Ken dan Aku berjalan menuju parkiran SMA Garuda dengan seragam yang sudah mulai tidak rapi. Saat ini pukul dua siang. Matahari bertengger seolah tepat diatas kepalaku, memancarkan panas yang membuat keringat bercucuran.
"Tunggu sini, aku ambil motor dulu"
"Siap!"
Di bawah terik yang menyengat, aku menunggu Ken mengeluarkan motornya dari dalam parkiran.
Terlihat beberapa motor baru saja keluar, tapi aku belum melihat pria itu.
"Ken !" Panggil seseorang dari sisi kananku . Aku menoleh kearahnya , ternyata dia adalah Dira , siswi populer di sekolah yang dikenal sebagai siswi yang memiliki wajah glowing .
Aku terdiam , aku seperti tidak pantas berada di dekatnya. Kecantikannya membuatku malu untuk berada disampingnya .
"Ken, pulang bareng dong" Ucapnya pada Ken, saat pria itu sudah berada di depanku. Tidak! Lebih tepatnya depan kami, aku dan Dira.
Pria itu membuka helmnya, melihat ke arahku "Gue pulang sama Ayla" Ucap Ken, seraya menolak secara halus
Mataku terasa hampir saja keluar saat mendengar ucapan Ken. "Ayo naik Ay.." Suruhnya padaku
"Kasih satu alasan kenapa Lo gak mau pulang sama gue?" Kata Dira
Ken menarik napasnya panjang "Karena gue mau pulang bareng sama Ayla " Ucap Ken, konsisten pada penolakannya
"Ayo, Ay" Ken menyodorkan helmnya padaku
Aku menganggukkan kepala dan mengambil helm yang diberikan Ken. "Dir, duluan ya" Ucapku
Gadis itu tak menjawab, melainkan melihatku dengan tatapan tajam.
Baru aku duduk di jok motor Ken, pria itu langsung tancap gas tanpa berkata sesuatu pada Dira. Aku merasa tidak enak hati pada Dira, tapi apa boleh buat, pria itu yang melakukannya. " Ken, kenapa gak bareng aja sama Dira?"
"Jok motor aku khusus buat kamu, gak boleh dinaikin cewek lain." Katanya dengan sedikit tertawa.
Pria itu memberhentikan motornya, menyuruhku turun . "Turun"
"Loh kok?"
"Kita makan es potong dulu yuk" Ajaknya
Hampir saja aku berpikir kalau dia akan menuruniku di pinggir jalan dan memilih balik ke sekolah untuk pulang bersama Dira. "Makan es potong?"
"Iya, Ayuk" Lagi - lagi ia menarik tanganku. Sepertinya Ken mempunya hobi baru, yaitu menarik pergelangan tanganku
"Pak es potong dua ya" Ucapnya pada bapak penjual es potong
"Rasa apa mas?"
"Campur aja"
Bapak itu memberikan es potong dengan rasa coklat yang dicampur ketan hitam . "Jadi sepuluh ribu" Ucap bapak penjual es
"Ini pak uangnya, makasih " Ken membuka dompetnya dan memberikan uang sepuluh ribu kepada bapak penjual es tersebut
" Nih makan dulu , enak tau " Ken memberikan satu tusuk es potong padaku
Kebetulan sekali, cuaca yang menyengat sangat cocok untuk makan sesuatu yang dingin dan manis. "Emm.. enaknya" Ucapku terbuai dengan dingin yang menyapa tenggorokanku
Pria itu tersenyum, kedua lesung pipinya membuat aku hampir tidak bisa bernapas beberapa detik saat melihatnya. Aku sadar, pria itu sesekali melihat ke arahku, namun aku berusaha kuat untuk menahan rasa kepedeanku ini.
"Aku mampir kerumah kamu ya?"
Mataku membulat, aku melihat ke arahnya lekat "Mau ngapain?" Tanyaku
"Hehehe.. mau ketemu Mama, kangen" Jawabnya sambil tertawa
"Oke deh" Sahutku seraya menganggukkan kepalaku
°°°°°
"Assalamualaikum .."
"Walaikumsalam .."
"Ma, Ken kangen nih katanya sama Mama" Ucapku
"Hehehe.. masak apa Ma?" Tanya Ken sambil menyalami Mamaku yang sedang berada di ruang makan
Mama membuka tudung saji yang berada di meja makan, memperlihatkan beberapa potong daging rendang yang berada di dalam piring. "Mama masak rendang, kamu mau makan?" Tanya Mamaku pada Ken
"Pasti mau dong Ma" Jawab Ken dengan penuh semangat
Mamaku pun mengambilkan piring dan menyendokkan nasi untuk Ken. "Dagingnya kamu ambil saja sendiri ya" Ucap Mama menaruh sepiring nasi di depan Ken
"Siap, makasih Ma" Pria itu langsung mengambil dua potong daging rendang dari piring. Ia makan dengan sangat lahap.
"Ay.. kalau mau makan ambil sendiri aja ya" Ucap Mama sambil berjalan keluar
"Enak ya kamu, dateng langsung makan" Ucapku dengan bibir yang maju beberapa sentimeter
"Hehehe.. masakan Mama selalu enak" Sahutnya dengan sedikit tertawa
"masakan Mama? Itu kan mama aku" Ucapku dengan nada yang mulai meninggi
"Mama kita" Sahutnya dengan lembut
•••••
Setelah selesai makan, Aku dan Ken berjalan ke arah pekarangan belakang. Disanalah tempat aku dan dia menghabiskan waktu bersama. Kami menatap langit biru yang menyatu dengan gumpalan awan.
"Kalau ada seseorang yang bilang cinta ke kamu gimana?“ Tanya Ken dengan raut wajah serius
“Hahaha.. aku itu banyak minusnya, mana mungkin ada orang yang cinta sama aku“ Ucapku dengan sedikit tertawa.
Pria itu sedikit mendekat, mengembangkan bibirnya sedikit, membuat kedua lesungnya pipinya muncul. “Menurut aku, kamu punya kelebihan yang gak bisa aku temuin di orang lain“
“Hahaha bisa aja bikin aku melayang“ Sahutku kembali dengan tawa
"Aku serius Ay" Ucap Ken .
Aku melihat wajah Ken, yang benar-benar serius kali ini. Agar tidak berlarut- larut dalam pembicaraan ini, aku mengalihkan topik pembicaraan kami. “Dira kayaknya suka sama kamu deh" Ucapku
“Biarin aja, itukan dia yang suka“ Sahutnya dengan datar
Plakkk! Aku memukul kepala Ken pelan. “Aduhh sakit Ay.. “ Ringisnya seraya memegang kepalanya setelah aku pukul
“Kok biarin sih? Dira itu cantik, putih, glowing, populer lagi“ Ucapku dengan sedikit nada tinggi
Ken menghela napasnya berat. Menepuk bahuku dengan kasar.
“Untuk apa cantik, glowing, putih, populer, tapi kalau gak bikin nyaman?“
“Aku tanya sekarang sama kamu, emang cowok mau jalan sama cewek yang gak cantik? Cowok zaman sekarang itu lihat cewek dari wajah dulu“ Sahutku kesal
“Gak semua cowok kayak gitu Ay“ Ucap Ken datar
“Untuk dicintai aja harus cantik, putih, sexy, pokoknya harus sempurna“ Sahutku lagi
“Gak harus jadi yang sempurna untuk dicintai“ Ucap Ken dengan kedua sorot matanya yang menatapku lekat.
Jantungku berdegup begitu cepat. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa gugupku karena tatapan pria itu membuatku hampir merasa kehilangan oksigen.
Ken perlahan menakupkan wajahku dengan kedua telapak tangannya. Sorot matanya masih menatapku lekat. “Kamu harus selalu ingat, tidak harus jadi yang sempurna, cukup jadi diri kamu sendiri, dan buat orang lain disekitar kamu merasa nyaman. Itu udah lebih dari cukup“ Ucapnya dengan kedua sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman.
Kedua mataku membulat saat merasakan telapak tangan Ken yang menyentuh pipiku. Entah kenapa jantungku berdegup semakin cepat.
“Aku pulang dulu ya“ Ucap Ken seraya mengacak-ngacak pucuk rambutku pelan
“I.. iya.. hati – hati ya“ Sahutku sedikit gugup
Pria itu bangkit dan berjalan menuju ke ruang depan. “Ma, Ken pulang dulu ya, makasih rendangnya“ Ucap Pria itu sambil menyalami mama ku yang sedang duduk di ruang depan
“Sama – sama sayang, hati – hati ya“ Sahut Mama mengelus kepala pria itu
Ken berjalan keluar rumah, suara mesin motornya pun terdengar dan perlahan menghilang. Aku menghampiri mama yang sedang duduk diruang depan. Melepaskan tubuhku dengan keras di sofa. “Ma, beliin skincare dong“ Pintaku
“Skincare? Benda sejenis apaan itu?“ Tanya Mama
“Itu loh Ma yang buat perawatan kulit gitu“ Jawabku
“Buat apa beli gituan?“
“Biar cantik Ma.. “
Mama menghela napasnya berat, lalu mengelus rambutku lembut
“Kecantikan seseorang itu bukan terlihat dari skincare atau apapun yang ia pakai. Melainkan dari perilaku dan tutur katanya pada siapapun yang berada disekitarnya“ Ucap Mama seraya memberikan siraman rohani kepadaku
“Ahhh Mama.. “ Lirihku
“Kamu tanpa pakai skincare aja, Ken sudah nempel, apalagi kalau pakai“ Goda Mama
“Apaan sih Ma, aku tuh sama Ken cuma temanan aja" Ucapku malu-malu
"Yakin teman? Tapi kok setiap malam Minggu Ken kesini ya? Bahkan jika mama hitung , dalam seminggu itu, Ken kesini bisa 3-4 kali"
"Udah ah aku capek, mau ke kamar aja.“ Lebih baik aku ke kamar, daripada mendengarkan ucapan Mama yang semakin tidak karuan.
Aku masuk ke dalam ke kamar. Mengambil Poppo dari dalam tas dan melihatnya lekat. Gantungan kunci berbentuk sapi itu benar-benar menggemaskan. Aku merasa sangat senang diberikan hadiah Poppo.
“Lucu ..“ Ucapku dengan senyum yang mengembang di bibirku.
Selama beberapa menit, aku merasa seperti orang bodoh yang tersenyum pada sebuah gantungan kunci. Aku rasa aku sudah gila . “Aduhhh Ay, kenapa jadi kayak orang gila sih“ Ucapku tersadar
Aku kembali melihat Poppo yang masih berada di tanganku . “Tapi sumpah, ini benar – benar lucu“ Ucapku sambil menaruh Poppo di pipiku
Aku merasakan jantungku yang berdegup cepat saat aku bersama Ken. Senyumku pun mengembang tanpa aku sadari saat aku bersamanya. Apa aku menyukainya? Ku harap tidak! Karena Ken begitu sempurna untuk aku yang banyak memiliki kekurangan.
Aku merasa tidak pantas berada di dekat Ken, walaupun aku tidak buruk, aku merasa kalah dengan gadis lainnya yang menyukai Ken. “Apa aku pantas menyukai Ken?“