16. Lura yang Seenaknya

1650 Words
Terkadang mata akan terjebak dalam suatu keindahan yang menghanyutkan. Membuat kita tak sadar bahwa kita hanya terlena dengan keindahan sesaat. Seharusnya, gunakan lensa lain untuk melihat hal itu. Apa yang ditangkap mata tak selamanya indah. -Bilbul17- Suara kicauan burung terdengar disela-sela aktivitas empat mahasiswa yang sedang mengumpulkan lumut. Angin berdesir lembut membelai rambut dan kulit tiap insan. Menciptakan rasa ketenangan. Membuat udara terasa sejuk. Menyebabkan hati dan jiwa terasa lebih tenang. Tak ada suara bising kendaraan. Tak ada suara bising orang-orang yang saling berdebat dan bercekcok. Semuanya terasa menenangkan dan menentramkan. Seperti sedang berada dalam suatu tempat relaksasi yang menyuguhkan suasana alam yang begitu menyejukkan. Penna menghirup napas dalam. Lalu dihembuskannya secara perlahan. Ia nikmati kesegaran alam yang disuguhkan Kebun Raya Pididi. Ia duduk di salah satu batu yang tak ditumbuhi lumut, mengamati teman-temannya yang sibuk mendengarkan petuah Lura. Ia sudah selesai mengisi satu kotak wadahnya dengan tiga jenis lumut. Wadah itu seakan ia bagi menjadi tiga bagian agar tiap jenis lumut mendapatkan tempat berlindung yang nyaman. Beruntungnya Lura tak memintanya mengeksploitasi lumut secara berlebihan. Hanya memenuhi wadah berukuran 10 x 15 centi itu dengan selapis lumut. Begitu pula dengan wadah lain yang dibawa teman-temannya. "Ambil lumut yang bagus. Jangan yang sudah sedikit layu dan menguning. Nanti kalau bawa ke kampus takutnya mati. Cari yang seger!" Lura memerintah Funa dan Bratra dengan tegas. Funa dan Bratra saling mengembuskan napas kesal. Mereka berdua benar-benar ingin menimpuk Lura dengan tumpukan lumut. "Lura.." Penna sengaja memanggil laki-laki itu agar tak lagi mendikte Funa dan Bratra. Dapat dilihatnya wajah dua rekannya yang sama-sama bete. 'Lura nggak peka banget sama perasaan temannya sendiri,' batin Penna kesal. Lura menoleh pada Penna. Dipandangnya perempuan itu dengan pandangan bertanya. Alisnya bertaut. Dahinya berkerut. "Boleh minta tolong dilihat lumut yang sudah aku kumpulkan nggak?" Penna berusaha membuat suaranya menjadi lembut. Ia bergidik ngeri. Jijik dengannya yang tiba-tiba beralih dalam mode lembut. Tak hanya Penna, Lura pun memandang Penna dengan tatapan curiga. Selama mengenal Penna, perempuan itu tak pernah menampilkan wajah sok polos seperti itu. Daripada membuat Lura tak percaya padanya dan terus memandangnya dengan tatapan mengintimidasi, Penna segera beranjak dari duduknya. Lalu melangkah dengan pelan menuju Lura yang berdiri dengan gagah dan tatapannya yang masih mengintimidasi. "Ini.. Lumut aku sudah bener belum?" tanya Penna. Jantungnya bekerja dengan menggila. 'Semoga Lura tak memahami bahwa aku sedang mengalihkan fokusnya,' harap Penna. Funa dan Bratra yang sedari tadi hanya diam mengawasi Penna pun mulai memahami apa yang sedang Penna rencanakan. Rasanya d**a mereka dapat kembali relaks setelah memendam kekesalan yang membuat d**a mereka sesak. "Yang ini dihilangkan saja. Kalau dibiarkan disitu nanti takutnya yang di sebelahnya ikut kering dan kuning," perintah Lura galak. Laki-laki itu sudah seperti bos saja. Memerintah sesuka hatinya. Semua karena prinsip yang selama ini pegang, 'yang namanya kelompok itu harus saling kerja sama. Nggak hanya satu, dua, atau beberapa orang saja.' Dan karena prinsip itulah yang membuatnya terkesan menjadi yang paling sok. Sok memerintah. Sok tahu. Dan sok sok lainnya. "Oke. Diganti nggak?" Penna masih tetap mempertahankan mode kalemnya. Funa dan Bratra tak mau menyiakan jalan yang telah Penna bukakan untuk mereka. Mereka kembali fokus mengambil lumut. Tanpa mereka sadari, pikiran mereka telah terdoktrin dengan permintaan Lura yaitu mencari lumut yang bagus. Dibuanglah lumut-lumut yang mulai menguning dan kering. Netra mereka fokus melihat lumut dengan begitu jeli. Seakan ingin mencari sesuatu yang berukuran begitu kecil. "Diganti saja. Jika kita bisa maksimal kenapa nggak kita lakukan?" tanya Lura dengan wajah menyebalkan. Penna mengambil napas pelan-pelan. Tak boleh ia terpancing Lura. Lura membalikkan padanya dan mengayunkan kakinya kembali pada tempat di mana semula ia mengumpulkan lumut. Ia baru mendapatkan lumut setengah wadah. Masih harus setengah wadah lagi yang harus ia kumpulkan. Penna pun dengan sabar mengumpulkan kembali lumut daun. Lumut hati dan lumut tanduk yang telah ia kumpulkan tadi masih segar dan baik. Hanya sedikit lumut daun yang menguning dan kering. Lura begitu serius mengumpulkan lumut. Tak menoleh ke kanan atau pun ke kiri. Fokusnya saat ini hanya lumut. Begitulah Lura. Ia hanya dapat memfokuskan perhatiannya pada satu kegiatan saja. Ia tidak dapat membagi-bagi pikirannya untuk fokus pada banyak hal. Bahkan ia mengabaikan teman kelompoknya yang sudah duduk tenang di batang kayu yang mulai melapuk. Mereka seakan tidak peduli jika di permukaan batang itu sudah diselimuti oleh lumut. Namun agar tidak membuat celana basah, Funa dan Bratra memilih melapisinya dengan kresek plastik kecil yang mereka bawa. Sedangkan Penna sudah kembali duduk di atas bongkahan batu di sebelah dua rekan kelompoknya. "Kalian nggak takut kena damprat Lura karena duduk di atas lumut?" bisik Penna. Suaranya sangat pelan. Tidak ingin membuat Lura mendengar pertanyaannya yang menyebut-nyebut nama laki-laki itu. "Biar saja. Masak aku harus nungguin dia sambil berdiri. Males dong. Kakiku bisa capek," balas Funa tenang. Ia menjawab sembari netranya fokus dengan handphone-nya. Mencebiklah bibir Penna karena ia kalah penting dibandingkan handphone. "Kalau orang ngomong itu mbok ya dipandang, Mbak. Jangan fokus sama handphone saja," sindir Penna tajam. Penna memang putri orang kaya. Namun bukan berarti ia sombong dan sok. Ia selalu berusaha menegakkan dan mengingatkan bila ada seseorang yang bertindak tak semestinya. Iya, dirinya sepeduli itu pada orang lain. Funa mengembalikan handphone-nya ke dalam tas yang ia bawa. Ia pandang Penna sinis. "Kenapa? Aku salah?" tanya Penna menantang. Funa membalas tatapan Penna tak kalah tajam. Ia tak terima mendengar ucapan Penna yang seakan menyudutkannya. "Katanya orang-orang jaman sekarang nggak menanusiakan manusia. Mau memanusiakan seperti apa bila ia sendiri tidak memanusiakan yang lainnya? Contohnya ya kayak kamu itu. Diajak ngobrol malah mandang handphone. Emang handphone yang ngajak kamu ngobrol?" lanjut Penna sengit. "Berisik! Biarkan saja Funa, Pen," sahut Bratra yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan dua wanita di sampingnya itu. "Orang yang nggak mau diingatkan biasanya susah menerima peringatan dari orang lain," lanjutnya. "Kalian sekongkol mau memojokkan aku?" tanya Funa dengan dengusan kasar. "Kami hanya mengingatkan kamu. Kalau cara kami mengingatkan membuat kamu nggak berkenan ya kami minta maaf," balas Penna lembut. Funa mendengus. 'Cih.. Enak banget habis mojok-mojokin sekarang minta maaf. Ibaratnya kalau pencuri minta maaf ke korbannya lalu korbannya dengan mudah memaafkan, penjara bakalan kosong dong,' gerutu batin Funa. "Daripada kalian berisik dan bisa memicu pertengkaran, ayo kita eksekusi lumutnya," kata Lura tegas. Ketegangan yang sempat tercipta berubah menjadi kebingungan. "Apanya yang mau dieksekusi, Lur? Maksudnya kita mau ACC ke Mas Radula sekarang?" tanya Bratra mewakili pertanyaan di benak rekan-rekannya. "Enggak. Kita buat awetannya sekarang," balasnya tenang. Tiga pasang bola mata rekan satu kelompok Lura membesar. Ini diluar dugaan mereka. "Lur!! Kamu jangan ngawur, ya!!" teriak Penna keras. "Kamu mau main curang?" "Berisik. Kalau kalian tidak mau nggak masalah. Aku hanya ingin jaga-jaga. Aku nggak mau kalau apa yang telah kita lakukan di sini sia-sia. Kalian tentu ingat bukan bahwa kita baru akan mengawetkan lumutnya di hari jadwal perkuliahan ST? Dan itu masih hari Kamis besok. Kalian nggak takut kalau lumut kita layu dan kering? Lalu kita satu kelompok gagal membuat awetan basah," jelas Lura dengan kalimat bujukan yang semuanya benar adanya. "Tapi kita punya lumut sebanyak ini, Lur. Mau buat apa? Dibuang gitu aja?" Kali ini Funa yang angkat suara. "Enggak. Mau kutumbuhkan di rumah. Biar kalau nanti mau pake lumut lagi nggak perlu jauh-jauh ke sini," jawab Lura enteng. "Ya kalau gitu kita nggak perlu buat awetannya sekarang. Lagian kita nggak bawa formalinnya kan?" "Masalah formalin gampang." Setelah Lura mengatakan itu, ia berjalan ke arah semak-semak yang sedikit masuk dari posisi mereka saat ini. Lalu diambilnya sebuah botol yang berisi formalin. "Aku juga sudah melubangi papan kalkirnya. Kita tinggal memilih lumut yang paling baik. Dan setelah dicuci kita bisa mengikatnya dengan benang," ucap Lura sembari menunjukkan kertas kalkirnya. Papan kalkir yang digunakan dilubangi dengan sebuah alat seperti solder hanya saja jarumnya berukuran lebih kecil. Alat tersebut harus disambungkan dengan listrik agar dapat digunakan. Biasanya, dalam melubangi kertas itu butuh sedikit penekanan agar kertas dapat berlubang. Setelah kertas kalkir berlubang, lumut yang telah dipisahkan—hanya satu untai saja atau individu, tubuh tunggal, tidak satu talus yang besar—dan dicuci, lumut tersebut diletakkan di antara lubang yang dibuat. Perlu diketahui bahwa lubang yang dibuat tidak hanya satu atau dua saja, tetapi disesuaikan dengan bentuk lumutnya. Dalam membuat awetan basah, haruslah dibagi tugasnya antaranggota kelompok. Ada yang memegangi lumutnya agar tidak lepas, ada pula yang menyiapkan benangnya. Lumut yang telah siap kemudian diikat dengan benang pancing dengan ukuran tertentu. Benang pancing ini sifatnya elastis sehingga memudahkan dalam proses pengikatan. Simpul ikatan diletakkan di belakang kertas kalkir yang tidak terdapat lumutnya. Terakhir, awetan basah yang dibuat haruslah memiliki identitas yang jelas. Identitasnya berupa nama lumut—nama spesies dan nama umum, tanggal pembuatan, dan sedikit informasi atau identifikasi tentang lumut. Hal ini tidak hanya berlaku untuk lumut saja, tetapi juga untuk awetan basah lainnya. Tujuan identitas adalah untuk memudahkan seseorang dalam menyimpannya. Juga agar tidak tertukar dengan awetan yang lain. Lura mengembuskan napas lega ketika lumut telah tertata cantik dalam botol kecil yang berisi formalin. Senyum tipis terukir di bibirnya. Ia pun senang karena teman-temannya bisa diajak bekerjasama dengan baik. "Wah.. bagus banget, ya," komentar Funa takjub. Bratra dan Penna pun menyetujui hal itu. Kerjasama diantara mereka membuat suasana panas yang sempat terjadi akhirnya kembali tenang. Mereka pun sudah saling memaafkan dan menyadari kesalahan masing-masing. Mereka sadar bahwa mereka sedikit kekanakan dalam merespons kejadian tadi. Mereka juga tidak ingin saat pulang dari praktikum lapangan dengan membawa dendam satu sama lain. "Kita kembali yuk. Kita harus meng-ACC-kan hasil lumut yang telah kita kumpulkan," ajak Lura. Penna, Funa, dan Bratra mengangguk pasrah. Mereka takut tidak mampu menjawab pertanyaan Radula dengan baik. Catatan: Kertas kalkir yang digunakan di sini merupakan kertas yang bahannya bercampur dengan sedikit plastik. Tiap-tiap sisi dilapisi dengan semacam lapisan putih untuk melindungi kertas itu. Atau gampangnya, kertas ini hampir sama dengan bahan untuk membuat kartu pelajar dan sebangsanya. Atau bila teman-teman mencetakkan sertifikat vaksin Covid-19, bahannya serupa dengan bahan tersebut. Begitu pula dengan lapisan putihnya hampir sama dengan itu. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penjelasan juga tulisan. Semoga bermanfaat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD