JANI
"Temenin ke depan dek!" Pinta Vissa.
"Isi, lo tuh udah gede." Kataku.
"Ayo buruan, dia temen lo, kok!" Paksanya.
"Siapa?"
"Malik."
"Malik k*****t? Yaelah suruh aja masuk, segala gue yang kudu keluar."
"Bukan, ini Malik anak IPA." Katanya.
"Kenapa sih?" Papi datang menghampiri kami yang lagi debat di ruang tamu.
"Temen Vissa mau dateng, Pi. Minta temenin dedek ke depan, HP-nya ketinggalan di tas Vissa." Jelas Vissa.
"Yaudah, Papi aja yang anter." Kata Papi.
"Gak usah, Pi. Dedek aja." Kata Vissa.
Yeee? Udah untung Papi mau temenin jalan ke depan. Malah korbanin aku. Ini Kakak satu kadang otaknya gesrek.
"Bentar Kak, Malik anak IPA? Malik Lauzardi?" Tanyaku, baru ngeh.
"Nazalindra, bukan Lazuardi." Koreksi Vissa.
"Nazalindra? Papi kenal sama Octa Nazalindra, temen bisnis Papi itu, kamu kenal anaknya Kak?" Papi ikutan nyamber.
"Eh gak tau ini benerean anaknya apa bukan, kan kali aja namanya sama." Sahut Vissa
"Cuma ada satu Nazalindra di Bali, yuk Papi mau liat anaknya kaya apa." Ujar Papi, menarik Vissa ke luar.
Karena penasaran, aku ikutan jalan di belakang mereka, nunggu di pos satpam rumah ini, bukan pos satpam depan, kalo pos satpam depan mah, mending aku pake sepatu roda punya Kak Sasi deh.
Gak lama menunggu, sebuah SUV berhenti di pagar rumah, lalu keluarlah seorang kunyuk yang pernah nanjak bareng aku, astaga kenapa dia jadi keren sekarang?
Malik berjalan menghampiri kami, lalu tersenyum.
"Kamu anaknya Octa Nazalindra?" Tanya Papi tanpa basa-basi.
"Eh? Iya Om, Om kenal Papa?" Tanyanya.
"Kenal, salamin ya. Udah lama gak main billiard bareng." Kata Papi.
Dihh si Papi sok iyee, kaya ke temen deket aja. Orang Mami pernah cerita, temennya Papi itu cuma Bunda Hana doang, soalnya yang lainnya sirik sama Papi, termasuk bapaknya si Malik Dewanata, saing-saingan, katanya sih saingan sehat, tapi meleng dikit yang satu disikut. Gak tau dah kalo sama bapaknya si Malik Lazuardi ini.
"Iya Om, nanti disalamin ke Papa."
"Ini Mal, HP lo." Kata Vissa. Memberikan dompet dan HP.
"Iya, thanks yaa Vis, sorry repotin." Katanya.
Vissa tersenyum.
"Mampir dulu gak?" Tanya Papi.
"Eh gak usah Om, mau pergi lagi." Tolak Malik, kalem.
"Oh yaudah, hati-hati." Kata Papi, lalu Papi berbalik jalan masuk ke rumah.
"Makasih ya Viss, Jani gue duluan yak!" Serunya.
Oh dia masih kenal aku?
"Yoo!" Sahutku.
Malik berbalik, masuk ke mobilnya, setelah puter balik, dia sedikit melambaikan tangan lalu berlalu.
"Ayok Kak!" Ajakku ke Vissa.
"Kenal deket Dek, sama dia?" Tanya Vissa.
"Em biasa aja, pernah naik gunung bareng, lupa tapi gunung apa. Lo kenal di mana?"
"Seangkatan sama dia, cuma tadi dia tadi jadi praktikan gue." Jelas Vissa.
"Ganteng kak, suka lo?" Tanyaku.
"Apaan, baru juga ketemu sekali."
"Nanti kedua, ketiga, keempat, suka deh hahaha!"
"Ngarang aja." Kata Vissa.
"Daripada doyan sama Kak Gara? Gak mungkin Kak, Gara tuh kakak kita, udah kaya Kakak." Jelas gue.
"Apa sih, sotoy banget dek!"
"Kita nih kembar, kadang gue ngerasain apa yang lo rasain. Lo takut gue yang deg-degan."
"Heheheh udah ah."
"Pinter sih pinter, ginian aja dongo."
"Lo tuh juga pinter dek, cuma males!" Vissa mengungkap satu fakta. Aku langsung nyengir lebar.
"Malik nanyain elo tau!" Kata gue.
"Malik ada dua nih sekarang!"
"Malik Dewa!"
"Lo gak gym sama dia?" Tanya Vissa.
"Astagaa! jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Jam setengah 9!"
"Ebuset! Gue buru-buru dah balik."
Aku lari ke dalam rumah, izin pulang duluan ke Papi dan Mami, tanpa mendapat jawaban dari mereka, aku masuk ke mobil dan tancap gas ke rumah.
Di perjalanan aku menyambungkan ponsel dengan mobil, lalu menelefon Malik.
"Om swastiasu!" Kataku.
"Alaaaah! Di mana lo? Gue udah mau mulai nih."
"Jalan otw balik, bentar yaaa!" Malik nih bener-bener ya, gak pernah bisa sopan.
"Eh? Lama dong!"
"Bentar kok!"
"Gak usah ngebut, kasian mobil bapak lo!" Katanya dengan nada jahil.
"Ini udah resmi jadi punya gue yaa!" Seruku.
"Haha oke, gue tunggu."
Dia mematikan sambungan telefon, aku fokus menyetir, begitu sampai rumah aku langsung pake baju buat gym, mengambil tas lalu masukkan baju dan peralatan mandi. Ya, mandi di tempat gym aja. Hari ini kan aku gak mandi.
Setelah semua masuk tas, aku berlari dan meminta Mas Yusuf anter ke sport center di depan. Begitu masuk temat gym, kulihat ada Malik di sana, lagi asik sama handphone.
"Mamal!" Panggilku, dia langsung menoleh.
"Mau ngapain?" Tanyanya.
"Lari aja, terus angkat-angkat."
"Pemanasan dulu sono!"
Aku mengangguk, mulai pemanasan sementara Malik masih aktif sama ponselnya.
"Lo ngapain sih?" Tanyaku.
"Liat-liatin foto IG Vissa, cantik ya."
"Makasih."
"Vissa oy!"
"Kan kembar coy, kalo rambut gue panjang gua mirip sama dia." Kataku.
"Vissa tuh kalem, nah elo? Cuwawa'an!"
"It breaks my heart, baby!" Candaku.
"Najis lo baby-baby-an. Elo tuh babi."
"Iya lucu yaa gue kaya babi, putih-putih pink gitu."
"Haram, b**o!"
"Hahaha kan bisa dihalalin, lo mau halalin gue gak nih?" Tanyaku iseng.
"Entar gue tempel logo MUI di jidad lo!"
"Eh Mal, lo punya saingan, namanya Malik juga, tadi mampir loh ke rumah samperin Vissa."
"Wahh, nyolong start tuh anak! Gue juga mau sering ah ke rumah lo!" Katanya.
"Dih ngapain lo ke rumah gue?? Gak apa-apa b**o dicolong start, asal jangan ditikung pas mau finish!" Kataku.
"Haha bisa-bisa-bisa!" Serunya.
Aku sudah mulai beralih ke treadmill, Malik ngikut lari di sampingku.
"Vissa pernah pacaran gak sih?" Tanyanya.
"Belom b**o, kan gue udah sering bilang! Dia tuh dari kecil suka banget sama Kak Gara!"
"Si Gara punya pacar?"
"Emmm gak tau lah, gak mau ngurusin." Jawabku.
"Tapi coba aja Kak Yuri seangkatan sama gue, gue pacarin dah."
"Oke fix lo gak boleh sama keluarga gue. Gak bener lo! Gue kira lo naksir Vissa doang. Eh bawa-bawa Yuri, sekalian aja, Sasi, Kimora, sama Zee lo taksir." Aku menyebutkan semua sepupu perempuanku.
"Gue becanda soal Yuri astaga, hati gue mentok di Vissa." Katanya.
"Gue sih gak apa kalo Vissa-nya suka. Tapi awas aja lo maksa-maksa."
"Siap, gue rajin main ke rumah lo ya!" Serunya, mulai melepas kaus yang ia pakai.
Duh kalo gini nih kudu tahan-tahan iman, Malik nih badannya bagus banget. Tapi untunglah aku kenal Malik dari jaman masih kurus kering kaya batang sate, jadi kadang malah ilfil sama dia.
"HP lo noh!" Seru Malik saat ponselku berbunyi.
Papi calling...
"Kenapa Pi?" Tanyaku.
"Dedek di mana?"
"Di gym, di Dûrgrimst Pi!"
"Oh yaudah, jangan kepagian pulangnya." Pesan Papi.
"Hahaha Papi! Orang mah jangan ke maleman, Papi mah kepagian."
"Yaa Papi kan gak mau larang-larang, takut kamu berontak haha, lagian kamu kan jago beladiri bisa ngapa-ngapain."
"Kalo Vissa?" Tanyaku.
"Vissa mah bahaya kalo dilepas."
"Takut kaya kuda liar ya?"
"Udah ah, gak bener kalo sama kamu, Papi mau kelonin Mami dulu, bye! Love you, dek!"
"Jih si Papi, anak dibawah umur gaboleh denger gituan! Dasar! Daaah Papiku sayang, mwach!" Kataku sambil mematikan sambungan telepon.
"Mwach!" Balas Malik.
"Kenape lo?"
"Bapak lo tuh asik yaaa, bapak gue juga asik, masih belom ngerti aja kenapa saing-saingan."
"Bisnis bapak lo kan kapal pesiar juga, jadi saingan." Kataku.
"Hahaha untung kita gak saingan juga yaa!"
"Saingan apa kita? Nilai? Ngasih buat lo!"
"Oh iya, lo tuh kuliah yang bener nape! Beda banget sama Vissa!" Malik mulai sok iye.
"Kalo gue rajin, terus pinter kaya Vissa, gue gak siap coy terkenal, banyak fans. Udah gue mah cantik aja cukup, kalo gue cantik terus pinter, kasian orang-orang gak pada punya lapak nanti!"
Malik langsung menoyorku. Wah parah ni anak, main tangan.
"Lo toyor-toyor pala gue, sama Papi gue mah ini kepala dicium-cium."
"Otak lo gesrek tau gak! Lagian kalo cium-cium, mending gue cium Vissa!"
"Terserah!" Kataku.
Sudah cukup jauh aku berlari, tapi gak kemana-mana, hahaha. Keringat sudah mulai bercucuran, aku duduk di lantai sambil meminun air milik Malik.
"Abis ini lo mau apa?" Tanya Malik, merebut botol airnya, minum juga.
"Berenang deh gue."
"Bawa baju lo?"
"Bawa doong, gue seharian ini gak mandi abisnya, jadi berenang deh, baru rendeman jacuzzi, terus mandi bilas." Jawabku.
"Lo seharian ini gak mandi? Najis emang!"
"Gue gak mandi aja lo masih mau deket, apalagi gue mandi? Jatuh cinta lo sama gue."
Lagi-lagi, aku ditoyor.
Aku bangkit, ke loker buat ganti pake baju renang, ahhh akhirnya aku ketemu air yang banyak. Renang tuh enak, bikin aku fokus dan bikin otot-ototku gak tegang, aku demen banget berenang malem-malem. Sekalipun di rumah ada kolam renang, tetep aja enakan di kolam renang sini, lebih luas.
Aku agak kaget saat Malik ikut jebur juga, padahal dia gak bisa renang, payah! Sudah lima balik aku di kolam renang ini, waktunya mengencerkan semua ketegangan, aku keluar dari kolam lalu masuk ke Jacuzzi yang memang tersedia di sini. Nahh enak, anget, gak lama Malik ikutan.
"Lo kenapa sih gak jadian aja sama Radit?" Tanya Malik.
"Radit? Dih gue mah temenan, sama aja kaya lo, cuma kan sama lo mah kenalnya dari dulu, sama Radit tuh baru."
Malik mengangguk.
"Kapan lo manggung?" Tanyanya.
"Gak tau, band gue disuruh buat ngisi dies natalis kampus, tapi males."
"Why?"
"Because the society gonna think I can perform in that event by using my Daddy's power, not my talent." Jelasku.
"Haha pas denger suara lo juga pada kicep yang ngomong itu."
"Tapi di kafe Katmandhu gue mau nyanyi, dateng ya lo?" Ajakku.
"Ajakin Vissa lah, jadi lo manggung, gue ngobrol sama Vissa."
"Okee! Udah ah gue bilas ya!" Kataku.
Aku mengambil handuk lalu masuk ke ruang ganti, meninggalkan Malik di Jacuzzi.
●○●