Bab 5. Kebohongan Besar

1151 Words
“Hah?” Spontan Arkan melepaskan cengkramannya, mundur beberapa langkah membiarkan wanita itu menghirup udara bebas. Luna mendongak menatap ke arah Arkan, lalu wanita itu menyibukkan diri mencari sesuatu untuk mengobati lukanya. Pedih di tangannya masih ia rasakan, Arkan tak main-main dengannya. Setelah beberapa menit mereka terdiam akhirnya Arkanlah yang pertama kali membuka suara. “Jadi, apa maksud semua ini?” tanya Arkan, dengan wajah datar. Terlihat Arkan duduk di kursi meja rias, sedangkan Luna duduk di sisi ranjang dengan wajah ditundukkan. Wanita itu terlihat takut. Ia menundukkan kepala, meremas kuat dress yang ia pakai. Tangisannya terdengar lirih, air matanya terus saja menetes tanpa bisa ditahan. Ia bahkan tak berani menatap wajah Arkan yang sudah dipastikan marah besar dengan kebohongan yang dikatakan Luna. “Hmm?” Arkan mendekatkan kursi hingga kedua kakinya mengunci kedua kaki Luna dengan sagat erat. Luna kaget dengan gerakan tiba-tiba dari Arkan, spontan ia mendongakkan kepala sebentar, Lalu kembali menunduk, karena takut dengan wajah marah dari seorang Arkan. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Arkan, meraih kedua tangan Luna, menggenggam tangan mungil itu, mengelusnya pelan. Tangan mungil Luna terlihat mengemaskan di dalam genggaman Arkan. Seketika buluk kuduk Luna berdiri, jantungnya memompa darah dengan cepat. Tiba-tiba saja keringat dingin mengalir dari pelipisnya bukan perasaan cinta. Namun rasa takut yang semakin besar saat Arkan mendekat kearahnya. Jaraknya dan Arkan sangatlah dekat, bahkan ia bisa merasakan hembusan napas Arkan menerpa wajahnya. “Aku ke kamar mandi dulu.” Luna ingin berdiri, namun Arkan dengan sigap kembali mengunci kaki Luna hingga wanita itu tak bisa pergi kemana-mana. “Arghh!” Luna memejamkan mata takut melihat kedua lututnya kembali ke tempat semula. Arkan menghela napas kasar, ia menatap Luna yang sedang menunduk. Ia tau wanita itu takut. Namun, ada banyak hal yang harus dijelaskan Luna. Sekarang Luna adalah istrinya, tanggung jawabnya sudah sewajarnya ia tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang disembunyikan luna dari dirinya. “Jelaskan dulu, kenapa kamu berbohong? Ingin mempermalukanku hmm …,” lirih Arkan berusaha memelankan suaranya, namun tak menghilangkan ketegasan dari seorang Arkan. Siapapun akan tertekan jika Arkan yang berbicara. Luna diam tak mengatakan apa-apa, ia hanya menunduk takut masih meremas gaun dengan sangat kuat. Kemarahan Arkan berhasil membuat ia terdiam. Terlebih lagi ia baru saja mengatakan kebohongan besar demi sesuatu yang tak seharusnya. Sedangkan Arkan, pria itu tak mengalihkan tatapannya. Matanya masih menatap lekat kea rah Luna dengan tatapan kesal. Berusaha menahan diri untuk tak menampar Luna, ingin menjadi suami yang bisa membimbing istrinya jika istrinya berbuat salah. Hal itu yang sedang dilakukan Arkan sekarang. Perlahan Luna mengangkat kepala, menatap wajah Arkan yang sangat dekat dengannya. Sedikit mundur agar wajah mereka tak terlalu berdekatan. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu kencang, rasa tak nyaman menghampirinya. “Sulit menjelaskan, tapi demi tuhan aku tak hamil.” Luna berusaha setenang mungkin, berkata dengan jujur. Takut Arkan tak mempercayainya lagi. Baru beberapa jam menjadi istri sudah banyak masalah yang ia timbulkan. “Ok baiklah mungin itu masalahmu dan keluargamu. Tapi, kamu tau perkataanmu tadi membuatku malu dan namamu sebagai istri Arkan menjadi buruk, Luna! Kamu tak memikirkan dampaknya sebelum bertindak!” kesal Arkan mengangkat tangan bersiap menampar wajah Luna, namun segera ia tahan. Ia tau Luna adalah wanita terlebih itu istrinya. “Kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri, Luna …” Arkan sedikit merendahkan nada bicaranya, berusaha menahan rasa kesal agar tak melakukan kekerasan terhadap Luna. “Ma-maaf.” Luna memejamkan mata dan bersiap menerima amukan dari Arkan, namun beberapa saat ia tunggu tak terjadi apa-apa. Luna sedikit lega untuk hal itu. Arkan memejamkan mata terus saja mengumpat kesal, banyak kata kasar keluar dari mulutnya. Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan Luna. Sangat kekanakan, Luna bahkan tak memikirkan dirinya sendiri bagaimana mau memikirkan orang lain. “Maaf kamu bilang! Lalu orang-orang tadi, kamu pikir mereka lupa apa yang telah kamu ucapkan tadi? Tidak Luna, mereka akan selalu ingat dan keluargamu maupun keluargaku akan malu besar,” tambah Arkan, merasa pusing dengan masalah yang diciptakan Luna. Baru beberapa jam menikah Luna sudah banyak menimbulkan masalah. “Aku tidak memikirkan apapun, aku hanya ingin membalas dendam ke Amala karena dia aku berada di posisi ini,” balas Luna, ia juga punya alasan sendiri kenapa melakukan hal itu. Memangnya siapa yang memulai semua ini, Luna hanyalah korban dari keegoisan dua keluarga. Arkan kesal bukan main mendengar jawaban dari Luna. Luna tak lah sedewasa umurnya, bahkan hal sebesar ini wanita itu tak memikirkan dampak untuk ke depannya. Setidaknya Luna memikirkan dirinya sendiri, tapi diluar dugaan Arkan. Luna menghancurkan semuanya, menghancurkan reputasinya. *** Arkan menghela napas lalu mengatakan, “Jadi kamu memang punya pacar?” Arkan lelah menanggapi sikap kekanakan Luna. Pria itu memilih menyerah dan berusaha tenang menanggapi Luna. Luna kembali menundukkan kepala, takut dengan tatapan tajam dari Arkan. Seperti pisau yang bisa menusuknya kapan saja. “Jawab!” bentak Arkan mengangkat dagu Luna agar menatap ke arahnya. Ia menatap intens ke arah Luna, tatapan tajam yang sangat menusuk. Luna terlihat tak nyaman dengan kedekatan mereka, ingin sekali ia menghempaskan tangan Arkan namun ia terlalu takut untuk melakukan hal itu. Takut Arkan semakin marah. “I-iya, aku pu-punya pacar,” jawab Luna, masih setia menatap ke arah Arkan. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti perkataan Arkan. Salah sedikit saja maka nyawa taruhannya. Arkan menghela napas kasar, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari dagu Luna. Pria itu mundur memberi ruang bagi Luna untuk bisa bernapas bebas, ia tau Luna tak nyaman dengan kedekatan mereka. Perempuan itu juga terlihat takut. “Putuskan, aku tak mau ada orang lain di rumah tangga kita,” perintah Arkan berdiri dari duduknya. “Putus?” Luna memicingkan mata mendengar perkataan Arkan. “Iya, lalu apa lagi. Kamu mau fitnah ini semakin besar?” tanya Arkan, ia tak ingin berbasa-basi lagi semuanya harus selesai hari ini, tak ada lagi orang ketiga di rumah tangga mereka. “Apa pernikahan kita akan berlanjut?” tanya Luna was-was, menunggu jawaban Arkan. Matanya menatap serius ke arah Arkan. Takut apa yang ada dipikirannya menjadi kenyataan. Arkan membalikkan badan, lalu menatap lekat ke arah Luna yang juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan mereka bertemu, lama mereka menatap satu sama lain tak ada yang mau memutuskan tatapan. Mereka masih betah dengan tatapan itu. “Hah?” Luna kembali bertanya, sedari tadi Arkan hanya diam tak mengatakan apa-apa. Luna butuh kepastian akan hidupnya. “Kamu pikir per-“ Belum sempat Arkan berbicara, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar. Pandangan mereka bertemu, dengan tatapan bertanya satu sama lain. Mereka hampir melupakan sesuatu. Di luar sana masih banyak orang yang sedang menunggu, banyak hal yang harus diselesaikan dan itu semua gara-gara Luna yang menyebabkan masalah besar untuk mereka semua. “Kamu lihat, masalah besar akan datang,” ujar Arkan menjauh dari Luna, lalu berjalan ke arah pintu kamar meninggalkan Luna dengan semua penyesalannya. Luna menghela napas kasar mendengarkan hal itu, ia tau ini semua salahnya. Tapi entahlah, ada rasa lega di hatinya karena telah membalas perbuatan Amala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD