan merelakan dirinya yang sakit daripada melihat orang yang dicintainya masih berkabung dalam kesakitan masa lalu,” ujar Bu Axilia sembari memandang tembok di hadapannya. Kini ia memilih duduk di kursi sebelah Mmachilia.
“Jika kamu beranggapan bahwa Mnium menjadi salah satu penyumbang dalam hal khilaf yang kamu lakukan, harusnya kamu berbicara dengannya. Bukan kamu malah bermain api di belakangnya.”
Bu Axilia mengambil napas dalam. “Maaf jika aku mengomentari hidup kamu terlalu banyak, Dek. Aku janji akan merahasiakan alasan ini. Sekarang lebih baik kita makan siang,” ucapnya.
Mmachilia tahu. Sangat tahu. Dan kini ia seakan tercebur dalam danau penyesalan yang dalam. Tiada arti lagi ia menyesal karena segala berkas perceraiannya telah terdaftar di pengadilan agama.
***
“Bu Axilia ingin minum?” tanya Mazila lembut disertai dengan menyodorkan sebotol air mineral.
Bu Axilia sekarang sedang duduk di salah satu bed yang ada pada salah satu ruangan di gedung yang ada di Kebun Raya Pididi.
Bu Axilia menerima mengangguk. Dibantu oleh Mazila, ia meneguk beberapa teguk air mineral itu. Ia merasa lebih baik. Ia tak sampai pingsan, tetapi untuk menuju ke area depan kebun raya ini, ia perlu bantuan mobil petugas kebun raya. Tubuhnya tak kuasa digunakan untuk melangkah.
Radula, Lura, dan teman-teman satu kelompoknya sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Mereka semua menunduk.
Radula dengan pikirannya yang dipenuhi dengan berbagai pikiran. Sedang Lura dan tiga temannya begitu merasa bersalah. Rasa penyesalan yang lebih mendominasi.
Bu Axilia menghela napas setelah menatap para mahasiswanya itu. Di sisi lain ia kecewa, tapi di sisi lain ia dapat menemukan satu fakta yang tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.
Ketukan pintu pada daun pintu ruang tempat Bu Axilia beristirahat membuat Bu Axilia dan para mahasiswanya mengarahkan netranya ke arah pintu. Salah satu petugas kebun raya masuk ke dalam ruangan itu dengan seorang tenaga kesehatan.
Bu Axilia diperiksa sejenak. Hanya kelelahan dan shock. Bu Axilia dan yang lain pun menghela napas lega.
“Oh iya, Ibu, mobil jemputan Ibu sudah di depan.”
Bu Axilia mengangguk. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih.
Selepas kepergian petugas kebun raya juga kesehatan, Bu Axilia memandang satu per satu mahasiswanya. Ingin sekali ia marah, tapi ia harus meredam amarahnya. Ia harus menahan diri.
“Kita pulang!! Sebelum pulang, kita sampaikan permohonan maaf kepada pihak kebun raya!!” tegasnya.
Para mahasiswanya hanya mengangguk. Lalu satu per satu mulai berdiri dari duduknya untuk mengikuti langkah Bu Axilia.
Bu Axilia mewakili pihak kampus memohon maaf karena kegaduhan dan kelalaian yang telah dilakukan oleh para mahasiswanya. Setelah itu, para mahasiswanya pun menyusul meminta maaf.
Suasana dalam mobil begitu hening. Tak ada yang berbicara. Bu Axilia sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pula dengan para mahasiswanya.
“Kita pulang ke rumah, Pak! Saya ingin berbicara dengan para mahasiswa saya terlebih dahulu! Nanti Bapak bisa antar mereka ke kampus setelah urusan saya selesai!”
Tubuh Lura dan tiga kawannya seketika kaku. Mereka menegakkan duduknya. Rasa lelah yang hadir tiba-tiba hilang. Rasa kantuk yang menyapa pun telah lenyap, berganti dengan berbagai spekulasi yang hinggap di kepala. Akan diapakan mereka?