26. Ancaman Tidak Berhenti

1694 Words
Mereka berulang kali berteriak, mengejan, dan diiringi erangan saling bersahutan. Menggema di seluruh bagian saluran pipa. Mengejan, berteriak adalah aktivitas yang membuat tubuh harus mengerahkan banyak energi. Namun, bila tidak seperti itu, mereka tidak akan bisa terbebas dari belenggu lendir. Tubuh harus melakukan penekanan dari dalam diri agar energi yang dikeluarkan juga besar. Jika akhirnya mereka memang harus pingsan karena sudah tidak ada lagi energi, mereka ikhlas. Ikhlas lahir dan batin. Mungkin itu akan menjadi pilihan yang terbaik. Lebih baik pingsan daripada harus berperang dengan keadaan yang sampai sekarang tidak mereka pahami mengapa mereka dapat terdampar di tempat yang benar-benar tidak masuk akal itu. "Hah.." ucap Lura lega kala akhirnya kepalanya mampu terlepas dari jeratan lendir. Menghabiskan waktu yang sangat lama baginya agar bisa terbebas dari jeratan lendir itu. Dan sekarang ia benar-benar merasa lemas. "Rek.. kalian gimana?" tanya Lura sembari memutar kepalanya ke belakang. Terpampang di hadapannya dengan jelas, teman-temannya sedang berusaha melepaskan kepala dari jeratan lendir itu. Kurang sedikit lagi. Ia tak memberi semangat pada teman-temannya. Namun ia memilih berusaha melepaskan tubuhnya dari jeratan lendir itu lebih dulu. Tidak perlu menghabiskan waktu yang terlalu lama, akhirnya seluruh tubuhnya lepas dari cengkraman kuat lendir itu. Ketika tubuhnya sudah berhasil lepas dari jeratan lendir, ia bergerak mundur perlahan. Tiga temannya sudah dapat kembali bernapas lega kala kepala mereka telah lepas dari lendir. Lura menyelinap diantara sisa ruang saluran pipa itu untuk membantu Penna melepaskan jeratan lendir yang ada di kaki perempuan itu. Dengan bantuan Lura, membuat pelepasan lendir dari tubuh menjadi lebih cepat. "Pen.. tolong kamu bantu Funa. Aku mau bantu Bratra," pintanya. "Oke, Lur. Terima kasih," jawab Penna sungguh-sungguh. Kenapa tiba-tiba ia merasa jantungnya bekerja dengan menggila? Apa yang terjadi padanya? Tidak ada sesuatu yang membahayakan. Tidak ada suatu hal yang membuatnya takut. Dan ini apa? Ada apa dengan jantungnya? Apakah jantungnya mengalami gangguan setelah bekerja keras setelah beberapa hal sebelumnya? Lura hanya menggangguk. Kemudian laki-laki itu segera melanjutkan rangkaknya menuju Bratra yang sedang berusaha melepaskan jeratan lendir pada kakinya. Bratra mengembuskan napas lega saat Lura berhasil membantunya. Dan ia sangat bersyukur saat wajahnya dapat kembali bersih berkat bantuan Funa. "Kalian bisa lihatkan titik cahaya kecil itu? Kita harus segera ke sana." Mereka mengangguk semangat. Mereka kembali merangkak penuh semangat. Tidak sabar untuk segera mencapai sumber cahaya itu. Lura kembali memimpin. Benaknya tiba-tiba berpikir akan pentingnya peduli pada orang lain, yang selama ini sangat jarang dilakukannya. Rentetan kejadian ini membuat pola pikirnya sedikit berubah. Egois yang dulu selalu bersanding dengannya kini perlahan mulai meluntur. Kini ia menjadi orang yang turut memikirkan tentang orang lain. Hal yang selama ini telah ia doktrin kuat di kepalanya agar tidak seperti itu. Ia benci terlalu peduli. Ia benci terlalu ramah kepada orang lain. Nyatanya banyak yang memanfaatkan sikap baik itu. Banyak yang hanya memanfaatkan tanpa peduli akan hati nurani. Terkadang kepeduliannya pun mendatangkan masalah baru. Membuatnya berada dalam konflik yang tidak pernah ia duga. Dianggap sebagai perusak dan pengganggu. 'Kenapa bayangan Bubunga harus muncul di pikiranku?' gerutu Lura. Ia tidak suka menjadi laki-laki melankolis. Sangat benci dengan hal itu. Membuatnya menjadi mengenaskan. Lura mengembuskan napas kasar. Berusaha mengenyahkan bayang-bayang Bubunga dalam benaknya. Tidak boleh lagi ia memikirkan perempuan itu. Ia berulang kali menggeleng untuk menghapuskan bayang-bayang Bubunga yang tiba muncul. "Lura.. kamu kenapa?" tanya Penna yang melihat Lura menggeleng dengan kuat. Ia memandang heran laki-laki di depannya itu. "Ah.. tidak ada apa-apa, Penna," jawabnya sedikit tergeragap ketika mendengar suara Penna. Seakan menyadarkannya kembali ke dunia nyata yang saat ini sedang terjadi padanya. Penna mengernyit. Dahinya berkerut pertanda bingung. 'Kenapa dengan laki-laki ini?' begitu tanya batinnya. 'Eh.. kenapa aku jadi ingin tahu dengan apa yang menimpa Lura?' "Hisshh.. aku benci dengan cara berpikirku saat ini," gerutunya kesal. "Kenapa, Pen?" Kali ini Lura yang bertanya. Membuat Penna geragapan. "Tidak, Lur. Aku hanya bertanya-tanya kenapa kita terjebak di sini," jawab Penna 100% bohong. Ah, iya. Kenapa mereka harus terjebak di dalam sini? Tempat apa ini? Mengapa mereka seakan dilempar dari satu tempat ke tempat lain? Hikmah apa yang sedang mengejar mereka? Atau hikmah apa yang sedang mereka kejar? Sudah. Sudah. Memusingkan saja. Lebih baik segera keluar dan kembali ke rumah. Tidak perlu lagi memikirkan hal itu. Nasi telah menjadi bubur. Tidak akan pernah dapat lagi diubah menjadi nasi. "Aku juga tidak tahu, Penna. Namun semakin kita memikirkannya, maka akan semakin membuat kita pusing dan stress. Lebih baik kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kita sedang berusaha keluar dari keanehan ini," tegas Lura. Penna membenarkan. Semakin dipikirkan maka semakin tidak akan ditemukan jawabannya. Mungkin mereka akan menemukan jawaban itu ketika mereka telah terbebas dari tempat yang tidak mereka ketahui ada di mana ini. "Cahaya sudah terlihat jelas," ucap Lura bersemangat. "Wah.." sahut teman-temannya. Sungguh lega mereka. Cahaya itu seakan menjadi motivasi bagi mereka. Membuat semangat mereka kembali membara. Merangkak dengan penuh semangat dan cepat. Melupakan lendir yang sudah menjadi kawan dalam proses mencari jalan keluar. Bahkan lendir juga seakan sudah bersahabat dengan mereka karena ia sudah tak lagi terlalu mengganggu dalam perjuangan mereka mencari jalan keluar. "Yo.." "Yo.. ayo.." "Yo.. ayo.. yo.. yo .. ayo.." "Yo.. ayo.. yo.. kita bersemangat.." "Yo.. yo.. yo.. ayo.. yo.. kita pasti bisa.." Mereka bernyanyi dengan penuh semangat. Seperti sedang mengikuti jelajah alam lalu diminta untuk menyanyikan yel-yel agar rasa semangatnya dapat dibakar. Dan hal itu saat ini mereka terapkan agar kobakaran semangat dalam diri semakin membara. "Sedikit lagi, Rek," lantang Lura dengan semangat yang begitu kentara juga dipenuhi dengan kebahagiaan. "Ayo.. ayo.." "Kita bisa.." "Ayo.. ayo.." "Kita bisa.." Mereka terus bernyanyi. Tak peduli dengan nada yang sumbang. Bagi mereka kobaran semangat dari lirik lagulah yang berarti. Masalah nada dan suara yang tak enak di dengar di telinga mereka abaikan. "We are stronger.. and we are the champion.." "Oh.. oh.. we are stronger.. and we are the champion.." Entah lagu apa yang mereka bawakan. Mereka padukan jadi satu semua lagu yang ada. Tak peduli dengan itu. "Lebih keras lagi suaranya, guys," seru Bratra penuh semangat. "Ayo kita berjuang.." "Mari kita kalahkan.." "Kita pasti jadi Sang Juara.." Mereka bernyanyi dengan suara yang lebih keras. Lebih bersemangat dan dengan tempo yang tegas. Seperti ketika mengikuti lomba gerak jalan saat peringatan Hari Kemerdekaan. "Sssttt.." interupsi Lura dengan sedikit ngotot. Nyanyian itu pun terhenti di tengah bait. "Kenapa, Lur?" tanya Bratra tak suka. Ia sedang bersemangat bernyanyi. "Kalian mendengar sesuatu nggak sih?" Dahi teman-temannya berkerut. Wajah-wajah mereka pun tampak kebingungan. "Denger apa sih, Lur? Perasaan gak ada suara apa-apa," jawab Penna mewakili yang lain. "Coba kalian diam. Lalu dengarkan dengan baik-baik," kata Lura. Semua diam. Hanya sunyi yang menjadi teman mereka. Dahi mereka berkerut. Alis menyatu. Seperti ada suara yang khas, juga aroma yang pernah dikenali oleh indra penciuman mereka. "Bau petrichor?" tanya Funa tak yakin. Lura dan yang lain mengangguk. "Benar. Bau air hujan yang sangat khas dan alami. Kalian mendengar bunyi air?" tanya Lura lagi. "Iya. Apa di luar hujan?" "Entah.. tapi coba kalian kembali dengarkan baik-baik." Daun telinga mereka terbuka lebar. Mencoba mendengarkan apakah di luar saluran pipa itu sedang hujan atau tidak. Tak. Tak. Tak. Air menabrak benda padat di sekitarnya menimbulkan bunyi yang cukup keras. Dan seketika kepanikan melanda mereka setelah sadar akan kemungkinan yang akan terjadi pada mereka. "Bagaimana ini, rek? Lur!?" Suara para perempuan panik. Mereka juga bergerak gelisah di tempatnya. Kaki mereka yang menempel pada permukaan dalam pipa berulang kali dihentakkan dengan tak tenang. "Kita segera keluar dengan cepat. Kita tidak boleh keduluan dengan datangnya air," kata Lura tegas. Lura kembali memimpin dengan rangkakan yang lebih cepat. Ia tidak boleh kalah dengan air hujan. Ia dan teman-temannya harus keluar lebih dulu daripada datangnya air. Suara air hujan semakin deras. Membuat mereka tak tenang. Penna merangkak dengan panik. Ia berusaha semakin mempercepat rangkakannya. Pikirannya kalut. Ketakutan mendominasinya. Saking takutnya, ia sampai terbelit dengan kakinya. "Penna, ayo fokus!! Meskipun kita memang sedang buru-buru, kamu jangan sampai melukai diri kamu dan menyulitkan diri kamu!!" peringat Funa yang menjadi saksi kepanikan Penna. Penna berusaha mengatur napasnya. Mensugesti pikirannya bahwa ia dan tiga temannya akan tiba di ujung saluran lebih cepat. Ia juga menutup dan membuka matanya berulang kali agar ia dapat tetap fokus. Porsi rasa takut dalam tubuhnya tidak boleh lebih besar daripada ketenangannya. "Oke.. Aku akan berusaha," balas Penna setelah menenangkan deru napasnya. Penna mulai dapat merangkak dengan tenang kembali. Ia hanya fokus pada gerak Lura yang cepat dan tegas. Mengabaikan rasa panik yang terus menghantuinya. "Ayo, rek!!! Beberapa meter lagi kita akan tiba di ujung saluran," ujar Lura penuh semangat. Ada kebahagiaan yang tersirat dalam semangatnya. Hal itu dengan cepat tersalurkan pada teman-temannya. Membuat mereka juga mulai memasang senyum bahagia dalam wajahnya. "Ayo!! Kita pasti bisa keluar dari saluran gelap ini!!" kata Bratra penuh semangat. "Pasti bisa!!" sahut Penna. "Pasti bisa!!" sahut Funa. Lura tidak dapat lagi menutupi kebahagiaannya ketika ia hanya perlu merangkak satu meter lagi. Cahaya sudah dapat ia rasakan keberadaannya. Membuatnya tenang. Namun terselip sedikit rasa takut kala ia merasakan titik-titik air mulai membasahi wajahnya. "Jangan dulu!! Jangan dulu!!" gumam Lura pelan. Byur. Air bah datang. Seperti air yang ditumpahkan dari tong besar memasuki saluran dengan cepat dan volume besar. Membuat tubuh mereka hanyut di dalamnya. Tak ada sesuatu yang dapat mereka raih sebagai pegangan. Tubuh mereka tidak siap. Air itu seperti tsunami atau banjir bandang yang tiba-tiba membanjiri sekitar. Sangat besar. Mereka tidak mampu menyelamatkan diri. Bahkan mereka pun sampai meminum air itu cukup banyak. Tidak bisa berteriak. Mereka lebih memilih mengembungkan pipi kuat-kuat. Tidak ingin air semakin masuk dalam tubuh mereka. Mereka tidak ingin mati secepat itu. Mata mereka pun tak dapat bertahan lama untuk membuka. Air itu sangat deras dan kencang. Membuat mata lelah. Mereka memilih menutup mata sambil terus berdoa dalam hati agar mereka dapat tetap selamat. Air itu terus meluncur deras. Tidak berhenti sampai waktu yang lama. Semakin membasahi saluran pipa itu hingga hampir memenuhi ruang pipa. Dan akhirnya mereka hanya bisa berpasrah ketika air itu membawa tubuh mereka hingga ke bawah saluran pipa. Hingga ujung pipa yang mereka pikir tertutup itu sampai membuka dan membuat mereka terdampar di dasar saluran yang berupa ruang gelap. Ada setitik cahaya dari sebuah saluran kecil. Sayangnya mereka tak dapat melihat cahaya itu karena mata mereka tertutup bersamaan dengan tubuh mereka yang terlempar oleh dahsyatnya air bah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD