Cairan Kejantanan Untuk Bu Maya

1064 Words
Pejuh untuk Bu Maya. Tolong diminum ya Bu. Supaya lebih awet muda. Begitu tulisan yang k****a di secarik kertas itu. Aku tersenyum-senyum sendiri. kuraih botol berisi cairan putih itu dan membuka botolnya. Aroma anyir seketika menyeruak menusuk hidung, tapi aku sama sekali tidak merasa jijik sedikitpun, justru melocat kegirangan seperti anak gadis yang mendapatkan boneka baru. "Bram, So sweet banget sih." seruku. Ingin rasanya aku tinggal di dalam kos itu. tapi aku mengurungkan niatku. Takut kalau-kalau anak kos yang lain curiga kalau aku ada di dalam kos itu. akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah sambil membawa botol itu. Begitu sampai di depan kos, aku di kagetkan dengan sosok Novian yang ngekos tepat di sebelah kamar Bram. Pemuda yang baru masuk kuliah itu terlihat mengurut-urut sesuatu yang keluar dari risletingnya. "Novian! Apa-apaan kamu!" hardikku sembari menatapnya tajam ke arahnya. "Bu Maya, punyaku sudah tegang Bu, aku sudah tidak tahan lagi." Ujarnya sambil mendekatiku. dia merentangkan tangannya dan bersiap memelukku. Tapi aku buru-buru mendorong tubuhnya. "Maksud kamu apa Hah? Jangan kurang ajar sama saya." Bentakkku dengan suara tertahan. Aku takut kalau sampai jadi perhatian anak kos yang lain. Terlebih aku tertangkap basah oleh Novian, ketika keluar dari kamarnya Bram. "Sudahlah Bu, Ibu jangan Munafik! Mas Bram, anak kos baru itu aja boleh kurang ajar sama ibu. Masa Aku enggak." Tuturnya dengan senyum menggoda. Duh, bagaimana dia bisa tahu aku sudah bercinta dengan Bram? bisa hancur reputasiku kalau sampai dia menyebarkannya. Aku hanya menunduk. "Pasti ibu kaget 'kan? Kenapa saya bisa tahu?" dia menaikkan sebelah alisnya. "Jangan sok tahu kamu." bantahku tanpa menoleh ke arahnya. "Tadi pagi saya masih di kos lho Bu, saya denger suara desahan Bu Maya kenceng banget dari dalam kamar Mas Bram." jelasnya yang membuaku begidik. padahal aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan teriakanku, tapi permainan Bram yang begitu nakal, membuatku lepas kontrol. "Untungnya, anak kos yang lain sudah pergi, jadi mereka tidak tahu. hanya aku yang tahu kebejatan ibu dengan Bram." ujarnya sambil menekan kata-kata terakhirnya yang membuatku sontak melotot ke arahnya. Kata "kebejatan" itu begitu mengusik hati. Meski apa yang apa yang aku lakukan adalah sebuah 'kebejatan' tetapi aku tidak sudah dikatain seperti itu. Apalagi sama anak kemaren sore yang tidak punya tata krama seperti dia. Plak! "Kurang ajar kamu! kamu dididik tata krama gak sih sama orang tuamu! mulutmu lantam sekali!" Geramku dengan nafas terengah-engah. Anak itu menoleh sembari memegang pipinya yang memerah karena bekas tanganku. "Saya memang bandel Bu. Tapi sebandel-bandelnya saya, saya masih tahu aturan. Bukannya seperti ibu yang main belakang dengan pria lain!" bantahnya yang membuat emosiku bergejolak. Bisa-bisanya dia membalikan omongan secara tajam seperti itu. "Saya punya bukti lain kalau tadi pagi ibu ada di kamar Mas Bram. sebentar." Dia melangkah ke kamarnya dan kembali dengan membawa ponselnya. sejenak dia menggeser layarnya dan memberikannya kepadaku. Dengan penasaran, aku meraih ponsel itu dan melihat lamat-lamat rekaman videonya. Di sana terekam kejadian saat Bram memancingku dengan memain-mainkan celana dalamnya sehingga aku kepincut untuk mendekatinya. disitu juga terlihat jelas kalau aku dan Bram masuk ke dalam kamar. "Asal ibu tahu saja, kalau aku sebenernya memasang kamera kecil di atas jendela. itu dia." dia menunjukan kamera kecil yang terpasang tepat di atas kusen jendela. Kalau dilihat sekilas seperti aksesoris yang tertempel di dinding. Tapi siapa sangka kalau itu ternyata adalah itu adalah kamera yang bisa merekam 180 derajat di depannya, yang otomatis depan kamar Bram juga bisa terekam. "Awalnya saya iseng saja sih, Bu. Menaruh kamera di depan kamar. ya daripada enggak ke pake. Tapi kamera itu ternyata berguna juga ya." Jelasnya dengan suara terkikik. Belum hilang rasa heranku, dia merebut ponsel itu kembali dan menggeser layarnya. Lalu dia menyerahkannya lagi kepadaku. "Sekarang coba Ibu besarkan volum suaranya." Titahnya. Di sini, aku merasa wajahku yang seperti di siram air panas, tatkala melihat rekaman di depan pintunya. Ya, yang terlihat di video itu cuma pintu kamar Bram, tapi kalau volum suaranya di besarkan, terdengar suara desahanku yang membabi buta, seperti orang kesetanan. Agaknya tadi pagi diam-diam dia merekamnya. "Gimana Bu? Semuanya sudah jelas kan? " Katanya seperti petir yang menyambar-nyambar. Menghancurkan ketenangan di jiwa ini. Membuatku sama sekali tidak berkutik. Ingin rasanya aku menghancurkan ponsel ini, lalu membuangnya jauh-jauh untuk menghilangkan jejak. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya kalau pemuda tanggung di depanku ini telah menyimpan file video itu di tempat yang lain. tinggal menunggu waktu untuk di sebarkan saja. "Lagipula, sekarang ibu tertangkap basah oleh saya keluar dari kamar Mas Bram dan membawa botol putih itu." ujarnya sambil menujuk ke arah botol itu. "Itu pasti isinya Pejuhnya Mas Bram ya? Uh, pantes saja ibu tergila-gila dengannya, pejuhnya aja kentel gitu hehe." Aku hanya menunduk, menutupi wajahku yang seperti kepiting rebus. Mau marah, aku enggak bisa karena dia memegang rahasia terbesarku. "Bu Maya, Masa Mas Bram aja yang dienakin Bu. Novian juga mau dong merasakan jepitan ibu." Dia meraih tanganku untuk memegang k*********a. dia mengerak-gerakan tanganku dengan gerakan mengurut-urut batangnya yang tidak terlalu besar itu. aku hanya pasrah dengan kelakuannya yang kurang ajar itu. untung saja, anak kos yang lain tidak ada yang sampai keluar kamar. kalau ada pasti mereka keheranan melihat adegan itu. "Yuk sekarang, kita ke kamar, Bu." Ajaknya sambil memegang tanganku yang masih mengurut-urut batangnya. *** Setelah selesai menggarapku, Terlihat Novian tertidur kelelahan. Memang, kebanyakan tenaga muda seperti dia belum berpengalaman dalam mengatur tempo. Yang penting hasratnya terpuaskan tanpa memikirkan pasangannya. Dipinggir ranjangnya, aku terdiam. memikirkan kejadian yang sudah-sudah. Bagaimana keteledoranku pagi itu berbuah bencana yang hebat. Mendapat surat peringatan pertama dari kepala sekolah dan sekarang harus melayani nafsu bocah yang belum matang seperti Novian ini. Tapi walaupun begitu, entah kenapa tidak menimbulkan rasa jera di dalam hatiku. Justru membuatku ketagihan untuk bercinta dengan Bram. Hanya keperkasaannya yang mampu menggagahi kewanitaanku hingga terpuaskan. Aku menoleh ke arah Novian, memastikannya tertidur lelap. ketika akan beranjak, dia bangun. "Mau kemana Bu?" tanyanya. "Mau pulang." Jawabku singkat. "Terimakasih ya Bu, kapan-kapan lagi ya." Ingin kubantah perkataanya. Tetapi aku hanya melempar senyum kepadanya. senyum kecil yang dipaksakan. Begitu aku memakai bajuku kembali. Aku pun keluar dari kamar itu. Ketika aku akan melewati kamar Bram. Terlihat kamarnya terbuka lebar. Aku menoleh dan mendapati Bram sedang bersandar di atas tumpukan bantal. Sehingga tubuhnya condong ke arahku Tangan kirinya dia letakkan di belakang kepala sebagai bantal dan tangan kanannya dengan sigap mengurut-urut k*********a yang menjulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD