Bab 4 Surat

686 Words
# Jangan lupa tap love? nya Beberapa hari kemudian setelah pengumuman hasil ujian sekolah, aku di panggil ke kantor Kepala sekolah. "Assalamu'alaikum Pak?" Aku mengetuk pintu kantor kepala sekolah."Bapak memangil saya?" Seru ku pada kepala sekolah. "Amara Salsabila ya? " Tanya kepala sekolah ku. Aku masih berpikir apa yang telah aku lakukan sehingga aku di panggil ke kantor kepala sekolah. "Iya saya pak? " Ada apa ya pak? "Bapak memanggil saya? " Lanjut ku agak gugup sambil melihat wajah kepala sekolah ku yang menatap ku dengan wajah sumringah. "Ayok duduk dulu. Ini baca surat nya. " Lanjut beliau sambil menyerahkan surat yang entah apa isi nya pada ku. Lalu aku menerima surat tersebut dan mulai membuka serta membaca nya dengan teliti. Di dalam surat tersebut menyatakan bahwa kalau aku dinyatakan menerima beasiswa dan di terima di Universitas Negeri di kota Jogja. Rasa senang, bahagia tak terkira yang kurasakan membuat ku langsung sujud syukur di depan kepala sekolah ku. Dan beliau ikut senang dan bahagia bahwa salah satu murid terbaik nya mendapatkan beasiswa di Universitas Negeri di kota Jogja. "Terima kasih pak! "Sahut ku bahagia tak terkira tanpa sadar aku memeluk kepala sekolah ku. " Ya sudah Bapak turut bahagia, senang, dan bangga atas prestasi kamu selama ini!"seru kepala sekolah ku sambil menepuk-nepuk punggung ku, dan aku segera mengambil tangan kanan kepala sekolah lalu mencium punggung tangan nya. Dengan rasa bahagia tak terkira aku pamit dan keluar dari kantor kepala sekolah. Rupanya Dinar masih setia menunggu ku di luar sambil duduk di bangku dekat lapangan basket. "Gimana? Ada apa Ra? " Tanya nya penasaran sambil melihat wajah ku yang bahagia dan perasaan yang sulit aku gambar kan. "Aku menunjukkan surat pada Dinar yang di berikan dari kepala sekolah tadi. Lalu temanku membaca nya. Tiba-tiba Dinar memeluk ku dan mengucapkan" Selamat ya Ra! "Ucap nya tulus sambil memeluk ku. " Terima kasih Din".sahut ku bahagia. Dengan senyum masih mengembang di wajah ku, aku masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu kedua orang tua ku nanti." Yang pasti sangat terkejut".Bathin ku. "Pasti Ra!" Sahut Dinar menyakinkan pernyataan ku. Langkah kaki ku sangat ringan, tidak ada beban di punggung ku atau langkah ku. Sepanjang dalam perjalanan pulang senyum di wajah ku tidak lepas dari wajah ku. Setiba nya di rumah. "Assalamu'alaikum! Ibu! Ayah! " Teriak ku sambil berjalan ke dalam rumah. "Wa'alaikumsalam! " Maaf ya Kak, ibu baru selesai solat."sahut Ibu lembut . "Ada apa? Kok teriak teriak dari luar? " Sahut Ibu lagi sambil melipat mukena yang barusan di pakai nya. Lalu aku langsung mengeluy kertas yang di berikan oleh kepala sekolah ku tadi pagi. "Ini bu! Ibu baca ya? Kagak asik kalau kakak yang cerita! " Seru ku dengan intonasi bahagia yang tak terkira dan senyum yang belum lepas dari wajah ku. "Apa ini?" Ucap Ibu, lalu membuka lipatan surat yang aku berikan tadi. Di baca nya dengan seksama surat tersebut oleh Ibu. Terlihat dari wajah nya yang penuh perjuangan untuk menyekolahkan aku dan adik-adik ku. Dan wajah beliau tersenyum senang dan bahagia, ucapan rasa syukur di ungkap kan dengan sujud syukur dan langsung memeluk ku. "Ya Allah anak ku! Terima kasih ya sayang! " Seru Ibu sambil berkaca-kaca memeluk ku dengan erat nya. "Ada apa Kak kok teriak-teriak? " Seru Ayah yang tiba-tiba datang ke kamar Ibu. "Ini Ayah aja yang baca! Ibu gak mau cerita dulu! " Seru Ibu sambil memberikan kertas yang ku berikan ke Ibu ke Ayah. "Ada apa sih ini? " Sahut Ayah tidak mengerti sambil membaca surat dari kepala sekolah. Di baca nya dengan seksama surat dari kepala sekolah. Tiba-tiba Ayah memeluk ku dengan erat menangis tersedu-sedu, aku dan Ibu terbawa suasana akhirnya kami saling memeluk dan menangis karena bahagia. "Terima kasih ya Kak!" Ucap Ayah sambil menangis mengusap air mata nya yang mengalir tiba-tiba begitu saja. "Terima kasih kakak sudah mengerti dan mau melanjutkan perjuangan kami! " Ucap Ayah lagi masih menangis tersedu-sedu. "Sama-sama Ayah! Ibu! Bantu kakak dengan doa supaya kakak kuat melanjutkan dan melangkah ke depan! " Sahut ku masih dengan berderai air mata. Memang mustahil bagi ku, untuk bisa melanjutkan kuliah, melihat perekonomian keluarga ku yang sangat miris!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD