AHHHHH
"Bu Maya ini kenapa? Jangan main-main sama saya ya Bu."
"Maaf Pak." sahutku. Terlihat Bram hanya tertawa cekikikan.
"Saya enggak mau tahu pokoknya ibu harus sudah datang ke sekolah jam setengah sepuluh atau saya beri peringatan." Tandasnya sebelum mengakhiri panggilan.
"Bram nakal kalau sampai kepsek tahu bagaimana bisa dipecat aku."
"Birain, tapi kamu suka ini 'kan?" ujarnya sambil menghujamku lebih cepat.
"Ah, iya Bram.. uhh..uhh..."
Cukup lama dia menggenjotku. Di ujung kesadaranku aku terngiang dengan ancaman Pak Kepsek tadi.
"Bram! aku harus pergi Bram."
"Tunggu sebentar lagi Bu."
"Uh... sudah Bram. Plis nanti aku bisa di pecat."
Setelah aku berkata begitu Bram menghentikan genjotannya. Pelan-pelan dia menarik rudalnya yang masih keras keluar sampai berbunyi Plup. Aku yang sebenernya masih ingin, terpaksa menghentikannya. Aku tidak mau karirku yang sudah kubangun sejak lama hancur berantakan dalam sekejap.
Aku bangun dari ranjang dan mengenakan kembali pakaianku. Setelah itu aku keluar dari kamar Bram, meninggalkan Bram dengan kejantanan yang masih 'On'.
***
Setelah mengawasi ujian sekolah, aku bergegas menuju ruang kepala sekolah. Jantungku berdegup dengan sangat kencang ketika berhadapan dengannya.
"Bu Maya, saya beri peringatan pertama." Tandas Pak Kepala Sekolah seakan seperti petir yang begitu menggelegar di telingaku. Dia memberikan amplop putih berisi surat peringatan kepadaku. Aku memegangnya dengan pandangan yang tidak percaya. Selama bertahun-tahun mengajar, baru kali ini aku mendapatkan sanksi.
"Tapi, Pak ! saya kan hanya terlambat sekali. Masa di beri surat peringatan." Protesku sembari memandang ke arah mata tuanya yang tertutup oleh kaca mata plus.
"Memang, kamu hanya terlambat sekali. Tapi kamu sudah berbohong!" tegasnya sambil menuding ke arahku.
"E..emangnya saya berbohong apa Pak. Beneran Ban saya bocor kok." Kilahku dengan suara lantang menyakinkan.
"Bu Maya, Bu Maya. Emang saya orang tua yang tampak gagap teknologi gitu sampai Bu Maya berniat untuk mengelabuhi saya?" badannya agak condong ke arahku. Seakan ingin mengintimidasiku.
"Maksud bapak apa bicara seperti itu, saya tidak ngerti." ujarku berusaha setenang mungkin.
"Sekarang zaman sudah canggih Bu. Saya bisa melihat keberadaan ibu hanya lewat ponsel. dan tadi saya lihat ibu masih berada di alamat rumah ibu. Itu artinya ketika menelfon saya, Bu masih ada di rumah. bukan di jalan!"
"Iya, memang bukan ban saya bocor di depan rumah Pak." kilahku membela diri. aku sudah mempersiapkan kalimat-kalimat jitu supaya membenarkan alibiku.
"Oh begitu, terus kenapa ibu tadi mendesah-desah!" skakmat tanpa basa-basi, membuat jantungku hampir melompat saja. aku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku yang panik.
"Kenapa? Kok kayaknya panik gitu Bu?"
"Ehhmmm...anu...Pak..." aku mengaruk-garuk kepala kehabisan kata-kata.
"Bukannya suami ibu sedang berada diluar kota, terus suara desahan itu sama siapa Bu? Saya jadi curiga." Kata-katanya sangat tajam menusuk-nusuk jantungku, membuatku tidak berkutik. Pak Kepsek duduk. Kini dia bicara dengan sangat tenang.
"Saya tahu ibu jauh dari suami. Tapi tidak sepantasnya ibu melakukan sesuatu hal yang tidak pantas dilakukan oleh istri orang. Surat peringatan itu sebagai pengingat saja, supaya ibu mau merubah sikap ibu." Jelasnya seakan-seakan tahu apa yang aku alami. Seketika aku mendongak, memandang tajam ke arahnya.
"Baik Pak, sekarang saya permisi." Ujarku sambil beranjak dari ruang kepala sekolah. Air mata mulai tidak terbendung di netra ini, mengalir begitu saja. Di ruang itu, aku serasa di tampar, atas apa yang baru aku perbuat. Aku sangat malu sekali.
Tiba-tiba tubuhku menubruk seorang pria. Ketika mendongak, terlihat Pak Joko di hadapanku dengan wajah yang cemas. Dia yang biasanya selalu caper kepadaku, bahkan sekarang tidak memperdulikanku dan segera beringsut masuk ke ruang kepala sekolah.
Aku tertegun sejenak. Apa yang sebenernya terjadi? Penasaran aku pun berjalan mengendap-endap di dekat pintu untuk menguping.
Pak Kepsek marah besar. Dia mempertanyakan kemana anggaran untuk membeli komputer baru. Anggaran yang sudah diberikan dari pihak yayasan kepada Pak Joko selaku guru multimedia disana. Terdengar Pak Joko sama sekali tidak berkutik. Agaknya benar kalau dia telah menilap anggaran itu.
"Saya tidak bisa tolerir ini Pak Joko. Saya sudah berbicara kepada Pihak Yayasan untuk memecat kamu sekarang juga!" kata Pak Kepsek tegas.
Mataku terbelalak. Perasaanku menjadi tidak enak. Entah apa yang terjadi seandainya Pak Joko telah di pecat.
***
Aku berjalan mondar-mandir di teras rumah sembari mencoba untuk menghubungi Nala. Nomornya sudah tidak aktif, sementara aku tidak bisa melacak keberadaaanya sekarang kalau ponselnya dalam keadaan mati.
Semua ini gara-gara Bram menolak Nala, sehingga Nala patah hati dan meninggalkan rumah. Tapi Bram tidak bisa di salahkan sepenuhnya. Dia bilang kalau ada hati yang harus dijaga. Tapi hati siapa? Siapa wanita beruntung yang memberikan hatinya untuk Bram.
Ketika sedang asik melamun, aku dikejutkan oleh suara gerendel pintu gerbang. Seketika aku langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat anak gadisku itu berjalan gontai ke arahku. Aku pun berhamburan memeluknya.
"Nala sayang, kamu kemana saja? Mama bingung nyariin kamu." ujarku sambil memeluknya dengan sangat erat. Gadis itu tidak bergeming. aku mencium bau matahari yang menyengat dengan bau badan khas tidak mandi berhari-hari. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya lamat-lamat.
"Kamu kenapa sayang? Cerita sama Mama."
Dia hanya mendelik lalu berlalu dari hadapanku. Hatiku trenyuh melihat kondisinya yang acak kadul itu lebih mirip anak-anak jalanan yang tidak terurus. Aku pun mengikutinya.
"Sayang kamu kenapa? Jangan diem terus seperti ini dong." Kejarku karena dia berjalan dengan langkah lebar seakan ingin menjauhiku. Aku yang sudah tidak sabar pun langsung mencekal tangannya
"NALA! JAWAB PERTANYAAN MAMA!" bentakku. gadis itu berhenti dan berbalik arah. wajahnya tampak mengerikan dengan tatapannya yang tajam. Lantas, Dia mengucapkan kalimat singkat yang penuh tanda tanya.
"Nala kecewa dengan Mama."
Aku mengernyitkan dahi, tidak faham dengan maksud perkataannya. Kecewa? Kecewa kenapa? Apa yang telah kuperbuat?
Tapi belum sempat aku bertanya, dia sudah meninggalkanku dan masuk ke dalam kamar membiarkanku dalam tanda tanya besar.
Aku harus berbicara dengan Bram. Iya, Hanyalah Bram yang mungkin bisa membuat hati gadis itu luluh. Aku tidak kuat terus-terusan di musuhin oleh dia yang juga berdampak buruk terhadapnya.
Aku naik ke kamarnya Bram. melihat pintu yang terbuka, aku mengintip dari luar. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Oh iya, aku ingat kalau biasanya jam segini dia sedang di klub.
aku pun menyelinap ke kamarnya. Entah kenapa aku sangat suka berada di ruangaannya, apalagi mencium baunya yang sangat khas membuatku betah berlama-lama disana.
Pandanganku tertuju kepada botol yang terletak di atas nakas, yang menarik perhatianku adalah tulisan di bawahnya.