"Masuk Bu." Ujarnya.
Aku pun melangkah masuk. Entah kenapa, setiap perkataanya seolah membiusku sehingga aku tidak sanggup untuk menolaknya. Dia memperbaiki posisi bersandarnya ketika aku mendekat.
"Mas Bram, kok berani telanjang bulat seperti itu? pintunya kamarnya terbuka lebar lagi, nanti kalau ada anak kos yang lihat gimana?" tegurku.
"Lho memangnya kenapa kalau mereka lihat, Bu ? Ini 'kan kos laki-laki. Jadi enggak masalah 'kan?" jawabnya lugas, seakan itu bukan masalah besar.
"Lagian saya telanjang seperti ini kan untuk ibu." Imbuhnya dengan suara pelan yang menggoda. Aku memalingkan wajah sambil mengigit bibir. Sebenernya, nuansa hati ini lagi gak enak gara-gara ulah Novian tadi. Tapi, mana mungkin aku menolak pria pujaan ku itu kan?
"Sini Bu." Dia bangkit sebentar untuk menarik tanganku sehingga aku terjengkang dan jatuh tepat di pelukannya.
"Ayo kita lanjutkan yang tadi pagi Bu." ajaknya. Aku mencoba untuk lepas dari pelukannya dengan cara mendorong dadanya. Tapi apa daya, dia terlalu kuat. Bahkan yang kudapat adalah rasa sakit karena dia mengeratkan pelukannya, sehingga kedua payudaraku tergencet dengan dadanya yang bidang.
"Pak, jangan dulu Pak. tutup pintunya dulu." Sergahku.
"Sudah ibu jangan khawatir, semua anak kos sudah tertidur Bu. mereka enggak mungkin melihat kita."
"Tapi Pak, Ahhh." Tangan kirinya tiba-tiba menyusup ke dalam lubang senggamaku lewat belakang, menggobok-obok isinya yang sudah basah kuyub, sisa persenggamaan dengan Novian tadi.
"Lho, kok sudah becek Bu?" tanyanya. Sementara aku sibuk mendesis tidak karuan. keenakan dengan permainan jarinya yang gempal.
"Biar sana bikin semakin becek ya Bu?" tantangnya. Aku hanya menggelinjang keenakan saat tangan itu semakin liar bermain di bawah sana. Uh..hmmm... hanya itu yang keluar dari mulutku, perwakilan atas rasa ini.
Tapi, aku berusaha untuk tidak terseret oleh arus birahi yang menggelora. Mempertahankan logika walau hanya sedikit. Aku tidak boleh ceroboh untuk kedua kalinya. Sekali lagi aku berusaha meronta dari pelukannya.
"Kalau bapak tidak mau menutup pintunya, saya akan teriak!" Tandasku .Lalu seketika dia menghentikan permainannya. Dia mengendorkan pelukannya yang sedemikian kuat. Awalnya aku sedikit kecewa karena harus melepas kenikmatan itu, tapi semua kulakukan karena aku tidak mau masalah besar kembali terjadi.
Aku bangkit dari tempat tidur dan berbalik badan . tapi tiba-tiba, Bram menarikku lagi hingga posisi terduduk dan meremas-remas dua bulatan indah yang masih tertutup daster. Seketika aku merintih. Yang bikin aku merinding ketika melumat tengkukku dengan nafasnya yang menderu hangat.
"Bu Maya." bisiknya. Suaranya yang lirih dan serak semakin menambah libidoku hampir saja menenggelamkan kesadaranku.
"Uhhh... Bram..." jawabku.
Dia menaikan daster yang ku pakai sampai ke atas p******a sehingga dia bisa leluasa untuk memainkan kedua bulatan indah, Lalu mencubit putingnya dan menariknya ke samping.
"Kalau Bu Maya mau teriak. Teriak saja,Bu." ujarnya sambil melumat tengkukku beringas, sehingga aku merasakan ludahnya yang bau alkohol itu menempel di sana. Gila! Bram memang tipe Real Eksibisionis! Dan dia memaksaku untuk melakukan hal yang sama juga.
Setelah daster terlepas, dia langsung membantingku ke ranjang, menindih tubuhku sehingga aku tidak leluasa bergerak. Sementara, mataku tetap tertuju ke arah pintu. takut kalau-kalau ada orang yang memergoki kami. Tapi ketakutan itu sama sekali tidak di rasakan oleh Bram. dengan cueknya, dia memberikan cumbuan dan sentuhan yang membuatku hampir melayang ke langit yang tujuh.
"Bu. boleh saya masukan rudalnya sekarang?" tanyanya yang langsung aku jawab dengan anggukan. Bram benar-benar menguasai seluruh indra dalam diriku, sehingg aku seperti b***k yang hanya mengangguk saja.
Tubuhnya menegak. Dia mengelus-elus batangnya yang berurat dan keras. sejenak dia meludahinya dan memelintirnya. Sementara aku sudah mengeliat tidak sabar.
"Slebb!" benda itu dengan mudahnya masuk ke dalam liangku. Tidak seperti tadi pagi yang sempat merasakan sakit yang luar biasa. Mungkin liangku sudah terbiasa dengan batangnya itu. Lalu, dia mulai memompa sehingga terdengar suara licin yang indah.
Terbuai sungguh aku terbuai. Keperkasaan Bram memang tidak ada duanya. Bahkan sekarang aku sudah mengabaikan pintu yang terbuka itu. fikiranku hanya terfokus dengan kenikmatan yang Bram Berikan. Kenikmatan Pria sejati yang membuatku menjadi wanita yang sebenernya.
Sedang asik bergoyang, menyeimbangkan dengan sodokan Bram, tiba-tiba dia berhenti. Aku yang sedari terpejam pun membuka mata.
"Bram, kok berhenti Bram! ayo lanjutkan lagi sayang." pintaku sambil mengerakan pantatku maju mundur. Tapi Bram tidak bergeming.
"Maukah Bu Maya menjadi Wanitaku." Pertanyaannya membuatku terhenyak. Aduh, bisa-bisanya Bram berkata seperti itu di saat 'genting' seperti ini.
"Tapi, aku sudah memiliki suami Bram." lirihku seraya membuang muka. Aku tidak kuat menatap mata elangnya.
"Saya tidak perduli kalau Ibu sudah punya suami. Yang aku mau ibu menjadi wanitaku. Gimana Bu?"
Dalam posisi terbaring, aku terdiam. aku tidak faham dengan maksud perkataanya. Wanitanya, apa yang di maksud aku harus menjadi pacarnya? Atau istrinya?
Ketika sedang berpikir, kewanitaanku berdenyut-denyut minta untuk dihujam lagi. Ah, bodo amat. Aku jawab iya aja supaya dia mau melanjutkan lagi.
"Iya Pak, saya mau."
"Jadi ibu mau jadi istri saya?"
"Tapi Pak?"
"Ssttt..." Dia menaruh telunjuknya di tengah bibirku sambil menghujam dengan sekali sentakan, hingga membuatku melenguh keenakan. Lalu menariknya dengan pelan-pelan dan kembali menghujamnya lagi.
"Yakin ibu enggak mau aku sodok setiap hari?" tanyanya setelah menyentak tubuhku ke sekian kali.
"Ah, saya mau Bram."
"Terus?"
"Saya mau jadi istri kamu Bram, dan saya akan ceraikan suami saya." Ucapku refleks. Ya Ampun, dari mana pikiran seperti itu bisa terlontar dari mulutku. Aku yang dikenal sebagai wanita tegas dalam pendirian menjadi rapuh di hadapan Pria ini. Hanya dialah yang mampu mengobrak-abrik egoku.
"Jadi mulai sekarang kita menjadi pasangan suami istri ya Bu?"
"Iya Bram, kamu suami baruku sekarang."
"Bagus, karena sekarang saya adalah suami ibu, maka saya akan puaskan kebutuhan batinmu Bu. Ibu siapkan bertempur sampai pagi."
"Ah, siap Bram. ayo lakukanlah." Pintaku.
Setelah itu, Bram benar-benar membuktikan perkataannya. Dia melakukannya sampai pagi. aku sampai kuwalahan sendiri menghadapinya. Tapi, untung saja dia bisa menyeimbangiku. Dia tahu kapan harus 'on' dan kapan harus slow. Dia sangat tahu cara memperlakukan wanita seperti apa.
Meski tenaganya staminanya berbanding lurus dengan keperkasaannya, dia tidak egois, tidak juga dominan, walau agak sedikit memaksa, kasar dan nakal. Tapi aku suka.
Kini, setelah lima ronde bermain, aku memintanya untuk beristirahat. Dia pun tidak keberatan. Dia beranjak dari tempat tidur . Menyalakan rokok dan berjalan ke depan kos. Tapi sebelum itu dia menggunakan boxer terlebih dahulu.
Setelah menghabiskan rokoknya, dia kembali ke kamar. Sekilas, dia melihat ke arah nakas.
"Botol yang ada di sini dimana?" tanya sambil melihat ke arahku.
"Sudah habis Bram." ucapku. Tadi ketika akan bersenggama dengan Novian, aku meminum cairan berbau anyir itu sampai habis.
"Gimana rasanya."
"Enak banget Pak."
"Mau lagi?"
Aku mengerling genit. Dia pun langsung Menurunkan celananya. Dan dia bersiap untuk melakukan ronde berikutnya.