Akhirnya rumahku terjual

1693 Words
Setelah selesai dengan urusan Bank dan menerima uang yang kami perlukan. Kami langsung menuju tempat pembelian Jetor yang dimaksud Arman dengan Kereta Jambrong yang kami punya. Kereta GL-PRO yang ku beli dalam kondisi Baru saat kami baru nikah yang tujuan untuk mengantarku ke mana-mana kalo ada keperluan mendadak sekarang berubah bentuk seperti Kereta Butut. Dengan semua Kapnya dan Body Kereta dipreteli sampe gak berbentuk Kereta lagi. Dan aku pun cuma bisa mengelus d**a. Sebetulnya aku malu, naik kereta kami yang jadi terlihat butut karena ulah si Arman. Tapi karena aku gak mau kami ribut, akhirnya aku pun hanya bisa diam. Sampe di Show Room, uang dari Bank hasil Gadai Surat Rumah yang ada ditangan Arman pun bukan dipake untuk beli Jetor secara Cash, tapi malah cuma dipake untuk DPnya aja. Jadi Jetor tadi dibeli dengan Kredit. Dan sisa uangnya di pegang Arman dengan alasan untuk modal isi minyak Jetor dan lain-lain. Dan sebagai istri yang baik aku pun menurut apa kata suami. Malamnya, setelah aku selesai nyusui si Bungsu kami, aku pun ketiduran dalam keadaan lupa nutup p******a ku yang masih terus meneteskan ASI karena kelelehan seharian ngurus rumah dan 2 orang anak yang masih kecil-kecil. Tapi kemudian aku pun terbangun saat merasa bibirku tersentuh oleh benda kenyal dan lembut. Ya, Arman ternyata gak tahan melihat p******a ku yang terbuka, dan langsung naik ke tempat tidur, menindihku dan melumat bibirku yang awalnya lembut tapi lama-lama menuntut dengan rakusnya terus melumat bibirku sampe kami mulai hampir kehabisan nafas, dan aku pun mendorong d**a Arman agak kuat. Sampe dia jatuh kesamping kananku. "Aku belum bisa Pak Ulaaan. Kan belum 40 hari". Kataku pelan. " Bentar aja Mak Ulan. Aku pingin kali. Masukkan sikit aja pun jadi". Jawabnya. Dan dia langsung nindih aku lagi, melumat bibirku dengan rakus sambil meremas-remas p******a ku. Dengan cepat dia buka resleting celananya dan mengeluarkan p***s nya yang ternyata uda berdiri tegak siap masuk ke v****a ku. Arman pun gak perlu susah payah buka celanaku, karena aku memang dalam keadaan cuma pake sarung dan duk untuk menampung sisa darah nifasku yang memang uda mau habis. Dengan terburu-buru Arman pun memasukkan p***s nya ke dalam v****a ku yang tadi janjinya cuma masuk sedikit aja, Dan. "Aaaakh.." Teriakku, karena dengan sekali sentak Arman memasukkan p***s nya ke dalam v****a ku sedalam-dalamnya. "Pelan-pelan Pak Ulan, sakit kali". Ucapku pelan sambil memejamkan mata menahan rasa sakit. Tapi Arman gak menghiraukan sama sekali dan terus menghujamkan p***s nya ke v****a ku seperti orang kalap. Dikeluar masukkan p***s nya terus ke dalam v****a ku yang masih sedikit mengeluarkan darah. Aku pun mendesah antara sakit dan enak. Dihunjamkannya terus p***s nya ke v****a ku semakin kencang dan. " Aaaaah.. Aaaaah.."Aku dan Arman pun sama-sama mendesah kuat mencapai pelepasannya. Arman mendesak karena nikmat. Namun aku mendesah setengah menjerit menahan rasa sakit sambil meremas seprai tempat kami melakukan hubungan suami istri yang sebenarnya masih haram karena belum habis mana nifasku. Aku pun bangun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi sambil nyengir merasakan v****a ku yang terasa sakit karena luka bekas melahirkan yang masih belum kering. Walaupun gak dijahit karena saat melahirkan anak yang kedua aku gak dibantu Bidan, tapi dibantu Dukun Kampung. Arman pun ketiduran setelah kelelahan abis kami bercinta barusan dengan keadaan terlentang dan p***s yang berlepotan bercak darah dari v****a ku. Setelah keluar dari kamar mandi aku pun bangunkan Arman karena merasa jijik liat bercak darah di p***s Arman. "Pak Ulan. Pak Ulaaan. Bangun dulu, ke kamar mandi. Tengok itu jorok kali burung 'Dia' belepotan darah. Cuci dulu bentar, nanti tidur lagi". Suruhku yang langsung dikerjakan Arman. Beberapa hari kemudian Ternyata semangat Arman cuma anget-anget taik ayam aja. Begitu Jetor sampe dirumah Arman gak tau gimana caranya cari orderan bajak sawah. Dan akhirnya Jetor pun cuma dianggurin, duduk diam dirumah dalam keadaan terselimuti kain penutup. Aku cuma bisa geleng kepala dan kembali mengusap d**a. Mencoba untuk tetap sabar. Gak cukup sampe disitu. Setelah 3 bulan berlalu. Datanglah orang-orang berpakaian rapi ke rumah kami. Mereka menanyakan tentang Cicilan hutang kami di Bank. "Selamat siang Bu, apa benar ini alamat rumah Kinanti..?" Tanya orang berpakaian rapi itu. "Betul Pak, ini alamatnya, saya sendiri Kinanti. Kalo boleh tau ada perlu apa ya Pak..?" Jawabku. "Begini Bu, kami dari Bank xxx. Mau menagih hutang bayaran cicilan pinjaman Ibu di Bank xxx yang sudah menunggak 3 bulan dan sama sekali belum pernah Ibu bayar dari awal pinjaman Bu". Ucapnya pelan tapi langsung tepat ke sasaran. " Maaf sebelumnya Pak, nanti saya usahakan untuk pembayarannya. Tapi untuk sekarang saya masih belum ada uang Pak". Suami saya sedang nganggur Pak, Salon juga lagi sepi". Jawabku agak memelas. "Maaf Bu, kami cuma menjalankan tugas. Kami kasih waktu Ibu 1 minggu. Nanti minggu depan kami datang lagi untuk menagih hutang Ibu, dan kami harap saat itu Ibu sudah menyediakan uangnya Bu. Dan kalau 1 minggu lagi Ibu tidak juga membayar cicilan hutang Ibu yang sudah menunggak 3 bulan ini, dengan terpaksa rumah Ibu akan kami Sita". Katanya tegas. " Apa gak bisa diperpanjang lagi Pak.1 minggu lagi dimana saya cari uang sebanyak itu Pak". Jawabku pelan, tapi masih bisa didengar oleh orang berpakaian rapi itu. "Sekali lagi maaf Bu. Itu bukan urusan kami. Kami hanya menjalankan tugas Bu". Katanya semakin ditegaskan. " Tolonglah Pak,1 bulan lagi saya usahakan cari pinjaman ditempat lain untuk bisa bayar cicilan hutang saya Pak. Kalau rumah ini disita. Kami mau tinggal dimana Pak. Apa Bapak gak kasihan lihat anak-anak saya yang masih kecil-kecil ini kalau rumah kami di Sita". Jawabku sedih dengan mata berkaca-kaca sambil meluk anak-anakku yang lagi berdiri didekatku sama yang ada digendonganku. Mereka pun terlihat berbisik-bisik. Mungkin mau mempertimbangkan permohonanku yang minta jangka waktu pembayaran cicilan hutang pinjamanku untuk beli Jetor kemarin yang gak terasa ternyata uda 3 bulan belum ku bayar. "Baiklah Bu, setelah kami pertimbangkan, kami cuma bisa bantu Ibu sedikit memperpanjang waktu. Tapi gak bisa sesuai dengan permintaan Ibu. Waktunya kami perpanjang jadi 2 minggu. Dan, sekali lagi kami minta maaf Bu. Kami hanya menjalankan tugas. Dan apabila setelah 2 minggu lagi kami datang, namum Ibu belum juga bisa membayar cicilan hutang pinjaman Ibu yang sudah menunggak sampai 3 bulan itu, dengan terpaksa, kami akan menyita rumah Ibu". Katanya pelan tapi tetap tegas. " Jadi kami mohon Ibu usahakan uangnya dalam waktu 2 minggu yang kami kasih ini. Baiklah, kalo begitu kami pamit. Maaf sudah mengganggu waktu siang Ibu. Kami juga masih ada tugas menagih ditempat lain. Selamat Siang". Akhirnya mereka pamit pulang. "Siang". Jawabku. Setelah mereka pulang aku pun masuk ke dalam rumah bersama anak-anakku. Tapi sebelum sempat menutup pintu datang lagi orang lain berpakaian rapi juga, tapi bukan dari Bank melainkan dari Show Room tempat aku dan Arman membeli Jetor 3 bulan yang lalu. "Maaf Bu, selamat siang, bisa mengganggu waktunya sebentar. Apa benar ini alamat rumah Ibu Kinanti..?" Tanyanya sopan. "Siang, saya Kinanti, ada perlu apa ya..?" Jawabku dengan sopan juga. "Kami dari Show Room xxx Bu, mau menagih cicilan kredit Unit Jetor yang Ibu ambil 3 bulan yang lalu. Karena dari awal sampai sudah berjalan 3 bulan Ibu sama sekali belum pernah melakukan pembayaran Bu. Jadi gimana Bu, bisa kami minta uang pembayarannya langsung 3 bulan sekarang juga..?" Tanyanya sekali lagi tetap dengan sopan. "Maaf Pak, uangnya belum ada. Suami saya belum kerja Pak. Salon juga lagi sepi". Jawaban yang sama seperti saat aku jawab orang dari Bank tadi. " Maaf Bu, kami cuma menjalankan tugas kami menagih hutang serta mengingatkan tanggal jatuh tempo pembayaran terakhir yang kami berikan. Kalau begitu kami pamit, 3 hari lagi kami datang. Dan kalau sampai dihari yang kami tentukan Ibu belum bisa bayar juga, dengan terpaksa kami tarik Unit Jetor yang ada dirumah Ibu. Oke Bu, permisi, selamat siang". Kata orang Show Room mengakhiri pembicaraan kami. Gak lama Arman pun pulang yang entah dari mana. Ngakunya sih keluar rumah untuk cari kerja. Tapi setiap kali pulang gak pernah ada kabar baik semisal dapat kerjaan apa gitu. Atau cuma alasan Arman aja cari kerja biar dia bebas keluar rumah tanpa harus repot-repot cari alasan yang bisa buat aku percaya. Tapi biarlah, cuma Allah dan dia lah yang tau kebenarannya. "Pak Ulan, barusan orang Bank sama orang Show Room datang. Kayak mana ini, apa gak bisa 'Dia' usahakan cari pinjaman ke kampung atau sama kawan-kawan dia. Karena kalo kita gak bisa bayar ke Bank 2 minggu lagi rumah kita bakalan di Sita. Kalo rumah kita di Sita kita mau tinggal dimana.."?. Hening, sama sekali gak ada jawaban ataupun solusi yang keluar dari mulut Arman, dan aku pun hanya bisa mengelus d**a, menggeleng sambil menghela nafas panjang. Tanpa terasa, dan tanpa usaha sedikit pun dari Arman akhirnya waktu yang telah diberikan oleh orang Show Room pun tiba. Dan aku pun gak bisa menghalangi mereka untuk menahan Jetor agar gak dibawa kembali ke Show Room. Berapa hari kemudian " Pak Ulan, tolonglah usahakan cari pinjaman. Waktu kita tinggal seminggu lagi loh yang dikasih orang Show Room". Ku coba tanya pelan-pelan sama Arman. "Ya aku mau nyari kemana Mak Ulan. Koe kan tau aku pun belum dapat kerja". Jawabnya ketus sambil melotot. "Ya jual lah tanah bagian 'Dia' yang di kampung itu". Saran ku. Dan tanpa perasaan dia pun bilang " Ok, kalo itu maumu. Berarti koe lebih berat sama rumahmu dari pada samaku. Kalo gitu biar aku pigi aja. Percuma pun koe ku tunggui kalo toh aku gak ada artinya dimatamu". Katanya sambil melangkah keluar rumah yang langsung ku cegah. "Ya uda, biarlah rumah ini di Sita Bank. Asalkan kita tetap sama-sama. Kasian anak-anak kalo kita pisah. Kita buka lembaran baru. Kita mulai semuanya dari awal. Kita rintis usaha kita sama-sama". Jawabku yang lebih memilih mempertahankan rumah tangga dan keluarga yang baru kami bangun dari pada rumah tempat tinggal kami. Karena bagiku tinggal dimanapun sama aja asal tetap berkumpul sama keluarga. Dan inilah saatnya waktu yang diberikan orang Bank pun tiba. Kami pun tak kuasa menahan rasa sedih karena harus meninggalkan dan merelakan rumah tempat tinggal kami di Sita oleh pihak Bank. Dan sekarang awal kami memulai lembaran baru. Memulai usaha baru, merintis dari awal dan cari tempat tinggal baru bersama keluarga tercinta. Hidup adalah pilihan. Dan pilihanku tetap kepada Arman. Lelaki yang ku pilih untuk jadi pendamping hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD