Halo, readers. Saya ingin menambahkan tentang tumbuhan maju yang kemarin saya tuliskan di bab lima, ya. Jadi, tumbuhan maju itu dibagi menjadi dua. Pertama tumbuhan tingkat rendah. Kedua adalah tumbuhan tingkat tinggi. Tumbuhan tingkat rendah adalah tumbuhan yang organnya belum terbentuk sempurna, contohnya lumut dan paku. Sedangkan tumbuhan tingkat tinggi adalah tumbuhan yang organnya telah terbentuk sempurna, contohnya bunga sepatu, alamanda, dan sebagainya.
Bijama tersenyum puas dan senang kala tak melihat Lura di ruang kesekretariatan. Akhir-akhir ini, mantan sahabatnya itu jarang berkunjung ke ruang kesekretariatan BEM. Membuatnya dapat melakukan hal bebas sesuka hatinya. Aura mengintimidasi Lura tak pernah lagi mengganggunya. Ia sungguh benci hal itu. Entah bagaimana bisa ia selalu merasa takut dan terhimpit kala ada Lura di sekitarnya. Dan ia sangat sangat kesal dengan itu.
Sedangkan di gazebo kecil yang dibangun di beberapa titik fakultas, Lura berulang kali memgembuskan napas lelah. Sungguh ia ingin marah pada Penna yang ternyata selemot ini dalam menerima penjelasannya. Ia berulang kali hanya mampu menghela napas demi menyabarkan hatinya.
"Buka handphone-mu!" pinta Lura tegas. "Buka pedoman penulisan artikel yang pernah kukirim padamu."
Penna dengan kesal melaksanakan perintah Lura. Pujian yang sempat ia tujukan pada Lura ia tarik kembali. Nyatanya Lura adalah laki-laki yang menyebalkan. Lura boleh saja baik padanya saat itu di kantin, tapi setelah beberapa kali ia dibimbing untuk menulis artikel oleh Lura penilaiannya itu berubah 180 derajat. Lura sangat kejam dan tak berperikemanusiaan.
"Sudah," jawab Penna malas.
"Kalau begitu segera buat artikel seperti contoh itu. Buat latar belakang dulu."
Penna berdecak kesal. Ia benci disuruh-suruh. Terutama oleh orang yang usianya sejajar dengannya.
"Nggak usah sok merasa merana dan tertindas. Di sini kamu yang butuh aku. Bisa saja aku nggak membimbing kamu, tapi aku nggak mau dikejar-kejar oleh Bu Mmachilia karena kamu yang terlalu loading lama dalam menerima penjelasan," ejek Lura.
"Heh!? Kamu nggak usah sok gitu bisa nggak sih? Ngajari temannya itu harusnya diajari pelan-pelan. Bukan kayak gini," balas Penna tak terima. Cukup sudah selama ini ia diam dan mengalah. Ia kesal. Dan ia suka mengatakan bagaimana perasaannya saat ini tanpa perlu merasa sungkan. Tak perlu ada sesuatu yang harus dipendam. Asal ceplas dan ceplos selagi benar dan keaal.
Lura tak peduli dengan ocehan Penna. Ia sibuk dengan layar komputer jinjingnya yang menampilkan sebuah video tentang kebun raya yang akan dipilih sebagai tempat praktikum lapangan.
Penna mendengus kesal. Lama-lama ia bisa terserang penyakit hati jika berurusan dengan Lura terus menerus. 'Semoga tak ada lagi sesuatu hal yang membuatku harus terus bersama Lura, bocah tengil yang sok ini, ya, Allah,' harap batinnya.
"Memangnya kita teman?" celetuk Lura setelah video yang ia tonton berakhir.
Penna tak mampu lagi menahan kesabarannya. Ia ambil handphone-nya yang tergeletak di samping komputer jinjingnya, lalu ia ketukkan pojok handphone-nya pada kepala Lura yang masih sibuk menunduk mengamati layar.
Lura mendongak cepat. Tatapannya tajam mengarah pada Penna. Netranya melotot. Namun Penna tak takut. Wajahnya seakan menantang pada Lura. Ia siap jika Lura membalasnya.
Lura mengembuskan napas lelah. Berurusan dengan perempuan memang menyusahkannya. Ia tak peduli dengan Penna. Ia memilih mengangkat komputer jinjingnya. Tak lupa menyangklongkan ranselnya pada pundak. Kemudian melangkah menuju pojok gazebo lain. Ia masih sayang kepalanya. Di sana banyak ide dan ilmu yang telah tersimpan rapi. Jika ia membalas dengan getokan pada kepala Penna, sama saja ia seperti laki-laki yang tidak gentle. Jadi daripada ia kelepasan lebih baik menjauh dan melihat video YouTube lainnya. Mendengarkan lagu sepertinya pilihan yang lebih bagus daripada menemani Penna yang terus menyulut emosinya.
Sepeninggal Lura, Penna mengamati tubuh laki-laki itu. Lura tampan. Kulitnya termasuk dalam kategori putih bagi seorang laki-laki. Beda dengan kulitnya yang sawo matang. Hidungnya mancung juga sedikit besar. Alisnya tebal dan hitam. Pipinya sedikit chubby tapi tak berlebihan. Tubuhnya tinggi dan sedikit kurus. Namun ia bisa melihat bila di lengan Lura terbentuk otot yang menggumpal. Terlihat manly. Laki-laki itu juga tegas, sayangnya suka menyebalkan jika di dalam kelas. Tak ayal bila banyak teman-temannya yang tak suka dengannya. Namun, jika tanpa Lura di kelas mereka, mungkin mereka tak akan pernah selamat dari jeratan dosen yang suka sekali menyiksa para mahasiswanya.
Mata Penna menatap tajam pada seorang perempuan yang baru saja duduk di depan Lura. Lura tampaknya tak menyadari jika ada seseorang yang menghampirinya. Bola mata Penna menatap perempuan itu dengan detail. Matanya sedikit kabur. Ia tak mampu memindai dengan detail siapa perempuan itu. Namun ia merasa seperti pernah melihat perempuan itu.
Telinganya juga ia atur dalam mode siaga. Jika diibaratkan dengan kemampuan hewan, ibaratnya ia ingin memiliki pendengaran yang tajam dan peka seperti kelelawar yang mampu menangkap gelombang dari pantulan suaranya yang terbentur oleh suatu objek. Penna tak ingin Lura dan perempuan itu menyadari jika ia mencuri dengar perbincangan mereka, maka ia berpura-pura sibuk dengan layar komputer jinjingnya. Jika dipaksakan, ia pun tak akan fokus karena kekepoannya itu.
"Lura," panggil perempuan itu lirih.
Ujung mata Penna bekerja maksimal. Selama ini ia tak pernah peduli dengan urusan orang lain. Namun ia sangat ingin tahu akan perempuan yang ada di depan Lura. Karena selama dua tahun sekelas dengan Lura, ia tak pernah tahu jika Lura dekat dengan seorang perempuan mana pun.
Lura tampak terkejut dengan perempuan itu. Namun wajah terkejutnya itu berubah dengan cepat menjadi wajah mode datar dan dingin.
"Lura.. tolong dengarkan aku," mohon perempuan itu sambil memegang lengan Lura.
Lura sudah hendak menyentak tangan perempuan itu. Namun ia sadar masih banyak mahasiswa di kampus.
"Ada apa lagi, Bubunga? Kamu nggak sadar sekarang kita sedang berada di mana?" tanya Lura dingin.
'Ah, iya. Dia Bubunga. Bubunga? Bukankah dia pacarnya Bijama? Kenapa bisa kenal dengan Lura? Apa aku ketinggalan informasi?' Benak Penna sibuk dengan berbagai spekulasi.
"Kemungkinan pacar protektifmu itu masih ada di kampus. Belum para antek-anteknya yang akan melaporkan jika kamu ada di sini bersamaku. Kamu belum puas membuatku disudutkan oleh kekasihmu itu?" desis Lura.
"Jangan-jangan Lura itu selingkuhannya Bubunga?" gumam Penna sangat pelan.
“Tidak seperti itu, Lura. Coba kita bicara tanpa ada Bijama di dalam topik pembicaraan kita,” pinta Bubunga.
“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa, Bunga?” balas Lura tajam.
Lura segera melipat komputer jinjingnya tanpa perlu mematikannya terlebih dahulu. Dimasukkannya dalam ransel. Kemudian segera bangkit dari duduknya.
“Selesaikan artikelnya. Aku akan kembali 30 menit lagi,” kata Lura tanpa memandang Penna yang tampak sibuk mengetik.
Andai Lura tahu bila perempuan itu hanya pura-pura mengetik agar tidak ketahuan jika sedang mengawasi sejak tadi. Penna hanya mengangguk. Padahal fokusnya saat ini sedang tidak pada artikel, melainkan pada perbincangan dua manusia berbeda jenis itu.
Lura mengenakan sepatunya cepat. Langkahnya tegas dan lebar meninggalkan gazebo. Penna hanya melirik kepergian Lura dari sudut matanya. Ia sadar bahwa masih ada Bubunga di gazebo. Ia tak ingin perempuan itu tahu jika sedari tadi ia mencuri dengar perbincangan antara Lura dan Bubunga.
Sedangkan Bubunga tak peduli dengan keberadaan Penna. Fokusnya hanya pada Lura. Ia terus mengamati punggung pria itu hingga menghilang di belokan koridor. Lalu diembuskannya napasnya pelan. “Kapan sih kamu mau mencoba mendengarkan aku, Lura?” gumamnya pelan. Kemudian ia pun memilih meninggalkan gazebo dengan tubuh lunglai tak bersemangat.
Tinggallah Penna seorang diri di gazebo. Perempuan itu masih belum bisa kembali ke dunia nyata. Ke dunia sebelum kedatangan Bubunga yang menghampiri Lura dan mengajak laki-laki itu berbicara.
“Ih… kenapa mereka membuatku pusing? Buat apa juga aku memikirkan mereka?! Hishh..,” dumalnya kesal.
Bijama yang sedang rebahan di lantai ruang sekretariatan sambil mendengarkan lagu harus terusik. Niat hati ingin merehatkan tubuhnya sejenak, tapi ada saja yang mengganggunya.
“Bi..” Panggilan itu tampak mendesak. Membuat Bijama membuka matanya dengan malas.
“Hm?” jawabnya sambil masih tetap rebahan di lantai.
“Bubunga baru saja menemui Lura di gazebo,” lapor salah satu teman Bijama.
Bijama segera duduk dengan mata terbuka lebar. Wajahnya pun seketika mengetat keras. “Mau ngapain lagi dia?” desisnya tajam.
“Aku juga nggak tahu. Aku nggak sempat mencuri dengar. Aku buru-buru lari ke sini buat melaporkan ke kamu,” jelasnya.
Bijama segera bangkit dari duduknya. Tak mempedulikan kemejanya yang lungset bekas ia rebahan di lantai. Tanpa perlu memakai alas kaki ia berjalan menuju gazebo yang ada di dekat Jurusan Biologi. Namun nihil. Di sana banyak orang yang sedang mengerjakan tugas tetapi tak ada dua batang hidung orang yang sedang dicarinya.
“Kamu bodoh atau bagaimana sih, Bi? Kenapa nggak tanya di gazebo mana Lura dan Bubunga berada?” rutuknya. “Sifat protektifmu terlalu berlebihan sehingga akalmu nggak jalan,” dumalnya.
“Lura dan Bubunga di gazebo mana?” tanya Lura ketika ia kembali ke ruang sekretariatan BEM. Untungnya sahabatnya itu masih berada di sekretariatan. Jika tidak rumit sudah pencariannya terhadap Bubunga.
“Gazebo sana, Bi. Deket Jurusan Kimia. Sebelahnya gedung DPM,” jelas sahabat Bijama.
Bijama segera berlari tanpa alas kaki menuju gazebo yang dimaksud. Sayangnya di gazebo itu tak ada Lura dan Bubunga. Ia hanya melihat seorang perempuan yang tampak sibuk di depan komputer jinjing.
“Ckkkk…” Bijama berdecak kesal. Ia kecolongan lagi. “Ke mana mereka pergi? Apa mereka pergi bersama?” desisnya kesal. Dijambaknya rambut ikalnya yang mulai memanjang. Lalu ia membalikkan badannya kembali ke ruang kesekretariatan BEM. Ia butuh handphone untuk menghubungi para sahabatnya.
“Mereka nggak ada di gazebo,” lapor Bijama kepada sahabatnya. Sahabatnya itu tampak sibuk dengan handphone-nya yang posisinya ditidurkan itu. Sepertinya sedang sibuk bermain game.
Sahabatnya mendongak sekilas lalu kembali fokus pada game yang sedang dimainkannya. “Coba tanya pada anak-anak, Bi,” jawabnya acuh. Baginya permainan game-nya saat ini lebih penting. Ia sedang butuh refreshing setelah perkuliahan yang berat.
Tak hanya itu sebenarnya alasannya. Terkadang ia lelah bila terus-terusan menjadi orang yang dimintai ini dan itu oleh Bijama. Ia bukan babu Bijama. Ia juga mahasiswa sama seperti Bijama. Ia pun membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT)—SPP mudahnya—setiap semester. Uang dari kedua orang tuanya. Bukan dari meminta Bijama.
Bijama berdecak kesal. Lalu ia segera menghubungi satu per satu orang-orang yang ia sebut sebagai sahabat. Perasaannya tak tenang bila Bubunga terus menerus menemui Lura. Apalagi ia kehilangan jejak kedua insan itu.
Jawaban para sahabatnya yang tak tahu keberadaan Bubunga dan Lura membuat emosinya meningkat. Dibantingnya handphone-nya hingga setiap komponen luar handphone itu terlepas dan menyebar memenuhi lantai berkeramik putih itu.
Catatan:
DPM atau kepanjangan dari Dewan Perwakilan Mahasiswa merupakan organisasi legislatif di kampus. DPM merupakan organisasi legislatif tingkat fakultas. Jika diibaratkan dengan kepemerintahan, DPM ini hampir sama dengan DPR.
Tugas DPM adalah untuk mengawasi jalannya program kerja yang dilakukan oleh BEM jurusan atau pun BEM fakultas.