Kadang hidup tidak dapat dipaksa sesuai dengan apa yang kita ingin. Ada Allah yang mengatur segala jalan kita. Layaknya kebersamaan tiap insan, tak selamanya bisa selalu bersama. Waktu terus berputar, memaksa kita untuk berpisah. Menciptakan jarak juga rindu. —Bilbul17–
Sarapan baru saja selesai. Perut telah terasa kenyang. Saatnya para mahasiswa mulai mengeksplorasi Kebun Raya Pididi, demi mencari seonggok lumut agar perkuliahan mencapai kompetensi yang telah ditentukan.
Setelah Bu Axilia meminta Lura meminpin doa yang dilanjutkan dengan meminta mahasiswa untuk segera bekerja, kerumunan mahasiswa mulai menyebar. Begitu pula dengan Lura. Laki-laki itu dengan cepat menarik para rekan-rekannya. Lebih tepatnya tidak menarik, tetapi memburu para teman-temannya agar bergerak cepat. Tentu saja ia tak ingin kelompok lain mendahuluinya dalam menemukan lumut. Hal itu tidak boleh terjadi. Sangat tidak boleh! Sia-sia usahanya bila teman-temannya menemukan titik yang telah ia temukan lebih dulu.
Lura, Penna, Funa, dan Bratra berbaris amburadul menuju salah satu titik tempat di mana lumut tumbuh subur. Lura telah mengeksplor kebun raya ini seminggu yang lalu. Seorang diri, tak ada yang menemani. Namun karena perjalanan yang sedikit jauh, ia memilih meminjam mobil papanya. Naik motor memang mengasyikkan. Namun jika naik mobil tentua ia bisa melewati jalur tol, kenapa tak ia lakukan. Baginya itu lebih efektif dan efisien. Lebih menghemat waktu juga tenaga.
Meskipun di dalam mobil ia merasa begitu kesepian. Bagaimana tidak? Perjalanan cukup jauh ditempuh seorang diri. Namun tidak masalah. Yang paling penting ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Anak-anak jalan ke sana, Lur! Kenapa kita beda arah dengan mereka?" tanya Bratra sangsi. Dalam benaknya ia takut Lura membawa mereka ke jalan yang sesat. Bisa-bisa mereka tak kembali ke titik kumpul. Bayangan akan pesan Bu Axilia memenuhi otaknya.
"Aku sudah mencari tahu dan berkeliling di sini. Nggak mungkin aku menyesatkan kalian," jawab Lura dengan kesal. Ia tahu makna yang tersirat dalam ucapan Bratra. "Buktinya aku kembali ke kampus dengan selamat dan bisa bertemu dengan kalian, kan?" Kekesalan masih menempeli Lura.
Ketiga teman Lura itu memilih mengembuskan napas dan pasrah. Dalam hati mereka tak berhenti berdoa semoga Lura tak benar-benar menyesatkan mereka. Juga sedikit tak percaya bahwa Lura sampai rela mengeksplor lebih awal hanya demi mendapatkan lumut yang lebih banyak.
Kurang lebih 15 menit waktu berjalan setelah singgungan antara Lura dan Bratra. Kini, mata mereka dimanjakan dengan keindahan pemandangan yang disajikan di hadapan mereka. Lumut tumbuh subur memenuhi tebing, kulit batang pohon, dan di tepi jalan berpaving. Netra mereka berbinar cerah. Tampak senang karena apa yang disampaikan Lura benar adanya.
Lumut itu tumbuh menyelimuti segala bidang. Tampak seperti permadani yang terbentang luas. Berbagai jenis lumut mendiami beberapa bagian. Dengan ukuran tertentu satu jenis lumut mendiami satu bagian. Lalu di sampingnya tampak subur jenis lumut yang lain.
Berbagai macam dan jenis lumut tumbuh di daerah itu. Membuat mereka tak berhenti berdecak kagum. Bahkan mereka tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Diambilnya handphone lalu mereka abadikan pemandangannya yang cantik itu. Tidak lupa mereka juga menjadikan pemandangan itu sebagai background diri mereka untuk mengambil foto.
"Funa.. tolong fotokan aku, ya?" Begitulah ucapan Penna yang meminta tolong pada Funa agar mengabadikan momen itu. Penna pun berganti gaya berulang kali bak model yang sedang melakukan pemotretan dengan view alam. Bagaikan berada di antara hijaunya rerumputan berupa lumut.
Usai Penna mengambil banyak gambar, Funa pun meminta tolong balik. Penna pun tak keberatan memfotokan Funa. Bahkan dua laki-laki di antara dua perempuan itu juga ikut mengabadikan momen. Tidak lupa mereka juga foto berempat. Dengan meletakkan handphone pada tempat yang mampu menyangga handphone, lalu mengatur timer, kelompok yang dipimpin oleh Lura itu mampu mengambil potret mereka berempat. Tak hanya sekali. Namun beberapa kali.
"Oke! Kita sudah selesai berfoto. Saatnya mulai bekerja. Kumpulkan lumut sebanyak-banyaknya ke dalam wadah ini!" Lura berkata dengan tegas. Laki-laki itu memberikan satu wadah ke tiap temannya. Sedangkan ia bertugas mengambil lumut yang berbeda jenis.
"Lur! Kamu gila, ya? Kan kita nggak boleh eksploitasi. Lagipula ketika kita di kampus nanti, hanya boleh milih satu jenis lumut saja," sahut Funa dengan suara tegas.
"Bukankah kita harus berjaga-jaga? Menurutku itu lebih baik daripada kita harus bolak-balik ke sini lagi nanti," balas Lura tak kalah tajam.
Funa menatap Lura dengan tatapan bengis. Seakan ia siap menyantap Lura saat ini juga. Perasaan kesal dan marah menyatu.
"Sudah! Kalian kenapa jadi harus berdebat sih? Ayo kita kerja! Kita juga harus ACC hasil lumut yang kita peroleh kan?" sahut Bratra menenangkan. "Tapi Lur. Kamu nggak takut kena semprot Mas Radula dan Mbak Mazila kalau kita membawa lumut sebanyak ini?" Bratra memandang Lura sangsi. Lebih baik tidak kena semprot bukan? Amukan Radula dan Mazila membuat mereka bergidik ngeri. Takut sendiri.
"Aku bawa satu kotak lagi. Bagianku yang mengambil lumut sedikit-sedikit. Atau mau tukar tugas?"
"Aku saja!" sahut Penna lantang. Ia angkat tangannya tinggi-tinggi. "Lebih baik aku saja yang mengambil lumut sedikit," lanjutnya.
Lura pun mengangguk. Ia tak mempermasalahkan.
Penna mengembuskan napas lega. Ia jadi takut sendiri bila menjadi salah satu pelaku eksploitasi. Yah meskipun hanya lumut. Namun jangan meremehkan manfaat lumut, ya! Walaupun lumut adalah salah satu tumbuhan tingkat rendah—tumbuhan yang belum memiliki pembuluh angkut juga organ tubuhnya belum sejati, manfaatnya sangatlah banyak. Diantaranya sebagai spons air atau penyimpan air, sebagai penanda bahwa tempat tersebut dekat dengan sumber air, dan masih banyak manfaat lainnya.
Lura berniat mengangsurkan wadah yang semula ia pegang, tetapi segera diurungkannya. “Pake wadah yang kamu bawa saja. Toh wadahnya ukurannya juga sama saja,” kata Lura.
Penna tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya berulang.
“Kalian milih lumutnya atau aku yang nentukan?” Lura kembali bertanya dengan otoriter. Semakin membuat rekan-rekannya jengkel. Funa saking kesalnya pada Lura ia sudah mengangkat tangannya yang membawa wadah kosong, berniat menggetok kepala Lura. Agar kepala Lura bisa dapat bekerja lebih baik lagi. Tak seenaknya berbuat dan memerintah temannya.
“Milih sendiri saja,” jawab Funa yang berdiri di belakang Lura dengan cepat. Ia takut keduluan Lura berubah pikiran.
Bratra pun mengangguk setuju. Ia juga tak ingin menjadi salah satu orang yang diperintah Lura sesuka hati.
“Oke. Kalau gitu aku lumut tanduk,” sahut Lura enteng. Wajahnya biasa saja. Tampak tak berdosa. Ya bagaimana ia merasa seperti itu karena ia merasa bahwa tak ada yang salah dengan ucapannya. Ia hanya ingin membagi tugas dengan baik. Tak ada kerja kelompok yang hanya dikerjakan oleh satu orang atau beberapa perwakilan kelompok. Menurutnya, semua anggota kelompok harus mengerjakan tugas. Ia membenci mahasiswa yang hanya menumpang nama di atas nama kelompok. Bila hal itu diteruskan dan dibiarkan, sikap buruk itu akan terus menjamur. Mahasiswa bukan lagi seorang pelajar yang dengan mudah melepas tanggung jawab. Seorang mahasiswa harus mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Harus tegas terhadap pilihan. Harus konsekuen terhadap apa yang telah ia pilih.
“Aku lumut daun,” sahut Funa lantang.
“Aku lumut hati kalau begitu,” sahut Bratra tenang. Wajahnya tampak tak berminat. Wajahnya selalu seperti itu sih. Tak pernah menunjukkan ekspresi yang berlebihan, kecuali tadi saat Lura menyampaikan ide buruknya itu.
“Jangan lupa yang jantan dan betina,” tegas Lura. “Pisahkan antara lumut hati jantan dan betina,” lanjut Lura sembari mengambil sendok stainless lalu ia bagikan satu per satu pada temannya. Laki-laki itu selalu rapi dalam melakukan sesuatu. Ia pun termasuk jajaran laki-laki yang teliti dalam menyiapkan sesuatu.
“Lengkap banget yang kamu bawa, Lur,” ucap Penna sedikit mengejek.
Lura mana peduli. Ia tetap memasang wajah datar. Tak tersinggung. Laki-laki itu memang seperti itu. Abai terhadap berbagai celetukan yang masuk melalui telinga kanan dan kirinya. Mendengarkan dan memikirkan omongan orang lain pun tak ada artinya. Di mata manusia pasti ada saja dari diri seseorang yang salah meskipun seseorang itu telah berusaha menjadi baik.
Ia sudah terlatih dan terbiasa seperti ini. Menjadi objek pembicaraan orang lain. Bukan ia tak tahu, ia hanya pura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan hidupnya.
“Daripada diamanahi untuk membawa tas kresek saja nggak bawa,” balas Lura datar. Skakmat. Penna, Funa, dan Bratra diam tak berkutik. Dibalik rasa jengkel mereka terhadap Lura, terucap syukur dalam hati yang tak henti-hentinya mereka ucapkan. Mereka benar-benar lupa akan pinta Lura yang sederhana itu. Sebenarnya mereka sudah diingatkan Lura berulang kali agar tidak lupa membawa barang yang diperlukan untuk praktikum. Tetapi dasar mereka hanya menjawab iya tapi nyatanya tidak membawa barang sesuai pinta Lura itu. Lura pun sangat sadar bahwa teman-temannya pasti teledor. Maka ia membawa banyak wadah itu dalam ranselnya. Juga beberapa alat lain yang diperlukan.
“Kita mulai berpencar untuk mengambil lumut saja, yuk!” ajak Funa ceria. Bermaksud mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta. Tak mungkin mereka saling diam saja dengan berbagai pikiran yang bercokol dalam hati.
Lura mengangguk. Ia memilih meninggalkan teman-temannya lebih dulu dan menuju tempat yang banyak ditumbuhi lumut. Enggan memperpanjang masalah. Bukan masalah besar memang, tetapi ia dapat tahu bahwa teman-temannya masih sulit menjalankan amanah. Dari bekerja kelompok atau praktikum secara berkelompok ia menjadi tahu bahwa tak semua orang bisa dengan mudah ia ingatkan. Kebanyakan mereka masih sulit untuk menjalankan kewajibannya. Apalagi mahasiswa yang sibuk dengan organisasi. Sering kali setiap ia mengajak teman kelompoknya untuk mulai mengerjakan kelompok bersama mereka kebanyakan akan menolak dengan dalih sibuk rapat kegiatan, rapat evaluasi, bertemu dengan sponsor, dan berbagai alasan lainnya. Lura sudah sangat paham dan mengerti.
“Penna.. lain kali mulut kamu itu direm sedikit. Untung saja Lura nggak ngamuk. Bahaya kalau dia sampai ngamuk,” ucap Funa sambil mengelus dadanya. Bratra awalnya berniat nimbrung dengan kedua teman kelompoknya, sayangnya ia tak tertarik. Ia memilih mengikuti Lura untuk meninggalkan kedua perempuan itu.
Penna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjadi malu dan tak enak hati. “Aku hanya penasaran saja dengan ranselnya. Ukurannya kan kecil tapi bisa muat banyak barang,” jelas Penna.
“Kayak kamu nggak tahu Lura saja sih, Pen. Dia kan memang perfectionis. Dia itu selalu bisa menyusun sesuatu dengan rapi.”
Penna mengangguk. Pikirnya berusaha mencoba mengingat segala memorinya. Jika diingat-ingat setiap dalam kelas perkuliahan, ia dapat melihat bahwa segala sesuatu yang melekat pada Lura atau barang yang ia bawa selalu tertata rapi. Tak ada sedikit pun sesuatu yang tak berada di tempatnya.
“Kalian masih mau ngobrol? Butuh waktu berapa lama lagi ngobrolnya!?” Lura menyindir dengan keras dan tegas. Ditatapnya dua rekan perempuannya itu dengan tatapan menghunus tajam.
Penna dan Funa segera berjalan dengan memberi sedikit jarak. Mereka tak ingin mendengarkan peringatan Lura yang lebih berbahaya dan menusuk lagi. Lebih baik mereka segera bekerja untuk memenuhi wadah dengan lumut.