8. Rahasia yang Terungkap

1654 Words
“Awak dhewe kudu gawe perhitungan karo Lura,” kata Bijama dengan amarah yang besar. (Kita harus membuat perhitungan dengan Lura) “Dantit!!! Lura iki pancen b******n!!” umpat Bijama sembari memukul udara. (Dantitt!!!—plesetan dari u*****n khas Surabaya. Lura itu memang b******n!!) Saat ini Bijama tengah berada di ruang kesekretariatan BEM bersama para sahabatnya yang sering Lura sebut sebagai bawahan—kasarnya kacung Bijama. Bijama tak mampu menahan emosinya karena Lura benar-benar melemparkan air comberan ke mukanya. Ini bukan pertama kalinya, tapi entah yang ke berapa kali. Dan ia merasa bahwa ia tidak bisa hanya diam saja. Ia harus melakukan sesuatu hal untuk menyadarkan Lura bahwa ia tak akan mudah kalah. Apalagi dikalahkan oleh Lura. “Sorry ya, Ma. Tapi kenapa sih kita harus nuruti Mas Sula? Toh orangnya juga sudah lulus dan gak pernah ke kampus. Kenapa kamu masih terus mengikuti segala perintahnya? Kamu mau kampus kita gak berkembang? Terutama fakultas kita,” ucap salah satu sahabat Bijama. Bijama mengacak rambutnya kasar. Ia bingung harus mengatakan apa. Selama ini ia terus mengarang berbagai jawaban setiap para sahabatnya bertanya. Dan kali ini, entah ia tak tahu harus mengatakan alasan apa lagi. Pikirannya buntu. “Memang kalian rela kalau aku diinjak-injak sama Lura?” tanya Bijama dengan wajah garang. Wajah itu hanya tipuan. Hanya topeng. Sebagai pengalihan agar teman-temannya tak lagi mempertanyakan hal itu. Ia harus menggiring teman-temannya pada permasalahannya, yang selalu dipermalukan Lura. “Tapi apa yang kamu lakukan itu nggak bener, Ma!! Mau sampai kapan kamu kayak gini terus? Membela sesuatu yang seharusnya nggak kamu bela?” sahut temannya yang lain. “Kamu masih merasa diinjak oleh Lura dari sisi mana sih, Ma? Bubunga sudah kamu dapatkan. Bahkan segala yang ada pada Bubunga sudah kamu dapatkan. Lalu kamu mau apalagi? Mau bagaimana lagi? Mau menghancurkan apalagi?” sahut temannya yang lain dengan lelah. Lelah karena harus menuruti segala perintah Bijama. Yang semakin lama permintaannya semakin tidak masuk akal. Apalagi mengenai Sula, kakak tingkat mereka yang selalu menjadi tameng bagi Bijama. Sedang mereka sendiri sebenarnya tidak tahu ada hal apa diantara Bijama dan Sula. “Seandainya Bubunga tahu kalau bukan hanya dia yang jadi kekasihmu dan bukan hanya dia perempuan yang kamu rusak, mungkin riwayatmu akan tamat?” ejek salah satu temannya yang paling jujur diantara yang lain. Salah satu sahabat Bijama yang menunjukkan rasa tak sukanya pada Bijama, pada ide-ide Bijama yang terkadang tak masuk akal dan semakin nyeleneh. Bijama maju menuju sahabatnya itu. Lalu bagaikan sambaran kereta api yang tak terasa kehadirannya, sahabatnya terhuyung ke belakang. Tak sampai jatuh. Membuat sahabatnya yang lain memandang Bijama dengan mata melebar tak percaya. Mereka tahu bahwa selama ini Bijama dengan laki-laki itu tak pernah sefrekuensi, sependapat. Namun mereka tak menyangka bila Bijama akan melampiaskan amarahnya melalui pukulan di pipi. Sahabatnya itu memberikan senyum sinis. Lalu berdecih. “Lihat saja apa yang akan menimpamu?! Mulai detik ini, aku tidak akan peduli dengan apa pun yang akan kamu lakukan,” tandasnya. Lalu ia berjalan mengambil ranselnya. Kemudian melangkah lebar membuka pintu ruang kesekretariatan dan keluar dari ruang itu. Ia sedikit terkejut kala melihat Bubunga yang berdiri kaku di depan pintu. Juga Lura yang berdiri dengan jarak kurang lebih lima meter di belakang Bubunga. Wajah Lura dingin dan datar. Seakan tak mendengar perbincangan yang diiringi dengan teriakan dan amarah di dalam ruangan itu. Namun, sekarang ia benar-benar muak dan lelah. Dan tanpa peduli pada dua orang itu, ia melanjutkan langkah menuju motornya yang ia parkir di dekat ruang kesekretariatan. ‘Tampaknya pertunjukan seru akan segera tayang,’ gumam batin Lura. Lura mengembuskan napas lelah. Ia tak peduli dengan keberadaan Bubunga. Ia berjalan dengan pandangan yang fokus ke depan. Lalu masuk ke ruang kesekretariatan untuk mengambil ranselnya dan membereskan beberapa barangnya yang telah ia keluarkan dari ransel. Semuanya telah beres dan tak ada yang tertinggal. Lura pun segera meninggalkan ruang kesekretariatan BEM. Di mana wajah Bijama dan para sahabatnya terlihat masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Bubunga masih berdiri di tempatnya dengan pandangan kosong. Air mata yang ingin ia keluarkan seperti sudah tak bisa. Ia memang ingin menangis. Namun juga ingin tertawa. Menertawakan hidupnya yang begitu miris. Hingga tak terasa, ai mata menetes membasahi pipinya. Tanpa sengguk, hanya lelehan air mata. Bubunga masuk ke dalam ruang kesekretariatan BEM, lalu menghampiri Bijama. Kemudian menyerahkan sebuah kantong kertas makanan yang sebelumnya Bijama pesankan padanya karena ia berada di salah satu mall dekat kampus. “Bunga..” Bijama memanggil kekasihnya lirih. Ia dapat melihat tatapan kekecewaan dari Bunga. ‘Apa Bunga mendengar semuanya?’ Pikiran yang melintas di pikirnya itu membuatnya tak karuan. Ia kebingungan. Sehingga ia hanya dapat melihat punggung Bubunga yang semakin menjauh, keluar dari ruang kesekretariatan. Bubunga mengambil handphone yang disimpan dalam ransel. Setelahnya segera memesan taksi daring. Ia butuh kasur untuk menumpahkan segala rasa, terutama kesedihannya. *** Perkuliahan Sistematika Tumbuhan hari ini berjalan lancar. Tak ada begadang di malam sebelumnya. Tidak ada drama dari mahasiswa yang membuat kesalahannya. Semuanya berjalan lancar seperti perkuliahan yang seharusnya berlangsung. Dosen pun tak memberikan tugas yang dapat membuat napas mahasiswa sesak. Lega sekali bila seperti itu. Sayangnya, baru saja napas terhembus lega, mahasiswa harus dihadapkan pada pelaksanaan praktikum lapangan yang akan segera berlangsung. Asisten dosen—Radula dan Mazila menghentikan langkah mahasiswa yang berniat hendak meninggalkan Laboratorium Sistematika. “Siapa yang menyuruh kalian keluar dari kelas?” Pertanyaan sederhana, tetapi berhasil membuat tubuh kaku dalam berdirinya. Membuat nyali seketika menciut. Membuat semangat yang sempat membara membayangkan makan siang di food court, lenyap seketika. Semuanya kembali ke tempat duduknya dengan perasaan takut. Lalu menunduk dalam dan diam. “Lain kali yang sopan!! Kami belum mempersilakan kalian keluar dari ruangan. Tapi kalian dengan PD-nya nyelonong keluar. Seakan-akan tak menghargai dan tak menghormati kami di sini!” tuturnya tajam. Semua menunduk dalam. Tak terkecuali Lura. Laki-laki itu tak mengira bila akan terjadi drama setelah pembelajaran selesai. Ia tadi masih membereskan buku-bukunya juga alat tulis ke dalam ranselnya, belum sampai mengangkat tubuhnya meninggalkan kursi. Maka terjebaklah ia di kursi itu dengan entah drama apa yang akan terjadi. “Beruntungnya Lura masih di sini, jika kamu sudah keluar dari kelas lebih awal, hancur sudah kelas ini,” kata Radula tajam. Lura hanya menanggapi dengan anggukan. Tak berani merespons lebih. “Sudah datang ke Kebun Raya, Lura?” tanya Radula. “Sudah, Mas,” jawab Lura sembari meminta ijin memberikan catatannya pada Radula. Radula mengangguk membuat Lura berjalan mendekat pada kakak tingkatnya itu untuk memberikan catatannya mengenai survei lokasi yang ia lakukan. Sebenarnya tanpa Lura memberikan catatannya padanya pun, ia sudah tahu mengenai medan dan informasi lainnya karena ia juga telah melakukan survei. Hanya untuk sekedar formalitas saja ia seperti itu. “Kalau begitu silakan persiapan segala peralatannya. Sudah dibentuk panitia ya berarti?” “Sudah,” jawab rekan-rekan Lura serempak. “Pastikan semua alat dan bahan yang diperlukan sudah tersedia maksimal tiga hari sebelum praktikum dilakukan. Jangan melebihi hari itu jika tidak ingin kelabakan dan mendapatkan amarah dari para dosen Sistematika Tumbuhan,” peringat Radula. “Siap, Mas!!” jawab para mahasiswa serempak. “Oh iya, ini juga hal penting. Pastikan kalian sudah mem-booking bus kampus sejak sekarang. Kalian tidak ingin menambah biaya praktikum lapangan hanya untuk kendaraannya bukan?” Kali ini Mazila yang berbicara. Sama halnya dengan Radula, perempuan itu juga tajam dan tegas bila berbicara. Tatapannya pun selalu mengintimidasi, tak pernah bersahabat. “Tidak, Mbak.” “Kalau begitu, terkhusus panitia segera urus semuanya. Pastikan semuanya beres. Tidak ada yang terselip atau tertinggal dan terlupa!!” tegas Mazila. “Siap, Mbak!!” “Jelas, ya?” “Jelas,” jawab para mahasiswa dengan kompak. Suara mereka seakan berada dalam gor atau stadion, menggema di seluruh ruang kelas. “Kalau seperti itu kalian boleh keluar. Namun, bagi panitia praktikum lapangan harap tetap di ruangan,” perintah Radula. Satu per satu mahasiswa keluar dari Laboratorium Sistematika. Bagaikan semut yang siap menyebar menuju ke tempatnya masing-masing. Lepas satu per satu. “Kalian sudah mulai membeli berbagai kelengkapan pasca praklap nanti?” tanya Mazila dengan mata yang awas memandang tiap panitia. Panitia praktikum lapangan dibentuk dari penanggung jawab mata kuliah tiap kelas ditambah dengan tiap kelas mengeluarkan lima anak perwakilan sebagai panitia tambahan. Dalam mengusung nama mahasiswa yang hendak diminta menjadi panitia sulitnya bukan main. Banyak mahasiswa yang menolak. Alasannya tentu saja tak berani mengambil risiko bila kena marah dosen atau asisten dosen. Mereka ingin main aman. Namun, Radula dan Mazila ikut terjun dalam tiap pemilihan panitia dari kelas. Ia selalu menekankan bahwa mahasiswa nantinya akan terjun pada masyarakat. Dalam bersosialisasi dengan masyarakat, tidak hanya kepintaran yang diperlukan, tetapi jiwa sosial yang harus dilatih sejak menjadi mahasiswa. Layaknya suatu perilaku, perilaku itu tak akan menjadi kebiasaan baik bila tidak dilatih atau dilakukan berulang. Dan dengan menjadi mahasiswa yang aktif, diharapkan para mahasiswa nanti akan siap terjun dalam dunia masyarakat. “Sudah beli benang pancing, botol tabung di Pasar Loak, Mas. Untuk kertas kalkirnya, kami sudah membagi tugas dengan kelas lain. Kelas lain yang bertugas membeli kertas itu. Menurut informasi yang disampaikan di grup kepanitiaan, mereka sudah membeli kurang lebih 10 meter,” jelas Lura. Radula dan Mazila mengangguk. “Untuk alat pengebor kertas kalkir dan formalin sudah membuat surat peminjaman ke Kepala Laboratorium?” “Sudah, Mas. Kami sudah menghubungi Mbak Wasinti untuk itu. Kami juga sudah mengisi surat peminjaman alat tersebut,” jawab salah satu rekan Lura. Radula dan Mazila mengangguk puas. “Pastikan semuanya beres sebelum praktikum lapangan berlangsung. Jangan sampai ada sesuatu yang membuat kami marah, terutama dosen,” ancam Radula. “Siap. In syaa Allah, Mas.” “Oke. Tolong share ke grup bahwa kita akan berkumpul satu jurusan di tepi ranu kampus pukul empat sore. Satu jurusan ya ini!! Ingat!! Jangan sampai ada yang ijin. Kumpul ini untuk mengecek segala persiapan praktikum!! Hari Kamis sebelum kita berangkat di hari Sabtu!!” tegas Radula. “Siap, Mas,” jawab mereka serempak. Radula dan Mazila kemudian keluar laboratorium dan menuju ruang dosen. Membuat para mahasiswa yang tersisa di laboratorium juga segera keluar meninggalkan laboratorium.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD