Ruang tamu itu didominasi dengan warna putih dan cream. Dinding dengan cat warna putih itu dihiasi dengan satu bingkai besar foto sepasang suami istri dengan putranya berada di belakang kedua orang tuanya. Lelaki berusia kisaran 17 tahun itu merangkulkan lengannya di bahu ibu dan ayahnya. Senyum hangat terpancar di setiap wajah insan yang ada dalam gambar itu. Membuat siapa pun yang melihatnya akan tertular senyum kebahagiaan itu.
Di seberang dinding dengan satu bingkai foto keluarga, ada satu bingkai besar yang bertuliskan ayat kursi. Di samping kanan dan kirinya ada lafadz Allah dan Rasul-Nya, Muhammad.
Di pojok ruang tamu terdapat rak bercat putih dengan beberapa jenis tanaman indoor yang tertata rapi di tiap lapis raknya. Ada sansivera, sukulen, dan beberapa jenis tanaman lainnya.
Lalu, di sisi ruang tamu lainnya ada satu lemari berplitur coklat dengan kaca sebagai pintunya. Di dalam lemari itu tersimpan berbagai jenis benda berbahan keramik. Sepertinya keramik mahal. Dapat dilihat dari corak juga ketebalannya.
Melihat dari ruang tamunya saja, dapat dipastikan bila Sang Pemilik Rumah adalah keluarga berada, kaya. Didukung dengan sofa empuk dan lembut. Juga meja kotak dengan tiap sisinya yang tumpul semakin menunjukkan bahwa semua barang yang ada ruang tamu adalah barang dengan harga yang tak main-main.
Di sofa berwarna cream itu, duduk enam mahasiswa dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Mereka sama-sama diam. Hanya sama-sama sibuk menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida secara perlahan.
“Mbak, Mas, monggo dinikmati dulu. Ini ada es jeruk dan brownis. Tadi Ibu pesen disuruh menikmati dulu. Ibu masih mandi,” ucap seorang wanita paruh baya seraya meletakkan gelas berisi es jeruk dan satu piring besar berisi brownis cokelat dan pandan.
“Terima kasih, Bi,” jawab enam mahasiswa itu hampir bersamaan.
“Saya tinggal, ya, Mbak, Mas. Jangan sungkan-sungkan untuk menikmati hidangannya,” pamit wanita paruh baya itu sembari membawa nampan kayu kembali ke dapur.
Ruang tamu kembali diselimuti hening. Kepala kembali disibukkan dengan berbagai pikiran.
Bu Axilia masuk ke ruang tamu dengan berdehem singkat. Membuat kepala yang tertunduk gegas terangkat.
Pakaian santai yang dikenakan Bu Axilia sedikit mencairkan ketegangan yang tengah membersamai. Namun, wajah mereka kembali mendung saat netra Bu Axilia tetap menunjukkan ketegasannya.
“Saya langsung saja!! Jujur saja, saya sangat kecewa,” ucapnya tegas. Matanya juga menunjukkan sorot marah yang diimbangi dengan kekecewaan.
“Kenapa kalian bisa lalai dan nekat masuk ke hutan? Kalian tidak memikirkan konsekuensinya?”
Semua kepala menunduk. Mulut pun terkunci rapat. Tak ada yang berani buka suara.
Bu Axilia menghela napas kasar. “Dan kamu, Lura!! What your purpose to do that? Apa yang ingin kamu cari dengan masuk ke dalam hutan itu, hah?”
Suara Bu Axilia memenuhi ruang tamu itu. Membuat nyali enam mahasiswa itu semakin menciut.
Jantung Lura seakan berhenti berdetak beberapa detik. Membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Juga deru napasnya yang bekerja dengan tak beraturan.
Tidak hanya Lura. Lima mahasiswa yang lain pun tak kalah terkejut. Kemarahan Bu Axilia bukan sekedar kemarahan biasa, seperti ketika di dalam kelas. Ini berbeda.
Bu Axilia berdiri dari duduknya. Ia memejamkan matanya sejenak. “Kalian berpikir tidak sih? Saat kalian melakukan suatu tindakan itu, tidak hanya nama kalian yang harus dijaga tapi juga nama orang lain, dan dalam hal ini, nama kampus kalian adalah hal utama!” Wajah Bu Axilia berang. Diusapnya wajahnya dengan kasar. Tak lupa ia pun beristighfar.
“Ah, cukup. Semua sudah terjadi. Tidak dapat lagi kembali,” ucapnya lesu.
“Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Juga sebagai pengingat agar kalian tidak ceroboh, gegabah, juga lalai dalam bertindak!”
Bu Axilia kembali duduk di kursinya. Ia meneguk es jeruk yang beberapa waktu lalu diberikan oleh asisten rumah tangganya.
“Kami mohon maaf, Bu,” kata Lura seraya menunduk saat melihat Bu Axilia sudah menyelesaikan meneguk es jeruknya. “Saya ceroboh dan tidak berhati-hati karena masuk terlalu dalam ke hutan,” lanjutnya masih dengan menunduk. Suaranya lirih, sarat akan penyesalan.
“Saya yang bersalah di sini, Bu. Saya yang pertama kali mendengar suara gemericik air terjun,” sahut Funa. “Mohon maaf, jangan hanya menghakimi Lura saja, Bu. Karena saya juga ikut andil.”
Penna juga ikut menyahut. Ia juga mengatakan bahwa ia turut andil karena menunjukkan keindahan di sekitar. Bratra pun tak tinggal diam. Ia pun ikut meminta maaf dan menjelaskan, baik kesalahannya juga mengnai kejadian yang menimpa mereka.
Bu Axilia kembali menghela napas. Ia tak tahu harus memberikan komentar apa terhadap pernyataan para mahasiswanya. Peristiwa yang menimpa para mahasiswanya membuatnya masih tak percaya. Tidak hanya mengenai kecerobohan para mahasiswanya, tetapi adanya Mnium juga turut andil membuatnya terkejut.
“Terima kasih karena kalian telah menjadi teman yang kompak. Namun, saya kembali tekankan bahwa apa yang kalian lakukan beberapa jam lalu itu sungguh tak terduga. Membuat saya marah, kecewa, khawatir, dan takut. Intinya jangan pernah lagi berbuat sesuatu hal yang membahayakan kalian!” pungkasnya.
Lura dan tiga temannya mengangguk. Mereka juga berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Cukup sudah adrenalin mereka dipacu, tidak ingin lagi mereka mengalami hal itu.
Mereka juga telah mengambil pelajaran, terutama Lura. Ia seakan dicambuk oleh kenyataan bahwa hidup tak melulu untuk menuruti obsesinya. Tiap orang boleh saja memiliki mimpi dan harapan, tetapi ia mendapatkan pukulan telak karena tak kejujurannya, kecurangannya.
Bu Axilia kembali mengingatkan empat mahasiswanya itu agar mengambil hikmah dan tidak perlu lagi mengulangi kesalahan yang sama. Ia juga memberikan peringatan pada dua asisten dosennya agar lebih tegas dalam mengasistensi adik tingkatnya.
Saat ini, enam mahasiswa yang terdiri dari Lura, Funa, Penna, Bratra, Radula, dan Mazila sedang berada dalam mobil yang akan mengantarkan mereka kembali ke kampus. Sunyi membersamai perjalanan mereka menuju kampus.
Hari sudah gelap sejak mereka keluar dari rumah Bu Axilia. Dan kini, tak hanya gelap yang menemani, tetapi juga padatnya kendaraan yang memenuhi jalanan.
“Besok kita harus bicara!” ucap Radula tegas saat mereka sudah tiba di kampus. Mobil yang mengantar mereka baru saja pergi.
“Baik, Mas!!” jawab keempat mahasiswa dengan tegas secara bersamaan.
“Lura!! Kamu atur tempat dan waktunya. Yang jelas, saya butuh waktu yang cukup lama untuk berbincang. Saya juga butuh tempat yang lebih private!”
“Baik, Mas,” jawab Lura tegas, tetapi ada nada kepasrahan di baliknga.
Radula dan Mazila berjalan meninggalkan empat adik tingkatnya. Membuat pundak empat mahasiswa itu menurun lemah. Tak berdaya dan lemas. Esok mereka harus siap disidang oleh Radula dan Mazila.