JANI
"Om Swastiastu!" Sapaku kepada Ibunya Indra.
"Swastiastu!" Sahut wanita paruh baya ini sambil tersenyum.
"Ditinggal ya Jan, bentar!" Indra langsung masuk ke dalam rumah.
"Kenapa dia?" Tanya Ibunya Indra.
"Kebelet, Bu!"
"Oh yaudah ayok duduk dulu. Anak itu emang aneh. Gak bisa dia buang air di tempat lain."
Aku tersenyum dan mengangguk lalu duduk di sofa.
"Oh iya, namanya siapa?"
"Rinjani, Bu. Panggil aja Jani." Kataku.
"Oh bagus yaa namanya. Kalo ibu namanya Aryati." Aku tersenyum. Nama Ibu ini ngingetin aku sama lagu yang kadang suka dinyanyiin Nenek.
"Sebentar ya, Ibu ambilin minum dulu."
"Makasih Bu!"
Bu Aryati tersenyum lalu pamit ke belakang rumah. Selama sendirian di ruang tamu, aku mengedarkan pandanganku ke ruangan yang sangat luas ini. Memandang ke lukisan keluarga berukuran raksasa yang mendominasi ruangan ini.
Kalau Indra seumur sama aku, kayanya lukisan itu dibuat beberapa tahun lalu, karena Indra masih terlihat imut-imut di situ, gak cool kaya sekarang.
Pandanganku juga teralih ke anak perempuan yang terlihat lebih tua dari Indra, sangat cantik dengan rambut panjang dan warna kulit yang eksotis, beda dengan Indra yang menurutku putih.
"Ayoo nih Nak Jani, diminum yuk!" Bu Aryati sudah kembali, membawa sebuah nampan dengan dua gelas sirop di atasnya.
"Gerah kan? Minum sirop ya? Mendung nih, gak hujan malah jadi panas ya?"
"Iya Bu, cuaca Bali lagi gak asik." Kataku.
Ya, sebagai citizen Bali sedari orok, aku sangat suka matahari, gak kaya Vissa dan Kak Gara para pengkhianat yang suka sama hujan.
"Bener banget, gak bisa kita yaa jemur badan sampe coklat."
Aku tersenyum, Bu Aryati nih kulitnya putih, mirip sama Indra. Aku jadi penasaran kenapa kakaknya Indra ini kulitya eksotis, padahal di lukisan orang yang kuduga Octa Nazalindra itu mirip banget sama Indra. Apa jangan-jangan Kakaknya Indra ke salon tanning ya? Eh udah ah, gak penting.
Aku meminum sirop berwarna merah ini untuk menyegarkan tenggorokanku, sementara Bu Aryati tersenyum menatapku. Eh, kenapa? Belum disuruh minum yak... ah udah biarin, aku haus, lagiankan Bu Aryati bawain minum buat aku, buat diminum.
"Nak Jani kuliah Kimia kaya Malik juga?"
"Eh, engga Bu. Kalo Jani ambil bisnis, kembaran Jani yang ambil Kimia."
"Ohh, Jani kembar? Ya ampun, gemes banget anak secantik kamu ada dua."
Aku tertawa mendengarnya, baru kali ini ada yang manggil aku cantik selain Papi sama Mami. Seneng deh Jani jadinya. Eh tapi tunggu sampe Bu Aryati ketemu Vissa, pasti aku langsung terlupakan seperti biasanya.
"Kembaran Jani lebih cantik loh Bu." kataku.
"Ah, namanya kembar ya sama!"
Kemudian dari luar jendela terdengar suara hujan tumpah, ya tumpah, langsung ambyar aja soalnya, gak pake rintik-rintik dulu gitu.
"Yaah ujaannn!" Keluhku.
"Kamu gak doyan ujan, Jan?" tanya Bu Aryati.
"Gak suka, Bu. Basah, lembab. Makanya Jani jarang mandi." Bu Aryati lagi-lagi tertawa, lalu beliau mulai meminum sirop miliknya.
"Kamu lucu yaa!"
"Lucuan dedek-dedeknya Jani, Bu."
"Lha, kamu nih gimana? Daritadi Ibu muji-muji kamu, kok malah dilempar ke orang terus."
Kini gantian aku yang ketawa, lalu tak lama Indra selesai dengan urusannya. Ia bergabung dengan kami dan duduk di samping Bu Aryati.
"Kenapa nih? Seru banget kayaknya."
"Mau tau aja deh kamu tuh!" Sahut Bu Aryati.
"Yee Ibu! Oh iya Jan, hujan nih, di sini dulu aja ya? Apa lo mau ujan-ujanan?" Tanya Indra.
"Duh engga deh, gue gampang masuk angin."
"Udah di sini dulu aja, Jani mau Ibu bikinin teh anget?" Tawar Bu Aryati.
"Boleh deh Bu, tapi pake madu yaa hehehe!"
Bu Aryati tertawa, tapi mengangguk lalu memanggil nama seorang ART sambil ikut masuk ke bagian dalam rumah. Nyisa aku dan Indra di ruang tamu.
"Nyusahin Ibu gue aja lo!" Serunya saat Bu Aryati sudah tak terlihat.
"Ibu lo yang nawarin, terus gue request sesuai kesukaan gue, daripada nanti kalo teh biasa gak gue minum hayo? Mubazir."
"Serah deh!"
Aku mengangguk-angguk, lalu memandang sekitar lagi. Entah sudah berapa kali aku mengedarkan pandanganku ke ruang tamu ini.
"Lo ada masalah ya, Jan?" Tanya Indra tiba-tiba.
"Engga." Jawabku langsung. Indra hanya mengangguk.
"Kalau lo mau cerita, cerita aja. Gue bukan pemberi nasihat yang baik, tapi gue pendengar yang baik." Katanya.
"Yaa, tapi gue gak kenapa-kenapa kok."
"Yaudah, yang penting lo tau kalo lo mau curhat, lo bisa dateng ke gue."
"Iya siap!"
**
Hujan akhirnya reda, ketika Indra ingin mengantarku pulang, aku meminta Indra membawaku ke rumah Malik. Entah kenapa, aku ingin bertemu Malik.
"Waktu SMP, gue kira lo sama Malik pacaran loh!" Indra tiba-tiba memecah keheningan malam ini.
"What? Gue sama Malik? Hahaha, sampe monyet betelor juga kayanya gak bakal deh gue macarin cowok gila kaya dia, hahaha!"
Indra hanya mengangguk-angguk.
"Kalo pacaran, langgeng banget kalian. Gue pas balik dari Paris aja syok kalian masih deket."
"Kan sahabat!" Jawabku. Hening sesaat, lalu kami masuk ke komplek perumahan Dûrgrimst.
"Ini lo balik nanti gimana?" Tanya Indra saat kami sudah sampai di depan rumah Malik.
"Rumah gue sama dia deket, gue bisa jalan kaki."
"Deket yang lo maksud sepuluh kilo meter?"
"Hahah olahraga." Jawabku.
"Yaudah turun sana! Makasih yaa udah mau kejebak hujan di rumah gue."
"Yaa, bilang sama Ibu lo, bakso bikinannya enak. Sambelnya mantep, padahal gue gak doyan pedes!"
"Siap!" Sahutnya.
Aku tersenyum. Mengucap salam dan kata terima kasih, lalu keluar dari mobil milik Indra, aku berlari ke rumah Malik. Langsung masuk seperti memasuki rumah sendiri.
"Mama!" Seruku ketika masuk. Ya, aku memanggil Mamanya Malik dengan sebutan Mama juga. Tante Ayu sendiri yang minta dipanggil Mama, jadi ya aku nurut.
"Jani?? Malik di belakang, Nak!" Terdengar sahutan Mama, lalu aku melihat Mama keluar dari kamar adik ya Malik, Sahira.
"Ngapain dia Ma?" Tanyaku menghampiri mama, lalu mencium punggung tangannya.
"Lagi main gitar, sana gih. Udah makan malem belum? Mau makan gak?"
