JANI
Mencoba mengabaikan urusan Kak Gara dan berusaha 'menyadarkan' Vissa, aku tetap menjalani hari sebagaimana mestinya.
Kuliah, main dan gym tentu saja.
Kelas hari ini berakhir pukul setengah satu siang, begitu dosen keluar aku langsung menarik Malik menuju kantin. Sob, Jani laper, sob! Tadi pagi gak sempet sarapan, bayangin aja masuk jam 8 dan aku bangun jam 8 tepat. Selesai sudah Rinjani diomel dosen.
"Eh iya gue belom cerita, gue udah dapet nomornya Vissa doong!" Malik pamer saat kami menyusuri koridor menuju kantin. Good! Semoga Malik bisa bikin Vissa gak nangis mulu karena Kak Gara.
"Dapet dari mana? awas aja kalo lo nyolong nomor dari HP gue." Seruku.
"Minta langsung ke Vissa."
"Langsung??"
"Engga sih lewat DM hehehe!"
"Halah cemen lo! Kalo suka mah langsung samperin minta nomornya, gak ada tuh lewat gue lah, lewat DM laah! Kalo ada yang deketin Vissa, gue maunya yang macho, bukannya yang cemen model lo!" Omelku.
"Astaga, kurang macho apa gue?" Tanya Malik saat kami mengantri untuk mengambil makanan.
Aku menilai Malik. Muka.. 90 deeh, badan?? 100, badan dia sempurna menurutku meskipun sedikit boncel, tapi badannya Malik nih emang keren sih. Baik?? Emm 75 deh, dia kan baiknya kadang-kadang. Perhatian?? 45 aja, terus apa lagi yaa?? Suka menolong? Halah dia mah sukanya ditolong, jadi 50 aja. Jujur? 85 dehh. Gaya hidup? 75 laah, nakal? Eh kalo nakal ngasih nilai gede enak di dia dong? Okee 65 ajaa.
Berapa tuh jadi rata-ratanya? 74 koma sekian. Yaa lumayan deeh, daripada gak sama sekali.
"Apa lo liatin gue?" Tanya Malik.
"Lo kudu gedein perhatian sama mengurangi kenakalan lo, baru lo dapet lampu ijo dari gue buat deketin Vissa." Jelasku sambil mengambil nasi merah dan balado telur puyuh.
"Eh kok gitu? Kata lo kalo Vissa mau, boleh?"
"Emang Vissa mau sama lo?" Tanyaku.
"Waktu itu dia mau pas gue anter balik."
"Yaudin, minta restu sana sama Bapake tercintah." Kataku berlagak santai. Aku tuh masih kepikiran masalah kemarin. Vissa gak kuliah hari ini.
"Waduhh ngerrri!" Ujarnya.
Aku hanya tertawa, lalu memilih menu makanan lain. Setelah selesai, aku menuju Mbak Ina yang selalu setia menunggu di meja kasir.
"Dua ratus sepuluh ribu." Katanya sambil memberiku sebotol air mineral.
"Ini mbak Ina. Makasih!" Seruku
"Sama-sama Mbak Jani."
Aku berbalik, mengedarkan pandangan ke kafetaria ini, dan menemukan meja yang biasa kutempati dengan Malik sudah diisi oleh satu orang: Malik Lazuardi.
Males cari meja lain, aku menghampirinya lalu berhenti saat jarakku dengan meja sekitar setengah meter.
"Ngikut yaa?"
Malik Lazuardi tersenyum lalu mempersilahkan duduk. Aku melambai pada Malik lainnya untuk ikut bergabung dengan kami.
"Lo anak Science kan?" Tanyaku.
Dia mengangguk sambil memakan kentang gorengnya.
"Terus kenapa nyasar di bisnis?"
"Mau ketemu lo. Tadi nanya-nanya orang, katanya kalo mau ketemu lo, ke kantin aja dan duduk di sini, soalnya lo pasti ke kantin dan duduk di sini." Jelasnya.
Aku mengangguk.
"Nih Jan, strawberry cheesecake!" Malik datang, duduk di kursi kosong sambil memberiku dessert untuk siang ini.
"Eh Thanks! Mal lo udah kenal kan yaa? Malik juga." Aku memperkenalkan mereka berdua.
Keduanya mengangguk.
"Kenapa lo nyari gue?" Tanyaku sambil memulai makan siangku.
"Gue minta kontak lo di IG gak lo bales, jadi ya kesini aja minta langsung." Jawab si Malik Lazu ini.
"Buat apa?"
"Gue ngikut lo sama rombongan Kang Cepi ke Semeru awal bulan."
"Ohhh NazalindraM di IG tuh eloo?" Tanyaku baru mengerti.
"Yaps, emang lo gak follback gue? Gak kepoin gue?"
"Dih ngapain amat haha abis nama lo asing. Kan lo Malik Lazuardi."
"Lazuardi?? Gue Malik Nazalindra, siapa pula itu Lazuardi."
"Maapin Jani yaa, dia mah gitu, gampang lupaan." Malik yang dari tadi asik makan ikut nimbrung.
"Haha gak apa. Jadi, bisa minta kontak lo?" Tanya Malik Nazal ini.
"Eh gue boleh manggil lo dengan sebutan lain gak? Gue bingung, gue udah punya temen nama Malik juga nih soalnya." Kataku.
Dia mengangguk sambil tersenyum, memperhatikan aku dan Malik bergantian.
"Emm apa dong? Manggil sayang aja?" Ujarnya.
Spontan uhuy, aku dan Malik langsung tertawa, si Malik Nazal juga ikutan ketawa.
Guyon dia.
"Serius gue." Kataku.
"Panggil Indra aja." Katanya.
Aku mengangguk, menyuap makanan terakhir dari wadahku sebelum beralih ke strawberry cheesecake dari Malik.
"Lo kalo latihan di mana?" Tanya Indra.
"Emm latihan apa? Band? Renang? Atau balap karung?" Tanyaku.
"Latihan balap kumang." Sahutnya, bikin aku nyengir.
"Balap umang-umang mah di rumah aja. Disuruh jalan dari parkiran ke teras aja paling tu kumang semaput." Jawabku asal.
"Latihan fisik Jan, biar kuat." Jelas Indra.
"Ohh hahaha di sport center deket rumah, barengan sama Malik, kan dia instruktur pribadi gue."
"Instruktur apaan? Dibayar aja kaga!" Seru Malik.
"Boleh ngikut?" Tanyanya.
"Mal? Boleh gak?"
Eh si Malik malah sibuk sama HP, tumbenan ini anak jadi kaum generasi menunduk, biasanya dia jarang banget main HP. Paling buat denger lagu dan balesin yang penting-penting. Atau gaaaa stalking IG-nya Vissa.
"Eh bentar gue lagi bales chatnya Vissa. Kenapa tadi?" Tanya Malik saat ia kembali ke alam nyata.
"Gue boleh gak ngikut kalian kalo lagi latihan fisik." Ujar Indra.
"Ohh ya boleh laah!" Seru Malik.
"Perhatian untuk Delva Sambadha, dimohon untuk ke Gedung Yayasan sekarang, terima kasih." Terdengar suara panggilan dari speaker yang tersebar di berbagai sudut kampus.
"Eh gue caw dulu yaa! Jan bagi nomor lo!" Kata Indra.
"Kemana lo?" Tanyaku.
"Buru-buru, penting hehe!"
Aku meraih ponselku, menunjukan nomorku padanya, setelah selesai ia melesat pergi.
"Mal gue tinggal yaa, ke ruang yayasan." Kataku.
"Iyaa siap! Kalo yang manggil Papi lo, salam gitu dari calon suaminya Vissa."
"Sono bilang sendiri!" Seruku, aku menenggak minumanku lalu berbalik.
Karena gedung yayasan agak sedikit jauh, aku memilih mengendarai mobilku dan parkir di tempat yang harusnya untuk Papa Firi, bodo ah, Papa jarang kok dateng ke kampus.
Turun dari mobil, aku langsung masuk ke dalam, menanyakan kepada resepsionis yang berjaga di lobi.
"Maaf mbak, tadi saya dipanggil." Kataku.
"Oh dek Jani, langsung masuk ruangan Pak Rafi aja, sudah ditunggu." Katanya.
Aku mengangguk. Meskipun sudah tau siapa yang manggil, tetep aja aku harus memastikan, kan gak enak juga kalo main langsung nyelonong.
"Makasih, Mbak Ila." Kataku sambil melihat nametag-nya.
Aku berjalan menuju lift, menekan tombol naik untuk membawaku ke ruangan Papi. Tak lama pintu lift terbuka, lifnya kosong, jadi langsung aja aku masuk, menekan angka 7, lantai di mana ruangan papi berada. Pintu berdenting, aku langsung keluar berjalan menuju ruangan papi yang berdampingan dengan ruangan Papa Firi.
Aku mengetuk beberapa kali.
"Masuk!" Terdengar seruan dari dalam. Aku membuka pintu dan melihat Papi sedang sibuk dengan berbagai macam berkas.
"Papi manggil Jani?" Tanyaku.
"Iya nak, sini deh!" Papi melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar aku duduk di kursi yang ada di depan meja papi.
"Apaan?" Tanyaku.
"Kamu masih mau Porsche 911?" Tanya Papi.
"Yaa mauu!" Seruku.
"Temenin Papi rapat yaa Dek? Buna gabisa temenin Papi. Buna lagi ngurus orang buat Kak Gara." Jelas Papi, Buna itu panggilan kesayangan untuk Bunda Hana, sahabat sekaligus tangan kanan Papi dalam menjalankan semua usahanya.
"Gajinya porsche 911?" Tanyaku.
"Iyaa! Temenin Papi rapat yaak."
"Ini pasti untuk setiap rapat kalo Buna gak bisa??"
Papi nyengir.
"Kan kamu sendiri dek yang pengin ngikut Papi rapat? Harusnya gak usah Papi gaji, gratis."
"Oke Pi, 911 aja hehehe mana kerjaan Jani?" Tanyaku.
"Nih ini kamu rapihin. Terus pelajarin materinya di sini. Ada bahan presentasi Papi di situ. Kalo kamu bisa, kamu aja yang presentasi, kalo gak yaudah perwakilan partner Papi aja yang presentasi." Jelas Papi.
"Whaaat?"
"Gak usah syok gitu. Kamu harusnya siap sama semua tekanan."
"Iya Pi, iyaaa."
Aku mengambil semua berkas untuk dirapihkan, membuka tablet yang diberikan Papi tadi untuk mempelajari materi.
"Yuk, sambil jalan aja. Biar gak telat. Kita rapatnya di Syltha soalnya." Ajak Papi.
Aku mengangguk, membawa semua dokumen Papi lalu mengikuti Papi turun ke bawah.
Sementara Papi menyetir (pake mobilku), aku mempelajari materi yang tadi diberikan. Proyek baru Papi, transportasi barang jalur udara, Papi mau bikin maskapai sendiri.
Keren sih Papi, gak pernah berhenti kerja. Pekerjaan tuh udah kaya hobi kalo buat Papi, selama bisa dikerjain, pasti dikerjain. Very proud of him, mwach.
Aku masih membaca bahan tersebut saat kami tiba di hotel Syltha. Yak, Papi kalo ada rapat-rapat, pasti pilih hotel Syltha, katanya sih biar duitnya gak lari kemana-mana. Ribet yee, padahal aku yakin duitnya Papi tuh udah menggunung.
"Ayok, sayang!" Seru Papi. Aku mengangguk, membawa semua dokumen dalam dekapan lalu berjalan mengikuti Papi.
Menggunakan lift, kami tiba di ruang rapat lantai sepuluh, Papi langsung membukakan pintu lalu menahannya agar aku bisa masuk. Di dalam ruangan, sudah ada banyak orang menunggu, mereka semua tersenyum ketika aku dan Papi masuk.
"Sini dek." Kata Papi, menunjuk kursi di depan yang menjadi central dari pertemuan ini.
Aku langsung duduk di kursi yang Papi tunjuk, di sampingku Papi santai sambil memainkan ponselnya, dari yang aku intip sih bales chat Mami. Emang yaa Papi sama Mami tuh, udah tua tetep aja kaya anak ABG lagi pacaran.
"Kamu mau presentasi apa temen Papi aja?" Tanya Papi setelah meletakkan ponselnya di dalam kantung.
"Emm, temen Papi aja ya? Biar Jani liat dulu, jadi kalo ada lagi Jani udah tau gimana." Jawabku.
"Okay, kita tunggu aja, temen Papi belum dateng." Katanya.
Aku mengangguk, lalu Papi mulai membuka obrolan ringan dengan beberapa orang, jadi mereka adalah calon pengguna jasa angkutan barang milik Papi. Rapat ini untuk meyakinkan mereka bergabung dengan ekspedisi milik Papi ini. Barang yang diangkut sama maskapai Papi bukan barang sembarangan kaya pesenan paket online shop langganan Vissa. Tapi yang berat-berat, entah apa, aku belum beres nih bacanya.
Menit-menit berlalu, lalu pintu terbuka, aku kaget melihat Malik masuk. Eh Ardi deng, kan tadi udah sepakat manggilnya Ardi.
"Om Rafi, maaf Papa gak bisa dateng, jadi Papa minta saya yang hadir." Kata Ardi saat ia duduk di samping kanan Papi.
"Oh iya, gak apa, kamu bisa presentasi? Apa harus Jani?" Tanya Papi.
"Saya bisa kok, Om." Katanya kalem.
Baguslah, aku jangan presentasi dulu. Masih kaku coy. Ku lirik Ardi, ia membuka tab lalu mempelajari bahan presentasi yang sama dengan yang kupelajari tadi di mobil. Tapi dia keliatan tenang, dan astagaaa demi tuhan yak, dia kece parah.
Tadi, di kampus dia cuma pake kemeja yang kancingnya kebuka 3, lha sekarang?? Pake jas coy, gemes banget!
"Kok belum mulai sih Pi?" Bisikku.
"Sabar Nak, ada dua calon klien yang belum dateng." Jawab Papi.
Aku mengangguk. Lalu kembali membaca bahan presentasi. Meskipun bukan aku yang jelasin, setidaknya aku harus paham kan? Papi gaji aku loh pake mobil, aku gak boleh kecewain Papi.
Akhirnya, dua klien yang ditunggu datang. Rapat dimulai, Ardi maju ke depan, menjelaskan tentang bisnis baru ini dengan santai dan tidak berlebihan. Intonasi bicaranya pas, dia tidak terkesan menggurui ataupun mendikte. Dan ya ampunnnn kenapa bisa secakep itu sih??
Gak ngerti lagi dah sama ini anak. Kalo di kampus slengean eh sekarang bisa kaya gini. Boleh suka gak sih??
Gak boleh! Yak! Gak boleh! Dia kan sukanya sama Vissa. Aku kudu ngalah kalo soal Vissa, mending Vissa dapet cowok dulu deh daripada aku. Kan ngeri kalo dia mah, entar depresi eh si Kak Gara diculik aja. Bahaya. Entar Papi sama Papa berantem gara-gara mereka. Duhhh!
Presentasi selesai, Ardi tersenyum lalu duduk kembali bersamaan dengan tepukan tangan dari para hadirin, aku juga ikut bertepuk tangan.
Rapat dilanjut dengan pertanyaan dari para calon pengguna jasa, kali ini Papi bantu jawab, membuat para klien tersenyum, Papi tuh kayanya punya sihir disuaranya, adem banget didengernya. Ucapan Papi tuh kaya titah raja yang harus disetujui dan dilaksanakan. Gils, aku kudu belajar nih sama Papi.
Kemudian pertanyaan-pertanyaan kembali terlontar, sesekali aku ikut menjawab pertanyaan saat Papi atau Ardi masih mikir, biar para klien gak kelamaan nunggu jawaban, dan untung aja, jawabanku gak malu-maluin. Meskipun aku masih mahasiswa, seenggaknya aku sudah tau lah prinsip dasar berbisnis.
Rapat selesai, 9 dari 10 klien langsung menyetujui bergabung dengan ekspedisi ini. Yang satunya katanya mau ada rapat dulu di kantor, entah lah aku gak paham.
Setelah berkas-berkas ditandatangani, kami kembali ke obrolan santai, snack rapat kali ini ditambah, dan aku langsung berdiri ke pojok ruangan untuk menyeduh kopi meninggalkan Papi dengan kliennya tersebut.
"Gue kaget liat lo tadi." Aku menoleh, Ardi berdiri di sampingku, bikin kopi juga.
"Sama Di, gue juga kaget pas liat lo dateng. Keren lagi lo, beda kaya sama dandanan di kampus."
"Di??" Tanyanya bingung.
"Ardi? Kan kita tadi sepakat kalo gue manggil lo Ardi, gue udah punya temen yang namanya Malik." Jelasku.
"Tapi Indra, Jani. Indra, bukan Ardi." Katanya dengan nada gemas.
"Ohhhhh!"
"Lo gak ganti baju?" Tanyanya.
Ya, dandananku hari ini parah sih sebenernya untuk dipake rapat. Aku hanya mengenakan kemeja putih transparan bercorak dan celana jeans robek, parah kan? Beda banget sama Indra yang rapi. Eh, bener kan Indra?
"Gak sempet, yang tadi di kantin gue ke yayasan terus langsung ke sini."
"Mending gue." Katanya. Aku mengangguk.
Ya iyalah, dia udah kaya CEO muda kece idaman cewe-cewe, dari anak TK sampe nenek-nenek rabun juga pasti demen sama yang modelan gini mah.
"Duduk lagi, Ndra." Kataku mengajaknya kembali ke Papi, dia mengangguk lalu membuntutiku.
Setelah ngobrol ini-itu-anu sama klien-klien, rapat selesai. Papi seneng karena bisnisnya berhasil bareng dua anak ingusan macem aku dan Indra.
"Salam buat Papa kamu ya, Malik. Laporin hasilnya kaya apa." Kata Papi.
"Iya Om, siap, nanti saya laporan kok sama Papa." Jawabnya.
"Eh iya dek, kamu ikut Papi yuk? Abis ini Papi mau ke SU lagi, ya?"
"Lha Papi, capek Jani, mau pulang aja."
"Lha, Papikan pake mobil kamu ini, kamu mau drop Papi di SU?" Tanya Papi.
"Udah Om, kalo boleh Jani saya anterin aja, gimana?" Ujar Indra seperti memberi solusi.
"Mau kamu dek?" Tanya Papi.
Aku mengangguk, ya mau laaah. Ganteng!! Ya ampun Vissa, maapin Jani yak! Heheh sekali aja ini, sekali, ganteng abisnya.
"Yaudah, anterin ya Malik. Sorry nih repotin." Kata Papi lalu keluar dari ruangan rapat.
Hih, harus gitu ya Papi ninggalin kita? Kan bisa kali turunnya barengan, sombong banget si Papi.
"Yok, mau otw kapan?" Tanya Indra.
"Sekarang aja." Jawabku.
Indra mengangguk, ia lalu berjalan duluan, membuka pintu ruang rapat lalu menahannya untukku, duh gentle nih cowo begini, nahan pintu buat cewe, hehe. Biasanya Papi doang yang kaya gini ke aku, sebelumnya gak ada.
"Tapi gue naik motor, gak apa-apa kan?"
"Iya santai aja Ndra." Kataku.
Indra mengangguk lalu kami menunggu lift naik untuk menjemput kami.
"Eh iya, lo ikut beneran ke Semeru?" Tanyaku memecah keheningan, ya biar gak garing aja sih.
"Yapss, lo kapan gym? Ikutan dong."
"Eh besok malem, jam 8an paling, gabung aja di Dûrgrimst." Jelasku.
"Gue gak tinggal di situ, bukan member juga, boleh emang?" Tanyanya.
"Entar janjian sama gue, kan gue boleh bawa siapa aja." Kataku.
"Hahaha tau deuh anak yang punya."
Aku tertawa, bersamaan dengan itu pintu lift berdenting, kami langsung masuk sambil lanjut mengobrol.
"Jam berapa?" Tanya Indra.
"Jam 8, kan barusan gue udah bilang. Pikun lo!"
"Oh iya sorry ya, sorry!" Serunya.
Kami berjalan dalam diam ke parkiran, motor gedenya Indra terparkir di space kosong yang tadinya ada mobilku. Papi ngebut banget yee, sampe gak ketemu di lobby.
"Untung gue selalu bawa helm dua!" Ujar Indra tiba-tiba.
"Kenapa tuh?" Tanyaku.
"Biar pas moment gini gak ribet." Jawabnya. Aku tersenyum, lalu menerima helm yang diberikan Indra.
"Yuk, mau hujan kayanya."
Aku langsung naik ke motornya Indra, dan ia menjalankan motornya ke arah Dûrgrimst.
"Langit sore ini mendung yaa!" Ujar Indra tiba-tiba.
"Iya, dia butuh motivator kayanya." Kataku.
"Mendung Jan, bukan murung." Sahut Indra.
"Biarin."
Lalu, tiba-tiba Indra menepikan motornya, dan kami berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Gue sakit perut Jan! Kebelet boker." Katanya. Mukanya lucu banget pas bilang gitu.
"Yeee ganteng-ganteng mencret! Udah sana cari pom bensin, apa kek buat lo boker." Kataku.
"Gak bisa, gue kalo boker harus di tempat yang udah dikenalin sama p****t gue."
"Maksudnya?" Tanyaku heran.
"Gue cuma bisa boker di rumah atau di apartment gue."
"Egila! Terus gimana? Dari sini lebih deket ke rumah lo apa apartment lo?"
"Deket sama rumah gue. Lo gak apa mampir rumah gue dulu?" Tanyanya.
"Iya udah gak apa. Dari pada lo e*k di jalan kaya kuda!"
"Sorry ya Jani."
"Iyaa!"
******