Aku kesiangan!
Jantungku berdegup dengan sangat kencang. aku langsung turun dari ranjang dan buru-buru menggunakan pakaianku kembali. Terlihat Bram masih lelap tertidur. Dia mendengkur pelan seiring dengan nafasnya yang tenang. Sekilas aku memandangnya dalam-dalam, Pria-ku itu mau dalam keadaaan apapun tetap ganteng saja. Dibalik wajahnya yang sangar, ternyata juga menyimpan keteduhan. Aku pun mengecup bibirnya sebagai ungkapan terima kasih sekaligus sayang.
Aku membuka pintu sedikit untuk melihat kondisi diluar. Setelah di rasa aman, aku pun keluar dari kamar Bram dan beringsut menuruni tangga.
Jantungku masih berdegup kencang karena bangun tiba-tiba saat menyadari hari sudah siang. Ketika akan menaiki tangga menuju kamar. aku berpas-pasan dengan Nala yang sudah siap dengan seragamnya.
Sejenak, dia menatapku tajam. Sorot mata kebencian terpancar di sana. Seakan-akan aku membuat kesalahan fatal yang tidak termaafkan.
"Nala, tunggu Mama ya Nak. Mama siap-siap dulu. Nanti kita berangkat bersama-sama." ujarku lembut. Tapi dia membalasnya dengan perkataan yang ketus.
"Ini sudah jam berapa Ma? Bisa telat Nala nungguin Mama! Udah Nala mau berangkat dulu."
Nala berlalu dari hadapanku begitu saja. Sama sekali tidak menghargai diriku lagi. Memang salahku juga kenapa aku sampai kesiangan. Dia pasti bertanya-tanya darimana saja aku, tapi pertanyaan itu sama sekali tidak terlontar dari mulutnya membuatku sedikit lega. Semoga saja dia tidak tahu tentang hubunganku dengan Bram.
Lalu, aku bergegas naik ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
***
Ujian akhir semester telah selesai, waktunya untuk mengoreksi lembar jawaban para siswa. Pada hari itu ruang guru sangat sibuk dengan lembar-lembar yang sudah tertumpuk di dalam kelas. Sebagian diantara mereka ada yang membawanya di kelas untuk di koreksi bersama murid.
Aku yang datang terlambat pun sedikit lega, karena kepala sekolah tidak ada di tempat. Dia sedang ada rapat dengan kepala sekolah di balai kota. Dengan tenang, aku masuk ke ruang guru dan mengacuhkan tatapan tidak suka dari guru yang lain terhadapku. Bodo amat sama mereka.
Sekarang waktunya mengoreksi lembar kerja siswa!
Aku gusar ketika melihat lembar jawaban dari Rendy, anak otomotif yang badung itu. Bagaimana tidak dari sekian puluh pertanyaan bahasa inggris hanya dua saja yang benar. Sebagai guru yang mengajar mata pelajaran itu, aku merasa gagal untuk mengajarinya. Aku harus memberitahunya untuk memberikannya les secara privat untuk mendongkrak nilainya.
Beberapa kali ponselku bergetar, aku pun mengabaikannya karena sedang sibuk mengoreksi. Tapi sekarang ponsel itu bergetar terus-terusan, aku yang merasa terganggu pun segera membukanya.
[Apa kabar, Bu Maya? aku kangen banget sama ibu. Boleh kita bertemu Bu?]
Begitu isi pesan teratas itu setelah sekian banyak huruf 'P' yang dikirim oleh Pak Joko. Aku memutar bola mata jengah. Males banget rasanya menanggapi Pak Tua yang lemah itu. guru yang dipecat secara tidak hormat gara-gara menilap anggaran sekolah. Aku hanya menganggapnya selingan saja, tapi dia menganggapnya serius. Apalagi sekarang aku sudah punya Bram, jadi aku sudah tidak butuh dia lagi.
Setelah jam sekolah selesai, aku pun bergegas untuk mencari Rendy. Tadi, aku sudah menyuruh beberapa murid untuk mencarinya supaya mau menghadapku, tapi entah badung atau apa, dia tidak datang sama sekali membuatku gemas.
Akhirnya, aku menemukannya di kantin sekolah. Dia sedang duduk dan berhadapan dengan seseorang yang familiar.
"Eh, Bu Maya." tukas Pria tua itu sambil berdiri. Ternyata Pria itu adalah Pak Joko. Sekilas aku melirik ke arahnya sinis dan beralih ke Rendy.
"Rendy, Nanti sore kamu datang ke rumah ibu, ibu mau memberikanmu les tambahan!"
"Kalau saya boleh ikutan les juga enggak Bu." Seloroh Pak Joko dengan ekspresi wajah yang memohon. Tapi bagiku itu terkesan sangat menjijikan.
"Enggak boleh! Lagian Pak Joko ngapain ke sini? Bukannnya sudah dipecat?" sahutku sinis.
"Saya ke sini kan mau ketemu Ibu. Saya kangen sama ibu." ujarnya seperti anak kecil.
"Pak Joko, stop ganggu saya lagi. Atau mau bapak saya adukan ke suamiku hah?" ancamku. Aku menoleh ke Rendy "Dan kamu Rendy, ibu ingatkan sekali lagi supaya nanti sore kamu datang ke rumah ibu. Kalau sampai kamu tidak datang, maka ibu tidak mau memperbaiki nilaimu. Mengerti kamu?"
Dia hanya mengangguk pelan. "ok, kalau begitu saya permisi dulu." Ucapku sambil membalikan badan. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Pak Joko berteriak, "Masa ibu sudah lupa waktu kita berduaan di ruang multimedia?"
Aku menghentikan langkahku. Wajahku rasanya memanas. Terlebih masih terlihat banyak murid yang menoleh tatkala Pak Joko berteriak sepertu itu. tapi aku harus berusaha tenang dan kembali melangkah.
***
Hari sudah menjelang magrib tapi Rendy tidak kunjung datang. Membuatku sebal sekali. aku sudah kehabisan akal bagaimana cara menghadapi murid yang satu itu. bahkan untuk bisa mendongkrak nilainya pun, aku pun harus menyediakan diri untuk memberikannya les.
Yang lebih membuatku kesal adalah Nala yang tidak kunjung pulang. Aduh, kemana sih dia? membuatku selalu khawatir saja.
Tiba-tiba dari kaca jendela, aku melihat gadis itu berjalan dengan penampilannya seperti kemaren. tampak kumal dan kucel. Aku pun berdiri bersiap untuk menyambutnya dengan cercaan pertanyaan. Apa yang dia lakukan selama ini? kenapa dia bisa seperti itu?
Tapi gadis itu tidak masuk ke dalam rumah tapi berbelok ke arah Kos Pria. Aku mengernyit dahi, apa yang akan gadis itu lakukan di kos Pria? Penasaran aku pun mengikutinya sampai naik tangga setengah sehingga Nala tidak bisa melihatku. Aku mengira dia akan bertemu dengan Bram, tapi ternyata aku salah. Dia menuju kamarnya Novian. Beberapa saat kemudian Novian keluar dan memberikan sebuah Kaset dvd.
Kaset dvd? Seketika jantungku berdegub dengan sangat kencang. Pikiranku menjadi traveling kemana-mana. Begitu sudah mendapatkan dvd itu, Nala beranjak ke tangga. aku pun bergegas turun mendahuluinya untuk sampai ke rumah duluan. Lalu aku bersembunyi di balik pintu. Gadis itu pun masuk ke dalam kamar dan menutup kuncinya rapat-rapat.
Aku melangkah mengendap-endap menuju depan kamarnya dan mengupingnya. Beberapa saat kemudian, aku mendengar samar-samar suara tangisan. Ingin sekali aku membuka pintu dan menanyakan apa yang sebenernya terjadi. Tapi aku takut kalau gadis itu justru marah dan mengusirku.
Aku kebingungan menghadapi Nala. Mas Benny, suamiku sama sekali tidak perduli dengannya. dia lebih mementingkan karirnya daripada keluarga. Mau Bicara dengan Bik Yem. Ah, aku sudah terlanjur kecewa dengannya.
Jadi aku meninggalkan kamar itu dengan berbagai pertanyaan yang bercokol di benakku yang membuatku kebingungan. Mungkin esok hari, kalau situasinya sudah tenang. Aku akan berbicara dengannya. semoga dia mau terbuka.