"Udah, tadi makan bakso dikasih sambel, pake nasi anget, enak bangeeet Ma, asli deh! Kalo Mama mau bikin bakso gitu juga, makan lagi deh Jani, 3 piring!" Seruku semangat.
"Bakso apa sih?"
"Bakso daging, kecil-kecil segede koleci, Ma. Terus dibalur sambel bawang, duhhhh... laper lagi kan Jani."
"Ah ribet, makan yang ada aja, mau? Mama masak sayur sop sama ayam goreng."
"Boleh deh!"
"Nahh udah! Mama angetin yaa makanannya?"
"Siap boss! Jani ke belakang yaa!"
Mama tersenyum, aku langsung berjalan ke belakang rumah Malik, lalu menemukan si orang-orangan sawah ini lagi gitar-gitaran di teras dekat kolam duduk di lantai.
"Mamal!"
"Oy! Gimana tadi rapat apalah itu?" Tanya Malik, menghentikan permainan gitarnya.
"Berhasil dong, gue kan orang yang paling bisa diandalkan di jagad raya ini."
"Dih najish!"
Aku nyengir-nyengir, lalu mengambil bantal kecil dan tidur-tiduran di dekatnya, memandang langit malam yang pekat.
Ini nih salah satu hal yang bikin aku gak suka hujan. Bulan sama bintangnya jadi gak keliatan.
"Lo ada masalah apa sih, Jan? Tumben gue merasa lo tertutup."
"Soal Vissa." Kataku.
"Calon istri gue kenapa?" Malik langsung semangat, ia bahkan meletakkan gitarnya dan berbalik menatapku.
"Lo beneran sayang sama Vissa?" Tanyaku.
"Iya lah, lo kira gue selama ini becanda?"
"Vissa lagi stress, udah beberapa hari ini dia gak kuliah, gue udah nyoba ngobrol sama dia, tapi dia kaya gak mau denger omongan gue. Sakit tau."
"Hah? Stress? Stress kenapa?" Tanya Malik.
Lalu aku membuka semua rahasia keluargaku. Soal Kak Gara, soal Vissa. Soal hubungan mereka berdua. Soal kondisi Kak Gara, dan kondisi Vissa. Tak ada yang aku lewatkan.
Malik mendengar ceritaku dengan seksama, ia menarikku agar aku duduk menghadapnya, lalu ia memelukku. Aku membalas pelukan Malik. Beruntung punya sahabat macem dia yang selalu tahu bagaimana menenangkan sahabatnya.
"Gue tetep cinta sama Vissa kok. Tenang aja." Bisiknya sambil mengacak rambutku.
Aku tersenyum, melepas pelukannya lalu menghapus air mata yang tiba-tiba keluar ini.
"Bahagiain Kakak gue ya, Mal. Gue setuju kok lo sama Vissa. Selama ini gue gak setuju cuma pengin liat usaha lo aja. Tapi sekarang, gue merasa gak ada yang lebih baik selain lo buat jagain Vissa."
Malik mengangguk. Ia tersenyum, tapi ada raut prihatin tergambar di wajahnya. Prihatin sama siapa dia? Vissa yang sedang stress? Atau aku yang ikut menanggung kesakitan Vissa??
Sudah pasti yang pertama!
"Jani ayok makan!" Terdengar seruan Mamanya Malik dari dalam rumah. Malik langsung berdiri, ia mengulurkan lengan untuk membantuku bangkit.
"Gue janji, gue gak akan sakitin Vissa. Gue akan berusaha terus bikin dia bahagia. Dan, gue akan jagain dia, kaya gue jagain lo selama ini. Bahkan lebihhh!" Ujar Malik saat kami berjalan masuk ke dalam rumah.
"Gue percaya sama lo, Mal!" Aku menepuk pundaknya. Malik tersenyum. Senyum tulus yang membuatku merasa damai.
Setidaknya, Visaa punya orang-orang yang mencintainya, dan tidak akan meninggalkannya dalam kondisi apapun. Itu yang terpenting.
******