19. Air Terjun Rahasia

1615 Words
Menyusuri jalan setapak berupa tanah yang licin. Lalu jalan yang sangat sempit dengan sisi kanan jurang dan di sisi kiri berupa tebing yang dipenuhi dengan rumput-rumput liar telah mengantarkan Lura dan tiga temannya di sebuah air terjun. Benar apa yang dikatakan Funa bahwa ada air terjun di sekitar mereka bersantai tadi. Demi sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa yang mereka dengar adalah air terjun, mereka rela melewati rerumputan liar yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Membuat mereka tidak sadar dan tidak memandang sekitar. Mereka telah melewati batas hutan. Perbatasan antara kebun raya dengan hutan liar. Suara gemericik air seakan menjadi sumber penarik agar Lura dan kawan-kawannya menghampirinya. Mereka seakan terhipnotis oleh suara gemericik air yang merdu di dengar. Tidak salah memang. Gemericik air itu mampu membuat mereka tenang dan tentram. Seakan berada dalam suatu kawasan yang tak bising. Seperti berada pada daerah yang memang menawarkan ketenangan. Tidak ada polusi. Tidak ada kebisingan. Yang ada hanya suara alam yang begitu menenangkan. Di sekitar air terjun, angin berhembus lembut. Menyebarkan udara segar yang sedikit dingin. Kulit pun terasa segar. Namun di sisi lain bulu kuduk mulai meremang karena dingin yang semakin terasa. Lura, Penna, Funa, dan Bratra memilih menikmati kesegaran itu dengan duduk memenuhi batu besar yang menjulang di atas kubangan air besar—tempat berkumpulnya air dari air terjun yang jatuh bebas atau mungkin bisa disebut juga dengan telaga. "Wah.. bagus banget. Ini sih kayak di surga dunia, ya. Kita juga bagaikan berada di air terjun yang tersembunyi. Secret water fall," kata Penna sembari mengedarkan pandangannya mengamati hehijauan di sekeliling mereka. Kakinya juga ia goyangkan bergantian dalam air. Sangat dingin. Namun Penna merasakan kesegaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Air terjun yang tak begitu tinggi menjulang gagah di hadapan mereka. Di sekeliling mereka tebing dengan berbagai tanaman herba yang tumbuh di permukaan tebing. Air terjun itu tak hanya satu. Dengan jarak kurang lebih satu meter, ada air terjun lagi yang aliran airnya lebih kecil. Bahkan ada yang ukuran air terjun yang tak sampai lima centi. Jika dihitung-hitung ada tujuh air terjun yang membentuk dua per tiga lingkaran. "Gila.. ini bagus banget sih," decak Bratra takjub. "Kayak pernah lihat air terjun seperti ini. Tapi di mana, ya?" gumam Bratra sembari berpikir keras. Mereka semua diam sembari memeras otak untuk menemukan jawaban akan gumaman Bratra. Pikir mereka juga memikirkan hal yang sama seperti Bratra. Air terjun yang saat ini menjulang tinggi di hadapan mereka seperti sebuah air terjun yang terkenal. Lura pun ikut diam dan tak memberikan tanggapan apa pun atas pemandangan yang terpampang indah di hadapannya. Namun dalam hati ia juga berdecak kagum seperti rekan-rekannya. Alam yang belum terjamah memang menyuguhkan sesuatu yang indah. Mereka masih diam cukup lama sembari menikmati sepoi-sepoi angin yang tercipta karena jatuhnya air terjun. Kulit mereka pun dapat merasakan percikan-percikan air. "Air Terjun Niagara. Kalau di Jawa Timur ada Air Terjun Tumpak Sewu atau biasa dikenal juga dengan Coban Sewu," sahut Lura tiba-tiba. Tiga temannya pun memandang Lura takjub. Membenarkan akan ucapan Lura. "Ah!! Iya iya.. Air terjun itu. Aku pingin banget ke Coban Sewu tapi belum terlaksana sampai sekarang," kata Funa antusias. "Kapan-kapan kita berempat wisata ke sana kayaknya seru deh. Waktu libur semester gimana?" cetus Penna. "Boleh, tuh. Aku juga dari dulu pingin ke sana tapi nggak pernah sempet," sahut Bratra tak kalah antusias. "Kamu gimana, Lur?" tanyanya sembari menoleh pada Lura. "Terserah," jawab Lura tanpa membalas tatapan Bratra. Fokusnya tertuju pada semak-semak dan pepohonan yang rapat. "Yeay!!" Funa dan Penna berseru histeris dan senang. Mereka bahkan saling mengaitkan kedua tangan. Seumpama sedang berada di daratan bukan di atas bebatuan bawah air terjun, mungkin mereka akan berputar dan melompat-lompat. Menyerupai adegan Lala dan Poo bila saling bertemu. Bratra berdecak kagum dengan respons heboh dua perempuan di sampingnya. Dan Lura masih tetap fokus dengan pandangannya pada satu titik. Tak beralih sedikit pun. "Aku nanti mau foto-foto ah. Sayang kalau pemandangan seindah ini tetapi tidak kita abadikan," gumam Penna pelan. Namun teman-temannya masih bisa mendengarnya. "Feed i********:-ku harus kuisi dengan sesuatu yang hijau-hijau seperti ini. Ah.. pasti para pengikutku akan kepo dan memuji keindahan air terjun ini," lanjutnya. "Tapi kita jangan lama-lama di sini. Kita harus segera kembali sebelum mendapatkan semprotan dari dosen dan para asisten dosen," peringat Funa. "Kalau gitu ayo kita berfoto sekarang!!" seru Penna senang. "Lura.." Penna memanggil Lura. Lura pun mengalihkan fokusnya pada Penna. Ia angkat salah satu alisnya. "Fotokan aku, ya?" pinta Penna dengan cengiran khasnya. Lura mengembuskan napas besar. Ia juga melirik Penna dengan sinis. Sayangnya Penna tidak takut dengan lirikan sinis Lura. Perempuan itu membalasnya dengan cengiran tak berdosa juga mata yang berkedip berkali-kali. Lura tak habis pikir dengan kelakuan Penna yang sungguh tak sedap dipandang. Ia memilih berdiri dan menghadap ke air terjun. Lalu Penna menyusul. Perempuan itu mengangsurkan handphone-nya pada Lura. Penna segera mencari posisi terbaik sesuai dengan arahan Funa dan Bratra. Lura yang menjadi fotografer dadakan hanya diam saja. Penna telah siap dengan pose candidnya yang memandang sedikit ke atas. Lura tanpa aba-aba segera menekan tombol lingkaran pada tengah layar. "Sudah, Pen. Ganti pose coba." Itu bukan suara Lura, melainkan Funa. Lura seakan enggan membuka mulutnya untuk memberikan aba-aba atau menghitung bila ia akan memotret Penna. Sudah banyak gaya foto yang Penna dan Funa lakukan. Penna dan Funa memaksa Lura dan Bratra supaya bersedia berfoto berempat dengan background air terjun dalam hutan yang dalam itu. Dengan menggunakan tas milik Lura juga tas milik yang lain, handphone yang akan digunakan untuk memgambil gambar dapat berdiri tegak. Tanpa bantuan tripod, mereka dapat mengambil foto yang juga indah dan tepat. Background dan objek yang tertangkap oleh kamera begitu pas. Mereka tidak sadar telah mengambil gambar berapa banyak. Lura dan Bratra pun tidak merasa jika mereka telah ikut arus para perempuan untuk suka berfoto. "Kita kembali sekarang?" tanya Lura tegas. "Ih.. sabar dulu dong, Lur. Kapan lagi kita bisa menikmati sejuk dan indahnya air terjun ini? Kalau kita kembali ke rumah pasti kita sudah fokus sama kampus dan hal-hal lain," bujuk Penna. "Bener, Lur. 30 menit lagi gimana?" sahut Bratra. Funa tidak tinggal diam. Perempuan itu pun ikut membantu rekan-rekannya agar Lura bersedia memberikan tambahan waktu untuk menikmati air terjun tersembunyi itu. “Please, Lur,” mohon Penna. Wajah perempuan itu kali ini benar-benar memohon. Tidak seperti sebelumnya yang menampilkan wajah berlebihan yang membuat Lura mual. Lura diam. Pikirnya berpikir keras. Ingin ia kembali sekarang karena ia merasa bahwa mereka telah menjelajah terlalu jauh dan membuang waktu begitu banyak. Ia memandang jam tangannya, dan benar saja bahwa mereka telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Ia tidak ingin mendapatkan semburan amarah Radula atau pun asisten dosen lainnya. Apalagi bila para dosen ikut marah. Tamat sudah riwayatnya. Lura mengembuskan napas pasrah. “15 menit saja! Melebihi dari itu, aku akan benar-benar meninggalkan kalian!” ancam Lura. “15 menit dimulai dari sekarang!” tandas Lura sembari mengatur timer di handphone-nya. Funa dan Penna pun tak menyiakan waktu yang tersisa. Mereka bermain air. Tidak sampai membasahi baju antarteman, mereka hanya bermain air dengan tangan mereka masing-masing. Dua perempuan itu pun tak segan mengitari telaga. Tidak peduli bila baju mereka akan sedikit basah bahkan bisa juga basah keseluruhannya akibat terkena hempasan air terjun yang ikut terbawa angin. Bratra memilih duduk di atas bongkahan batu yang tidak begitu besar. Celana kain yang digunakannya telah ia lipat sampai ke bawah lutut. Kakinya setelah itu masukkan dalam air. Sungguh terasa segar. Sedangkan Lura tampak sibuk dengan handphone-nya. Laki-laki itu fokus memandang hasil jepretan pemandangannya. Mengabaikan tawa bahagia yang terpancar dari Penna dan Funa. Hingga ketika tawa itu lenyap, Lura pun masih tak sadar. Ia masih fokus dengan handphone yang berada dalam genggamannya. Namun, ketika ia merasa ada sesuatu yang berbeda, ia segera mengalihkan fokusnya dari handphone. Ia mengamati sekitarnya. “Itu… a—pa?” Funa bertanya dengan tergagap. Bola matanya pun melebar. Begitu pula dengan Penna. Bahkan perempuan itu memegang lengan Funa dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat. Semua mata memandang pada objek yang diamati Funa. Tampak di hadapan mereka, ada seperti semak padat yang terus tumbuh berada di dekat tas ransel yang Lura bawa. Lura takut. Selama ini ia akan baik-baik saja dalam setiap kondisi. Dan kali ini ia tak sekuat biasanya. Ketakutan seakan menyelimutinya. Laki-laki itu bahkan hanya mampu mematung di tempatnya. “Lura!! Menjauh dari sana!!” teriak Bratra sembari menarik lengan Lura agar menjauh dari posisi Lura. Tubuh Lura berhasil tertarik menjauh dari ranselnya. Beruntungnya ia tak sampai jatuh di atas bebatuan yang runcing. Mereka masih terus mengamati semak yang terus bertumbuh itu sembari saling merapatkan badan. “Itu lumut!!” teriak Lura. Mereka mengawasi semak itu lebih detail. Dan benar saja bahwa yang awalnya mereka kira semak adalah lumut. Mereka masih diam. Tidak berpindah. Masih sibuk mengawasi lumut yang terus bertumbuh semakin cepat. “Kita harus segera pergi dari sini. Kita bisa terjebak oleh lumut itu!!” perintah Lura tegas. “Ayo kita lari!!” teriaknya antara takut dan gemas karena teman-temannya yang tidak segera menuruti perkataannya. Setelah itu mereka berlari sekuat tenaga, melupakan beberapa barang yang tersisa di sana. Penna menyempatkan diri untuk memakai sandalnya di kala genting seperti itu. “Penna!! Ayo!!” teriak tiga temannya. Penna pun dengan cepat berdiri ketika sandal telah terpasang tepat di kakinya. Ia berlari sekuat tenaga sebelum lumut itu semakin memenuhi area air terjun. “Handphone-ku!!” teriaknya sedih. “Penna!! Ayo cepat!!” semuanya berteriak tidak sabar. Penna pun kembali mempercepat larinya. Menengok ke belakang nyatanya lumut itu telah memenuhi area yang mereka lewati. Membuat Penna bergidik ngeri. Mohon maaf, ya. Bilbul17 sepertinya lupa bahwa harusnya tas yang dibawa oleh Lura adalah ransel, bukan waist bag. Jikalau Lura membawa waist bag maka wadah-wadah untuk menyimpan lumut tidak dapat masuk ke dalamnya. Sekali lagi mohon maaf. Terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD