Untuk apa berdiri antre tak sabaran bersama para rekannya? Bukankah lebih baik ia duduk tenang di kursinya sembari memantau para temannya? Ibaratnya ia menjadi seorang mandor di antara kuli. Cukup duduk sembari mengawasi pekerjaan para pekerjanya. —Penna—
Barisan bus kampus berwarna biru yang menyapu jalan baru saja keluar dari pintu tol. Kurang lebih 20 menit dari pintu tol, bus mulai memasuki kawasan Kebun Raya Pididi. Dari gapura besar yang berdiri menjulang, bus masuk kawasan kebun raya lalu belok ke kiri. Tidak jauh dari gapura masuk, ada sebuah tanah lapang yang memang dikhususkan sebagai area parkir.
Bus telah berjajar rapi di tempat parkir. Mesin masih menyala. Sengaja tidak dimatikan sebelum semua penumpang turun. Bisa kepanasan semua penumpang bila mesin dimatikan lebih dulu. Mesin adalah sumber energi listrik bagi beberapa perangkat di dalam bus.
"Lura!! Buruan!!" decak Penna kesal. Teman-temannya sudah berdiri dan berbaris di tengah-tengah bis—jalan yang berada di antara kursi sisi kanan dan sisi kiri. Mereka menunggu giliran untuk segera turun dari bus.
"Gupuh lapo se, Pen? Timbang ngenteni karo ngadek, mending lungguh sek ngunu lho," balas Lura dingin. Ia kesal karena Penna tak sefrekuensi dengannya. (Terburu-buru kenapa sih, Pen? Daripada nunggu sembari berdiri, lebih baik duduk dulu gitu.)
Penna diam. Apa yang dikatakan Lura benar adanya. Untuk apa dia berdiri tak sabaran bersama para rekannya? Bukankah lebih baik menunggu sembari duduk tenang di kursinya?
Penna akhirnya tak berkutik. Ia diam di kursinya. Duduk dengan tenang. Kemudian ia mulai beranjak dari kursinya ketika Lura juga beranjak dari kursinya. Ia berjalan mengekor di belakang Lura.
Saat ia sudah turun dari bus, ia berdecak kagum melihat pemandangan di sekitarnya. Pepohonan menjulang tinggi mengitari area parkir. Berbagai jenis pohon ditanam di kebun raya ini berbaris rapi.
"Berkumpul!!,” ucap ketua angkatan mereka, siapa lagi bila bukan Lura. Ia tak perlu berteriak dengan suara kencang dan menggelegar. Tidak perlu. Ia hanya perlu berbicara dengan nada dalam dan dingin maka teman-temannya akan segera berkumpul. Toh ada bantuan toa juga.
Semua teman-temannya yang tadi masih sibuk mengamati sekitar dan juga berbincang gegas berkumpul membentuk barisan. Mereka sudah terbiasa seperti ini semasa menjadi mahasiswa baru. Berkumpul berarti harus membentuk jajaran barisan yang rapi.
Lura berjalan tegap menuju Radula, Mazila, dua asisten dosen lain, dan dosen Sistematika Tumbuhan yang hadir. Dengan tegas ia menyampaikan bahwa teman-temannya telah siap mendengarkan segala arahan yang akan disampaikan baik oleh asisten dosen atau pun dosen.
Setelah itu Lura berjalan kembali menuju barisan, bergabung dengan teman-temannya. Lalu Radula sudah berada di depan dengan wajah tegas dan dingin. Tubuhnya berdiri dengan tegap. Layaknya seorang perwira yang memimpin pasukannya.
Radula mengucap salam yang dijawab para mahasiswa dengan tegas dan serentak. Membuat suasana kebun raya tampak riuh dengan semangat para mahasiswa.
"Pastikan kalian berada pada jalur yang tepat. Jangan jalan-jalan terlalu jauh!" peringat Radula tegas.
"Siap, Mas!" jawab para mahasiswa tak kalah tegas.
"Baik. Dari saya kurang lebih seperti itu. Nanti akan dilanjutkan oleh Bu Axilia."
Radula berjalan meninggalkan tempatnya berdiri. Lalu Bu Axilia melangkah menuju tempat di mana sebelumnya Radula berdiri, di hadapan para mahasiswanya.
Senyum cerah sekaligus tegas tampak di wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya dari ujung barisan ke ujung barisan lainnya. Berniat memindai rupa mimik wajah para mahasiswanya.
"Bismillah," gumamnya pelan. "Assalamu'alaikum warah matullahi wa barakatuh," salamnya tegas. Suaranya memang tidak seperti para pemimpin upacara, cenderung kecil, tetapi ia seakan memiliki aura ketegasan yang menguar setiap kali ia membuka mulut atau menatap tajam segala sesuatu yang ada di hadapannya.
"Wa'alaikumussalam warah matullahi wa barakatuh," jawab para mahasiswa dengan semangat yang menggebu.
Benar adanya bahwa semangat mahasiswa meningkat 100% kala melihat hijaunya pemandangan, apiknya tatanan kebun raya, dan hawa sejuk yang ditawarkan. Berbagai spekulasi tersemat dalam benak mereka bahwa tak sia-sia mereka mengunjungi kebun raya ini untuk praktikum lapangan. Benar-benar refreshing. Pikiran menjadi jernih. Hati menjadi tenang.
"Alhamdulillah kita telah sampai di Kebun Raya Pididi dengan selamat. Saya pun berharap bahwa kita nanti kembali juga dalam keadaan selamat pula," ucapnya tegas.
Para mahasiswa meng-aamiin-kan. Begitu juga dengan para asisten dosen dan dosen Sistematika Tumbuhan lainnya. Hal itu merupakan doa yang umum dipanjatkan. Namun bukan berarti doa itu tak istimewa. Semua doa pasti menginginkan sesuatu yang baik. Karena kebanyakan ketika mendoakan orang dengan sesuatu yang buruk, keburukan itu yang akan menimpa pada Sang Pengirim Doa.
Doa meminta kembali dengan selamat merupakan hal yang sangat istimewa dan penting kala melakukan perjalanan jauh. Itu adalah harapan semua orang. Mereka tentu ingin selalu berada dalam lindungan Allah. Dalam naungan-Nya. Dan mereka tentu sangat ingin kembali berkumpul dengan keluarga di rumah, sanak saudara, sahabat, dan teman-teman. Bila diibaratkan dengan jalinan hubungan cinta, pasangan sering mengatakan, "Jangan lupa kabari, ya, kalau sudah sampai rumah." Sederhana tapi begitu dalam maknanya.
"Sebelum kita sarapan lalu melanjutkan menjelajah area Kebun Raya Pididi, saya ingin berpesan agar kalian selalu mentaati segala aturan yang telah ditetapkan oleh pengelola kebun raya. Jangan mengeksploitasi terlalu berlebihan. Ambillah lumut sesuai dengan yang kita butuhkan!" Bu Axilia memandang mahasiswanya dengan tatapan tajam. Para mahasiswa tampak mengangguk. Namun, bila mata Bu Axilia jeli, ia pasti bisa melihat bahwa ada satu mahasiswa yang tak ikut mengangguk. Ia hanya diam. Berdiri dengan tenang.
"Dan yang harus kalian ingat! Jangan menjelajah kebun raya terlalu jauh. Hanya dibatas banyaknya lumut berada. Kenapa? Karena kebun raya ini langsung terhubung dengan hutan. Tidak ada pagar khusus yang membatasi, hanya sebuah pagar yang mungkin sudah mulai rapuh dan menyatu dengan tumbuhan-tumbuhan lain. Jadi, dengan sangat saya meminta pada kalian agar tak melanggar hal itu. Bisa dimengerti!?" Bu Axilia menatap tajam para mahasiswanya. Ini adalah hal paling penting yang harus ia tekankan pada mahasiswanya. Ia adalah penanggung jawab di sini. Maka ia harus memperingatkan para mahasiswanya agar tak melanggar segala aturan.
"Siap, Bu. Bisa!" Jawaban para mahasiswa menggema. Terpantul hingga beberapa kilo dari jarak mereka saat ini.
"Baik. Terima kasih karena kalian bisa diajak bekerja sama. Semoga hal-hal yang tidak kita inginkan, tidak terjadi. Namun, hal baiklah yang akan menyertai kita. Aamiin."
"Aamiin."
Bu Axilia menoleh pada rekan dosen Sistematika Tumbuhan juga pada jajaran asisten dosen. Rekan dosen dan asisten dosen menganggukkan kepala sembari mempersilakan Bu Axilia untuk melanjutkan penyampaian informasi kepada para mahasiswanya.
"Baik. Apa ada yang ingin ditanyakan sebelum kalian mulai menikmati sarapan?"
Salah seorang mahasiswa mengangkat tangannya. Bu Axilia mengangguk mempersilakan.
"Baik. Terima kasih, Bu Axilia. Saya hanya ingin menanyakan pertanyaan sederhana. Apakah kami boleh mengeksplor kebun raya setelah kami selesai dengan tugas kami?"
Mahasiswa tersebut tampak malu. Ia sadar bahwa pertanyaannya tak berkaitan dengan kegiatan praktikum sama sekali. Namun, lebih baik ia menanyakan hal itu daripada hanya memendamnya saja. Sangat sayang bila ia jauh-jauh ke Kebun Raya Pididi tetapi hanya untuk mencari lumut. Mungkin mengeksplor sedikit lebih dalam pada kawasan kebun raya tak ada salahnya. Begitu pikirnya.
Mahasiswa tersebut mengembuskan napas lega kala mendengar celetukan-celetukan dari teman-temannya yang lain. Hal itu membuktikan bahwa tak hanya dirinya saja yang ingin mengeksplor kebun raya. Namun teman-temannya juga. Bagi mahasiswa biologi, alam adalah bagian dari mereka. Mengeksplor alam, asal tidak mengeksploitasi segala keanekaragaman hayati adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan.
Eksplorasi dan eksploitasi jelas dua hal yang berbeda. Eksplorasi sangat boleh dilakukan karena dengan bereksplorasi, seseorang dapat semakin menambah pengetahuannya. Selain itu, dengan berjelajah, seseorang dapat mengambil banyak pelajaran. Tentang rasa syukur, rasa untuk terus berjuang, dan belajar. Banyak ilmu yang diperoleh dari bereksplorasi.
Berbeda dengan eksploitasi. Eksploitasi merupakan kegiatan dimana seseorang merusak atau mengambil sesuatu secara besar-besaran, berlebihan. Yang mana eksploitasi ini dapat mengakibatkan kerusakan dan bencana. Bukankah lebih baik mengambil sesuatu sesuai dengan keperluan? Selain untuk melatih diri menjadi orang yang tidak rakus, hal itu juga dapat melatih agar seseorang selalu merasa cukup. Selalu bersyukur atas nikmat yang memang diberikan pada mereka.
Bu Axilia menatap mahasiswa tersebut dengan tatapan menyelidik. Lalu pandangannya ia edarkan ke sekelilingnya, pada mahasiswa yang berbaris rapi di depannya.
"Good question. Kami, para dosen dan asisten dosen, juga sudah membahas hal ini. Dan..." Bu Axilia sengaja menjeda ucapannya. Ia ingin melihat bagaimana respons para mahasiswanya. Dan ketika para mahasiswanya berada dalam tangkapan netranya, terlihat jelas wajah tegang yang menanti lanjutan ucapannya.
"Dan kami hanya menyetujui bila kalian mengendarai kereta mini untuk mengeksplor area kebun raya," lanjut Bu Axilia.
Suara riuh terdengar. Berbagai macam respons mahasiswa berikan terhadap ucapan Bu Axilia. Ada yang bersorak senang, mendesah kecewa, dan biasa-biasa saja.
Di Kebun Raya Pididi memang ada kereta mini yang hanya terdiri atas satu gerbong untuk digunakan melihat seluruh area Kebun Raya Pididi. Tidak semua bagian bisa dicapai oleh kereta mini. Namun, pengunjung setidaknya dapat melihat bagian Kebun Raya Pididi secara luas tanpa perlu membuat kaki lelah karena berjalan memutari Kebun Raya Pididi.
"Tentu ada alasan dibalik kami memberikan syarat seperti itu. Tentu saja adalah demi keselamatan kalian," tegas Bu Axilia. Membuat keriuhan suara yang menguar menjadi hening kembali. "Melepas kalian mengeksplor dengan bebas setiap bagian Kebun Raya Pididi membuat kami tak tenang. Bukan kami tak percaya pada kalian. Namun, siapa yang tahu? Kami berusaha meminimalisir hal-hal buruk. Kami memohon dengan sangat agar kalian dapat menerima semua yang kami rencanakan," pungkas Bu Axilia dalam. Dihembuskannya napas dengan perlahan. Seakan apa yang ia sampaikan adalah sesuatu hal yang berat.
"Apa ada yang ingin ditanyakan?"
Mahasiswa diam, pertanda tidak ada hal yang ingin ditanyakan lagi. Kemudian ditutupnya sambutannya yang cukup panjang dan penuh wejangan itu.
Mazila berganti berdiri di depan para mahasiswa. Dengan tegas dimintanya para mahasiswa untuk mulai mengambil sarapan. Namun ia menegaskan pada para laki-laki agar mengambilkan nasi untuk para perempuan. Para perempuan dan laki-laki yang tersisa—tidak mengambil kantong kresek merah berisi kotak nasi, menunggu dengan anteng nasi mereka diantarkan. Mereka duduk membentuk lingkaran besar.
Seluruh mahasiswa telah mendapatkan bagian nasinya masing-masing. Sebelum memulai untuk menyuap nasi itu, mereka berdoa bersama. Melakukan makan bersama dengan membentuk lingkaran membuat pikiran mereka terputar kembali pada kenangan semasa PKKMB. Masa yang penuh dengan ketegangan dan juga keseruan.
Selama makan, tidak ada yang bersuara. Semua diam menikmati hidangan mereka. Sedikit berbincang, tetapi tak terlalu serius. Hanya perpincangan ringan. Selain untuk menghargai makanan, mereka juga tak ingin mendapat teguran dari para dosen dan asisten dosen karena terlalu fokus berbincang yang mana membuat makanan mereka menjadi dianggurkan.