Menjadi sukses adalah impian semua orang. Dan terkadang banyak jalan yang ditempuh agar menjadi orang sukses. Tinggal kita memilih melalui jalan yang baik atau tidak. -Bilbul17-
"Pa.. Lura besok pinjam mobilnya, ya?"
Papa dan mama Lura yang sedang asyik menonton salah satu tayangan televisi pun mengalihkan fokusnya pada Lura. Terutama mamanya. Mama Lura memandang Sang Putra dengan tatapan tajam dan menginterogasi.
"Mau ke mana kamu, Nak!?"
Pertanyaannya sederhana dan bermakna lembut. Namun mama Lura bertanya dengan nada tajam dan keingintahuan yang tinggi.
"Mau survei ke Kebun Raya Pididi, Ma," jawab Lura sembari duduk di salah satu sofa yang kosong.
"Kenapa nggak pake motor saja?" tanya papa Lura tenang. Ia pandang putra semata wayangnya dengan penuh selidik. "Kalau naik motor kan enak. Kamu nggak perlu terjebak macet terlalu lama. Mudah menyalip juga," lanjutnya.
"Tapi kan enak pake mobil, Pa. Aku bisa lewat jalan tol. Perjalanan menuju Kebun Raya Pididi jadi lebih cepat. Selain itu aku nggak perlu terjebak macet," jawab Lura sembali membalas tatapan papanya dengan tenang. Tak ada suara bernada tinggi. Suara Lura tetap tenang dan lirih. Namun ia sangat suka sekali mendebat kedua orang tuanya dengan berbagai jawaban. Setiap orang tuanya mengatakan sesuatu, ia pasti akan menyahutinya.
"Lagipula sayang SIM yang sudah kuurus, Pa. Aku kan tes SIM pake kemampuanku sendiri. Bukan bayar orang," lanjut Lura tenang.
"Sombong bener!" celetuk mama Lura.
"Nggak sombong aku, Ma. Kalau aku sombong kan wajahku kayak menantang gitu. Sedangkan sekarang wajahku datar-datar saja," balas Lura enteng.
"Heh!! Wajah kamu memang nggak terlihat menantang, Lur. Tapi bikin Mama pingin nabok kamu. Wajah nggak berdosa kamu itu yang bikin kesel. Kayak sok polos gitu," balas mama Lura dengan menggebu.
Lura tertawa lirih. "Ya Mama sih pake mandangi wajah Lura terlalu jeli." Ia selalu gemas dengan respons mamanya. Selalu histeris dan berlebihan.
"Karena kamu tumben-tumbenan pake mobil segala. Mama jadi curiga."
"Mama kan memang selalu curiga sama aku terus," sindir Lura. Skakmat. Namun mama Lura memasang wajah tak peduli. Bagaimana bisa ia tak curiga dan khawatir terhadap putra semata wayangnya, terkadang kehidupan di luar sana begitu menakutkan. Ngeri. Membuatnya tak tenang setiap Lura pergi meninggalkan rumah. Namun tentu saja ia tak mungkin mengurung Lura terus di dalam rumah. Putranya itu butuh keluar untuk menikmati hidup.
"Ya bawa saja. Tapi ingat..." Papa Lura memandang tajam putranya. "Nyetirnya hati-hati. Jangan ugal-ugalan. Terutama di tol. Jangan karena jalan yang halus dan lancar lalu membuat kamu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi!" peringat papa Lura dengan tegas.
"Siap!!" jawab Lura tegas. "Terima kasih, Pa," lanjutnya.
"Cuma ke Papa saja terima kasihnya?" sindir mama Lura. Memang urusan menyindir mama Lura juaranya.
Lura mengangguk dengan wajah polos. "Kan itu mobilnya Papa, Ma. Jadi ya Lura ngucap terima kasih ke Papa saja," jelasnya tanpa merasa bersalah.
Mama Lura dengan gemas dan kesal menggulung majalah yang baru saja dibacanya. Lalu ia segera berdiri dari duduknya untuk menimpuk Lura dengan gulungan majalah itu. Sayangnya Lura berhasil menghindar. Ia dapat berkelit dengan mudah dari gulungan majalah itu karena sedari tadi ia telah bersiap dan mampu membaca gerakan mamanya.
"LURA!" teriak mama Lura kesal.
"Mama.. kalau bicara pelan-pelan," peringat Lura sopan.
Mama Lura menghunuskan tatapan ganasnya pada putra tunggalnya yang suka sekali membuat amarahnya cepat naik itu. Dasar Lura! Ia tak punya rasa takut sedikit pun pada mamanya meskipun tatapan mata itu mirip dengan tatapan maut pemain utama film horor.
"Ma.." Papa Lura memanggil istrinya pelan. "Mama kenapa masih terus meladeni Lura? Mama yang jadi capek sendiri," ucap suaminya itu.
Lura tertawa kecil. Anak tak baik memang dirinya. Tak patut dicontoh.
"Mama kan hanya ingin memastikan bahwa ia akan aman dan baik-baik saja ketika keluar rumah, Pa. Mama hanya khawatir dengan Lura. Papa tahu kan pergaulan saat ini? Bikin Mama senam jantung setiap waktu," ungkap mama Lura dengan raut kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Bukan sekedar akting. Namun kekhawatiran itu benar-benar memang perasaan yang mama Lura rasakan. Bukan hanya pura-pura demi menarik simpati Lura.
Lura yang sedari tadi mengamati kedua orang tuanya pun terenyuh. Selama ini ia sering kesal bila mama dan papanya meminta untuk segera pulang atau mengirimkan pesan beruntun padanya yang menanyakan posisinya. Ia sering merasa terganggu dengan hal itu. Nyatanya, itu semua wujud kekhawatiran kedua orang tuanya. Wujud bahwa kedua orang tuanya menaruh perhatian yang penuh padanya. Hal yang tak pernah ia sadari. Hal yang sangat sering ia abaikan.
"Lura adalah laki-laki yang sudah dewasa, Ma. Ia tahu mana yang harus ia lakukan dan tinggalkan. Mama harus percaya dengannya bukan?" balas papa Lura sembari mengusap tangan istrinya lembut.
Iya. Papa Lura telah menaruh kepercayaan yang besar pada putranya. Ia percaya dan yakin bahwa putranya dapat membedakan mana yang haaq dan yang bathil.
Lura memandang mama dan papanya dengan perasaan haru. Rasanya luar biasa hangat dadanya. Kedua orang tuanya begitu peduli dan sayang padanya. Selama ini ia kira bahwa kedua orang tuanya terlalu mengekangnya. Menerornya dengan pesan-pesan yang membuatnya muak. Bahkan pernah terbersit dalam pikirannya bahwa ia akan menghapus nomor handphone kedua orang tuanya. Dan ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat betapa sayangnya kedua orang tuanya padanya, ia menjadi diam tak berkutik.
Mama Lura mengangguk. "Tapi.. Mama tetap saja takut, Pa," ucapnya lagi setelah sekian lama terdiam.
"Lura.." panggil papa Lura lembut. "Tolong yakinkan Mamamu bahwa kamu bisa menjaga kepercayaan yang Papa berikan!” tegasnya.
Lura mengangguk tegas. Matanya sedikit berkaca, tapi ia berusa menutupi itu. Ia tak ingin tampak lemah di hadapan kedua orang tuanya.
***
Jalanan pagi ini cukup lengang. Sabtu adalah hari di mana jalan raya sedikit sepi. Berbeda dengan hari kerja. Sejak pukul enam pagi, biasanya kendaraan merayap memenuhi jalan raya.
Lura mengketukkan jarinya di atas roda kemudi, mengikuti irama lagu yang ia sambungkan melalui bluetooth. YouTube menjadi aplikasi andalannya saat ini untuk mendengarkan lagu. Hal itu yang menjadikannya memilih mendengarkan lagu dengan menyambungkan bluetooth speaker mobil dengan handphone-nya. Di YouTube semua lagu bisa ia pilih sesukanya. Berbeda dengan radio yang hanya akan memutar lagu sesuai dengan daftar yang telah tersusun.
Sesak dadanya kala ia mendengar salah satu lagu yang beberapa waktu ini trending. Tentang kegalauan. Tentang seseorang yang menyesali keegoisannya sehingga perempuan yang ia cintai lebih memilih laki-laki lain.
Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuangku ‘tuk nya
Bahagaikan dia
Dan sayangi dia
Sepertiku menyayanginya
Dan kan kuikhlaskan dia
Tak pantas kubersanding dengannya
Kan kuterima dengan lapang dada
Aku bukan jodohnya
Entah. Seberusaha apa pun ia mengikhlaskan kisah percintaannya, ia masih merasa kesulitan. Sangat sulit. Ikhlas nyatanya tak semudah mengucapkan. Sungguh sulit.
Memasuki pintu tol Lura mempercepat laju mobil papanya. Ia ingin menguji adrenalinnya dengan melajukan mobil secepat yang ia bisa. Pelampiasan terhadap rasa sesak yang menyelimuti dadanya.
Namun ia harus memperlambat laju mobilnya kala terlihat di depannya barisan mobil yang melaju lambat. Gagal sudah keinginannya untuk melampiaskan amarahnya hingga keluar pintu tol. Tuhan sedang tak mengijinkan Lura ugal-ugalan.
“Awas kalau kamu ngebut naik mobilnya!” Suara mama Lura terdengar. Bayang-bayang wajah mama Lura yang galak pun seakan berputar di dalam pikiran Lura. Seakan mengikuti Lura hingga perjalanan laki-laki itu sudah mencapai setengah perjalanan. Mengingatkan agar ia tak terlalu ngebut di jalan tol. Wajah papanya pun berputar silih berganti dengan wajah mamanya.
“Terutama ketika di jalan tol!” sahut papanya.
Akhirnya Lura memilih menepikan mobilnya sejenak di rest area yang berjarak 500 meter dari posisinya. Ia tak ingin menjerumuskan diri pada kecelakaan. Selain masih sayang nyawa, ia juga sadar akan tumpukan dosa yang tertimbun dalam dirinya.
Lura memarkirkan mobilnya di depan salah satu mini market yang ada di rest area. Rest area tampak ramai pengendara yang beristirahat.
Lura memutuskan untuk membeli minuman dingin. Ia ingin mendinginkan kepala dan dadanya yang tiba-tiba panas. Panas karena mengingat bahwa Bubunga telah menemukan seseorang yang tampaknya membuat perempuan itu bahagia dan pantas bersanding dengannya.
Lura duduk di salah satu kursi kosong yang disediakan di depan mini market. Getaran handphone yang disimpan dalam saku celananya membuatnya mengurungkan niat untuk membuka botol minumannya.
‘Baru saja memenuhi pikiran. Sekarang sudah telepon saja,’ batin Lura.
“Wa’alaikumsalam, Ma,” jawab Lura.
“Kamu jangan nyetir sambil main handphone Lura!” teriak mama Lura histeris. Membuat telinga Lura berdengung. Seakan ada ribuan lebah dalam gendang telinganya.
“Kalau nggak diangkat nanti malah Mama curiga dan marah-marah,” balas Lura tenang. Ia sengaja tak mengatakan kejujuran terlebih dahulu pada mamanya. Membuat mamanya kesal adalah hobinya. Ia seakan merasa terhibur. Di sisi lain ia juga merasa begitu disayangi. Ah, membuatnya merindukan celotehan mamanya.
“Lura!!” Mama Lura kembali berteriak tak tenang. Samar-samar Lura mendengar mamanya yang memanggil papanya dengan tak sabar.
“Ma,” panggil Lura sebelum mamanya semakin heboh dan ribut sendiri di seberang sana. Mama Lura belum menjawab panggilannya. Mamanya terdengar masih sibuk memanggil papanya yang entah sedang melakukan apa.
“Ma..” Lura memanggil sekali lagi. Beruntungnya di depan mini market itu sedang tak begitu ramai, sehingga ia bisa fokus berbincang dengan mamanya.
“Pa.. Lura, Pa,” ucap mama Lura dengan nada yang terburu-buru dan penuh kekhawatiran. Di rumah, papa Lura yang sedang fokus dengan laptopnya pun menengok malas pada istrinya. Bukan tak ikhlas memandang istrinya, tetapi pikirannya sedang benar-benar fokus dan lancar menuliskan kalimat untuk laporan pekerjaannya. Jika diganggu seperti ini tentunya idenya akan macet.
“Ihh.. Papa!” teriak mama Lura heboh. Wanita itu terlihat ngambek dengan suaminya.
Papa Lura mengembuskan napas pelan. Mengatakan pada batinnya agar ia tak marah kepada wanita yang telah menemani hidupnya kurang lebih 20 tahun itu.
“Kenapa, Ma?”
“Lura jawab telepon Mama sambil mengemudi,” lapornya.
Papa Lura meminta handphone yang tersambung panggilan dengan Lura. “Lura!” panggilnya tegas.
“Iya, Pa?” jawabnya kalem seakan tak mendengar kegaduhan yang telah mamanya ciptakan di rumah.
“Benar apa yang dikatakan Mamamu?”
“Enggak. Lura lagi di rest area. Mama sih keburu menyimpulkan padahal tadi Lura sudah mau bilang kalau sekarang di rest area. Lura sudah memanggil Mama dua kali tapi Mama heboh memanggil Papa,” jelas Lura.
Papa Lura yang sengaja me-loud speaker panggilan itu pun memandang istrinya yang menunduk malu. Lalu diembuskan napasnya perlahan-lahan. Ingin marah pun ia tak ingin membuat istrinya merasa disudutkan dan disalahkan meskipun istrinya itu salah.
“Kirim lokasi kamu. Live location. Kamu hati-hati di sana. Segera pulang jika urusan selesai!” peringat papanya tegas.
“Baik, Pa.”
Setelah berbicara sejenak mereka mengakhiri panggilan. Sambil meletakkan kembali handphone-nya dalam saku celana ia menggeleng atas sikap mamanya yang terkadang sering berlebihan.