18. Lura Beraksi

1642 Words
Gapura besar bertuliskan KEBUN RAYA PIDIDI menyambut mobil Lura yang baru saja berbelok ke area kebun raya. Dilajukannya mobil hitam yang ia kendarai sedikit masuk ke kawasan kebun raya. Kemudian Lura memarkirkan mobilnya di area parkir khusus pengunjung Kebun Raya Pididi. Terlalu pagi tiba di kebun raya membuatnya menjadi pengunjung pertama dan mengisi slot tempat parkir yang paling awal. Hal itu menjadikannya bisa lebih bebas mengeksplorasi kebun raya tanpa perlu berantrian dengan pengunjung lain. Ia juga jadi lebih bebas menikmati keindahan dan kesejukan Kebun Raya Pididi. "Pagi banget, Mas? Sendirian saja?" tanya Sang Penjaga Kebun Raya yang bertugas di loket tiket. "Iya, Mas. Sengaja datang pagi biar nanti kembali ke rumah nggak terlalu siang," balas Lura santai. Mereka berbincang sejenak mengenai asal Lura dan tujuan laki-laki itu berkunjung sepagi ini ke kebun raya. Setelah tahu asal kota Lura petugas itu pun tak bertanya banyak. Ia memaklumi kehadiran Lura yang terlalu pagi karena kota tempat Lura tinggal berbeda kota dengan Kebun Raya Pididi. Setelah membayar harga tiket yang terjangkau, Lura mulai melangkah memasuki kawasan kebun raya. Ia berjalan menuju peta besar yang berdiri tegap di dekat pintu masuk. Ia tak ingin buang-buang waktu. Jika lebih cepat ia bisa melakukan keinginan dan tujuannya, maka ia bisa lebih cepat pula untuk segera pulang. Lura mulai mengayunkan kakinya menapaki jalan aspal. Dilihatnya kiri dan kanan jalan yang ditumbuhi dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Banyak pohon cemara yang tumbuh di kebun raya. Selain itu, banyak pula jenis pohon besar lainnya. Di tepi jalan itu juga terhampar luas padang rumput dan sepetak-petak taman yang khusus ditanami dengan kelompok tumbuhan tertentu. Ada tumbuhan air dengan kolamnya yang cukup luas, seperti, teratai, kayu apu, bambu air, dan masih banyak lagi lainnya. Ada taman yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tanaman kaktus dengan tanah yang ditutup dengan bebatuan. Mirip seperti di padang pasir atau daerah bersuhu tinggi. Ada pula green house yang khusus dibangun untuk tempat penyimpanan tanaman anggrek budidaya. Di ujung mata Lura memandang, ia dapat melihat ada taman bugenvil dengan berbagai jenis bunga bugenvil. Namun, ada satu bunga bugenvil besar yang paling mencolok diantara bugenvil yang lain. Bunga bugenvil yang sedang bermekaran membuat kebun raya semakin indah. Warna ungu, oranye, putih, pink, dan merah menciptakan pemandangan yang sedap ditangkap netra tiap yang memandang. Ada pula jenis bugenvil dengan kelopak bunga yang tak bertumpuk dan bertumbuk. Perlu diketahui bahwa warna yang tampak oleh mata telanjang setiap insan yang memandang adalah bagian dari kelopak bunga. Sedangkan mahkota bunganya adalah bagian seperti terompet yang berujung pada tengah kelopak berbentuk bunga kecil. Ada pula yang menyebut kelopak bunga dengan sebutan daun pemikat. Lura melanjutkan langkahnya setelah puas menikmati keindahan bunga bugenvil dengan aneka warna. Ia kembali menyusuri jalan beraspal. Lebih masuk ke kawasan kebun raya. Lura tiba di taman yang banyak tertanam pohon palem. Ada warung kecil—bukan warung, tepatnya lapak kecil tanpa payung atau atap, hanya beratapkan dengan daun palem. Lapak itu berupa meja cukup panjang dengan kursi yang juga panjang. Dan penjual pada lapak tersebut hanya duduk pada satu kursi kecil. Ada pula tikar yang dibentangkan di atas rerumputan. Lura memilih mampir ke lapak itu. Ia ingin membeli s**u hangat. Menikmati secangkir s**u hangat di lingkungan yang sejuk dan teduh tampaknya nikmat. "Bu.. saya pesan s**u hangat satu, ya?" ucap Lura setelah duduk di kursi kayu panjang. "Nggih, Mas. Ditunggu dulu, ya?" tanggap ibu penjual. Lura duduk sembari mengamati lingkungan di sekitarnya. Begitu asri, sejuk, dan segar. Sambil menunggu pesanannya selesai, Lura membuka handphone-nya, diperbesarnya gambar peta yang sempat ia abadikan. Ia mengangguk berulang pertanda paham. "Monggo, Mas," ucap Si Ibu penjual sembari mengangsurkan secangkir s**u hangat ke hadapan Lura. Lura segera menyimpan kembali handphone-nya. "Matur nuwun, Bu," jawab Lura santun. Si Ibu mengangguk dan tersenyum. "Ngomong-ngomong, sendirian saja, Mas?" "Nggih, Bu." Lura menjawab sembari mengatakan asalnya. "Wah lumayan jauh, ya, Mas?" balas Si Ibu takjub. "Saya belum pernah ke sana. Katanya banyak mall gedhe di sana. Tapi panas juga ya, Mas di sana?" ucap Si Ibu begitu antusias. Sampai tak sadar ia mengucapkan kalimat dan tanya beruntun. "Memang banyak mall, Bu. Banyak juga kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya. Sering macet juga di sana. Selain banyak kendaraan bermotor, di sana juga ada beberapa pabrik besar sehingga udaranya panas, Bu," jelas Lura. Setelah itu ia mulai menyesap s**u hangatnya. "Lebih enak di sini, Bu. Sejuk dan banyak pegunungannya," lanjutnya. "Iya, bener sih, Mas." Si Ibu menyetujui. "Mas kok pagi-pagi sekali ke sininya? Ini baru jam 8 kurang." Sejak tadi ibu itu begitu penasaran akan kehadiran Lura di kebun raya yang begitu pagi. "Saya mau survei untuk praktikum lapangan, Bu. Kampus saya minggu depan mau ke sini untuk praktikum lapangan ngamati lumut dan mengawetkannya," jelas Lura. "Oh iya iya. Di sini memang sering digunakan untuk mahasiswa praktikum juga," cerita Si Ibu. Setelahnya ibu tersebut mulai menceritakan tentang berbagai aktivitas mahasiswa dan pengunjung ketika ke kebun raya. Ibu tersebut juga bercerita bila beberapa tahun terakhir Kebun Raya Pididi sudah mulai banyak dikunjungi orang karena semakin dikembangkannya fasilitas dan kawasan kebun raya yang semakin dipercantik. Lura dan ibu penjual minuman itu berbincang mengenai banyak hal. Mereka sampai tidak sadar telah menghabiskan waktu hingga satu jam untuk mengobrol. Lura segera menghabiskan s**u hangatnya ketika ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu hampir pukul 9. "Bu, pinten? Saya harus melanjutkan survei. Tidak terasa kita sudah ngobrol lama sekali, Bu," kata Lura sedikit tergopoh. "Ya Allah!! Iya, Mas. Maaf, ya, Mas. Membuat sampeyan jadi keasyikan ngobrol sama saya," balas Si Ibu tak enak hati. "Mboten nopo, Bu." Lura segera mengangsurkan selembar uang 10 ribu. "Matur nuwun, Bu." "Lho? Kembaliannya, Mas!!" teriak Si Ibu panik kala Lura sudah berjalan meninggalkan lapaknya. "Buat Ibu mawon," balas Lura sembari menoleh sekilas ke belakang. "Matur nuwun, Mas." Lura mengangguk sembari menoleh singkat kemudian kembali melanjutkan langkahnya lurus. Masih terekam dalam pikirnya mengenai jalur yang harus ia lalui agar dapat mencapai kawasan yang banyak ditumbuhi lumut. Lura melewati hutan bambu yang lebat. Ada danau—lebih tepatnya seperti kubangan di sebelah hutan bambu itu. Cukup gelap karena daun-daun bambu yang menutup jalan sehingga penerangan cahaya matahari terhalang oleh tumpukan daun-daun bambu. 20 menit kemudian ia sampai di tempat yang banyak ditumbuhi lumut. Di sisi kanan dan kirinya berupa tebing yang tak terlalu tinggi. Mungkin sekitar dua meter. Tapi jika diteliti lebih detail, itu bukan tebing melainkan tanah yang sedikit tinggi dibandingkan sekitarnya. Lura tak berhenti berdecak kagum. Warna hijau lumut begitu menyegarkan mata. Membuat matanya yang sempat merasa lelah karena menghadap jalan dan spion kini menjadi segar kembali. Seperti baru saja mendapatkan tetesan penyegar mata. Lura mengambil gambar lumut di area tersebut. Hampir seluruh bagian itu dipenuhi dengan lumut. Tebing, permukaan batang pohon, dan bebatuan. Puas memotret dan memandangi area yang penuh dengan lumut, ia liarkan pandangannya ke segela penjuru. Tidak boleh ada yang melihat tindakan yang akan ia lakukan, apalagi petugas kebun raya. Merasa aman dan tidak ada siapa pun di sekitarnya, dibukanya waist bag yang sejak tadi melintang di badannya. Dibukanya waist bag-nya itu secara perlahan kemudian dengan cepat meletakkan sebuah botol tabung yang berbahan kaca dibalik semak yang berada di sekitar tempatnya berdiri. "Kita bertemu lagi minggu depan, ya, botol. Semoga kamu aman-aman saja di sana," gumam Lura lirih. Sudah seperti berpisah dengan kekasih hati. Ia tepuk-tepukkan tangannya yang sedikit kotor secara berulang. Lalu sekali lagi ia liarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempatnya berdiri. Begitu sepi dan sunyi. Hanya suara angin yang berhembus dan kicauan burung juga serangga-serangga yang berderik. Lura mengembuskan napas lega. "Balik sekarang saja," gumamnya pelan setelah melihat pewaktu sudah menunjukkan pukul 10. Ia pun mulai melangkah meninggalkan area dengan lumut yang tumbuh subur itu. Meninggalkan pula barang yang sengaja ia tinggalkan di sana demi mencapai nilai perkuliahan yang bagus. Entah dasar dan alasan kuat apa yang membuat Lura menjadi begitu ambisius dan berbuat nekad? Nilai? Nama baik di hadapan orang lain? Entahlah. Hanya Lura yang paling paham dengan itu semua. Lura melangkah meninggalkan tempatnya berdiri. Saat baru beberapa langkah ia merasa ada orang yang mengawasinya, dengan cepat ia menoleh ke arah orang yang tampaknya mengawasinya. Namun kosong. Tidak ada siapa pun selain tebing, pepohonan, dan bebatuan. Lura kembali mengayunkan kakinya lebih awas. Tubuhnya, matanya, dan telinganya ia siagakan untuk berjaga-jaga atas apa pun yang bisa saja sedang mengintainya. 'Apa ada hewan buas di sekitar sini?' tanya batinnya. 'Namun, bukankah kebun raya ini dengan hutan bebas telah diberikan batas? Tidak mungkin ada hewan liar yang masuk ke sini, kecuali bangsa monyet dan burung,' batin Lura terus saja berbicara. Menduga berbagai hal yang mungkin terjadi. Lura semakin merasa dipandangi dengan tajam. Bulu romanya meremang. Hawa dingin yang semula terasa sejuk kini terasa begitu mencekam. Lalu dengan segala tenaga yang dimilikinya ia berlari sekencang mungkin. Napasnya tersengal, tak beraturan. "Kenapa, Mas? Kok lari-lari?" interupsi Si Ibu pelapak minuman di sekitar taman palem. Lura menghentikan langkahnya sembari membungkukkan badannya. Tangannya memegang lututnya dengan erat. Lura bahkan tidak sadar bila ia telah berlari hingga sejauh ini. Lura mengatur napasnya. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Nggak ada apa-apa, Bu. Tadi hanya ingin lari-lari saja," bohong Lura. Tentu saja ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya tengah menimpanya. 'Apa jangan-jangan ada makhluk ghaib yang mengintai pergerakan curangku?' batin Lura kembali berbicara. 'Nggak! Kamu percaya hal seperti itu, Lura?!' Batinnya mengejek. Si Ibu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk. Meskipun sebenarnya ia sangat penasaran atas apa yang terjadi dengan Lura. 'Apa benar yang dikatakan oleh warga sekitar sini mengenai makhluk itu?' Ia hanya bertanya dalam hati. Tak ingin membuat Lura kepikiran. "Kalau begitu saya pamit, ya, Bu. Orang tua saya sudah menghubungi saya supaya pulang cepat," jawab Lura yang tentu saja 100% kebohongan. "Oh iya iya, Mas. Hati-hati di jalan," balas Si Ibu. Sepeninggal Lura, Si Ibu bergumam pelan, "Apa karena dihubungi oleh orang tuanya sehingga Mas tadi berlari?" Ibu tersebut lalu menggeleng. "Ah!! Entahlah!! Semoga Mas-nya sampai rumah dengan selamat. Aamiin," doa Si Ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD