Luna menangis tersedu-sedu sambil mengusap punggung Amala yang terlihat tegang. Ia mengedipkan mata, tersenyum sinis di balik tangisannya itu. Ya dia sedang berakting, ini kesempatan besar memanfaatkan air matanya untuk membalas Amala. Bisa ia tebak Amala akan terkena masalah setelah ini, apalagi banyak orang yang mendengar perkataannya.
“Apa yang kamu katakana, Luna!” Rizki menarik tangan Luna, melepas pelukan itu. Lalu menyeret Luna ke bawah pelaminan agar mereka leluasa berbicara.
“Aku hamil dan mama tau hal itu, Ayah …” lirih Luna dengan nada dramatis agar ayahnya percaya dan tentu saja menyalahkan Amala.
Plak!
Satu tempatan mendarat di wajah Luna, tak hanya sekali tapi dua kali. Namun, kali ini bukan Rizki yang menampar tapi Amala yang sedari tadi diam. “Apa maksudmu Luna! Ingin membuat kami malu hah!” bentak Amala, ia tak tahan lagi berakting menjadi ibu yang baik untuk Luna. Luna sudah keterlaluan, perempuan itu sudah menipu mereka semua.
“Rizki, Amala, apa maksud semua ini!” Kali ini Adam yang berbicara, Adam merasa dikhianati untuk yang kedua kalinya oleh keluarga Estell. Seharusnya dari awal ia tak mempercayai keluarga Estell.
“Kami akan mencari tau Rizki. Amala ikut aku! Kamu ini memang tak bisa mendidik anak!” bentak Rizki sambil berjalan meninggalkan acara, ia sangat kesal dan marah di saat yang bersamaan. Tak hanya Luna membuat ia marah, Amala juga membuat ia marah karena telah membantu Luna menikah dengan Arkan. Ia curiga jangan-jangan Rena tak kabur namun rencana dari Luna dan Amala itu sendiri agar anak di kandungan Luna memiliki ayah.
“Hamil?” Arkan yang sedari tadi diam kini membuka suara untuk pertama kali. Ia juga ikut kaget mendengar penuturan Luna satu kata yang membuat ia terdiam mulutnya terkunci. Dunianya runtuh seketika. Pria itu memijit kening kesal, kepalanya sedikit pusing dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Ia kira saat tau Luna juga bagian dari keluarga Estell masalah mereka selesai dan wasiat nenek sudah dilaksanakan. Namun, apa yang ia dengar dari mulut Luna membuat ia marah.
Arkan menelisik tubuh Luna, memperhatikan lekat-lekat mencoba mencari tau apakah wanita itu sedang berbohong atau tidak. Sedikit tak percaya, namun ia tau pergaulan anak zaman sekarang sangatlah bebas, apalagi untuk wanita bar-bar seperti Luna.
Berbeda dari Arkan, Luna was-was melihat Arkan yang siap mengeluarkan taring runcingnya lalu mencabiknya saat ini juga. Ia berusaha bersikap biasa saja, menghilang kepanikan takut rencananya terbongkar. Sebisa mungkin ia membuat Arkan percaya bahwa ia sedang hamil.
“Ikut aku,” perintah Arkan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Luna dengan kepanikannya. Ia memejamkan mata ragu dengan kebohongan itu bisa membuat masalah baru yang lebih besar dari ini.
***
Terlihat Arkan dan Luna berada di kamar pengantin, Arkan mengunci pintu lalu duduk di sisi ranjang. Wajahnya sangat datar bahkan lebih datar dari sebelumnya, Arkan bicara dengan nada berat, rahang yang mengeras terdengar menyeramkan di telinga Luna.
Sedangkan Luna masih berdiri dengan kepala ditundukkan, kamar yang terasa hangat kini berubah mencekam dengan kehadiran Arkan. Arkan terlihat sedang menahan amarah, berhasil membuat Luna takut.
Luna mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan Arkan, hal ini harus ia katakan agar semuanya jelas. “Jadi apa pernikahan kita batal?” tanya Luna tak sabar mendengar ucapan batal yang akan keluar dari mulut Arkan. Hanya Arkan yang bisa membatalkan pernikahan.
Arkan mendongak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Luna, ia menelisik menatap intens ke arah Luna. Ia tak tau apa yang terjadi sebenarnya, apakah mempercayai perkataan Luna atau tidak. Ia tau tau menahu mengenai wanita itu. Terlintas di benaknya Luna sedang berbohong.
“Sudah berapa bulan?” tanya Arkan ingin tau apa jawaban Luna.
Luna kelabakan, ia panik sendiri memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Arkan. ia tak pernah berbohong. Apalagi untuk kebohongan sebesar itu, ia takut ibunya yang berada di surga marah jika tau Luna sedang berbohong. “Ibu maafkan aku. Aku berbohong demi kebaikan, demi masa depanku,” batin Luna resah, ia tak pandai berbohong.
“Tujuh bulan!” jawab Luna dengan lantang, lalu mendongak menatap ke depan dimana Arkan berada. Tatapan mereka sempat bertemu, lalu Luna kembali menunduk karena takut dengan tatapan mengeringkan dari Arkan.
Kesabaran Arkan habis, Luna dan keluarga Estell benar-benar membuatnya marah.
“Kamu ingin bermain-main dengan saya, Luna!” bentak Arkan
Mulut Arkan gatal ingin memaki, melampiaskan amarah ke wanita itu. Sedari tadi ia tahan, mencoba untuk memaafkan semua kesalahan yang dilakukan keluarga Estell, tapi kali ini sudah keterlaluan. Berani sekali keluarga Estell menyodorkan wanita hamil untuk dinikahkan dengan dirinya.
Luna menundukkan kepala takut mendengar nada tinggi yang dikeluarkan Arkan. Ia sedikit takut kalau sampai kebohongannya terbongkar. Padahal niatnya tadi hanya ingin bermain-main, tak menyangka semuanya menjadi begitu rumit.
“Ada apa dengan wanita ini, dia terlihat panik?” Arkan baru menyadari hal itu. Tatapannya turun ke bawah, terlihat tangan Luna bergetar. Lalu ia melihat wajah wanita itu, terlihat jelas wajah Luna yang berubah pias.
“Tujuh bulan? kenapa perutmu tidak membesar?” tanya Arkan dengan tatapan curiga. Ia baru menyadari bentuk tubuh Luna tidaklah seperti orang hamil pada umumnya. Ada banyak kejanggalan. Ia merasakan Luna sedang menyembunyikan sesuatu.
“Hah?” Luna kaget dengan ucapan Arkan. Ia memejamkan mata menyadari ia telah salah berucap, ucapannya bisa membuat Arkan curiga atau bahkan tak percaya.
“Sial! Apa yang barusan aku katakan, bodoh Luna!” Luna membatin memaki dirinya sendiri, satu perkataan saja bisa merusak rencananya.
Arkan tertawa sinis mendengar ucapan Luna. Keluarga Estell benar-benar membuatnya marah.
“Keluargamu benar-benar membuatku marah, meminta mahar dengan jumlah bear, meminta investasi perusahaan. Apalagi yang kalima mau hah! Kesabaranku sudah habis menghadapi keluargamu!” Arkan mendekat ke arah Luna mendorong wanita itu sampai membentur meja rias, ia tak peduli tangan Luna bekas pecahan kaca kembali mengeluarkan darah segar.
“Aduh! Ini sakit …” keluh Luna sambil menahan sakit di tangannya yang sedang digenggam kuat oleh Arkan.
Arkan tak memperdulikan hal itu, amarahnya berada di puncak ia tak bisa menahan lagi Luna harus membayar semuanya.
“Ini sebuah penghinaan, Luna. Kamu itu sudah menjadi istriku dan apa sekarang hamil? Lelucon apa itu,” tekan Arkan pada setiap perkataannya, tangan yang satu lagi ia gunakan untuk mencengkeram erat dagu Luna. Ia bahkan tak peduli kukunya bisa menyakiti wajah wanita itu.
“Ar-arkan,” lirih Luna tak tahan lagi dengan rasa pedih di tangan dan dagunya. Arkan tidak main-main, Arkan benar-benar melukainya tanpa ampun. “Le-lepas ….” Pria itu bahkan tak peduli dengan tangisan Luna, rasa sakit maupun perih yang ia rasakan di saat yang bersamaan.
“Lepas? Kau kira aku sebaik itu hah!” Arkan bukannya melepaskan namun semakin kuat mencengkram dagu Luna dan menggenggam kuat tangan wanita itu.
“Ak-aku berbohong,” ringis Luna, berusaha berbicara dengan benar. Sepertinya ini harus diakhiri sudah cukup ia kesakitan dan Amala, ia yakin wanita jahat itu menerima hal yang sama dari Rizki.