Bab 3. Kabar Mengejutkan

1305 Words
“Luna! Letakkan itu, kamu bisa kehilangan banyak darah jika mengores tanganmu!” panik Arkan was-was jika Luna benar-benar memotong tangannya wanita itu akan kehilangan nyawa jika tidak segera dihentikan. “Biarkan saja, lebih baik aku mati daripada menikah denganmu!” bentak Luna bersiap menggores pergelangan tangannya. Namun, belum sempat Luna melakukan hal itu, Arkan dengan cepat menahan tangan luna dari belakang mengunci tubuh Luna sehingga Luna berada di dalam kukungannya. Sekuat tenaga menahan Luna untuk tak bertindak gegabah. “Sial! Sejak kapan dia di belakangku,” batin Luna kesal berusaha melepaskan diri dalam kukungan Arkan. “Lepaskan aku!” Luna mengerahkan seluruh tenaganya, menyikut perut Arkan, bahkan menendang kaki Arkan dengan sangat keras. Namun, nihil itu semua sia-sia. Tenaga Arkan lebih kuat darinya, sehingga semakin ia melepaskan diri semakin erat Arkan memeluknya. “Diam! Jangan bergerak atau semua orang di luar datang ke sini keluargamu akan dicap penipu. Jadi sebaiknya kamu diam,” perintah Arkan dengan rahang yang mengeras. Ia terpaksa membentak Luna bahkan sempat melukai Luna agar wanita itu tak berbuat macam-macam. Beberapa menit berlalu Luna masih berada di dalam kukungan Arkan namun wanita itu hanya diam tak melakukan apa-apa. Hanya suara isakan kecil yang terdengar. Arkan hanya diam, ia tak masalah akan hal itu, selagi Luna tak membahayakan dirinya sendiri. “Sudah ya, jangan lakukan apa-apa lagi. Itu semua akan menyakitimu saja,” kata Arkan dengan nada lembut, entah sadar atau tidak untuk pertama kali Arkan berbicara lembut ke perempuan terlebih perempuan itu baru ia kenal beberapa saat yang lalu. Arkan melihat ke bawah di mana Luna berada, dari sini ia bisa melihat wajah Luna yang kacau ada bercak darah di mana-mana, genangan air mata di pelupuk matanya. Tak menapik, ia juga kasihan dengan perempuan itu, perempuan yang tak tau apa-apa tiba-tiba diminta menjadi istrinya. Ia bisa menebak, umur Luna mungkin masih muda bahkan lebih muda dari Rena. *** Beberapa jam berlalu, entah bagaimana caranya Arkan berhasil membujuk Luna dan membuat Luna tunduk padanya dan disinilah mereka di atas pelaminan. Di bawah sana masih banyak tamu yang berdatangan. Tak hanya dari keluarga saja, ada juga rekan bisnis dari kedua keluarga yang ikut memeriahkan acara. Arkan tersenyum simpul saat beberapa orang yang ia kenal memberi doa terbaik untuk pernikahan mereka, berbeda dari Luna wanita itu dengan wajah datarnya membuat beberapa orang tak berani menyapanya. Tapi, mereka mencoba mengerti apa yang terjadi dan memaklumi sikap Luna. Lalu pria itu menatap ke samping di mana Luna berada. Benar tebakannya, wajah wanita itu tampak datar, tak ada senyuman sama sekali. “Tersenyum jangan membuatku malu.” Arkan Berbisik tepat di telinga Luna, ia malu sendiri melihat istrinya hanya diam dengan wajah kusutnya itu. Ingin sekali Arkan memarahi Luna, namun ia masih ingat dimana mereka berada sekarang. “Kamu serius memintaku tersenyum? Setelah apa yang terjadi, setelah kamu dan keluargamu merenggut masa depanku?” Itu bukan sebuah pertanyaan, namun pernyataan pasrah dari seorang Luna yang tak bisa berbuat apa-apa yang menjadi korban keegoisan dua keluarga. Arkan menghela napas mendengar ucapan itu, ya Luna benar tak seharusnya Arkan meminta Luna tersenyum di saat yang tak seharusnya di saat Luna harusnya memaki mereka dibanding memberikan senyuman. “Ak-“ Belum sempat Arkan berbicara tiba-tiba saja datang beberapa orang yang berjalan menuju ke arah mereka. Arkan menyunggingkan senyum kecil saat melihat mamanya dan dua orang yang sangat ia kenal berjalan ke arahnya. “Tante datang juga?” tanya Arkan Menatap Maya teman Emely juga ikut datang menghadiri acara pernikahannya. “Iya nih, Nak Arkan. Ini tante bawa Freya. Katanya mau ngucapin selamat sama kamu,” kata Maya menarik Freya untuk berdiri tepat di depan Arkan. Maya sengaja melakukan hal itu ingin mendekatkan Arkan dan Freya dua orang yang gagal menikah karena wasiat sialan dari si tua bangka itu. “Kak Arkan selamat ya,” ujar Freya mengangkat tangan memberikan selamat walaupun ia sedikit kesal dengan pernikahan tiba-tiba Arkan. Tapi ia mencoba untuk tersenyum dan tetap anggun. Awalnya ia cukup senang karena calon pengantin dari Arkan kabur, sedikit banyaknya ia memiliki kesempatan untuk bisa bersama Arkan. Namun, semuanya pupus saat ada orang lain yang mengantikan posisi Rena. Bisa Freya pastikan wanita itu tak akan hidup tenang selagi ia ada. Ia memiliki seribu cara untuk merebut Arkan dari Luna. “Terimakasih,” balas Arkan, tak ada senyuman sedikitpun. Begitulah Arkan, bila berbicara dengan orangtua ia bisa sedikit tersenyum. Jika sudah berbicara dengan wanita senyuman itu seketika hilang. Hal itu ia lakukan agar tak ada yang salah faham terhadapnya, ia malas mengurusi orang-orang yang mengejarnya. “Ya sudah jeng, kami pergi dulu,” kata Maya tak menyapa Luna sedikitpun ia dan anaknya langsung saja turun dari pelaminan dengan wajah jutek menatap ke arah Luna. Luna heran kenapa wanita paruh baya itu terlihat marah padanya. Namun, Luna tak terlalu memperdulikan hal itu, matanya terfokus ke arah tiga orang yang sedang bercakap ria dengan para tamu undangan. Wanita paruh baya itu mengenalkan putrinya ke beberapa pengusaha kelas atas, sedangkan pria paruh baya itu dengan tersenyum bangga ke arah putrinya. Senyuman yang seharusnya Luna dapatkan juga, tapi semuanya hilang semenjak kehadiran pelakor itu. Ya, mereka adalah Amala, Rizki dan putri mereka Violet. “Mereka membuatku marah, sudah menumbalku lalu dengan santai tertawa seperti itu!” geram Luna melihat interaksi mereka, seakan sebelumnya tak terjadi apa-apa. Luna berjanji tak akan memaafkan keluarganya sendiri atas semua penderitaan dan lukanya. Hal itu tak luput dari perhatian Arkan. Sedari tadi Arkan tak pernah mengalihkan tatapannya, matanya hanya menatap ke arah Luna. Dari sini ia bisa melihat wanita itu masih mengeluarkan air mata sempat ia melihat Luna menghapus air matanya. “Dia menangis lagi, apa yang terjadi. Aku rasa lebih dari sekedar pernikahan paksa,” batin Arkan semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Ia rasa ini lebih mudah dari pernikahan paksa, apalagi melihat Luna melawan orangtuanya langsung di hadapan banyak orang. Ada yang lebih besar dari sekedar pernikahan. Ketiga orang tadi mendekat ke arah Luna dan Arkan, di sana masih ada Emely. Emely menyambut hangat Rizki, Amala dan juga Violet. “Emely akhirnya kita memiliki ikatan keluarga,” kata Amala memeluk Emely dengan hangat, ia sangat bahagia uangnya tak jadi hangus. Sebenarnya itu maksud perkataan Amala. Tentu saja Amala hanya memperdulikan harta saja. “Kamu benar, kita menjadi keluarga. Kami berjanji akan menjaga Luna dengan baik,” kata Emely menatap ke arah Amala lalu Rizki dengan tatapan tulus. Bagaimanapun juga Luna sudah menjadi menantunya ia akan memperlakukan Luna seperti anaknya sendiri. Walaupun ia tak yakin terkait hal itu. “Terimakasih Emely, sudah menerima anakku di keluarga kalian,” ujar Amala dengan senyum hangat menatap ke arah Emely lalu menatap sinis ke arah Luna. Tentu saja itu hanya sebuah drama, sampai kapanpun Amala dan Luna tak bisa berbaikan. “Manipulatif!” batin Luna mengepalkan tangannya melihat akting ibu tirinya itu. “Sepertinya mereka ingin bermain-main denganku,” sambung Luna di dalam hatinya. Apa katanya tadi, anak? Sejak kapan Amala mengakui Luna sebagai anak. Tanpa banyak kata Luna mendekat ke arah Amala, lalu menggenggam erat tangan wanita itu. “Mama terimakasih telah membantuku menikah dengan Arkan,” ujar Luna dengan nada lirih, air matanya terus menetes tak tahan dengan semua ketidakadilan yang terjadi padanya. Tangisan itu sangat lirih membuat orang-orang yang mendengarnya ikut terenyuh. “Hah?” Amala tak mengerti kenapa Luna begitu baik padanya, apalagi sampai memanggilnya dengan sebutan mama seperti tadi. Terlintas di benak Amala, bahwa Luna sudah berubah. “Terimakasih telah menyelamatkan anakku. Jika bukan karena mama janinku tak akan memiliki ayah,” tambah Luna menangis tersedu-sendu merengkuh Amala ke dalam pelukannya menumpahkan tangisannya. “Maksudnya?” tanya Arkan tak mengerti arah pembicaraan Luna. Tak hanya Arkan saja yang terkejut semua orang yang ada di sana sama terkejutnya dengan Arkan. Siapapun tau apa maksud perkataan Luna barusan. “Kamu hamil?” tanya Emely menutup mulut kaget dengan apa yang ia dengar, Emely pun mundur beberapa langkah syok mendengar perkataan Luna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD