54. Penyesalan Lura

1683 Words
Bangunan serba kaca menjadi ciri khas kafe yang belakangan ini menjadi tempat tujuan bagi mahasiswa untuk melepas penat setelah perkuliahan. Kafe itu pun terletak tak jauh dari gedung kampus. Semakin membuat banyak mahasiswa yang berkunjung ke sana. Tidak hanya bangunan saja yang menjadi daya tarik pengunjung, tetapi juga harga dari setiap menu yang disajikan tidak begitu menguras kantong, masih dapat digapai oleh kantong para mahasiswa yang kebanyakan anak rantau. Menu yang disajikan pun bervariatif dan sesuai dengan selera kaum muda saat ini. Semua sisi kafe itu serba kaca. Bahkan area dapur pun hanya dibatasi dengan kaca. Membuat pengunjung yang didominasi oleh para mahasiswa itu semakin takjub dan tak perlu khawatir akan pelayanan yang diberikan. Kafe itu juga selalu ramai oleh pengunjung dari pagi hingga malam hari. Tidak hanya memberikan ruang berupa meja dan kursi di ruangan yang luas, pengunjung pun dapat mereservasi ruang private. Uniknya, ruang private itu juga hanya dibatasi dengan kaca sebagai sekatnya. Namun, pengunjung tidak perlu khawatir, kaca yang digunakan untuk ruang private itu berupa kaca kedap suara sehingga segala hal yang diperbincangkan akan aman. Terhindar dari kuping-kuping panas yang ingin tahu perbincangan seseorang. Lura, Penna, Funa, dan Bratra telah duduk di salah satu ruang private kafe itu. Empat mahasiswa yang kemarin baru saja pulang dari praktikum lapangan itu sama-sama diam, tak ada yang membuka mulut. Mereka begitu khidmat menunggu kedatangan Radula dan Mazila. “Kita nggak pesan makanan atau minuman dulu?” tanya Funa untuk memecah hening di ruang berukuran dua meter kali empat meter itu. “Mungkin pesan camilan dan minuman dulu. Minumannya khusus untuk kita saja dulu, untuk Mas Radula dan Mbak Mazila kita pesankan saat mereka sudah bergabung bersama kita,” jawab Lura. Penna, Funa, dan Bratra mengangguk setuju. Mereka mencatat menu yang ingin dipesan pada kertas kecil yang telah disediakan. Lalu dipanggillah salah satu waitress yang sedang melintas dengan menjentikkan jari. Sang Waitress memang tak mendengar jentikan jari itu, tetapi ia dapat melihat dari gerakan yang dilakukan oleh Lura. Bersamaan dengan diantarkannya menu pesanan Lura dan tiga temannya, Radula dan Mazila masuk ke ruang itu. Lura pun mempersilakan pada Radula dan Mazila untuk memesan minuman. “Maaf, Mas dan Mbak, karena kami memesan duluan,” ucap Lura lirih. Keberaniannya sudah kembali muncul, tetapi tentu saja ia tahu dan sangat sadar betul jika kesalahannya begitu besar. Rasa sesal masih terus menyelimutinya. Radula dan Mazila memang terkadang suka kompak sekali. Contohnya saat ini, mereka hanya mengangguk sebagai respons permintaan maaf adik tingkatnya itu. Wajah dingin dan malas pun tak pernah luput dari wajah dua asisten dosen kesayangan dosen Sistematika Tumbuhan itu. Kerongkongan telah dibasahi dengan minuman yang mereka pesan. Suasana hening merajai ruang kecil itu. Helaan napas terdengar saling bersahutan. Radula pun berdehem untuk memecahkan keheningan. “Jujur saya marah dan kecewa sama kamu, Lur,” ucapnya selepas menghembuskan napas kasar. Suaranya begitu dingin, seakan tak ada minat. Tubuh Lura terduduk kaku. Ia hanya mampu menunduk dalam. Dan kini tundukan itu semakin dalam. Penyesalan tak henti-hentinya terus menghantuinya. Ia juga terus merutuki dirinya karena bertindak bodoh. Lura merasa lebih baik bila Radula menghardiknya dengan tegas dan keras. Bukan dengan cara seperti ini. Ini terasa lebih menyakitkan baginya. Seakan hatinya disayat secara perlahan oleh pisau, menimbulkan rasa sakit yang semakin sakit sedikit demi sedikit. “Kepercayaan yang saya berikan telah kamu sia-siakan begitu saja. Hanya karena sebuah kebahagiaan yang semu,” cibir Radula. Radula kembali mengembuskan napas kasar. Ia sesap minumannya. Ia butuh hati yang tenang dan d**a yang lapang. “Kamu masih ingat bagaimana wajah kecewanya Bu Axilia, kan?” Lura mengangguk dalam tunduk dalamnya. Sangat ingat. Bahkan sekarang wajah kecewa Bu Axilia terpampang jelas di hadapannya. Membuatnya semakin sakit. Radula diam. Ia tak tahu lagi harus menyampaikan kekecewaannya seperti apa. Ia hanya sibuk mengaduk minumannya tanpa minat. “Tidak hanya Lura! Kalian bertiga juga harusnya sadar bahwa kita sedang berada di hutan yang tak tahu akan marabahaya apa yang mungkin akan menyapa kalian!” desis Mazila. Wajahnya memerah dan tatapannya menghunus tajam kepala adik tingkatnya yang menunduk dalam. “Apa sih yang kalian pikirkan saat itu?” sesalnya. Ia mengusap wajahnya kesal. “Jujur saja, saya tidak habis pikir akan apa yang terjadi pada kalian. Ya Allah,” lanjutnya dengan gerutuan. Ia bahkan berdiri dari duduknya. Ia mengketuk-ketukkan jarinya pada meja dengan kaki yang tak berhenti bergerak. “Kalian tahu apa konsekuensi dari tindakan ceroboh kalian itu, hah?” desis Radula. Ia pun tersulut emosi Mazila yang menggebu. Empat adik tingkat di hadapan Radula dan Mazila itu semakin menunduk dalam. Jelas saja mereka ketakutan, mereka tahu bahwa mereka salah. Dan kesalahan yang mereka perbuat bukan sebuah kesalahan kecil. Itu kesalahan besar. “Beruntungnya masalah ini berusaha ditutup rapat oleh Bu Axilia. Bila saja berita ini menyebar dengan cepat dan pihak fakultas atau pun universitas tahu, bisa-bisa praktikum lapangan di jurusan kita ijinnya akan dihapus. Kalian mau tanggung jawab?” bentaknya pelan. Radula memang membentak, tetapi suaranya tak sampai meninggi. Ia percaya bahwa kaca ruang yang mereka tempati kedap suara, tetapi ia masih ingat dan sadar bahwa ada pengunjung lain yang melihat gerak-gerik mereka. Hening kembali merajai. Camilan dan minuman di atas meja seakan menjadi saksi betapa kalut dan penuhnya pikiran dari tiap insan di ruang private kaca itu. Radula menarik gorden putih tipis yang disediakan untuk menutup tiga sisi ruangan private itu. Sedari tadi ia masuk ke ruang itu, ia tak menyadari bahwa ada gorden yang disediakan untuk sedikit menutupi privasi tiap insan yang mereservasi ruang itu. Hanya saja, untuk bagian pintu ruang itu tak disiapkan gorden. Lebih tepatnya tak ada tatakan untuk tempat gorden itu. Tempat gorden yang terbuat dari stainless itu dibentuk membentuk leter U, sehingga gorden langsung menyambung menutup tiga sisi ruang private kafe kaca itu. “Lalu kita harus bagaimana? Saya dan Mbak Mazila harus melakukan apa agar Bu Axilia tetap mempercayakan pada kami tugas ini? Menjadi asisten dosen tidak mudah, Rek,” lirih Radula. Jelas ada luka di balik suara Radula. Jujur saja, dari sisi Radula ia memang marah. Namun, untuk apa saat ini ia marah-marah lagi. Ia hanya berusaha menciptakan kesadaran akan apa yang dilakukan oleh adik tingkatnya itu. Mereka harus mempertanggungjawabkan akan apa yang telah mereka lakukan. “Kami akan menjelaskan pada Bu Axilia bahwa kami yang bersalah di sini, Mas!!” sahut Lura dengan tegas. “Kemarin kamu dan yang lain juga sudah menjelaskan bukan? Dan bagaimana hasilnya? Sorot mata Bu Axilia masih memancarkan kekecewaan,” sanggah Radula. “Mas.. jika saya boleh menginterupsi. Saya pun tak akan lelah untuk membantu Lura menjelaskan pada Bu Axilia. Kami pun menyadari bahwa yang kamu lakukan begitu fatal. Maka kami akan berusaha menjelaskan pada Bu Axilia semua secara jelas. Kami pun tak akan segan menceritakan apa pun yang terjadi pada kami ketika kami….” Funa menghentikan ucapannya sejenak, ia memandang Radula yang juga sedang memandangnya dengan tajam. “Kami juga akan menceritakan apa yang menimpa kami kala kami berada di alam yang entah tak kami kenali itu. Kami pun sudah menyesali tindakan kami ketika kami masuk dan terbawa oleh sapuan angin dan segala hal yang membuat kami benar-benar tertampar oleh kenyataan, Mas,” lanjutnya. Penna dan Bratra pun mendukung ide Funa. Mereka tahu dan sadar bahwa mereka pun ikut andil dalam bahaya yang mengancam mereka. “Sudah! Stop!” Mazila menginterupsi dengan tegas. Kepala dan telinganya teras berdengung mendengar perdebatan para adik tingkatnya. “Kami akan menunggu itikad baik kalian. Entah hal apa pun yang akan kalian lakukan, saya berharap semoga saya dan Mazila tetap dapat dipercaya menjadi asisten dosen. Kami berjuang agar dapat tergabung dalam jajaran asisten dosen tidak semudah itu. Dan kalian telah mencoreng nama kami dengan tindakan gegabah kalian,” peringat Radula tegas. “Baik, Mas. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk membuat Bu Axilia percaya bahwa Mas Radula dan Mbak Mazila adalah asisten dosen terbaik,” tegas Lura. Funa, Penna, dan Bratra mengangguk menyetujui. Mereka bertekad akan meyakinkan Bu Axilia bahwa Radula dan Mazila adalah asisten dosen yang layak untuk dipertahankan. “Kami tunggu kabar bahagia dari kalian! Bila sampai kami mendapatkan kemungkinan terburuk, kami tak segan untuk memberikan hal yang setimpal pada kalian!” ancam Radula tegas. Lura dan tiga rekannya mengangguk mantap. Mereka pasti bisa meyakinkan Bu Axilia. Mereka tak akan menyerah untuk meyakinkan dosennya bahwa Radula dan Mazila tidak menyalahi aturan yang berlaku. Bahkan mereka adalah asisten dosen terbaik, yang selalu memberi kesempatan pada adik tingkatnya untuk mengeksplor lebih jauh. Hanya saja kebaikan itu ditutupi dengan ketegasan bahkan yang sering dianggap dengan kegalakan. Radula dan Mazila kembali menyesap minuman mereka yang masih tersisa. Hawa di ruangan itu pun masih mencekam karena aura yang Radula dan Mazila keluarkan masih aura kemarahan. “Saya balik dulu. Saya rasa kalian dapat mengambil kesimpulan dari apa yang telah kita bahas sebelumnya,” pamit Radula tegas. Laki-laki itu mulai meninggalkan kursinya. Lalu didorongnya pintu itu agar ia dapat keluar dari ruang itu. Mazila pun gegas menyusul rekannya. Ia tentu tak ingin mati gaya bila mempertahankan diri bersama para adik tingkatnya. Ia memang galak, tapi kegalakannya akan meningkat bila ada Radula di sampingnya. Seakan Radula adalah sumber api baginya agar dapat menyala kuat. Empat mahasiswa dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan itu sama-sama mengembuskan napas lega. “Hhhh… kukira akan disidang lebih parah dari ini, tetapi syukurlah tak separah itu,” syukur Funa seraya mengelus d**a. “Bener. Aku sudah berdebar sejak berangkat ke sini. Dan aku sangat lega ketika Mas Radula dan Mbak Mazila tak sampai marah-marah semacam panitia keamaan saat kita masih ospek dulu,” sahut Penna ikut lega. “Tapi tetap saja, mereka kecewa dengan kita,” sahut Lura. “Kita pasti bisa menjelaskan semuanya pada Bu Axilia. Kamu nggak sendirian, Lur. Ada aku, Funa, dan Penna,” sahut Bratra. Lura mengangguk. “Terima kasih. Aku minta maaf karena perbuatan curangku menyebabkan kita menjadi seperti ini,” gumam Lura. Selepasnya ia pun meneguk habis minumannya. “Jangan menyalahkan diri sendiri, Lur. Di sini kami pun juga salah. Stop menyalahkan diri sendiri terus,” sahut Funa tegas. Lura kembali mengangguk. Ia berusaha melakukan hal itu. Mensugesti diri bahwa ia bukan satu-satunya yang ceroboh, tetapi ia sadar bahwa ia tetaplah yang memiliki andil besar dalam kejadian tempo hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD