10. Maaf Pi

1495 Words
VISSA             "Kaya gini, Mbak." aku memperlihatkan gambar dari ponselku.              "Persis gini, Mbak, gak kependekan?"             "Iya, udah jangan banyak tanya!"             Si Mbak bernama Kurnia ini langsung memotong rambutku sesuai dengan apa yang kumau, tak butuh waktu lama untuk memangkas rambutku menjadi seperti Jani. Ya, aku akan berubah menjadi seperti Jani, biar aku punya banyak teman dan tidak terpuruk karena sebuah masalah.             Keluar dari salon, aku langsung menuju parkiran tempat Mas Yusuf menungguku.              "Mbak Jani, kok tau sih Mas Yusuf di sini? Mas Yusuf lagi nunggu Non Vissa, nih." ujar Mas Yusuf ketika aku masuk ke dalam mobil.             "Ini Vissa, Mas. Masa gak sadar?"             "Eh? Potong rambut Non?"             "Iya, jadi mirip Jani yaa?"             "Banget, Non. Mas Yusuf aja tadi kira Mbak Jani yang masuk."             "Udah yuk Mas, langsung pulang ke rumah aja."             Tanpa banyak bertanya lebih lanjut, Mas Yusuf langsung mengantarkan aku ke rumah. tapi, jalanan Bali lagi kurang asik malem ini, macet!             Sekian puluh menit di jalan, akhirnya kami sampai di rumah, aku bergegas turun dan masuk ke dalam rumah. Di dalam sudah ramai, semua sepertinya sedang bersiap makan malam.             "Hallo!" Sapaku.             Semua menoleh dan kaget menatapku, aku hanya tersenyum lalu duduk di samping Jani.             "Kakak kenapa potong rambut?" Tanya Kama.             "Buang sial." Jawabku.             "Ya gak gitu juga kali potongnya!" Sahut Kala.             "Papi jadi gak bisa bedain nanti, mana Vissa mana Delva." Ujar Papi.             "Jani Pi, Jani!" Jani selalu mengoreksi setiap Papi menyebutnya dengan panggilan Delva, entah kenapa dia benci nama itu.             "Lama lagi numbuhnya, ini Papi bedain kalian sekarang gimana?" Papi masih membahas rambut baruku.             "Masa anak sendiri gak bisa!" Mami yang sedari tadi diam ikutan nimbrung.             "Ya suruh siapa mukanya sama, gak kreatif!"             "Bedain Kama sama Kala aja bisa." Ujar Jani.             "Ah kalo itu Papi tau. Ada sesuatu di mereka yang bisa Papi bedakan." Kata Papi, Kama dan Kala langsung tertawa mendengar itu.             "Udah ah, Jani laper. Abis ini mau gym, mau bakar kalori!" Jani mulai makan tanpa menunggu Mbak Ati selesai membawa makanan dari dapur ke meja makan.             "Berdoa dulu, dek!" Tegur Mami.             "Amin!" Sahut Jani tanpa berdoa lalu kembali memakan nasi dan aneka lauk yang ada di piringnya.             "Dek, ikut ya?" Kataku kepada Jani.             "Ikut apa? Gym? Ayok, paling si Mamal seneng."             "Engga, ikut ke Semeru."             "Apa-apaan??!!" Jani langsung menoleh, menghentikan gerakannya, otak goreng yang tertusuk di garpu menggantung di udara.             "Engga, Kakak gak boleh ikut Delva." Papi buka suara.             "Kenapa?" Tanyaku.             "Lo gak ada persiapan! Gue udah latihan fisik sebulan terakhir, lha lo apaan? Belum pernah naik gunung pula, masa tiba-tiba mau ngikut ke Semeru. Ngaco aja!"             Papi bahkan tidak menegur Jani yang berkata gue-elo di hadapannya.             "Papi setuju sama Delva, kamu gak ada persiapan." Kata Papi.             "Pokoknya mau ikut!" Kataku, kutinggalkan makan malam lalu berjalan menuju kamarku.             Sudah, sudah cukup Papi larang-larang aku ini-itu sedangkan Jani bisa bebas melakukan apa yang ia inginkan. Aku ingin seperti Jani.             Di kamar, aku merebahkan diri. Sejujurnya, beberapa hari terakhir ini aku benci sendirian, aku selalu ingat kejadian terakhir di rumah Nini dan itu membuatku perih. Tapi, selain Jani sepertinya orang-orang berfikir aku butuh waktu sendiri, padahal aku tak ingin sendirian.             Pintu kamarku diketuk, detik berikutnya Papi masuk ke kamar, senyum manis mengembang di wajahnya. Aku bangkit dan duduk di kasurku, Papi kemudian duduk juga di ujung kasur.             "Kenapa?" Tanya Papi.             "Lha? Vissa dong yang harusnya tanya, kenapa? Kan Papi yang dateng ke sini."             "Papi dateng ke sini karena tahu kalau kamu belum bisa menyelesaikan masalah kamu kan? Kamu pasti mikir Papi gak peduli karena biarin kamu sendiri. Engga sayang, Papi gak biarin kamu sendiri. Tapi ada kalanya, kamu perlu mengatasi masalah kamu sendiri, itu bikin kamu dewasa. Papi mau anak-anak Papi dewasa, tangguh, dan siap ngadepin semua masalah yang diberikan hidup meskipun di dalam rumah ini, kamu dan Delva always be my little girl, baby." Aku mengangguk.             "Vissa mau ikut adek naik gunung, Pi. Pengin rasain namanya menjelajah, pengin punya pengalaman nyata, bukan cuma apa yang Vissa dapet dari buku."             "Ya tapi jangan Semeru dulu ya sayang?"             "Gak mau, Pi! Mau ikut Dedek!"             "Yaudah, nanti Papi bilang sama Jani. Kamu mending sekarang ikut dia dulu gym, apa gitu kek, olahraga. Kamu kan jarang olahraga." Ujar Papi.             "Oke Pi, siap!"             Aku beranjak dari kasur, menuju lemari lalu mengeluarkan pakaian olahraga, Papi pamit keluar, segera saja aku berganti baju dan menyusul Papi dan Jani.             Saat di luar, aku melihat Papi agak sedikit berdebat dengan Jani. Aku tahu Jani itu sayang sama aku, dan dia pasti khawatir kalau aku kenapa-kenapa, karena dia tahu, aku gak sekuat dia. Tapi, kali ini aku mau buktiin ke kita berdua kalau aku emang bisa. Aku bisa seperti Jani.             "Yaudah Kak! Ayok!" Jani menyambar tas gym miliknya lalu keluar.             Mas Yusuf sudah standby di mobil ketika aku dan Jani menghampirinya. Jani duduk di kursi penumpang depan, dan aku seperti biasa, di belakang.             "Dek, nanti ajarin ya!" Pintaku.             "Minta ajarin Malik aja! Dia instruktur gue."             "Okee!"             "Hmm!" Hanya itu sahutan dari Jani. Aku tersenyum tipis meskipun ia tak melihat. Aku tahu dia kesal. Aku bisa merasakannya.             Hanya beberapa menit di mobil, kami tiba di sport center, begitu Jani keluar, aku langsung menyusulnya, Jani sepertinya super kesal karena ia benar-benar tidak menungguku.             Aku menghampiri Jani yang terlihat sedang menggangu Malik, sahabatnya sedari SMP itu.             "Ehh? Apaan nih? Kok Jani ada dua?? Satu aja gue pusing, ya Tuhan!" Seru Malik ketika aku berdiri di samping Jani.             "Nih si Vissa b**o! Ah elo! Noh urusin gih! Gue mau ganti baju!" Jani berbalik, sepertinya ia menuju ruang ganti.             "Ini bener Vissa?" Tanya Malik ketika Jani menghilang.             "Iyalah! Siapa lagi? Kan kembarannya Jani aku doang."             "Nah, kalo ngomong beda. Kamu mah kalem Viss, Jani mah apaan tau dah!"             Aku tersenyum mendengarnya.             "Kamu mau ngapain?" Tanya Malik.             "Mau olahraga."             "Hahah maksudnya olahraga apa gitu?"             "Bagusnya apa?"             "Lari aja dulu yuk!" Ajak Malik, aku mengangguk.             Malik mengajakku ke treadmil, ia langsung mengatur kecepatan dan apalah aku gak mengerti.             "Pas?" Tanyanya, aku mengangguk.             Setelah itu, Malik mulai berlari juga di treadmil sebelahku, sesekali ia melirik ke arahku, bikin aku sedikit salah tingkah, karena dia memandangku dengan tatapan... ah begitulah.             "Kenapa?" Tanyaku.             "Gak apa, seneng aja ada kamu di sini. Gak duaan sama curut Jani mulu."             Aku tersenyum lagi.             "Jangan senyum mulu, Viss. Entar aku diabetes ihh!"             Kali ini aku tertawa, asli deh baru nemu aku orang kaya Malik ini, baik banget. Meskipun kata Jani dia nyebelin, tapi yang aku rasa dia gak ngeselin. Dia baik.             "Sering-sering ya Viss ikutan Jani gym, biar aku semangat gitu."             "Iya, soalnya mau ikut Jani nanjak."             "Nanjak? Nanjak ke Semeru?"             "He-emm!"             "Jangaaan!" Serunya langsung.             "Kenapa?"             "Kata Jani kan kamu gampang capek. Jangan, udah sama aku aja, kita ke Bromo hehehe."             "Di Bromo ngapain?" Tanyaku.             "Nanjak juga, liat sunrise, naik kuda, gitu-gitu."             "Mau ikut Jani aja ah, kayanya lebih seru."             "Huffft!"             "Jani mana sih?"             "Dia biasanya langsung berenang. Gitu deh anaknya Poseiden."             "Heh! Aku kan sama Jani kembar, berarti aku anaknya Poseiden juga?"             "Eh engga laaah! Kamu mah anaknya Pak Rafi yang terhormat. Jani doang melenceng heheheh!" Aku tertawa mendengar itu, Malik terlihat kaku.             Merasa sudah cukup lama berlari, aku meminta Malik mematikan mesin ini. Setelah itu aku duduk di kursi besi yang tersedia.             Malik duduk di lantai menghadapku, ia mengulurkan tumblr berisi infused water. Aku menerimanya lalu meminum air putih segar tersebut.             "Mau berenang gak?" Tanya Malik ketika aku mengembalikan airnya.             "Gak bawa baju."             "Beli aja."             "Kamu mau mau berenang?" Tanyaku.             "Ajarin doong!"             Aku langsung tertawa. Jani memang pernah bilang kalau Malik ini gak bisa berenang. Kalah sama aku dan Jani yang udah lancar dari umur 4 tahun. Jani bahkan pernah lomba renang saat umur 5 tahun dan menyabet juara satu.             Kembaranku itu memang luar biasa.             "Yuk! Temenin belinya tapi ya? Baru kita nyusul Jani renang. Aku ajarin deh!"             "Siap nyonya!" **             Jani gak ada di kolam renang, di jacuzzi juga gak ada. Aku bahkan mencarinya ke tempat bilas wanita, tapi ia gak ada juga.             "Kemana yaa?" Kataku panik.             "Gak tau, HP-nya aktif tapi gak diangkat, dichat gak dibales sama dia."             Aku meraih ponselku, menelefon Papi untuk menanyakan keberadaan Jani.             "Lha? Kan tadi perginya bareng? Masa gak tau adek ya di mana?" Ujar Papi.             "Vissa gak tau, Pi. Vissa kira Jani renang, taunya gak ada."             "Yaudah, entar Papi telefon deh dia, kamu cepet pulang ya Kak!"             "Iya, Pi!"             "Gimana? Ada di rumah?" Tanya Malik saat aku menutup telefon.             "Gak ada, renangnya gak jadi ya? Pulang aja." Kataku.             "Yaudah, aku anter. Kamu mau bilas di sini apa di rumah?"             "Di rumah aja."             "Yaudah yuk!" Ajak Malik.             Aku menyambar tasku untuk berganti baju lagi ke ruang ganti, menanggalkan pakaian renang yang baru 10 menit lalu kubeli.             Di luar, Malik sudah menunggu, ia langsung mengajakku ke tempat mobilnya di parkir.             Entah kenapa, aku mendadak merasakan sesuatu yang aneh. Dengan Malik, ia lah seseorang yang selalu menungguku, bukan sebaliknya seperti aku dengan Kak Gara. Dengan Malik, dia seperti memenuhi apa yang aku butuhkan, aku bahkan tak perlu meminta, ia sendiri yang menawarkan.             Apakah Malik memang benar-benar baik? Atau apa? Dan, kenapa aku merasa nyaman dengannya? ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD