11. Hampir Saja

1637 Words
Alam masih petang. Semburat sinar matahari pun belum tampak di ufuk timur. Tak ada suara kokok ayam karena tak ada warga di perumahan itu yang memelihara ayam jantan. Kebanyakan para bapak-bapak lebih memilih salah satu jenis aves yang bisa berkicau dan terbang, yaitu burung. Adzan Shubuh sudah berkumandang sejak 20 menit yang lalu. Dan jamaah sudah mulai keluar dari masjid. Lura meregangkan otot-otot tubuhnya. Alarm yang sudah ia atur sejak semalam baru saja ia matikan. Lura mengambil handphone yang ia simpan di meja pojok kamar. Pewaktu sudah menunjukkan pukul 04.36. Sekali lagi Lura menarik otot-ototnya ke atas. Kakinya pun sampai berjinjit. Tubuhnya terasa lebih ringan dan segar. Rasa kantuk masih menyertainya. Namun ia harus lekas mandi. Perjalanan dari rumah menuju kampus membutuhkan waktu setidaknya 30 menit. Belum jika mamanya menginterupsinya dengan sarapan dan keriwehannya. Semakin terlambat ia tiba di kampus. Tubuh Lura sudah lebih segar. Ia juga telah menunaikan Sholat Shubuh. Sebelum meninggalkan kamar, diceknya sekali lagi ranselnya. Kotak makan kosong, cetok kecil, dan beberapa kantung plastik telah berada di ruang utama ranselnya. Lalu dibagian depan ransel ada jas hujan, buku catatan, dan alat tulis. Tak lupa ia mengecek penampilannya. Ia melengkungkan senyum lebar, memuji tatanan penampilannya yang pagi ini lebih segar. Lura bersiul senang kala keluar kamar. Ia menuju dapur untuk meminum air putih sekaligus berpamitan pada mamanya. Saat tiba di dapur, mamanya tampak sibuk mengaduk nasi goreng dalam wajan. "Sudah mau berangkat?" tanya mama Lura ketika menyadari kehadiran putranya. "Sudah, Ma. Aku sarapan roti saja, ya?" tawar Lura. Tahu bila tabiat mamanya pasti akan memaksanya untuk sarapan setiap hendak bepergian. "No!!" teriak mama Lura kencang. "Mama sudah buatkan kamu nasi goreng. Jangan makan roti terus. Kamu tahu orang tua jaman dulu? Mereka sering menyebut orang yang sarapan dengan roti atau makan roti itu Wong Londo. Dan kamu bukan keturunan Londo. Kamu pure Jawa Timur. Jadi makan nasi atau Mama cabut ijin Mama untuk kamu pergi praktikum lapangan!!” Mama Lura memandang putranya tajam. Tak boleh ada yang menolak ucapannya. Begitu pula putranya. Lura menghela napas lelah. Mamanya sudah sangat sering mengatakan hal itu. Membuat telinganya menjadi tebal dan panas. "Kamu masih ingat jaman penjajahan kan? Hanya orang Belanda yang bisa makan roti. Sedangkan pribumi? Makan gaplek, boro-boro nasi, Lura!! Eh sekarang giliran kamu sudah bisa makan nasi dengan mudah malah milih roti." Mama Lura masih terus melanjutkan sesi wejangannya. Membuat Lura hanya mampu menghela napas. "Kalau gitu Mama coba buatkan Lura gaplek buat besok pagi," tantang Lura. "Eh!! Bocah kok edan. Kamu itu lama-lama jadi anak durhaka ke Mama kalau begini terus!!" teriak mamanya frustasi. (Anak kok gila.) "Astaghfirullah. Mama nggak boleh bilang gitu," jawab Lura. "Bilang apa?" Mama Lura menghadap penuh pada putra semata wayangnya. Tampak tatapan bingung ia tujukan pada Lura. Ia merasa tak ada yang salah dengan ucapannya. Kompor baru saja ia matikan. Nasi goreng sudah matang dan siap dihidangkan. Namun ia lebih memilih sesi debat kecil sebagai menu pembuka sarapan, daripada segera menghindangkan sarapan untuk putranya. "Nggak boleh bilang kalau lama-lama Lura jadi anak durhaka. Ucapan seorang ibu kan doa. Jika ucapan Mama barusan diaamiinkan oleh malaikat bagaimana?" Lura bertanya dengan wajah polos. "Astaghfirullah. Ya Allah! Ampunilah dosa hamba. Hamba tarik ucapan tadi. Semoga Lura selalu Engkau ridhoi langkahnya. Jauhkan dia dari godaan setan yang terkutuk. Terutama dari cara berbicaranya yang semakin ke sini semakin kurang ajar, ya, Allah," doa mama Lura tulus dan penuh permohonan. "Aamiin," jawab Lura. "Tapi Mama kok jahat ke Lura? Memang Lura ngomongnya gimana ke Mama?" "Ya kayak tadi. Semakin kurang sopan sama Mama dan Papa kalau bicara." "Kenapa pagi-pagi sudah ribut? Baru juga jam lima lebih 15, tapi kalian sudah seperti para pedagang di pasar yang berisik," interupsi papa Lura. Bola mata Lura melebar. Ia segera memastikan kebenaran ucapan papanya dengan menengok pada jam yang melingkar di pergelangannya. "Lura makan roti saja ya kali ini, Ma. Kalau Lura terlambat ke kampus, Lura tidak bisa mengikuti praktikum lapangan," kata Lura. “Dan nama baik Lura akan tercoreng karena hal itu.” Mama Lura menatap Lura tajam. "No!! Duduk di kursimu dan habiskan milo hangatmu. Mama siapkan bekal buat kamu. Jangan sampai kamu membuang atau memberikan bekal ini pada orang lain!" ucap mama Lura tegas. Lura segera meneguk milo dalam gelas di hadapannya. Sedangkan mamanya dengan cepat memasukkan nasi goreng dalam kotak bekal. Lura segera mencium tangan kedua orang tuanya. Kemudian melesat cepat menuju motornya. Helm telah terpasang. Lura sudah duduk di atas jok motor, siap untuk bertempur dengan para pengemudi kendaraan bermotor lainnya di jalan raya. Dipacunya motor itu dengan kecepatan sedang. Di area perumahan tak boleh ada yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Bila tak ingin mendapatkan kartu merah dari satpam juga sabetan sapu dari para ibu-ibu perumahan. Maka lebih baik tetap mengendarai kendaraan dengan kecepatan standar meskipun sedang diburu oleh waktu. Motor Lura telah memasuki jalan raya dan meninggalkan kompleks perumahannya. Ditambahnya kecepatan pacu motornya. Ia memikirkan tentang masa depannya. Ya nama baik. Juga hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Ia penanggung jawab mata kuliah dan salah satu panitia. Ia tak boleh datang terlalu mepet dengan pukul enam. Ia menambah kecepatannya. Jalanan yang masih sepi membuatnya tak menyiakan kesempatan. Ia sudah seperti pebalap yang melaju di lintasan sirkuit. 20 menit lebih sedikit, akhirnya ia tiba di parkiran fakultas. Perkuliahan tentu saja libur, hari Sabtu dan Minggu. Namun untuk parkiran tak pernah tutup di hari apa pun. Hanya tutup di jam 10 malam hingga lima pagi saja. Pewaktu menunjukkan pukul 5:39. Tak perlu melihat tatanan penampilannya setelah mengebut di jalanan, Lura segera melebarkan langkahnya menuju gedung samping jurusannya. Titik kumpul para mahasiswa Biologi yang hendak praktikum lapangan di sana. Sudah ada dua dosen yang berkumpul bersama mahasiswa. Sedangkan teman-teman Lura sudah sangat banyak yang datang. Bis kampus pun berjajar rapi. Lura segera melangkah menghampiri dua dosennya, Bu Axilia dan Bu Mmachilia. “Akhirnya kamu datang, Lura. Saya kira kamu akan datang terlambat,” ucap Bu Axilia. Lura membalas dengan senyum lebar. Meskipun dalam hati sungguh ia malu karena tiba di kampus tidak sesuai dengan harapannya. “Pangapunten, Bu,” jawab Lura sopan. (Mohon maaf, Bu.) “Tidak masalah. Rumah kamu jauh, saya memahami hal itu. Lagi pula masih banyak rekan-rekan kamu yang belum hadir juga,” balas Bu Axilia ramah. Bu Axilia memang akan ramah jika berada di luar perkuliahan. Ia pun tak segan bertukar canda dengan para mahasiswanya. Namun, tanduk ketegasannya akan muncul ketika proses pembelajaran dalam kelas dimulai. Tak hanya itu, kala bimbingan skripsi pun sama. Apalagi ketika ia menjadi penguji skripsi. Benar-benar berhasil membuat kerja jantung mahasiswa jumpalitan. “Kalau begitu saya permisi untuk bergabung dengan rekan-rekan yang lain, nggih, Bu?” ijin Lura. “Iya,” jawab Bu Axilia ramah. Lura sekali lagi mencium tangan Bu Axilia dan Bu Mmachilia bergantian. Kemudian beranjak menuju rekan-rekan sekelasnya. Lura asyik berbincang dengan rekan-rekan lelakinya. Lalu tiba-tiba Funa heboh menghampirinya. “Lura!” panggilnya dengan napas tidak teratur. Wajahnya panik. Lura mengangkat alisnya. Membuat dahinya sedikit berkerut. “Penna belum dateng. Bratra juga juga belum,” lapor Funa panik. Ia bahkan berulang kali menghentakkan kakinya karena panik. Lura mengembuskan napas lelah. “Kamu tadi chat sama mereka?” tanya Lura mencoba tenang. “Penna tadi bangun kesiangan. Sedangkan Bratra aku nggak tahu,” jelas Funa. “Dia nggak ada kirim pesan ke aku. Coba cek HP kamu, siapa tahu dia kirim pesan ke kamu,” lanjut Funa. Lura mengambil handphone yang ia simpan di salah satu ruang kecil dalam ranselnya. Ia cek notifikasi yang muncul di layar handphone-nya. Tidak ada satu pun pesan dari Bratra. Melainkan ada banyak pesan dari Bubunga yang berpesan padanya supaya hati-hati dan semangat menjalani praktikum lapangan. Berbicara tentang Bubunga membuat hatinya kembali mendung. Sudah sangat lama ia selalu mengabaikan pesan dari Bubunga. Awal-awal Bubunga menjalin hubungan dengan Bijama, ia masih sering menanggapi pesan Bubunga. Namun semakin kesini ia semakin sadar diri. Ia juga malas menciptakan masalah baru. Ia juga jadi teringat dengan perbincangan Bijama dengan teman-temannya di ruang kesekretariatan BEM selepas sosialisasi Pemira dari MPM. Ia mengembuskan napas lirih. Berusaha mengenyahkan segala hal tentang Bubunga. ‘Tidak perlu lagi memikirkan Bubunga, Lura! Dia sudah memilih orang lain untuk menjadi kekasihkan. Dan itu bukan kamu. Stop memikirkan dia lagi!’ tegas batinnya. “Lura!” panggilan dari Funa menyadarkan Lura dari lamunannya. Lura menatap Funa dengan tatapan kosong dan bingung. Bagaimana tidak bingung bila pikirannya baru saja dipenuhi tentang Bubunga? “Gimana?” tanya Funa kesal. Bagaimana bisa Lura memasang wajah bingung di hadapannya kala kemungkinan masalah pelik akan terjadi? Ia tak masalah jika hanya berdua dengan Lura. Namun ia tak mau menjadi bulan-bulanan ambisi Lura di kebun raya nanti. Ia juga tak tega bila Penna dan Bratra harus melakukan praktikum sendiri. “Nggak ada pesan dari Bratra,” jawab Lura akhirnya. Funa semakin panik bukan main. “Lalu gimana ini, Lura? 10 menit lagi sudah jam enam. Kalau mereka ditinggal gimana?” “Ya sudah kita praktikum berdua saja!” jawab Lura santai dan enteng. Seketika mata Funa membola. Ia sudah siap menimpuk Lura dengan tas yang tersampir di bahunya. “Coba hubungi mereka sana. Aku bantu menelpon Bratra,” ucap Lura. Mereka sudah siap dengan handphone masing-masing. Namun terdengar derap kaki yang berlari membuat mereka mengurungkan niat menelepon. Derap kaki itu adalah derap kaki Penna dan Bratra yang berlari menuju mereka. “Ih!! Kalian dari mana saja sih? Hampir saja ketinggalan,” kata Funa heboh. Penna dan Bratra mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Mereka kemudian menjelaskan bahwa Penna bangun kesiangan. Sedangkan Bratra harus menambal ban motornya terlebih dahulu. Entah bagaimana bisa nasib mereka berdua sudah tidak baik di pagi ini? Tak berapa lama mereka diminta berkumpul untuk briefing sejenak. Kemudian berdoa sebelum berangkat agar praktikum dapat berjalan lancar dan sukses. Lalu satu per satu mahasiswa itu mulai memasuki bis sesuai dengan pembagian yang telah diatur sebelumnya. Dan satu per satu bis mulai melaju meninggalkan kampus menuju Kebun Raya Pididi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD