Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Namun bila dalam jumlah yang tepat, itu semua pasti akan pas dan tepat pula. Dan akan mendatangkan manfaat yang besar.
Air adalah sumber daya alam yang dapat terus diperbaharui. Namun, tentu butuh media yang dapat memperbaharui jumlah air itu.
Akar tanaman menjadi media yang paling penting dalam penyimpanan air. Begitu pula dengan lumut yang mampu menyimpan air dengan baik. Ada yang menyebutnya sebagai spons air karena kemampuannya dalam menyerap air cukup banyak, terutama lumut daun. Lumut daun dengan bentuk talus atau lembarannya yang seperti spons juga rizoid atau akar halusnya yang mudah menancap kuat pada media yang ditumbuhinya, ia mampu menyimpan air seperti halnya spons.
Air dalam jumlah tertentu dapat memberikan banyak manfaat dalam berbagai lini kehidupan. Untuk makan dan minum, memasak, mencuci, dan berbagai produksi barang.
Namun, air juga dapat memberikan dampak negatif bila jumlahnya terlalu banyak. Bisa mengakibatkan banjir, lalu menimbulkan berbagai penyakit yang bakterinya mudah tumbuh dalam air yang banyak. Sehingga tak ayal bila banjir melanda akan diiringi pula dengan berbagai penyakit seperti diare, muntaber, dan beberapa penyakit lainnya.
Contoh nyata dampak negatif air dalam jumlah banyak adalah saat ini, di mana tubuh Lura, Penna, Funa, dan Bratra berhasil dibawa oleh air bah yang tiba-tiba datang. Menggulung tubuh mereka dan membawa mereka kembali ke bagian saluran paling dalam. Bahkan mereka dibawa kembali ke tempat gelap yang tak mereka ketahui sebenarnya berada di mana mereka saat ini. Dan yang tidak mereka sadari, mereka jatuh pingsan setelah dibawa air bah itu.
Mata Lura terbuka perlahan. Hanya kegelapan yang menyambutnya. Tubuhnya kedinginan. Kepalanya pening bukan main. Ia segera memeluk dirinya sendiri. Masih dingin.
Lura mengerjapkan mata berulang kali. Mencoba mengingat hal apa yang baru saja menimpanya.
Tiba-tiba ia tersengal. Dan dengan cepat ia duduk untuk memutahkan air yang sempat ia telan kala terbawa aliran air. Akibatnya dadanya terasa sesak. Hidungnya juga sungguh nyeri luar biasa.
Lura memilih bersandar di dinding goa atau apalah untuk sebutan tempatnya terlantar saat ini. Kemudian dipijatnya kepalanya yang pening. Sesekali ia juga mengurut hidungnya untuk mengurangi rasa nyeri yang masih tertinggal.
"Nangdi arek-arek?" gumamnya kala sadar tidak melihat siapa pun di sekitarnya. Ia segera meneggakkan duduknya. Kepanikan mulai melandanya. (Di mana anak-anak?)
Ia celingukan. Memanjangkan kepalanya ke segala arah. Tidak ada siapa pun. Ia khawatir dan ketakutan.
"Bratra!!! Funa!!! Penna!!!" Lura memanggil dengan suara sekeras-kerasnya. Ia sungguh takut. Takut bila ia masih di sini sendiri sedangkan teman-teman lainnya telah kembali. Ia ingin menangis. "Ma.. Pa.." lirih Lura.
Ia berdiri dengan tergesa. Memutari tempatnya yang pertama kali ia lihat ketika baru saja terbangun dengan berlari melihat segala penjuru.
Nihil. Tak ada siapa pun.
"Rek!!!" Lura memanggil dengan ketakutan.
Ia berlari dari satu lorong ke lorong lain. Ia tak menemukan siapa pun. Hanya dirinya seorang diri.
Hamparan bawah tanah seperti goa yang cukup luas itu memiliki cabang lorong yang banyak. Ada sekitar tujuh lorong.
Lura bergegas mencari teman-temannya dengan mengitari tiap lorong itu. Napasnya terengah. Ditambah kondisi hidungnya yang sedang tidak baik-baik saja akibat air yang masuk dalam saluran pernapasannya. Namun ia tak peduli. Yang ia inginkan saat ini adalah bertemu para teman-temannya. Sayangnya, lorong itu buntu.
Lura tidak menyerah. Ia kembali berlari menuju hamparan tanah yang semula ia pijak. Berharap teman-temannya berada di sana. Ia berlari sekuat tenaga. Meskipun nyatanya langkahnya tak selebar ketika ia dalam keadaan baik-baik saja. Tubuhnya sudah tidak bertenaga. Semuanya terkuras digunakan untuk berlari dari kejaran amukan lumut, diombang-ambing pusaran angin, merangkak di saluran pipa, dan semuanya semakin habis kala dibawa oleh air. Bahkan ia ingin tidur. Ia sungguh mengantuk. Begitu lelah tubuhnya.
Tiba di hamparan lapang kembali tak ada siapa pun. Hanya ia seorang diri. Napasnya terengah dan tersengal. Beberapa kali ia juga batuk.
Ia kemudian membungkukkan punggungnya. Menyangga tubuhnya dengan tangan yang memegang lutut erat.
"Kemana yang lain? Apa kami terpisah karena arus air itu?" gumam Lura. Ia sungguh bingung juga takut.
Ia edarkan pandangannya. Melihat lorong-lorong yang belum ia cek.
"Semua lorong ini dari luar terlihat sama. Aku tidak boleh berlari ke lorong yang sama berulang kali. Aku harus menggunakan tenagaku sebaik mungkin," gumam Lura. Ia pandangi lorong itu satu per satu.
Kemudian ia memandang ke segala penjuru. Lalu ia mengitari sekitar hamparan itu. Mencari sesuatu yang dapat membantunya. Hamparan lapang itu cenderung kosong. Tidak ada apa pun. Lura terus berputar mencari sesuatu yang ia butuhkan. Matanya pun memandang jeli segala hal yang bisa saja terlewat oleh netranya.
"Kenapa tidak ada batu atau apa pun yang bisa membantuku, ck!!" gerutu Lura kesal. "Aku tidak ingin buang-buang waktu terlalu lama," tekadnya kuat.
Lura kembali mencari apa pun yang bisa membantunya. Tak menemukan apa pun di tanah yang ia pijak, ia mulai memutar otaknya. Menggali alternatif yang bisa membantunya agar ia bisa segera bertindak.
Bagaikan ada bohlam dalam kesemrawutan pikirannya. Lura segera mengedarkan pandangannya pada dinding goa. Dan ia menemukan salah satu sisi dinding yang banyak mencuatkan hasil pelapukan batu kapur. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia segera menarik salah satu cuatan itu. Butuh waktu yang lama baginya agar dapat mematahkan cuatan itu.
Tlak.
Bagian dinding goa yang ia usahakan sejak tadi agar patah kini telah patah. Membuat senyumnya terukir kecil.
Ia segera menandai lorong yang sudah ia kunjungi. Kemudian ia letakkan patahan dinding goa di dekat pintu masuk lorong. Segera ia berlari memasuki lorong-lorong panjang nan gelap itu.
"Rek!! Kalian nangdi!?" Pertanyaan yang sama ia teriakkan. Hanya gema suaranya yang terdengar, tidak ada balasan dari suara apa pun ketika dengan setia ia menunggu gema dari suaranya menghilang.
Lura berlari lagi. Dan akhirnya hanya lorong buntu yang kembali ia temui.
Lura tetap bertahan pada pendiriannya. Ia berlari kembali ke muka lorong. Napasnya pun kembali tersengal. Deru napasnya terdengar keras memenuhi seluruh bagian goa.
Dengan cepat ia mencoretkan tanda silang pada sisi sebelah pintu lorong. Ia tak ingin terjebak dalam goa yang seakan membuatnya terdampar dalam labirin. Ia mempercepat langkahnya. Mempercepat langkah kakinya dalam berlari. Tekadnya adalah segera keluar dari goa yang bisa saja menyesatkannya ini.
Ia kembali masuk ke lorong lain. Masih ada empat lorong yang belum ia masuki. Ia kembali berteriak memanggil teman-temannya. Namun tak ada sahutan. Hanya suaranya saja yang sedari tadi menggema memenuhi lorong.
Lura tak menyerah. Namun ia juga tak ingin kembali terjebak dalam lorong yang berkemungkinan besar hanya sebuah lorong buntu.
Lura mengamati dari pintu lorong empat lorong yang belum dimasukinya. Ia mencoba mengamati apakah ada cahaya yang dapat ia lihat. Atau ia mencoba mengalisa apakah lorong itu semakin gelap dan dalam atau tidak.
Semua lorong itu tidak dapat Lura tebak di manakah lorong yang tidak buntu. Semuanya tampak sama. Gelap dan semakin gelap hingga di kejauhan sana.
"Ck.. Kenapa tidak ada tanda-tanda apa pun yang dapat membantuku? Semuanya tampak gelap. Tidak ada sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai patokan bila seperti ini," gerutu Lura.
"Baik. Ayo semangat, Lura!! Tubuh. Mari kita bekerja sama agar kita bisa segera menemukan jalan keluar dari goa ini. Tidak mungkin kan bila aku tiba-tiba masuk ke goa ini bila tidak ada salah satu lubang yang mengantarkanku ke sini? Jadi tidak mungkin bila lorong ini buntu semua," ucapnya dengan yakin setelah menganalisis segala kemungkinan.
Lura kembali berteriak memanggil nama teman-temannya satu per satu. Namun masih tidak ada sahutan dari teman-temannya.
“Di mana mereka?” tanya Lura sembari mengacak rambutnya kasar.
Tampilan Lura sungguh mengenaskan. Baju yang semula masih basah karena tubuhnya terbawa aliran air kini bahkan sudah mulai mengering karena tubuhnya yang terus bergerak. Mukanya pun tampak pucat dan letih. Bibirnya biru. Rambutnya tak beraturan. Berbeda dengan Lura yang seperti biasanya.
Lura selalu tampil sempurna dengan padanan pakaian yang keren. Tidak pernah penampilannya berantakan. Hanya kali ini saja. Untung saja tak ada siapa pun yang melihatnya. Namun jika ada yang melihatnya dalam tampilan seperti ini pun tidak masalah. Hal yang terpenting kali ini adalah keselamatannya agar bisa keluar dari tempat antah berantah ini.
Dengan penampilannya yang berantakan, Lura terus berlari mencari teman-temannya hingga masuk ke dalam lorong. Hingga akhirnya ia kembali mendapati lorong yang buntu, berujung.
Lura kembali berlari menuju pintu lorong. Dan segera berlari ke tiga lorong terakhir.
“Penna!! Bratra!! Funa!!” Lura memanggil dengan frustasi tiga temannya. Kemudian ia memilih bersandar pada dinding lorong sejenak. Kakinya terasa kram. Otot-ototnya kaku. Sepertinya rasa lelah yang sempat hilang kini menumpuk jadi satu.
Lura menyandarkan punggungnya. Lalu menutup matanya sejenak. Ia lipat lengannya di d**a. Tubuhnya benar-benar butuh istirahat. Hingga tak sadar ia terlelap sejenak.
Baru saja matanya memejam, ia mendengar suara lenguhan kecil. Mata Lura membuka lebar. Kepalanya pening karena terkejut. Jantungnya memompa dengan gila.
Ia pertajam pendengaran dan penglihatannya. Kemudian ia mulai menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu.
“Aahhhh..” Suara erangan seperti orang bangun tidur masuk dalam pendengaran Lura. Bergegas ia berdiri. Ia melangkah mengendap menuju sumber suara yang ia yakini berasal dari lorong yang lebih dalam.
Lura mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Lalu ia tapakkan kakinya perlahan agar tidak menimbulkan suara.
‘Apa mungkin ada orang di tempat seperti ini? Atau mungkin makhluk penjaga goa ini?’ tanya batin Lura.
Lura terus mengendap masuk. Ia memilih menempelkan tubuhnya pada dinding goa seperti cicak agar tidak menimbulkan bunyi yang mencurigakan.
Lura terus menempelkan tubuhnya pada dinding goa seperti seorang pemburu kebenaran yang akan menangkap kejahatan. Ia berusaha mengelabuhi musuh dengan berjalan tanpa suara.
Semakin ia berjalan masuk, semakin jelas suara erangan orang yang sedang meregangkan otot-ototnya. Jantung Lura semakin berdebar kencang.
‘Semoga orang yang ada di dalam adalah salah satu dari Penna, Bratra, atau Funa. Kalau bisa ketiga-tiganya. Jangan sampai makhluk menakutkan,’ doa Lura dalam hati.
Di dunia nyata ia memang tak takut dengan apa pun kecuali ia melakukan kesalahan. Namun di dunia yang tidak ia ketahui ini berada di mana, ia takut akan hal-hal buruk dan tak terduga yang akan menyapanya serta membuatnya harus berjuang melawan itu semua.