Chapter 2

911 Words
Matahari menyelinap melalui celah-celah jendela kamarku. Dering alarmku berbunyi dengan sangat kencang di telingaku. Membuat aku membuka mata dan melihat ke arah benda berbentuk bulat yang berada di atas meja itu. "Cepat banget sih udah jam 6 aja, padahal masih ingin berdua sama kasur" Ucapku dengan rasa malas meninggalkan tempat tidur kesayanganku "Ay, udah bangun belum? Ken sudah nunggu tuh" Teriak Mama dari luar kamar "Iya Ma.." Sahutku malas Kurang lebih dua puluh menit aku berada di kamar mandi. Setelah itu, aku segera memakai seragam. " Ahh rasanya malas banget sekolah hari ini" Lirihku sambil berdiri di depan cermin Tok .. tok .. tok .. "Masuk" Ucapku Krek .. Pintu kamarku perlahan terbuka. Mataku membulat saat melihat seseorang yang berada di balik pintu itu "Ken! Ngapain?" Tanyaku "Lama banget sih" Gerutunya sambil perlahan masuk ke kamarku "Ih, jangan masuk!" Ucapku dengan sedikit nada tinggi Pria itu merebahkan tubuhnya di tempat tidurku. Menarik napasnya panjang "Kenapa minta beliin skincare sama Mama?" Tanya Ken Keningku membentuk sebuah kerutan-kerutan kecil. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku meminta Mama untuk dibelikan skincare, sedangkan kemarin dia sudah pulang. "Kamu tahu dari mana?" Aku bertanya balik padanya Pria itu mengambil posisi duduk. "Mama tadi ngomong ke aku" Jawabnya tenang "Dengar ya, kamu tuh udah cantik, gak perlu pakai skincare atau apapun itu" Ucap Ken seraya bangkit dan melihatku dengan lekat. Aku merasa jantungku berdegup kencang lagi. "Udah ayo berangkat" Ucapku mengalihkan pembicaraan dan langsung menarik tangan pria itu keluar dari kamarku "Besok gak boleh masuk ke kamarku lagi!" Decakku Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Hehehe.. iya iya maaf ya" Sahutnya dengan sedikit tertawa kecil "Ay kamu lama banget sih" Ucap Mama saat melihatku baru keluar kamar dengan Ken "Mama ngapain bilang sama dia kalau aku minta beliin skincare? Kenapa juga mama bolehin dia masuk kamar aku?" Tanyaku dengan berbondong-bondong "Apa mama salah bilang sama Ken, kalau kamu minta beli skincare?" Tanya Mama padaku "Ih, mama aku kan jadi malu" Aku berbisik pada Mama "Sudah sana berangkat, nanti telat" Ucap Mama "Iya.. iya.. " Sahutku "Ma, berangkat dulu ya, Assalamualaikum" Ucap Ken menyalami mama "Assalamualaikum Ma.." Ucapku sambil menyalami mama setelah Ken "Walaikumsalam. Hati-hati ya" Sahut Mama °°°° Jam dipergelangan tanganku menunjukkan waktu pukul 06.50 WIB. Lebih tepatnya sepuluh menit lagi, bel masuk akan berbunyi. "Terima kasih" Ucapku sambil memberikan helmnya pada Ken . "Sama-sama" Ken berjalan sedikit ke arahku, merapikan beberapa helai rambutku yang berantakan karena tiupan angin tadi. "Nah, rapi.. " Ucapnya dengan senyum yang membuat kedua lesung pipinya muncul. "Ayo ke kelas" Ken menggenggam tanganku erat. Pria itu benar-benar tidak malu saat menggenggam tanganku di depan banyak orang. "Ken itu sama Ayla temanan atau pacaran sih?" Bisik salah satu siswi "Temanan kali" Sahut siswi lain "Gak mungkin temanan sampai setiap hari berduaan terus" Celetuk siswi lain Aku menundukkan kepalaku. Aku diam dan mengikuti Ken yang terus menggenggam tanganku. "Akhirnya datang juga kalian" Ucap Ayana, teman dekatku selain Ken Kedua sorot mata Ayana tertuju pada tanganku dan Ken yang masih menggenggam. "Ekhm.. masih pagi udah gandengan tangan aja" Goda Ayana Wajahku mulai memerah. Aku segera melepaskan tangan Ken dengan kasar. "Teman rasa pacar ya gitu" Celetuk salah satu temanku yang berada di dalam kelas "Enak ya punya teman rasa pacar." Sahut Gulmi , teman sekelasku juga Bel masuk berbunyi, aku dan Ken langsung duduk di kursi kami masing-masing. "Nanti istirahat mau makan apa?" Tanya Ken "Baru juga masuk, udah nanyain makan aja" Jawabku sedikit ketus "Kan nanya aja" Ucap Ken dengan sedikit tertawa sambil mengacak-acak pucuk rambut pelan "Ay, kamu tau gak, apa bedanya kamu sama 1345678910?" Tanya Ken "Apa?" "Gak ada 2 nya" Jelas Ken dengan tertawa sambil menyenggol bahuku "Apaan sih gak lucu!" Decakku malu-malu Ken menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Hehe.. sekali-sekali mah gak apa-apa, Ay" Cukup melihat tawanya saja, jantungku kembali berdebar, kakiku merasa gemetar. Padahal hal kecil itu sering sekali dilakukan oleh Ken. "Apa aku benar-benar menyukainya?". Kuharap tidak. Aku harus menguatkan diriku agar tidak terpesona oleh ketampanan pria itu. Selama pelajaran berlangsung, aku menyadari kalau pria yang berada disampingku terus melihat ke arahku. "Ngapain sih ngelihatin terus?" Tanyaku sambil melihat kearahnya "Suka aja" Jawabnya dengan senyum yang kembali mengembang Aku rasa, selain hobi menarik tanganku, Ken juga memiliki hobi senyum yang setiap saat ia lakukan. Aku kembali menghadap depan, membiarkan pria itu terus melakukan apa yang ia suka. Bel istirahat berbunyi. Aku, Ken, dan Ayana berjalan menuju Kantin. Kalian jangan salah paham dulu, Ken hanya ikut makan bersama kami, setelah itu dia pergi untuk berkumpul bersama dengan persatuan pria populer lainnya yang diberi nama Warriors . "Mau makan apa?" Tanya Ken "Pengen bakso deh" Jawab Ayana "Kamu?" Tanya Ken padaku "Ikut kalian aja" Jawabku Saat kami sedang berjalan di lorong sekolah, mataku tertuju pada gadis yang sedang duduk di kursi panjang. Gadis itu bangkit dan tiba-tiba memegang tangan Ken dengan erat. "Ken, ke kantin yuk" Ajak gadis itu, yang tidak lain adalah Dira. "Maaf, gue ke kantinnya sama mereka aja" Sahut Ken menunjuk Aku dan Ayana "Ahh ayo dong Ken" Dira tetap memaksa Ken, sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Ken. Hatiku terasa kesal melihat perlakuan Dira pada pria itu . Apa mungkin aku cemburu ?. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku hanya sebatas teman Ken. "Sorry ya Dir, gue gak bisa sama Lo" Ken melepaskan genggaman tangan Dira dan berjalan meninggalkan gadis itu. Aku dan Ayana hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Ken yang berjalan terlebih dahulu. "Ihhhh Ken!" Decak Dira dengan suara keras
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD