10. Radula dan Lura

1744 Words
Mohon maaf kemarin ada penulisan sumber buku yang salah, ya. Sejak menulisnya saya sedikit tidak yakin. Dan pagi ini saya baru ngeuh dengan kesalahannya. Saya sangat mohon maaf. Jadi, cara penulisan sumber pustaka yang benar seperti ini, ya. (Nama penulis. Tahun terbit. Judul buku—biasanya ditulis dengan cetak miring. Kota terbit: Nama penerbit) Saya mohon maaf, ya. Semoga dapat menjadikan pelajaran. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca cerita ini. *Satu minggu setelah sidang a.ka sosialisasi di auditorium fakultas mengenai Pemira* Bijama kembali menekan teman-temannya untuk melakukan perhitungan dengan Lura. Mereka sengaja menunggu Lura di dekat ruang kesekretariatan BEM. BEM baru saja melakukan rapat mingguan. Dan seperti biasanya, Lura memilih bertahan di ruang kesekretariatan selepas rapat. Tak peduli bila ia hanya seorang diri. Baginya kesendirian itu menenangkan. Walaupun sesekali ia merasakan kesesakan. Lura memutar salah satu lagu dangdut yang populer saat ini. Meskipun ia dikenal dingin dan acuh, ia tetap penyuka lagu dangdut seperti kebanyakan laki-laki lain di luar sana. “Ibarat isuk mendung. Awan aku kudanan. Sore mbok larani. Bengi tak tangisi.” Lura menyanyikan lirik itu dengan penuh penghayatan. Membuat sesak di dadanya. Juga nyeri di hatinya. (Ibarat pagi mendung. Siang aku kehujanan. Sore kamu sakiti. Malam aku menangisi) Lura mengambil napas dalam karena lirik yang akan ia nyanyikan selanjutnya semakin membuatnya sesak. “Mung iso bayangke kabeh kenangan.. Kowe tak boncengke turut dalan kekepan kudanan.. Saiki nyatane kowe malah milih dikekep wong liyo.. Opo kowe ra kroso abote atiku.. Kudu kelangan wong sing paling tak tresnani..” Lura tak kuasa melanjutkan lirik lagu itu sehingga yang terdengar di ruang kesekretariatan adalah suara Sang Penyanyi. (Hanya bisa membayangkan semua kenangan.. Kamu kubonceng di jalan saling mendekap kehujanan.. Sekarang nyatanya kamu lebih milih didekap orang lain.. Apa kamu tidak merasa beratnya hatiku.. Harus kehilangan orang yang paling aku cintai..) Ra jenak dolan.. (Tidak tenang main) Ra doyan mangan.. (Tidak napsu makan) Yen ra mbok dulang.. (Bila tidak kamu suapi) Lura bahkan ingin menangis kala lirik lagu terputar. Namun sekuat tenaga ia tak menangis. Ia telah ikhlas melepaskan Bubunga untuk Bijama. Tepatnya masih berusaha ikhlas. Dengan cepat Lura mengatur ekspresi dan kegundahan hatinya. Ia tak boleh menjadi laki-laki yang lemah. Ia selalu berusaha secepat mungkin menyadarkan diri bahwa ia tak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Setelah ia merasa lebih tenang, Lura bersiap untuk pulang. Masih pukul 8, tetapi ia sudah ingin pulang. Tak ingin bertahan lebih lama di ruang kesekretariatan. Apalagi dengan suasana hatinya yang menggalau. Ting. Bunyi pertanda bahwa ada pesan masuk ke handphone Lura. Mengurungkan niatnya yang hendak mengangkat tubuhnya. Ia mengambil handphone yang ia simpan di saku jaket. Mas Radula Kalau kamu mau pulang, tunggu aku di sana. Jangan keluar sebelum aku sampai ruang sekret BEM!! Alis Lura menyatu. Dahinya berkerut. Kebingungan mendominasinya. Namun ia melaksanakan pinta Radula. Iya, mas. Ini saya mau pulang, tapi saya nunggu Mas Radula. Begitu pesan yang Lura kirimkan pada Radula. Ia menjadi menyesal karena sudah mematikan komputer yang merupakan inventaris BEM Fakultas yang diberikan oleh pihak fakultas. Daripada ia bosan, akhirnya ia memilih bermain game. Game online yang ada pada handphone dan biasanya kebanyakan dimainkan oleh para laki-laki. Yah, meskipun saat ini banyak pula perempuan yang bisa bermain game itu. Lura hanyut dalam permainannya. Tidak menyadari keberadaan Radula yang baru saja tiba di ambang pintu. “Ehmm.. Assalamu’alaikum,” salamnya. Lura segera mengangkat kepalanya. Ia meletakkan handphone-nya. “Wa’alaikumsalam, Mas,” jawab Lura tak enak. Ia merutuki dirinya yang terlalu fokus pada game sehingga tak menyadari keberadaan Radula. “Maaf, Mas. Saya tidak tahu kalau Mas Radula sudah sampai.” Radula tak menanggapi. Kakak tingkat Lura itu masuk ke ruang sekretariatan BEM dengan pandangan yang meliar mengamati tiap sisi ruangan. “Ck.. Berantakan,” sinisnya. Lura hanya mampu menanggapinya dengan senyum kaku. Ia merasa menjadi anggota BEM yang tak menjaga kebersihan dan kerapian. Terutama saat ini tersisa hanya ia seorang. Hal itu membuatnya terus merutuki dirinya. Kesempurnaannya telah tercoreng karena ia tak mampu menunjukkan bahwa ia mampu menjaga kebersihan dan kerapian. “Kamu sudah mau pulang? Buru-buru?” Radula bertanya dengan datar. Memandang Lura dengan tajam dan menghunus. Jikalau mata itu seperti laser, mungkin Lura telah meleleh karena terbakar oleh panasnya laser. “Ehm.. bingung harus ngapain lagi di sini, Mas. Jadinya mau pulang saja. Nggak ada temennya juga,” jawab Lura. Radula mengangguk. “Ikut aku. Kita ngopi di Kedai Babasi,” tandasnya. Lura hanya mengangguk patuh. Tak mengerti akan apa yang merasuki Radula sehingga mengajaknya ngopi. Selama ini Lura hanya ngopi bersama rekan-rekannya atau alumni mahasiswa yang dulu sebidang dengannya di BEM. “Jalan di sampingku. Ada orang yang berniat mencelakaimu,” perintah Radula dengan suara lirih dan tegas. Lura kembali patuh. Ia memang akan kalah jika dihadapkan dengan Radula. Aura Radula menakutkan. Jika biasanya ia mampu mengimbangi sikap dingin para seniornya, terkhusus Radula, ia tak bisa. *** Radula dan Lura baru saja memarkirkan motor mereka di depan Kedai Babasi. Sebuah warung kopi dengan fasilitas WiFi yang memiliki kecepatan begitu cepat. Tak ayal bila banyak pengunjung yang datang ke warung kopi itu. Meskipun mengusung konsep warung kopi dengan berbagai menu bakaran khas Yogyakarta, pemilik warung kopi itu memberikan nama pada warungnya dengan kedai. Supaya lebih kekinian dan mengikuti tren. “Biar saya yang pesan, Mas. Mas Radula mau apa?” Lura sadar betul bahwa kedudukannya adalah junior. Sangat tidak sopan bila ia membiarkan Radula memesankan minuman dan jajanan untuknya. “Kopi hitam. Sama nasi kucing,” kata Radula. Lura mengangguk paham. Diletakkannya ransel yang tadi menggantung di pundaknya pada salah satu kursi yang masih kosong. Kedai Babasi tidak menyediakan satu meja dengan empat atau enam kursi yang mengeliling. Pemilik kedai ingin menerapkan kebersamaan dan kekeluargaan pada tiap pengunjungnya. Tidak saling kenal tetapi mereka bisa memulai perkenalan di kedai itu. Dengan memasang meja panjang dengan ukuran kurang lebih 10 meter dan banyaknya kursi yang berjajar, pemilik kedai berharap semua pengunjung dapat berbaur. Lura berjalan menuju meja tempat memesan minuman dan makanan. Lura memesan dua gelas kopi hitam dan dua bungkus nasi kucing. Tidak lupa ia membeli berbagai menu bakaran, seperti cecek—kulit sapi, telur puyuh, pentol, sosis, dan usus. Setiap jenis bakaran ia membeli dua tusuk, untuknya dan Radula. “Terima kasih,” ucap Radula saat Lura kembali dengan membawa mampan yang penuh dengan makanan. “Iya, Mas.” Mereka mulai menyesap kopi hitam yang masih panas itu. Lalu mulai menikmati nasi kucing. Nasi yang berukuran sekepal dengan berbagai lauk yang mendampingi. “Mas, maaf. Memangnya siapa yang ingin mencelakai saya?” tanya Lura setelah nasi kucing mereka sama-sama habis. Sejak Radula mengirim pesan padanya, keingintahuannya seketika mencuat tinggi. Ia berusaha menahan untuk tak segera bertanya pada Radula. Dan menurutnya, Radula mengajaknya ke kedai ini adalah untuk membicarakan hal itu. “Bijama dan teman-temannya,” jawab Radula setelah menyesap kopi miliknya. Mata Lura membola, tapi biasa saja. Tidak membola berlebihan. Jika berkaitan dengan Bijama ia tak pernah terlalu kaget. “Kamu nggak usah terlalu kaku kalau ngomong sama aku. Kalau kita di luar kampus santai ae,” kata Radula. Lura melengkungkan senyum canggungnya. “Aku tahu kamu nggak bakal terkejut. Toh hubungan kalian memang nggak baik.” Lura tertawa sumbang. “Ya seperti itu, Mas,” kata Lura membenarkan. “Padahal setahuku kalian dulu sangat dekat. Saat awal-awal masuk kampus. Dan ada Bubunga di antara kalian kan?” “Ya kurang lebih begitu, Mas. Bubunga teman sejak SMP. Lalu kami pacaran saat SMA karena memang kami satu sekolah. Dan Bijama adalah sahabatku saat kami SMA dulu. Bahkan aku dan Bubunga masih berpacaran hingga semester dua kurang lebih. Namun entahlah, atas hasutan apa dari Bijama, Bubunga memilih Bijama. Yah meskipun aku sudah tahu alasan sebenarnya kenapa Bubunga lebih memilih Bijama,” kata Lura dengan sorot sedih. “Lupakan Bubunga. Dia sudah memilih Bijama. Dan menjauhlah dari Bijama. Ia membencimu bukan?” “Ya aku melakukan itu, Mas. Namun sepertinya Bijama belum puas untuk membuat perhitungan denganku sebelum aku benar-benar terluka parah atau jatuh,” jawab Lura dengan wajah datar. “Kenapa kamu menceritakan masalahmu denganku? Aku tak meminta.” “Tidak tahu. Hanya sedang butuh telinga seseorang untuk bercerita, Mas. Mohon maaf jika membuat Mas Radula tak nyaman.” Lura seakan baru sadar jika menceritakan hidupnya pada Bijama. “Santai. Aku sebenarnya tak ingin ikut campur. Namun kelakuan Bijama semakin ke sini semakin keterlaluan.” “Iya, Mas. Dan setahu saya, Mas Radula saudara Bijama, bukan?” Radula tertawa miris. “Ya karena persaudaraan itulah yang membuatku sedikit ikut campur dalam urusan kalian. Ah, tidak sedikit. Tetapi sudah masuk dalam urusan kalian terlalu dalam.” Lura menanggapinya dengan senyum santai. Baginya Radula mengetahui kisahnya tak masalah. Jika orang lain tahu juga tak masalah. Ia sudah muak dan lelah dengan jalan hidupnya saat ini. Lalu mereka melanjutkan perbincangan santai. Tentang perkuliahan, dosen, dan organisasi. Lura menjadi sadar bahwa Radula tak sedingin yang ia lihat selama ini. Laki-laki itu berwawasan luas dan mampu menanggapi setiap perkataannya dengan baik. Membuatnya belajar banyak dari pengalaman Radula selama berkuliah di kampus. *** “Pastikan kalian membawa keperluan kita masing-masing, ya! Jangan sampai besok nggak bawa,” pinta Lura tegas. Penna, Funa, dan Bratra mengangguk malas. Satu kelompok dengan Lura bukan suatu bencana, tetapi mengesalkan. Lura selalu memerintah ini dan itu. Namun Lura bukan seorang mahasiswa yang hanya suka memerintah tapi tak bekerja, tak seperti itu. Ia adalah mahasiswa yang talk more and do more pada rekan-rekan satu kelompoknya. Ia selalu ingin kelompok praktikumnya mendapatkan nilai sempurna. Mengabaikan raut kesal dan jengkel dari teman satu kelompoknya. Namun, bagi yang pernah satu kelompok dengan Lura, mereka selalu terciprat akan nilai itu. Nilai mereka selalu baik, di atas rata-rata nilai mereka selama ini. Lura pun tak segan mengajari teman-temannya. Meskipun ia terkadang menunjukkan wajah galak pada teman-temannya karena teman-temannya sering loading lama dalam berpikir. Lura dan tiga teman kelompoknya sedang duduk di salah satu gazebo kampus. Mereka hari ini hanya ada satu perkuliahan selepas sholat Jum’at. Lalu Lura menyeret teman-temannya itu ke gazebo. Ingin memastikan bahwa teman satu kelompoknya tak ada yang teledor dan seenaknya sendiri. Funa dan Bratra memasang wajah malas meskipun mereka tetap mengangguk. Berbeda dengan Penna yang memutar bola matanya dan bibirnya menirukan Lura berbicara tanpa suara. “Jangan sampai ada yang terlambat! Kalau terlambat, aku tidak akan menanggung akibatnya!” tegas Lura. Penna dan dua temannya hanya mengangguk. Lalu mereka berdiskusi sejenak sebelum akhirnya mulai membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Hari esok akan berjalan berat. Mereka harus mempersiapkan fisik sejak hari ini. Mereka butuh istirahat yang cukup agar besok bisa menjelajah kebun raya dengan bugar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD