7. Sidang Ricuh

1886 Words
"Buat apa kamu menemui Bubunga lagi hah?" Bijama menarik kerah baju Lura. Lura baru saja hendak pulang setelah membimbing Penna. Lalu saat dibelokan koridor menuju tempat parkir motor yang cukup sepi, Bijama menariknya dan mendorong tubuhnya ke tembok hingga punggungnya terasa sedikit nyeri. Lura lelah. Lelah diantara mereka berdua yang terus mengusiknya. Lelah menjadi pihak ketiga dan berujung seperti ini. Tubuhnya juga sudah lelah karena energinya terbuang untuk membimbing Penna yang benar-benar menguras tenaganya. Apalagi kala ia harus menahan kekesalannya pada tingkah Penna. Hal itu yang semakin membuat tenaganya cepat habis. Bukan ia tak kuasa memberikan bogem mentah pada Bijama. Namun untuk apa ia m*****i tangannya hanya gara-gara seorang perempuan yang telah memberi luka padanya? Memberi rasa sakit dalam hidupnya? Sayang tangannya yang selama ini ia tahan untuk tak menonjok Bijama. "Mana buktinya?" tantang Lura dengan wajah dingin. Biar saja Bijama memukulnya, biar semua orang tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang bersalah dalam hal ini. Biar semua orang tahu jika Bijamalah yang memiliki sikap temperamental. "Nggak perlu berkelit. Aku tahu bahwa kamu berbincang dengan Bubunga," balasnya dengan tajam. "Tahu? Tahu dari mana? Dari para antek-antekmu yang mungkin saja telah muak dengan segala perintah darimu? Katanya mereka sahabatmu, tetapi kenapa kamu memperlakukan mereka seakan mereka adalah buruhmu?" ejek Lura dengan senyuman culas. Bijama tak dapat menahan diri. Tangan kanannya yang sejak tadi terkepal kuat kini menghantam pipi Lura. Menyebabkan rasa nyeri dan mata yang sedikit berkunang. Namun bukan Lura namanya bila ia menunjukkan sikap lemahnya. "Kenapa? Benar apa yang aku katakan?" tantang Lura. Rahang Bijama mengetat. Pukulan sudah siap melayang mengenai pipi Lura lagi, tapi hal itu ia batalkan kala mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Melengkungkan senyum Lura yang terlihat menjengkelkan bagi Bijama. "Kenapa? Takut? Lain kali jangan jadi orang yang suka main tangan. Ah, dan aku tahu apa yang terjadi antara kamu dan Bubunga. Rahasia buruk dan sampah kalian." Lura geleng-geleng tak habis pikir. Ada pancaran kekecewaan yang terlihat, tetapi hanya sekilas. Ia harus bisa menjadi orang yang bodoh amat. Tak perlu ikut pusing dan risau dengan urusan orang lain. Permasalahan hidupnya sudah pelik, tidak perlu ditambah dengan mengurusi orang yang telah melukainya. "Dan lain kali jangan mudah percaya dengan apa yang diomongkan para anak buahmu itu. Bisa saja itu semua hanya tipuan untuk membodohimu," lanjut Lura sembari melepaskan cengkeraman tangan Bijama di lehernya. Kemudian mulai melangkah kembali ke parkiran motor. Ia harus segera pulang untuk mengompres bekas bogeman tangan Bijama. Tak ingin esok bekas bogeman itu terlihat terlalu jelas dan memunculkan rasa penasaran dari banyak orang. Ia benci hal itu. "Ah.. aku sampai lupa mengatakan hal ini, kasihan sekali para sahabatmu itu. Katanya mereka sahabatmu, tetapi mengapa mereka seakan menjadi anak buahmu?" kata Lura tanpa menoleh pada Bijama. Nada Lura kentara sekali mengejek. Biar saja. Bijama mengepalkan tangannya kuat. Amarah jelas menguasainya. Sungguh ia kesal pada Lura yang benar-benar selalu bisa membuatnya diam tak berkutik. Ia kira ia telah merasa tenang dan berada di atas angin saat Lura jarang berkunjung ke ruang kesekretariatan. Nyatanya sama saja. Ia tetap terancam. Sedangkan langkah kaki yang tadi mengacau mereka berdua adalah langkah kaki Bubunga. Saat ini ia diam membisu dengan tubuh bersandar pada tembok. Mulutnya ia bekap dengan tangannya. Apa yang ia dengar dari mulut Lura benar-benar membuatnya diam tak berkutik. 'Bagaimana bisa Lura mengetahui hal itu?' Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Lalu seakan tersadar, dengan cepat ia melangkah menjauh dari posisinya. Kemungkinan Bijama akan lewat di jalan tempatnya ia berdiam diri. Dan ia tak ingin Bijama mengetahui keberadaannya, yang mana jika hal itu terjadi maka akan semakin memicu pertengkaran-pertengkaran mereka. *** Auditorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam disesaki oleh puluhan mahasiswa, perwakilan dari BEM Fakultas, Jurusan, DPM, dan MPM. Suara antarmahasiswa yang mengobrol membuat auditorium itu tampak sesak dan ramai. Mereka sedang menunggu para dekanat untuk membahas mengenai pelaksanaan pemilihan ketua BEM dan DPM yang baru, yang biasa dikenal dengan Pemira—Pemilihan Umum Raya. Tak berapa lama, para pimpinan dekanat memasuki auditorium. Mengheningkan segala keramaian yang dibuat oleh para mahasiswa. Acara dibuka oleh perwakilan MPM. Wakil Dekan Kemahasiswaan memberikan sambutan berupa semangat dan motivasi agar terus menjadi organisator yang hebat dan memberikan dampak positif bagi sekitarnya. Pembahasan topik utama pun dimulai, MPM menyampaikan beberapa rencana yang akan dilakukan selama Pemira. Selama pemaparan rencana, audience tak boleh menyanggah. Hanya diperbolehkan mendengarkan karena akan ada waktunya sendiri untuk menyampaikan pendapat atau mosi tidak setuju dengan wacana itu. "Kurang lebih seperti itu skema dalam Pemira nanti, Pak. Jikalau teman-teman ada yang ingin bertanya saya kembalikan pada moderator terlebih dahulu." Sang Pembicara menutup pemaparannya dengan ucapan terima kasih dan salam. Setelahnya ia kembali duduk pada kursi yang sempat ia tinggalkan karena harus memaparkan di depan podium. "Baik.. pasti di antara puluhan mahasiswa di sini sudah tidak sabar untuk menyampaikan pendapatnya. Maka dari itu, kami membuka lima pertanyaan atau tanggapan dari mahasiswa. Sebelum itu, kami mohon kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dengan tenang. Jangan sampai menimbulkan kegaduhan dan percekcokan di antara kita," tegas Sang Moderator acara. "Bisa?" teriaknya. "Bisa!!" Para mahasiswa menjawab bersamaan. Jawaban koor mereka membuat auditorium tampak ramai. "Silakan angkat tangan. Kami akan mengawasi lima orang tercepat yang mengangkat tangan," jelas Moderator. "Siap? Mulai," teriaknya heboh tetapi juga tegas. Lebih dari lima mahasiswa yang mengangkat tangan. Namun, panitia pelaksanaan Pemira harus tegas. Mereka pun memilih lima orang mahasiswa, dua di antaranya adalah Bijama dan Lura. Dua orang yang sering berselisih paham. "Kami persilakan kepada Lura terlebih dahulu," ucap moderator. Tiga mahasiswa yang lain telah menyampaikan pendapat dan pertanyaan mereka. Kurang lebih yang mereka sampaikan adalah hal-hal umum. Lura melengkungkan senyum sinis yang ia tujukan pada Bijama. Hanya Bijama yang melihat dan sadar, sedangkan mahasiswa lain tak menyadari hal itu. Fokus mereka sudah terbawa pada Lura yang akan mengatakan pendapatnya. "Terima kasih atas waktu yang telah diberikan kepada saya," buka Lura dengan senyum lebar yang terpancar. Berkat senyum itu, aura wibawa dan tegas Lura terlihat. Membuat semua pasang mata fokus memandangnya. "Saya bersyukur karena aturan yang saat ini dibuat lebih baik dari sebelumnya. Namun, saya sangat tidak setuju dengan salah satu syarat yang mengatakan bahwa calon Ketua BEM Fakultas tidak berasal dari BEM Jurusan. Boleh dari mahasiswa yang tidak tergabung dalam BEM Jurusan? Atas dasar apa hal ini digunakan sebagai syarat?" tanya Lura dengan pandangan bingung. "Untuk mengkampanyekan bahwa BEM dapat dijangkau oleh siapa pun? Seperti itu bukan?" Pertanyaan Lura itu membius semua audience. Mereka seakan terseret dalam setiap kalimat yang Lura lontarkan. "Mohon maaf. Dari hati yang paling dalam, saya menolak syarat tersebut. Jika memang ingin membuat mahasiswa merasakan sebuah organisasi, kita bisa mengembangkan program kerja yang selama ini telah dilaksanakan untuk merangkul semua mahasiswa," lanjutnya tegas. "Hanya saja saya menyayangkan syarat tersebut. Ambisi apa yang hendak dicapai dengan membuat syarat tersebut? Ingin memperbanyak boneka peliharaan di BEM?" tanya Lura dengan sinis. "Saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Tepuk tangan riuh setelah mikrofon yang Lura pegang beralih tangan ke moderator. Membuat auditorium disesaki dengan teriakan mendukung akan apa yang Lura sampaikan. Lura kembali duduk di kursinya dengan tenang. Ia lega karena diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Sayang sekali bila ia tak diberikan kesempatan. “Kami tampung lebih dahulu, ya, Lura? Kami persilakan kepada Bijama untuk menyampaikan aspirasinya,” kata moderator. “Terima kasih atas waktu yang diberikan. Saya di sini hanya ingin mendukung apa yang telah disampaikan oleh MPM. Dengan mengusung calon pasangan dari seluruh mahasiswa jurusan tanpa memandang organisasi apa yang dibawa, saya rasa tak masalah. Toh nanti tetap akan diadakan debat para calon ketua atau wakil ketua,” kata Bijama tegas. Ia sematkan senyum lebar di akhir ucapannya. “Sehingga para warga fakultas dapat memilih mana yang tepat berdasarkan debat itu,” lanjutnya. “Hanya itu saja yang ingin disampaikan, Bijama?” Bijama mengangguk. Ia berkeyakinan bahwa ketua atau wakil ketua BEM dari mana pun asalnya tak masalah. Asal mempunyai jiwa kepemimpinan. Itu sudah cukup. “Terima kasih kami sampaikan kepada warga FMIPA yang begitu antusias dalam menyambut Pemira yang akan berlangsung kurang lebih lima bulan ke depan. Kami merasa begitu dihargai karena banyaknya warga yang memberikan aspirasinya,” ucap perwakilan MPM. “Di sini saya akan menjawab dua pertanyaan dari dua mahasiswa FMIPA yang katanya sama-sama berpengaruh kuat, ya? Jadi saya akan menjadikan satu jawabannya dari dua pertanyaan tersebut.” “Alasan kami menyampaikan usul tersebut adalah agar tidak hanya orang yang pernah berorganisasi saja yang bisa menjadi calon kandidat ketua dan wakil ketua. Semua mahasiswa sama, bukan? Maka dari itu kami ingin menjadikan usul tersebut disetujui. Semisal ada salah satu pasangan calon yang menjadi ketua dan wakil ketua dari pasangan yang bukan berasal dari BEM Jurusan hal itu akan memicu semangat mereka. Semangat mereka dalam berorganisasi,” jawab perwakilan MPM mantap. “Tidak ada landasan apa pun yang mendasari. Kami pun tak ada maksud untuk mendukung suatu organisasi atau apa pun itu,” lanjutnya. Lura segera mengangkat tangannya. Sang Moderator menatap pada perwakilan MPM. Setelah mendapatkan anggukan, moderator tersebut mempersilakan Lura berbicara. “Tidak ada landasan? Mohon maaf Bapak Wakil Dekan Kemahasiswaan, Pak Prayitno, ngapunten ingkang kathah. Apa menurut Bapak hal ini dapat disetujui begitu saja? Apa Bapak yakin usul tersebut akan dapat menghasilkan ketua dan wakil ketua BEM yang berkompeten dan bertanggung jawab? Bukankah dalam setiap memutuskan sesuatu ada landasannya? Seperti halnya ketika kami akan melaksanakan suatu kegiatan, kami harus memiliki landasan dan alasan yang kuat mengapa suatu kegiatan itu dilaksanakan.” Lura menatap tegas tetapi sopan pada Wakil Dekan Kemahasiswaan yang sore itu hadir dan sedang duduk di kursi para pimpinan fakultas. “Saya memang sudah tidak akan lagi di fakultas, karena waktu saya telah habis di sini. Mungkin jika saya berkesempatan, saya semestinya lanjut ke universitas. Namun, tentu saya tidak akan diam saja ketika MPM mengusulkan ide seperti itu,” tolak Lura tegas. “Dan mohon maaf sekali kepada Ketua BEM FMIPA yang terhormat, Mas Bijama. Mas yakin mendukung usul tersebut? Mas Bijama ingin mendapatkan pengganti yang hanya akan disetir seperti boneka lagi?” tanya Lura dengan wajah yang kentara mengejek. Bijama tak terima. Ia segera maju dan melangkah lebar mendekati Lura. Beruntungnya para mahasiswa yang berada di sekitar Lura dengan cepat menghadang Bijama untuk mendekati Lura. Sehingga perkelahian terhindarkan. “Saya boleh berbicara, ya?” Pak Prayitno menginterupsi. Perwakilan MPM pun mengangguk. “Benar apa yang disampaikan Lura. Seseorang belajar itu tidak ketika menjadi ketua suatu organisasi, tetapi sebelum itu. Seorang ketua atau wakil ketua harus memiliki pengetahuan atau bekal organisasi sebelumnya. Jangan ujug-ujug mereka baru belajar ketika menjadi ketua organisasi. Mau jadi apa suatu organisasi itu bila ketuanya saja tidak paham tentang bagaimana organisasi itu berjalan.” “Tapi, Pak.. apa salahnya membawa semua warga untuk berani dalam mendaftar menjadi ketua? Karena yang saya tahu selama ini, anggota BEM pun belum tentu berani mendaftar menjadi ketua,” sahut Bijama lantang. Pak Prayitno meresponsnya dengan senyum. Sedangkan Lura memasang senyum sinis di wajahnya. “Ya seperti Bijama yang tak berani mendaftar menjadi Ketua BEM dulu. Ah, seandainya tidak banyak yang mem-backing-nya mungkin ia hanya menjadi anak buah. Bukan Ketua BEM yang suka berbuat seenak hati dan hanya leha-leha,” ujar Lura sinis. Bijama dengan cepat berlari menuju Lura. Dan kali ini Luralah yang dapat menghindarinya dengan cepat. Lalu mahasiswa lain segera melindungi dua mahasiswa yang terkenal tak akur itu. Kemudian sidang—ah, lebih tepatnya sosialisasi itu dibubarkan tanpa keputusan yang jelas. Catatan: MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa), organisasi tingkat universitas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD