Bismillah. Happy reading, all!
Mahasiswa angkatan ke 97 itu tampak memenuhi tepi ranu kampus. Ranu adalah sebutan untuk danau buatan yang dibangun di tengah kampus yang berhadapan tepat dengan masjid kampus. Ukurannya tak begitu luas, tetapi kedalamannya kurang lebih mencapai pundak orang dewasa.
Jika sore hari, banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu mereka di tepi ranu. Menikmati semilir angin yang sejuk sembari mengobrol santai atau mengerjakan tugas.
Terkadang, mahasiswa biologi juga melakukan praktikum di ranu itu. Entah untuk mata kuliah Ekologi atau mata kuliah Sistematika Hewan. Jika pagi hari, banyak warga sekitar kampus dan mahasiswa yang berlari mengitari ranu. Terutama weekend. Ranu itu bagaikan salah satu tempat yang sangat cocok dan tepat untuk jogging.
Menurut informasi, ranu itu dibangun karena dulu kampus tempat Lura menimba ilmu sering terendam air banjir kala hujan lebat. Maka untuk mengantisipasi hal itu terjadi lagi, pihak kampus mengusulkan dana untuk membangun ranu buatan itu. Dan hasilnya, ranu itu cukup efektif untuk menampung air kala hujan lebat membasahi bumi. Yah walaupun sekitar kampus masih sering banjir kala hujan benar-benar lebat dan durasi turunnya rinai hujan cukup lama. Namun, ranu itu menyumbang banyak dalam penanganan banjir.
Membangun ranu itu tak sia-sia manfaatnya. Tidak hanya untuk menampung air hujan, ranu itu juga dimanfaatkan untuk merefresh pikiran karena di tepi ranu ditanami dengan berbagai pepohonan besar. Sehingga udara sejuk dapat dirasakan oleh warga kampus. Selain itu, ranu juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Entah ikan milik siapa, yang jelas banyak ikan hidup di sana.
Di tengah ranu, didesain seperti sebuah pulau kecil dengan satu pohon bunga mentega yang tumbuh besar dan subur. Tempat hidup angsa putih. Lalu di pulau itu juga dibangun bekupon—rumah bagi burung dara. Keindahan ranu pun semakin meningkat karena banyaknya burung dara yang bermain di tepi danau. Lalu mereka terbang bersama kala ada orang yang melintas. Ya, seakan pemandangan di Eropa sana dapat dirasakan di tepi ranu itu.
Mahasiswa yang berkumpul di ranu itu ramai berbincang. Jumlah mahasiswi yang lebih banyak dari mahasiswa semakin membuat riuh tepi ranu. Membuat banyak pasang mata yang melintas memandang penuh ke arah segerombolan mahasiswa itu.
Dari kejauhan, Radula dan Mazila berjalan menuju ke tepi ranu. Mahasiswa yang menyadari kedua asisten dosen mata kuliah Sistematika Tumbuhan itu pun segera menyalurkan informasi ke teman-temannya. Membuat riuh yang sempat terdengar dan mengganggu telinga itu segera teredam. Hening menyelimuti tepi ranu.
"Sudah datang semua teman-teman kalian? Tidak ada yang ijin?" tanya Mazila setelah duduk dan bergabung dengan para adik tingkatnya.
Seorang perempuan mengangkat tangannya. Meminta ijin untuk menginterupsi dan menyampaikan sesuatu.
Mazila mengangguk menyetujui. Wajahnya memandang fokus pada perempuan itu. Matanya hanya tertuju pada satu titik. Membuat perempuan itu sedikit grogi.
"Mohon maaf, Mbak. Dari kelas Pendidikan B ada dua mahasiswa yang tidak bisa hadir, yaitu Duduwi dan Didila. Sejak tadi pagi mereka berdua memang tidak hadir di jam perkuliahan dikarenakan sakit," jelas perempuan itu.
Mazila mengangguk. Begitu pula Radula. Perempuan itu menghela napas lega. Sedari tadi berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam pikirnya. Nyatanya kenyataannya ia baik-baik saja.
"Tidak apa kalau memang mereka tidak hadir sejak pagi. Kelas lain bagaimana?" Radula bertanya.
"Aman, Mas," jawab mahasiswa serentak. Suara riuh itu memenuhi atmosfer kampus di sore hari. Menciptakan keriuhan di kala para mahasiswa bersiap mengakhiri perkuliahan. Bahkan sudah banyak mahasiswa yang mengendarai motornya melewati jalan yang mengitari ranu. Ada pula yang melirik tepi ranu karena suara berisik yang cukup mengganggu dan mengusik. Namun banyak pula yang tak peduli.
"Baik. Kalau begitu kami mulai, ya? Assalamu'alaikum warah matullahi wa barakatuh," salam Radula tegas.
"Wa'alaikumsalam warah matullahi wa barakatuh," jawab para mahasiswa serempak. Suara salam itu menggetarkan jiwa membuat semangat berkobar.
"Alhamdulillah hari Sabtu esok kita akan melaksanakan praktikum lapangan di Kebun Raya Pididi. Semoga kita selalu dilimpahkan kesehatan agar bisa ikut bergabung dalam praklap nanti," buka Mazila tenang. Namun suaranya tetap penuh ketegasan. Wajahnya pun tidak menampakkan wajah ramah. Wajahnya selalu dingin. Pandangannya tajam dan sesekali tampak seperti meremehkan. Padahal ia tak seperti itu. Ia manusia biasa. Akan tertawa jika ada hal yang menggugah hormon tawa dalam tubuhnya untuk tertawa. Ia akan menangis bila ada hal menyedihkan dan menyesakkan. Ia manusia biasa. Ia juga butuh orang lain. Ia juga memiliki sahabat yang satu frekuensi dengannya. Ia pun bisa menjadi manusia receh bila dihadapkan dengan para sahabatnya.
"Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam praklap nanti adalah, pertama, kalian harus selalu mematuhi segala aturan kebun raya. Kedua, jangan merusak. Ketiga, ambil lumut sesuai kebutuhan. Jangan berlebihan. Jangan kemaruk! Keempat, membawa keperluan yang hanya dibutuhkan. Seperti kotak penyimpan lumut, sendok atau cetok, kresek atau plastik, kertas label, pen, note book, alat sholat, dan obat pribadi. Ah, jangan lupa jas hujan dan payung. Karena cuaca akhir-akhir ini mulai mendung. Ditakutkan di sana hujan," ucap Radula panjang tanpa jeda. Ia tetap mengambil napas tetapi ia tak menghentikan ucapannya sama sekali. Tatapan Radula memutar, memandang beberapa pasang mata mahasiswa yang duduk di hadapannya.
Radula mengambil napas dalam. Berbicara panjang nyatanya membuat oksigen dalam tubuhnya berkurang banyak.
"Kelima, jangan sampai datang ke kampus terlambat. Kami tegas dalam urusan waktu. Kita sepakat berangkat jam berapa?" tanya Mazila lantang.
"Jam enam pagi, Mbak," jawab mahasiswa tak kalah lantang.
"Bagus. Jangan sampai datang terlambat! Terlambat berarti kalian tidak mengikuti praklap. Jika tidak mengikuti praklap karena alasan terlambat maka kami akan meminta kalian membuat awetan basah sendiri. Dengan mengambil lumut di Kebun Raya Pididi pula. Kami akan meminta kalian membuat vlog selama proses kalian mengambil lumut agar tak ada kecurangan dan yang dirugikan di antara kita.."
"Vlog ini hanya berlaku untuk yang tidak ikutkan, Mas?" tanya salah satu mahasiswa.
"Benar. Untuk yang mengikuti praklap tidak perlu. Kalian hanya perlu ACC saat di sana. ACC apa saja? Kalian harus dapat menyebutkan bagian-bagian dari lumut. Mulai dari rizoid hingga sporofitnya. Paham?"
"Paham, Mbak."
"Baik. Kami akan share booklet mengenai koleksi lumut yang terdapat di Kebun Raya Pididi. Kalian harus mempelajarinya di sisa hari sebelum praklap berlangsung. Dan saat hari H nanti, kami akan menguji kalian."
Para mahasiswa mengangguk paham. Meskipun dalam hati mereka menggerutu karena masih ada saja tambahan untuk pelaksanaan praklap nanti. Mereka kira, mereka hanya jalan-jalan di sekitar kebun raya untuk mengambil lumut. Nyatanya tak semudah itu. Mereka harus tetap melakukan ACC, di mana ACC adalah salah satu kegiatan dalam praktikum yang membuat detak jantung menggila. Dag dig dug tak karuan. Membuat bibir yang sering julid dan nyinyir menjadi tak berfungsi karena tulang di lidah yang tiba-tiba kaku sehingga membuat otot intrinsik dan ekstrinsik pada lidah tak bekerja maksimal.
“Untuk kegiatan pembekalan praklap sore ini apakah ada yang kurang jelas? Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Radula tegas. Matanya menatap tajam seperti elang. Membuat banyak mahasiswa memilih menunduk daripada harus memandang lurus ke depan.
“Maaf, Mas. Jika biasanya kita praktikum di laboratorium selalu menggunakan jas lab, apakah untuk praktikum lapangan ST juga menggunakan jas lab?” Seorang mahasiswi bertanya dengan mata yang tak berani memandang Radulu. Ia menunduk. Lebih memilih menatap paving dan sepatunya daripada wajah Radula yang menakutkan.
“Sebelum saya jawab pertanyaan kamu, saya ingin bertanya kepada kamu. Kira-kira dengan adanya jas lab di alam apakah membuat kamu nyaman beraktifitas?” Radula bertanya dengan nada dalam. Membuat mahasiswi yang tadi bertanya semakin menundukkan kepalanya.
“Tidak, Mas,” jawabnya dengan senyum kaku yang hanya dapat ia rasakan dari pergerakan pipinya. Mungkin tak ada yang menyadari karena ia terus menunduk. Tak ada nyali untuk mendongak. Menggerakkan kepalanya saja ia tak berani. Aura Radula benar-benar membuat mahasiswa terutama adik tingkatnya menciut setiap kali bertemu dengannya.
“Itu sudah tahu jawabannya. Jadi nggak perlu berpikiran bahwa praklap harus membawa jas lab. Tidak ada larangan atau kewajiban, tetapi kami lebih prefer pada pilihan di mana kalian tidak perlu memakai jas lab selama praklap ST,” sahut Mazila. “Lalu, jangan juga ada dalam benak kalian apakah harus memakai sepatu? Tidak. Kalian memakai sandal japit terserah. Asal nyaman dan aman. Asal alas kaki itu safety. Memberikan kalian perlindungan selama kalian beraktifitas di sana. Jangan mempersulit dan berpikir berlebihan. Kalian di sana untuk menikmati alam sembari mencari salah satu keanekaragaman hayati yang ada di Kebun Raya Pididi. Maka dari itu, buatlah diri kalian nyaman agar pelaksanaan praktikum dapat berjalan dengan lancar. Bisa dimengerti?” tanya Mazila penuh semangat.
“Bisa, Mbak. Bisa, Mas,” jawab mahasiswa serempak.
“Kalau seperti kami akhiri pertemuan sore ini. Tetap jaga kesehatan. Dan sampai bertemu di Sabtu pagi,” tutup Radula. Setelah itu ia ucapkan salam sebelum benar-benar meninggalkan adik tingkatnya yang akan melaksanakan praklap.
Sepeninggal Radula dan Mazila, para mahasiswa bagaikan menjadi sekawanan tawon yang bising. Saling bercakap mengenai persiapan esok Sabtu. Sedangkan Lura memilih menepi dari gerombolan teman-temannya. Ia memilih menikmati percikan air ranu karena aktivitas ikan yang sedang mengambil udara. Juga mengamati angsa yang berenang di permukaan ranu. Angsa itu tampak tenang dan tak terganggu dengan manusia di sekitarnya. Seperti tak memiliki beban hidup. Berbeda dengan tiap insan yang duduk di tepi ranu yang tentu memiliki masalah dalam hidup mereka.
Hingga satu per satu teman-teman Lura mulai meninggalkan ranu. Menyisakan hanya beberapa mahasiswa yang betah menikmati sore di tepi ranu.
Semburat jingga di langit sore semakin membuat suasana ranu menjadi menenangkan. Ditambah dengan semilir angin, membuat siapa saja yang sedang menunggu sisa sore itu menjadi rileks. Tenang. Begitu pula dengan Rula. Ia tak membuang rasa tenang itu sia-sia. Ia memanfaatkan waktu itu untuk membuka catatannya. Catatan mengenai pekerjaan atau tugas yang harus segera ia selesaikan.
Lura memang serapi itu. Rasa lupa yang sering hadir membuatnya memilih mencatat segala hal penting dalam buku catatan kecil. Dan dari buku itulah aktivitasnya dapat berjalan lancar dan normal. Sesuai dengan yang ia inginkan.
Catatan:
Praklap adalah singkatan dari Praktikum Lapangan. Sama halnya dengan praktikum di laboratorium. Hanya saja, tempat yang mereka tempati adalah tempat berbeda, yaitu laboratorium yang besar berupa alam. Hal ini bertujuan agar mahasiswa dapat lebih menghargai alam dan menyadari bahwa ciptaan Tuhan begitu luar biasa. Selain itu, alam adalah laboratorium terbesar yang harus dan wajib dikunjungi bagi mahasiswa biologi. Selain untuk mencari objek pengamatan, mahasiswa juga dapat refreshing karena melihat hehijauan atau kesegaran alam. Udara yang masih bersih dan sejuk juga membuat pikiran seakan merasakan ketenangan dan ketentraman. Sehingga ketika kembali ke kampus, mahasiswa dapat menerima pengetahuan baru dengan pikiran yang lebih tenang dan ilmu baru dapat ditangkap dengan mudah.
Orang sering mengatakan dan mengumpamakan bahwa lidah tak bertulang. Namun sebenarnya tidak seperti itu. Lidah memiliki tulang yang berfungsi untuk sebagai perlekatan otot mulut dan lidah sehingga lidah mudah digerakkan. Tulang tersebut adalah tulang hioid. (Sumber: Biologi Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Kelas XI Semester 1, 2017, Jakarta: Intan Pariwara.)
ST adalah singkatan dari Sistemati Tumbuhan. Biasanya beberapa mata kuliah memang memiliki nama kependekan. Nama ini biasanya telah ada sejak mahasiswa angkatan sebelumnya. Dnegan adanya kependekan nama dari mata kuliah, membuat mahasiswa dengan mudah menyebut dan mengingat nama mata kuliah tersebut.